Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 146


__ADS_3

“Apa syaratnya?” tanya Gina sambil menggigil ketakutan.


“Jika kamu ingin wanita ini selamat siapkan uang tunai satu milyar rupiah! Siapkan juga satu sampel formula kosmetik yang sedang diteliti oleh perusahaan Glow & Shine!” jelas Javier.


“Formula baru?” gumam Frita.


“Pastikan tidak ada polisi yang ikut campur dalam masalah ini! Jika ketahuan ada polisi yang terlibat maka gadis ini akan mati!” ancam Javier.


“Tapi apa kalian berani menjamin keselamatannya?”


“Hahaha tenang saja, selagi kalian tidak melibatkan polisi maka gadis ini akan baik-baik saja.”


“Ibu pasti akan kembali lagi menyelamatkanmu,” bisik Gina sambil memeluk erat putrinya. Airmata tampak mengalir dari mata keduanya. Javier kemudian memberikan alamat untuk pertukaran Frita nanti. Gina kemudian pergi dengan menggunakan mobil Diaz.


“Jadi selama ini yang kalian incar dariku hanyalah formula baru itu?” tanya Frita.


“Ikat dia dan jangan biarkan dia berbicara! Kita harus segera pergi dari sini sebelum polisi mengendus perbuatan kita,” perintah Javier.


Anak buahnya mengangguk lalu mengikat Frita dan melakban mulutnya. Dia kemudian dibawa ke sebuah mobil. Mereka kemudian pergi dari jalanan itu meninggalkan Diaz dan anak buahnya yang masih tergeletak di jalan.


“Dia ternyata tidak bisa diandalkan!” gerutu Gina kesal karena ternyata Diaz yang selalu dibanggakan olehnya tidak mampu berbuat apa-apa di hadapan para penjahat.


“Apa yang harus aku lakukan sekarang? Mana polisi tidak boleh ikut campur,” gumam Gina bingung karena semua pilihannya berujung kebuntuan. Dia kemudian teringat kepada Pandu. Dia yakin mantan suaminya itu punya solusi mengatasi masalah ini.


“Ih kok nggak dijawab,” gerutu Gina. Dia memutuskan untuk langsung pergi menuju rumah Pandu saja.


Di kediaman Pandu. Aditya masih terus menimang baju tentaranya dengan mata yang nanar. Dia masih mengingat dengan jelas bagaimana kerja kerasnya selama ini untuk mendapatkan baju itu. Walau pada akhirnya dia sendiri yang memutuskan untuk tidak memakainya lagi.


Tak berapa lama terdengar sebuah mobil berhenti di depan rumah. Pandu dan Clarissa segera pergi ke luar. Mereka terkejut ketika Gina datang dengan deraian airmata. Gina seketika langsung memeluk Clarissa sambil menangis. Sementara Pandu terlihat sangat cemas dengan mantan istrinya itu.


“Ada apa Gin?” tanya Pandu.


“Mama kenapa?” tanya Clarissa.


“Kakakmu Ris, dia di culik,” jawab Gina sambil tersedu sedu.


“Kenapa bisa? Bukankah kalian bersama para pengawal yang disewa oleh Diaz?” tanya Pandu kaget.


“Kami tidak bisa berbuat apa-apa, mereka ternyata tidak berdaya berhadapan dengan para penculik itu.”


“Kenapa!” gumam Pandu sambil duduk memegang kepalanya. Dia benar-benar terpukul mendengar kabar seperti itu.

__ADS_1


“Tapi kita masih bisa menyelamatkannya mas,” ucap Gina. Dia kemudian menjelaskan persyaratan yang diajukan oleh para penculik kepada Pandu.


Aditya yang menguping pembicaraan mereka segera kembali ke kamarnya. Perlahan dia menatap kedua telapak tangannya. Hatinya bergetar karena khawatir dengan keadaan Frita. Setidaknya dia tidak bisa membiarkannya begitu saja. Entah kenapa hatinya kembali tergerak untuk menyelamatkan Frita untuk yang terakhir kalinya.


Dia kemudian membulatkan tekadnya dan mengepalkan tangan. Baju kebanggaannya segera dia kenakan tak lupa dengan tanda pengenal dan juga pisau belati andalannya. Setelah siap dia segera keluar menemui Gina dan Pandu yang masih panik kebingungan.


“Kak Aditya?” gumam Clarissa terlihat takjub saat melihat penampilan Aditya yang gagah dan rapi. Ketampanannya terpancar jelas dari wajahnya.


“Aditya?” gumam Pandu.


“Biar saya yang pergi ke tempat itu,” kata Aditya sambil melihat lokasi pertukaran Frita.


“Tapi itu sangat berbahaya Dit, lagipula kita masih bisa memenuhi semua persyaratannya,” cegah Pandu, sementara Gina hanya tertunduk malu. Dia tidak sanggup untuk menatap mata Aditya yang jelas-jelas tulus ingin menyelamatkan putrinya.


“Tidak masalah, saya tahu apa yang mereka inginkan. Yang penting jangan sampai polisi terlibat dalam masalah ini, karena hal itu hanya akan menyebabkan para penculik gelap mata. Walaupun kita memenuhi permintaan mereka belum tentu Frita akan dilepaskan begitu saja.”


“Tapi jumlah mereka banyak Dit, jika kamu sendirian saja tidak akan mungkin bis-”


“Lebih baik sendirian, karena jika banyak orang yang datang ke sana, nyawa Frita bisa terancam,” tegas Aditya dengan tatapan penuh wibawa.


“Mungkin saja ini tugas terakhir saya,” gumam Aditya sambil melangkah pergi.


Pandu hanya bisa terdiam menatap mobil Diaz yang dibawa Aditya. Gina kembali menangis terharu, ternyata penilaiannya selama ini terhadap Aditya itu salah. Pandu kemudian mengajak mereka ke dalam rumah untuk membuat rencana dalam mendukung penyelamatan yang akan dilakukan oleh Aditya.


“Padahal aku bisa saja pergi dan berpura pura tidak memperdulikan mereka, tapi kenapa aku ingin melakukan hal ini lagi?” batin Aditya.


Wajah Frita yang sedang tersenyum muncul di kepalanya. Dia memacu mobilnya hingga kecepatan maksimal menuju lokasi persembunyian para penjahat. Dia yakin dengan rencananya saat ini, dia sendiri tahu kalau para penculik itu tidak mungkin mencelakai Frita jika tidak merasa terancam.


“Aku tidak tahu keputusanku ini tepat atau tidak, tapi.. tunggulah aku, Frita.”


***


Javier sudah sampai di tempat persembunyiannya di hutan pinus. Mereka kemudian mengurung Frita di sebuah ruangan di bangunan itu. Sementara Javier kemudian menelepon seseorang dengan ponselnya.


“Ada apa Javier?” tanya seorang pria dengan suara yang disamarkan.


“Saya sudah berhasil menangkap targetnya, Ketua.”


“Bagus, lalu kapan kamu mengirimkan wanita itu beserta formulanya kepadaku?”


“Maaf Ketua, saat ini saya masih sedang menunggu formulanya.”

__ADS_1


“Dasar payah! Aku pikir kalian sudah mendapatkan formulanya juga. Susah-susah aku meminta geng Serigala untuk mengumpulkan orang-orang terbaik dari jalanan!” bentak pria itu.


“Maaf Ketua, tapi saya jamin kami akan segera mendapatkannya.”


“Berhati-hatilah. Kamu juga pasti tahu kalau setiap orang yang aku tugaskan menangkap wanita itu selalu berakhir dengan tragis.”


“Tenang saja, tadi saya sudah berhasil mengalahkan para pengawal dan pria yang cukup dekat dengannya.”


“Serius?”


“Serius Ketua. Mereka ternyata tidak ada apa-apanya. Mungkin orang-orang yang Ketua kirim selama ini terlalu lemah.”


“Aku masih belum percaya jika kamu belum bisa membawa wanita itu bersama formulanya ke hadapanku.”


“Dalam waktu dekat semua itu pasti akan terwujud Ketua.”


“Aku tunggu!”


“Baik Ketua.”


Javier kemudian mengakhiri panggilannya sambil tersenyum lebar. Dia sangat yakin jika rencananya saat ini akan berjalan lancar. Terlebih dia juga akan mendapatkan uang tambahan satu milyar dari keluarga Frita.


“Bos, ada yang datang!” teriak salah satu anak buahnya yang tergesa-gesa menghampirinya.


“Siapa yang datang? Keluarga wanita ini?”


“Bukan Bos, dia memakai baju tentara tiba-tiba saja datang kemari sambil mengamuk.”


“Apa?! Tentara?”


“Iya Bos.”


“Berapa orang?”


“Satu orang.”


“Hahaha mungkin itu ayah anak yang kita jadikan anjing tadi. Kalau satu orang doang mah gampang lagipula kita juga punya persenjataan lengkap di sini,” ucap Javier sambil tertawa lebar.


“Bukan, dia masih muda, Bs. Tidak mungkin dia ayah si brengsek tadi,” sanggah anak buahnya.


“Cih! Gue akan melihatnya sendiri! Bawa wanita itu keluar dari ruangannya biar dia melihat sendiri seperti apa akhir tragis dari orang yang berani melawan kita!” perintah Javier sambil pergi keluar, sedangkan anak buahnya mengeluarkan Frita dari dalam ruangan untuk dibawa keluar bangunan.

__ADS_1


BERSAMBUNG…


__ADS_2