Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 81


__ADS_3

Dua orang yang barusan keluar dari monil adalah Adrian dan Arfa. Mereka datang menghampiri Aditya. Jack dan Wawan beserta anak buahnya terus menatap mereka berdua tajam. Mereka tidak menyangka jika ada orang yang ingin terlibat masalah dengan mereka.


“Kenapa Bos? Kelihatannya suasana di sini cukup tegang,” tanya Adrian.


“Gue cuma lagi dibuat sibuk sama mereka. Kalian sendiri mau kemana?”


“Kami kebetulan sering kemari. Di sini biasanya kami main billiard dengan geng lain. Lumayan buat hiburan.”


“Bos sendiri sedang apa di sini? Bawa cewek cantik segala.”


“Oh, dia temenku. Kebetulan kami sengaja datang ke sini untuk makan malam. Cuma malah ketemu sama mereka.”


“Wah, lumayan banyak juga, jadi ikut semangat nih.”


“Gue nggak berniat ngelibatin kalian loh.”


“Haha Bos bos, kalau lawannya sebanyak itu kamu juga bisa kewalahan, terlebih mereka mungkin bawahan pemilik wilayah ini.”


Arfa kemudian menggerakan tangannya hingga bersuara. Melihat Arfa yang bersemangat Adrian malah tersenyum sambil berjalan mendampingi Arfa. Aditya malah geleng-geleng kepala, tapi dia merasa senang karena kelihatannya dengan bantuan mereka berdua dia masih bisa melindungi Sherly yang ada di belakangnya.


“Lu siapa hah? Berani ikut campur masalah gue, sudah bosen hidup lu!” bentak Jack.


“Lu nggak tahu apa? nih yang namanya Jack!” teriak Wawan.


“Kelihatannya mereka nggak mengenal kita Dri,” ucap Arfa.


“Mau bagaimana lagi, kita harus mentaati kesepakatan. Di sini adalah wilayah musuh mau tidak mau kita harus melepas jaket geng kita jika tidak mau dianggap sebagai pernyataan perang,” jawab Adrian.


“Siapa bosnya?” tanya Arfa.


“Nih gue!” jawab Jack.


“Kalau emang lu punya urusan sama mereka selesaikan di sana sisanya cukup hadapi gue,” jelas Arfa.


“Biarin orang itu maju juga,” ucap Aditya sambil menunjuk orang yang dia temui di lantai dansa termasuk Wawan.

__ADS_1


“Oke. Lu yang punya urusan boleh lewat,” kata Adrian.


“Lu nggak usah seenaknya merintah gue!” bentak Jack sambil melayangkan tinjunya ke awah wajah Arfa, namun dengan cepat Arfa menangkisnya.


“Lu harusnya berterimakasih sama gue, selama ini yang pernah berhadapan sama gue langsung belum pernah ada yang selamat!” jawab Arfa sambil menghentakkan tangan Jack yang terlihat sedikit turun keberaniannya.


Lima orang termasuk Wawan dan Jack maju untuk menghadapi Aditya, sisanya masih berhadapan dengan Adrian dan Arfa. Aditya menyuruh Sherly untuk mundur agak jauh darinya, Sherly menyarankan untuk menelepon polisi saja karena dia tidak mau Aditya kenapa napa. Namun Aditya menolaknya dengan alasan masalahnya malah akan lebih panjang lagi.


“Lu sok sokan mau nantangin gue!” bentak Jack.


“Kita yang punya masalah jadi sebaiknya kita juga segera menyelesaikannya,” jawab Aditya dengan tenang.


“Lu nggak tahu y ague sama bos Jack itu pemegang sabuk hitam karate!”


“Wow, gue dan jutaan orang lainnya malah nggak tahu hal itu.”


“Lu bakalan segera mengetahuinya sampe nyesel di alam baka!”


Tiga orang anak buah Jack maju menyerang Aditya. Seorang dengan cepat melayangkan tinjunya dari depan satu orang dari kiri satu orang lagi menendang dari kanan. Aditya dengan cepat memperagakan beberapa tehnik beladiri karate. Orang di sisi kiri terpental menabrak mobil yang dikanan dibanting ke tembokan lalu diinjak sedangkan orang di depan di tending hingga menabrak Jack.


“Kelihatannya sudah dimulai,” gumam Adrian.


“Ayo tunjukin kalau lu semua emang jagoan di sini!” teriak Arfa sambil terus menghajar anak buah Jack.


“Dasar, nggak balapan nggak berkelahi. Dia selalu saja seperti orang kehilangan akalnya,” gumam Adrian.


Adrian hanya diam saja melihat kelakuan temannya yang terlihat sangat bersemangat menghadapi anak buah Jack. Beberapa orang menerjang menyerang dirinya namun tanpa bergerak banyak dia bisa menghadapi setiap orang yang menyerangnya. Arfa terus mengamuk menghajar setiap orang yang ada di hadapannya.


Sherly bersembunyi di balik tiang sambil berharap agar Aditya baik-baik saja. Wawan kini maju memperlihatkan beberapa gerakan dasar karate di hadapan Aditya. Namun hal itu malah membuat Aditya tertawa. Wawan segera maju memberikan beberapa pukulan bertenaga, namun dengan satu tangan saja Aditya berhasil mengimbanginya.


Jack terlihat geram, dia dengan cepat melesat mengayunkan tinjunya kepada Aditya. Namun dengan mudahnya Aditya segera menunduk lalu balas malayangkan tinjunya ke pertu Jack namun bisa ditangkis. Wawan datang sambil melompat Aditya segera mengelak ke samping. Jack segera menyapu kaki Aditya namun berhasil dihindari, namun kaki Wawan sudah melayang ke arah dadanya. Dengan cepat Aditya menahan tendangan menggunakan tangannya.


“Haha. Gimana rasanya hah?” ledek Wawan ketika melihat Aditya jatuh karena posisinya yang tidak seimbang saat menahan tendangan Wawan.


“Tidak buruk juga, cuma kalau segitu doang mah anak SMP juga bisa,” balas Aditya.

__ADS_1


“Keparat!” bentak Wawan sambil berputar melancarkan beberapa tendangan.


“Mati lu!” teriak Jack sambil ikut menyerang Aditya dengan tehnik beladiri karate yang dia kuasai.


Namun semua serangan mereka dengan mudah di tangkis oleh Aditya yang menggunakan tehnik beladiri Pencak silat. Wawan kembali menyerang dengan tinjunya, Aditya membalasnya dengan tinju juga ketika tinju mereka beradu terlihat Wawan meringis kesakitan, tangannya serasa membentur besi keras.


Aditya tertawa kecil melihatnya. Wawan kemudian menghunuskan pisau kepadanya, Jack maju dengan melayangkan pukulan namun dalam sekejap tubuhnya sudah terbanting ke tembok. Wawan melayangkan pisaunya mengarah ke leher, Aditya mengelak ke bawah kakinya hendak menyapu namun Wawan melompat sambil menghujamkan pisaunya.


“Huh, hampir saja,” ujar Aditya.


“Cih! Lain kali serangan gue nggak akan meleset!” gerutu Wawan.


“Haha nggak ada kesempatan kedua lagi bro,” Jawab Adtya dengan cepat menerjang. Wawan mengelak, tendangan Aditya berhasil mengenai bahu Wawan hingga mundur.


“Cih. Cepet banget,” gumam Wawan. darahnya berdesir karena merasa takut ketika melihat seriangai Aditya saat ini.


“Hahaha padahal gue baru semangat.”


Jack ikut maju, Wawan juga maju. Aditya menghindari serangan Wawan dengan cepat tangannya dia cengkram. Namun saat hendak dipatahkan tiba-tiba Jack menendangnya hingga mundur beberapa langkah. Wawan meringis kesakitan. Aditya menyeringai lalu melesat, memberikan beberapa pukulan kepada Jack hingga tubuhnya oleng.


Wawan memaksa menghunuskan pisaunya, Aditya berhasil menendang tangan Wawan hingga pisau terpental jauh. Aditya bertumpu kepada dua tangannya di halaman lalu kakinya menjepit leher Wawan lalu membantingnya hingga terkulai lemas. Jack maju dia berhasil memegang kedua tangan Aditya. Di sela-sela sepatunya terlihat kilatan terang benda tajam. Aditya segera mengelak dari serangan kaki Jack. Dengan keras dia menghantam kaki Jack hingga menjerit.


“Dit..” tiba-tiba sherly berteriak.


“Lu jangan bergerak kalau nggak cewe ini bakalan di tangan gue!” bentak satpam yang tiba-tiba menyergap Sherly.


“Bajingan!” teriak Aditya geram, dia tidak menyangka jika satpam itu juga bagian dari anak buah Jack.


“Hahaha. Gimana rasanya diambang keputusasaan?” ledek Jack.


“Tadinya gue cuma mau main-main sedikit. Kalau sudah begini, lu bakalan terima akibatnya!” bentak Aditya dengan wajah penuh amarah. Tangannya mengepal kuat.


“Hahah masih bisa menggertak rupanya, berlutut!” teriak Jack sambil menendang kaki Aditya hingga rubub. Jack kemudian menghunuskan pisaunya ke leher Aditya.


Namun dengan cepat keadaan malah berbalik. Kini Aditya yang mencengkram leher Jack. Pisau miliknya sudah ada di tangan Aditya terhunus di leher Jack sendiri.

__ADS_1


“Lu suruh satpam bajingan itu lepasin Sherly!” bentak Aditya di telinga Jack.


BERSAMBUNG…


__ADS_2