
“Kelihatannya orang itu pergi ke tempat lain.”
“Apa kita perlu melaporkannya sekarang ke bos?”
“Laporin saja, kita harus segera bertindak sebelum ada anggota geng Gagak yang datang.”
“Hei, apa yang sedang kalian bicarakan?” tanya Aditya yang tiba-tiba sudah ada di belakang mereka.
“Bag-“ Belum selesai mereka berbicara Aditya sudah mematahkan leher mereka dengan cepat.
“Kelihatannya geng Serigala menyuruh orang untuk mengikutiku tadi, merepotkan saja,” gumam Aditya sambil membawa kedua mayat orang itu ke dalam mobil milik mereka. Aditya akan membuat kematian mereka seolah-olah kecelakaan lalu lintas.
Setelah selesai Aditya segera pulang ke rumah Pandu. Tak berselang lama akhirnya Aditya sampai di kediaman Pandu. Di rumah Frita terlihat sedang menonton berita kecelakaan mobil di TV dua orang ditemukan tewas dengan luka bakar di dalam mobil, polisi menyimpulkan jika kejadian itu murni kecelakaan.
“Kamu lama banget Dit sampe sore begini baru pulang, Rani baik-baik saja kan?”
“Dia baik-baik saja kok mbak.”
“Ih, kalau di rumah mah panggil nama saja Dit biar nggak ribet, kamu bikin khawatir saja tahu di telepon nggak di angkat-angkat.”
“Aku tadi sedang di jalan jadi nggak bisa nerima panggilanmu,” jawab Aditya sambil pergi ke kamarnya.
Sikap Frita semakin hari semakin baik dan lembut kepadanya, jujur saja hal itu membuat perasaannya semakin bimbang. Aditya menghela nafas karena pikirannya serasa buntu. Dia pikir sebaiknya hal itu dia pikirkan lain kali saja.
Esok harinya Aditya dan Frita berangkat ke kantor. Di depan pintu Rani terlihat sedang tersenyum melihat kedatangan mereka berdua. Frita sangat senang melihat sekretarisnya kembali bekerja. Aditya hanya tersenyum kepada Rani. Dia kemudian pergi menuju gedung bagian keamanan seperti biasa.
Dani hari ini masih belum masuk kerja juga, dia kemudian meminta alamat Dani kepada bagian keamanan. Dia bermaksud ingin menjenguknya siang nanti. Menjelang siang Daniel dan Jaya Sebastian datang ke perusahaan. Hal itu membuat Frita sangat kaget, dia kemudian menemui mereka.
“Saya sangat terkejut dengan kedatangan kalian berdua kemari tanpa ada pemberitahuan sebelumnya,” sapa Frita.
“Kamu tidak usah khawatir, kedatangan kami ke sini semata-mata hanya ingin bertemu dengan pak William,” jawab Jaya.
“Ada keperluan apa anda berdua bertemu dengan pak William?”
“Ah, itu hanya perbincangan pribadi saja. Kamu tidak perlu khawatir, hal ini tidak ada sangkut pautnya dengan perusahaan kok,” jawab Daniel dengan senyum liciknya.
Frita hanya diam saja. Mereka berdua lewat menuju ruangan William, Frita merasa semua ini bukanlah kebetulan semata. Dia yakin jika Jaya dan Daniel memiliki maksud lain datang ke perusahaan ini, terlebih mereka berdua sangat membenci perusahaannya. Dia kemudian kembali ke ruangannya. Rani masuk sambil membawa beberapa berkas.
“Hari ini ada banyak berkas laporan dari berbagai bagian Mbak, terutama laporan jika saat ini mereka kekurangan pegawai,” ucap Rani sambil menaruh berkas di atas meja Frita.
__ADS_1
“Apa yang harus aku lakukan sekarang,” gumam Frita.
“Apa kita tidak bisa mengubah semua kebijakan yang baru diterapkan oleh pak William?”
“Tidak mungkin Ran, aku sudah mencoba berbagai cara untuk bernegosiasi dengannya tapi gagal, lagipula keputusannya sudah disetujui oleh mayoritas para pemegang saham.”
“Apa pak Pandu juga tahu masalah yang sedang dialami perusahaan saat ini Mbak?”
“Aku sudah memberitahu masalah ini kepada ayah, cuma masalahnya saat ini dia masih sibuk di luar negeri. Dia sekarang belum bisa membantu banyak dalam masalah kebijakan perusahaan.”
“Jika seperti ini terus maka akan semakin banyak karyawan yang mengundurkan diri.”
“Aku tahu Ran, terlebih dalam situasi seperti ini apa kenapa mereka berdua malah datang ke sini,” gumam Frita pelan.
Siang harinya Aditya pergi menuju mobil untuk menjenguk Dani ke rumahnya, dia melihat Daniel dan Jaya Sebastian pulang. Kecurigaan muncul di benaknya, kedua orang itu tidak mungkin datang ke kantor Glow & Shine hanya dengan alasan mampir atau ada keperluan bisnis. Sherly tiba-tiba datang mengejutkannya.
“Kamu lagi mikirin apaan sih Dit kok melamun begitu,” sapa Sherly.
“Nggak, aku cuma mikirin menu makan siang doang,” jawab Aditya.
“Kebetulan kalo begitu, kita makan bareng di luar yuk, katanya ada restoran barbeque baru tak jauh dari sini. Teman-temanku tadi juga banyak yang ke sana.”
“Aku berniat mengajakmu bareng ke sana, sekalian sebagai ucapan terimakasihku saat kericuhan di restoran temanku waktu itu.”
“Kamu ini selalu saja beralasan begitu,” ucap Aditya sambil tersenyum.
“Kalau nggak begitu kamu mana mau diajak makan bareng.”
“Oke, ayo naik.”
“Sebaiknya bawa mobilku saja Dit, aku berasa nggak enak kalau malah pake mobil Mbak Frita.”
Mereka berdua kemudian pergi ke restoran barbeque yang dimaksud oleh Sherly. Setelah sampai mereka segera memesan makanan dan duduk di meja. Restoran itu masih agak sepi. Mungkin karena baru dibuka.
“Aku tadi mendengar kalau hari ini Presdir Jaya Sebastian dan Presdir Daniel datang ke perusahaan. Kira-kira ada apa ya?” tanya Sherly.
“Aku juga nggak tahu Sher, mungkin mereka ada urusan bisnis.”
“Mbak Frita nggak bilang sesuatu tentang kedatangan mereka?”
__ADS_1
“Nggak tuh, lagipula masalah seperti ini mah sopir nggak perlu tahu juga.”
“Oh, kirain saja kamu dengar gitu. Btw kamu masih inget sama dia nggak?” tanya Sherly sambil memperlihatkan sebuah foto.
“Itu kan si.. duh aku lupa,” ucap Aditya sambil berusaha mengingat ingat sosok orang di foto yang ditunjukan oleh Sherly.
“Kalau ini siapa?”
“Eh, kamu dapet foto itu darimana?” tanya Aditya sambil tertawa ketika melihat foto dirinya saat SMA dulu.
“Ada deh,” jawab Sherly sambil ikut tertawa.
“Padahal aku sendiri nggak punya foto waktu dulu. Btw aku penasaran kamu kok belum menikah sampai saat ini? Padahal aku yakin teman-temanmu yang seumuran sudah menikah semua.”
“Kepo,” jawab Sherly sambil tersenyum, wajahnya memerah.
“Ih seriusan, padahal kamu itu cantik, pinter, kurang apa coba. Aku juga yakin banyak pria yang mau menikahimu.”
Sherly hanya tersipu malu, dia tahu kalau Aditya tulus memujinya tanpa maksud apapun. Tapi di puji oleh seseorang yang dia sukai sejak lama benar-benar membuatnya berdebar. Dia sebenarnya juga punya alasan lain mengajak Aditya makan berdua.
“Kamu beneran ingin tahu?” tanya Sherly sambil tersenyum manis.
“Lah nggak mungkin aku bertanya seperti itu Sher kalau nggak ingin tahu,” jawab Aditya sambil tertawa kecil.
“Sebenarnya aku-“
Kata-kata Sherly terpotong oleh suara seseorang yang berteriak di luar restoran itu. Semua orang melirik keluar termasuk Aditya dan Sherly. Terlihat ada tiga orang pria bertatto sedang menghajar satpam restoran.
“Sudah gue bilang jangan macam-macam!”
“Kami cuma mau ke dalam sebentar doang kok!” bentak seorang pria.
“Ampun bang,” ujar satpam sambil meringis kesakitan.
“Sekarang saja minta ampun, tadi sok jagoan!” bentak pria itu sambil menendang satpam hingga tersungkur.
Ketiga orang itu segera masuk ke dalam restoran. Karena wajah mereka yang sangar beberapa tamu mulai ketakutan. Mereka hanya menatap sekelilingnya. Aditya mengernyitkan keningnya. Sherly mulai cemas dia takut jika mereka adalah teman orang-orang yang dihajar Aditya di restoran waktu itu. Mereka bertiga berjalan menuju meja Aditya dan Sherly.
BERSAMBUNG…
__ADS_1