
Alunan musik menambah syahdu suasana di ruangan itu. Aditya dan Sherly dengan lincah mulai berdansa mengikuti irama music yang diputar. Semua pria terlihat iri menatap Aditya. Mereka mungkin berpikir jika wanita secantik Sherly tidak cocok berdansa dengan Aditya.
“Kamu hebat juga Dit,” puji Sherly.
“Tubuhku hanya bergerak sendiri mengikuti irama musik. Semua orang di sini memperhatikanmu loh Sher.”
“Aku tidak peduli, memangnya kenapa?”
“Nggak, mungkin ada beberapa diantara mereka yang ingin berdansa denganmu.”
“Mana mungkin aku mau berdansa dengan orang yang tidak kukenal.”
“Aku bersyukur lantai dansa ini dibuat di ruangan.”
“Memangnya kenapa Dit.”
“Kalau dibuat di lapangan terbuka mungkin seluruh orang di dunia akan iri kepadaku karena bisa berdansa dengan wanita secantik dirimu.”
“Ih mulai deh.”
Beberapa pria mulai berbisik bisik sambil mendekati mereka berdua, Aditya mulai waspada. Seorang pria yang kelihatannya bos mereka mendekati Sherly. Ketika tangannya hendak mencolek Sherly dengan cepat Aditya menarik Sherly hingga memeluknya.
“Dit..” gumam Sherly karena kaget.
“Ada orang yang mau menyentuhmu,” bisik Aditya. Mereka melanjutkan berdansa sambil menjauh dari pria itu. Kelihatan pria itu sangat kesal karena merasa tidak dianggap.
“Hei! Lu sudah berdansa sejak tadi, gentian dong,” ujar pria itu sambil kembali mendekat. Namun mereka berdua tidak menanggapinya.
“Lu tuli ya!” bentak pria itu sambil melayangkan pukulannya ke arah Aditya. Namun sambil berdansa dia menghindari pukulan itu dengan mudah.
“”Keparat!” teriak pria itu karena kesal. Dia sudah beberapa kali melayangkan pukulannya kepada Aditya namun berhasil dihindari dengan gerakan dansa.
Beberapa pria lain mulai maju mengelilingi Aditya dan Sherly. Melihat hal itu Sherly terlihat cemas, namun Aditya berbisik kepadanya untuk terus berdansa. Beberapa serangan pria sangar itu kembali berhasil dihindari oleh Aditya. Bahkan Aditya masih sempat melakukan serangan balasan hingga beberapa pria tersungkur ke lantai.
Seorang pria hendak menangkap Sherly namun Aditya segera menariknya dan bertukar posisi lalu menendang leher pria itu hingga jatuh. Dua orang maju menyerang dengan tinju mereka. Aditya memiringkan tubuhnya sambil memeluk Sherly. Tubuhnya berputar hingga kakinya berhasil menyapu dua orang itu sampai ambruk.
Bos mereka kelihatan sangat marah, dia kemudian memerintahkan semua anak buahnya untuk menyerang sekaligus. Aditya dengan cepat mengalahkan tiga pria lalu melindungi Sherly yang ada di belakangnya. Gerakan dansa mereka baru terhenti.
__ADS_1
“Apa maksud lu ganggu kami hah?” tanya Aditya.
“Hahaha, giliran gue yang berdansa sama wanita cantik di sana itu,” jawab bos penjahat sambil menunjuk Sherly.
“Emangnya dia apaan seenaknya lu bilang begitu.”
“Bukannya dia wanita sewaan ya? Mana mungkin wanita secantik itu mau jadi pasangan lu. Pasti lu nyewa dia.”
“Kasian, kelihatannya lu belum pernah berdansa dengan wanita cantik selain wanita sewaan ya,” ledek Aditya.
“Bajingan! Lu nggak tahu apa siapa gue?”
“Gue nggak perlu tahu, buat apa gue nginget-nginget nama orang kayak lu. Buang-buang memori otak saja.”
“Nih orang perlu dihabisi kayaknya bos! Bacotnya nggak ketulungan.”
“Yah mendingan daripada lu semua, begonya sampe dibawa mati,” balas Aditya.
“Asal lu tahu, gue Wawan! orang yang megang terminal di sini!” ucap bos berandalan itu dengan bangga.
Sekarang Aditya paham kenapa petugas keamanan di restoran itu tidak ada yang berani melerai mereka. Kemungkinan petugas keamanan sendiri merasa takut. Bahkan semua orang di sana juga malah menyingkir menjauhi mereka. Aditya menghitung berandalan di depannya, hanya ada tujuh orang termasuk bosnya, Wawan.
Dua pria kembali maju menyerang namun dengan gerakan judo Aditya berhasil membanting mereka dengan keras ke lantai. Seorang pria melayangkan tinjunya dari samping kanan seorang lagi dari samping kiri lalu orang di depannya menendang lurus ke arah perutnya. Aditya tidak bisa menghindar karena serangan itu pasti malah akan mengenai Sherly.
Dengan tenang Aditya menghela nafas dalam lalu menahannya. Dia menangkap kedua tinju di sampingnya lalu tendangan orang di depannya berhasil mengenai perutnya. Namun Aditya masih berdiri dengan kokoh. Dengan cepat dia menarik kedua tangan lawannya lalu memutarnya hingga terdengar suara tulang yang patah. Kedua orang itu menjerit.
“Duh sorry bro nggak sengaja,” ucap Aditya sambil menendang kedua orang itu hingga terpental cukup jauh.
“Kurang ajar! Lu beneran cari mati rupanya!” bentak Wawan.
“Nggak, buat apa cari mati buang-buang waktu saja.”
“Awas lu ya! Urusan kita belum selesai!” gertak Wawan.
“Lu pasti bakal nyesel sampai mati!” ancam pria lainnya. Wawan dan anak buahnya pergi meninggalkan ruangan dansa itu.
“Sebaiknya kita juga cepat pergi dari sini Sher. Kecantikanmu itu benar-benar bisa mengundang para berandalan ya,” ucap Aditya sambil tertawa.
__ADS_1
“Ih, mau gimana lagi, orang aku memang begini,” jawab Sherly sambil tersenyum.
Mereka berdua pergi meninggalkan ruangan. Ketika sampai di lantai satu, Sherly tiba-tiba ingin pergi ke toilet. Aditya mengantarnya dan menunggu di luar toilet. Setelah selesai mereka segera pergi keluar restoran. Namun di luar tampak sudah berkumpul dua puluhan orang pria sangar termasuk Wawan dan juga seorang pria yang tengah duduk di atas mobil.
“Itu mereka Kak,” ucap Wawan sambil menunjuk Aditya dan Sherly.
“Ho, jadi itu orang yang membuatmu tidak bisa datang ke game center menemuiku,” ujar Pria yang duduk di atas mobil sambil melompat ke bawah.
“Tapi wanita di belakangnya itu benar-benar seperti bidadari. Aku yakin kecantikannya bisa disandingkan dengan Rembulannya Bandung atau Mentarinya Bandung,” ujar pria itu lagi.
“Iya Kak. Tapi pria itu tidak mau memberikan wanita itu tadi! Bahkan dia melumpuhkan keempat anak buah kita!” kata Wawan dengan nada tinggi.
“Hoi, kalo lu mau pergi dengan selamat dari sini serahkan wanita itu sama gue!” teriak pria itu. Aditya melihat keadaan di sekelilingnya. Petugas keamanan malah membuang muka, bahkan ketika ada tamu yang datang mereka malah buru-buru masuk mengabaikan mereka.
“Hahaha percuma lu merengek meminta bantuan siapapun di sini! Mereka nggak akan berani sama gue, Jack!” ucap pria itu sambil tertawa.
“Hahaha, gue nggak mau merengek meminta bantuan. Gue cuma memastikan kalau halaman restoran ini cukup buat lu semua terkapar. Karena kalau sampai terkapar di jalan malah bakalan buat macet,” balas Aditya.
“Kurang ajar! Sudah mau mati masih berani ngoceh rupanya!” bentak seorang pria.
“Kita habisin saja di sini bos! Tuman!”
“Kita cincang tubuhnya samper sekecil atom!”
“Bakar saja pantatnya sampe hitam!” seru beberapa anak buah Jack.
“Hahaha denger nggak tuh! Gue kasih kesempatan sekali lagi. Serahin wanita itu atau lu mati!” bentak Jack.
“Dit..” ujar Sherly sambil mendekap punggung Aditya karena ketakutan.
“Tenang saja Sher, jika terjadi apa-apa. Kamu pergi ke game center temui temannya Ratna dan minta dia untuk mengantarmu pulang,” ucap Aditya menenangkan Sherly.
“Jangan berkata begitu Dit, aku nggak mau kamu kenapa napa,” ucap Sherly dengan mata berkaca-kaca.
Aditya hanya tersenyum dan bilang kalau dia akan baik-baik saja selama Sherly bisa pergi dari sana. Beberapa orang pria mulai maju mendekati Aditya. Tiba-tiba dua mobil mewah berhenti di halaman restoran. Dua orang pria keluar dari dalam mobil. Kemunculan mereka membuat Aditya tersenyum.
BERSAMBUNG…
__ADS_1