
Pertemuan kedua mereka itu sungguh terasa amat canggung. Aditya tak tahu lagi harus bicara apa pada ibu Shelly D yang belum lama tadi berkenalan dengannya. Dan kini ia malah menangkap basah wanita itu mencoba mengincarnya.
“Kok bisa Tante kenal si Setiawan Budi itu?” tanya Aditya tanpa basa-basi. Ia tak terlalu takut lagi, tapi hanya merasa aneh saja. Baru kali ini Aditya menghadapi sosok pembunuh bayaran yang akan menghabisinya, dengan sikap yang sangat santai.
“Dan juga,” lanjut Aditya dengan ekspresi heran, “Kok bisa Tante begini? Maksud saya, kok bisa Anda bekerja macam ini?”
Brenda Sukma hanya tersenyum salah tingkah. Terlihat malu dan jauh dari sosok ketus yang tadi sempat Aditya temui di rumahnya, terlebih saat bicara pada suaminya, Marwan.
“Tolong, jangan beri tahu Shelly D soal ini. Dia sama sekali enggak tahu ibunya sejak dulu bekerja macam ini,” kata Brenda yang terlihat menunduk, tapi tak lepas senyum dari bibirnya. Sebuah senyum untuk rasa malu yang tak keruan tentunya.
“Tapi, kenapa?”
“Aku sendiri tak tahu, Nak!” jawab Brenda dengan pasrah.
“Tolong panggil saja Aditya atau Dit atau Adit,” tukas Aditya.
“Baiklah. Aku tidak tahu, Dit. Semua itu bermula dari masa mudaku. Kalau kamu pernah dengar Putri Maut. Itulah aku. Orang mejulukiku begitu,” jelas Brenda, tetapi kali ini senyuman sudah lenyap dari bibirnya.
“Saya tidak tahu, Tante. Waktu itu mungkin saya belum lahir,” sahut Aditya yang menjulurkan sebatang rokok pada wanita itu.
Brenda menerimanya, lalu menunduk, membiarkan Aditya menyalakan rokok itu di mulutnya.
Sungguh sebuah adegan yang aneh, tapi nyata terjadi. Sesosok pembunuh yang tak jadi menghabisi targetnya. Kini malah duduk merokok bersama. Aditya merasa agak geli, tapi juga penasaran setengah mati.
“Lalu bagaimana?” tanya Aditya setelah rokok mereka sama-sama menyala.
Brenda Sukma bilang ia terjebak melakukan pekerjaan ini setelah tak sengaja dulu ia membunuh sang paman sendiri yang berbuat cabul padanya.
“Pamanku itu mencoba memperkosaku, tetapi aku berhasil melawan dan mengiris leher dia sampai nyaris putus,” katanya.
Brenda Sukma berhenti sejenak, memandangi langit-langit rumah yang kusam. Ia lalu menatap mata Aditya.
__ADS_1
“Kalau kamu pernah dipenjara, hidup di sana sungguh tidak enak,” katanya. “Aku tenggak betah. Lalu seseorang datang menjenguk. Orang yang tak kukenal. Dia janji menolongku, mengeluarkanku dari sana, kalau aku mau membunuh seorang musuh untuknya.”
Aditya kini mulai tertarik dengan kisah masa lalu ibunda Shelly D yang ternyata unik ini.
Brenda Sukma bersumpah, ia tak akan melakukan pembunuhan keduanya itu jika kehidupan penjara ia sukai. Masalahnya, di penjara ia dimusuhi banyak napi lain. Ia pun menerima tawaran penjenguk misterius itu.
“Kamu tahu siapa penjengukku itu? Orang yang menolongku itu? Dialah Setiawan Budi. Lelaki paling bejat yang pernah kukenal!” kata Brenda, kali ini suaranya agak geram terdengar di telinga Aditya.
Aditya pikir kisah kesuksesan Shelly D, dengan cerita masa lalu sang ibu ini, jelas terhubung. Ia tak bertanya lebih lanjut, meski Brenda kemudian berkisah tanpa dia minta.
“Setiawan Budi tak selesai sampai di situ. Aku sudah membunuh orang yang dia benci setelah, entah bagaimana caranya, dia membebaskanku dari penjara. Aku sudah turuti apa mau dia. Tapi dia mau lebih,” katanya dengan kesal.
Brenda Sukma diminta membunuh sekali lagi. Dan itu terjadi bukan hanya saat itu saja.
“Entah berapa kali sudah. Dalam tahun pertama kebebasanku, aku sudah bunuh sebelas orang, Dit! Bayangkan. Tapi, Setiawan Budi memberiku kehidupan yang enak dan nyaman. Dia bahkan sempat menikahiku, meski sebentar.”
“Kenapa?”
“Kenapa Tante tidak kabur saja?”
“Kamu pikir gampang? Aku juga mau, Dit. Tapi Setiawan Budi sangat kejam. Dia tak segan melukai atau membunuh orangnya sendiri. Termasuk aku. Apalagi saat itu aku hamil Shelly D. Aku jelas tak berani kabur!”
Brenda melanjutkan kisahnya ke beberapa tahun setelah Shelly D tumbuh menjadi sosok remaja cantik.
“Nah, aku sudah jarang ‘disuruh’ membunuh setelah anak gadisku menunjukkan bakat nyanyinya. Setiawan Budi bilang, ‘Lu suruh anak lu nyanyi biar gue bisa dapat duit. Nanti gue modalin’. Ya, sudah. Jadilah Desi itu artis. Nama aslinya Desi kalau kamu belum tahu,” jelas Brenda sambil menyentil rokoknya yang sudah habis.
“Ya, saya tahu nama aslinya kok, Tante. Mau lagi?” jawab Aditya sambil memberi bungkus rokok pada Brenda.
Wanita itu menolak.
“Sudah lama aku berhenti merokok. Tapi malam ini semuanya terasa sumpek. Aku sudah tak membunuh beberapa tahun. Mungkin lima tahun terakhir aku bekerja demi Setiawan Budi. Itu pun dia belum bayar!” kata Brenda.
__ADS_1
“Lalu kenapa Tante bisa mengincar saya?” tanya Aditya yang kini sampai ke inti rasa penasarannya.
“Ya, tadinya aku nggak tahu kalau targetku adalah teman dekat anakku juga. Aku cuma tahu Setiawan Budi menawariku bayaran yang gede buat bawain kepalamu, Dit. Dia bilang, ‘Lu potong lehernya lalu bawa kemari!’. Dasar lelaki tua sinting dia itu!” jawab Brenda yang kini terlihat kembali ke watak aslinya yang agak cerewet.
“Kamu tahu sendiri aku tak mau nerima uang pemberian Desi. Maksudku biar dia bisa nabung buat masa depannya. Marwan juga setuju denganku,” jelas Brenda usai mereka terdiam beberapa saat.
Aditya masih tak berkata-kata.
“Jujur saja aku agak tergoda menuruti permintaan Setiawan Budi, Dit. Tapi tadi di gang depan aku mikir, kok enak benar si tua bangka itu menyuruhku tanpa perasaan? Dia malah berutang banyak padaku. Dan dia juga beberapa kali membiarkan si Rama dan Herman tolol itu menggagahi anak gadisku!”
“Saya pikir dia sengaja menyuruh Tante bunuh saya, karena dia tahu Desi dekat dengan saya,” tukas Aditya.
“Memang benar. Dan selain itu, asal kamu tahu, Setiawan Budi rupanya sudah tak ada pemasukan sebesar dulu. Dia di ambang kebangkrutan, Dit. Setelah semua ulah saudara dan para keponakannya akhir-akhir ini,” kata Brenda terlihat senang.
“Oh, ya?”
“Yah, kabarnya malah ada pengkhianat yang sudah mencolong duitnya, membawa kabur uangnya entah ke mana. Akun rekening utama Setiawan Budi sudah dikuras oleh hacker. Hihihi. Entah benar atau enggak, tapi aku kenal salah satu anak buahnya. Dan dia gak mungkin bohong. Dia sudah kuanggap anakku sendiri.”
“Oh, begitu. Hmm, menarik. Artinya Setiawan Budi tidak ada pilihan lain selain membayar Tante untuk membunuhku. Tentunya dia tak akan membayar Tante sepeser pun, karena kondisi keuangannya sedang susah,” kata Aditya.
“Nah, itu dia!”
Brenda dan Aditya tampak terdiam beberapa lama. Brenda merasa tidak ada lagi yang bisa ia katakan. Ia meminta maaf pada Aditya atas kesadarannya yang datang terlambat.
Tapi Aditya bilang, “Justru dengan penjelasan Tante barusan, saya jadi dapat info berharga.”
“Yeah, sekarang aku terpaksa membawa kabur anakku Desi ke tempat lain. Untuk sementara dia gak akan manggung ke mana-mana. Kuharap kamu bisa menghabisi Setiawan Budi itu. Atau siapa pun orang selain kamu. Kuharap dia mati dengan cara yang sangat jelek di tangan kalian!” kata Brenda kesal.
“Ya, saya pun juga berharap begitu, Tante,” ujar Aditya melepas kepergian ibunda sang penyanyi itu.
Bersambung....
__ADS_1