Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 157


__ADS_3

Pagi harinya keluarga Pandu dan Aditya melakukan aktivitas seperti biasanya. Aditya bersama Frita berangkat bersama menuju kantor. Sepanjang perjalanan mereka terus bercanda. Ketika sampai di perusahaan Aditya terkejut ketika melihat ada mobil mewah Ratna. Dari kejauhan Ratna terlihat sedang berdiri di depan pintu masuk.


“Itu bukannya wanita yang waktu itu ya?” tanya Frita.


“Ya,” jawab Aditya sambil menatap tajam Ratna.


“Ada keperluan apa dia datang kemari ya, jangan-jangan dia ada janji bertemu denganmu?” tanya Frita sambil menatap Aditya.


“Nggak tuh, mungkin dia ada keperluan sampai harus datang kemari,” jawab Aditya sambil menghentikan mobill di halaman kantor.


Dia dan Frita kemudian turun bersamaan dari mobil. Tampak raut wajah Ratna yang sudah sedih kini semakin murung lagi, dia terlihat menghela nafas saat melihat Aditya dan Frita berjalan menghampirinya.


“Pagi Rat, kamu ada keperluan apa datang ke sini?” sapa Aditya sambil tersenyum.


“Tidak apa-apa kok Dit, aku mau menyapa doang,” jawab Ratna sambil melangkah pergi dengan penuh kesedihan.


“Dia kenapa ya? Kok sedih banget, apa mungkin karena melihat kita kembali baikan?” tanya Frita heran melihat sikap Ratna.


“Aku rasa tidak, kelihatannya dia sedang menyembunyikan sesuatu,” jawab Aditya.


“Tapi hari ini kamu harus bekerja Dit,” ucap Frita karena khawatir Aditya malah akan mengejar Ratna.


“Tenang saja, aku nanti saja sepulang bekerja menemuinya,” ujar Aditya sambil tersenyum.


Siang harinya Aditya coba untuk menghubungi Ratna namun tidak kunjung diangkat. Aditya kemudian mengirim pesan kepada Ratna. Dia bilang kalau Ratna jangan membuatnya khawatir, dia ingin Ratna menerima panggilannya. Setelah pesan terkirim tak lama kemudian ada panggilan dari Ratna.


“Siang Rat. Kamu tadi kenapa sih kok murung begitu? Aku telepon nggak diterima terima” sapa Aditya.


“Aku rasa kamu juga tidak akan peduli kepadaku,” jawab Ratna dengan nada kesal.


“Kamu ini ada-ada saja, kalau ada sesuatu bicara dong kepadaku jangan buat aku khawatir kayak begini.”


“Jangan pura-pura khawatir deh, kamu pasti lebih peduli sama bosmu itu. Kenapa sih padahal kan dia terus-terusan menyakitimu!”

__ADS_1


“Kita ketemuan saja yuk, nggak enak kalau ngobrol lewat telepon.”


“Iya aku kirim lokasinya,” jawab Ratna ketus.


Setelah menerima lokasi dari Ratna Aditya segera pergi menuju mobilnya, namun di perjalanan dia bertemu dengan Rani yang ingin mengajaknya makan bersama, tapi Aditya tolak. Dia juga berpapasan dengan Sherly yang ingin mengajaknya makan di luar tapi Aditya kembali menolaknya dengan alasan ada janji dengan orang lain.


Aditya mengemudikan mobilnya dengan cepat menuju lokasi, dia yakin ada sesuatu yang terjadi dengan Ratna karena tidak biasanya dia sangat murung sampai seperti itu. Setelah sampai di restoran yang dituju dari luar terlihat Ratna yang sedang duduk di dalam memandangnya dengan tatapan sayu.


“Sebenarnya apa yang telah terjadi kepadamu Rat?” tanya Aditya smbil duduk di hadapan Ratna setelah memesan makanan.


“Aku tidak kenapa-napa,” jawab Ratna singkat.


“Jangan seperti anak kecil dong Rat, kamu bilang saja padaku. Siapa tahu aku bisa membantumu.”


“Memangnya kamu peduli padaku? Bahkan di kapal pesiar kamu lebih memilih pergi meninggalkanku!”


“Aku minta maaf Rat, saat itu suasana hatiku benar-benar sedang kacau.”


“Terus kenapa sekarang kamu malah kembali akrab dengan atasanmu itu? Bukankah tadi malam dia harusnya dilamar orang lain?”


“Jawab!” tegas Ratna dengan kesal.


“Hemh, lamarannya gagal. Sekarang aku masih menjadi sopir pribadinya,” jawab ADitya sambil menghela nafas.


“Cukup? Sekarang kamu cerita ada apa sebenarnya tiba-tiba datang ke kantor dengan wajah sedih seperti itu? Aku yakin kamu pasti menyembunyikan sesuatu,” bujuk Aditya.


“Sebenarnya kakek semalam di bawa ke rumah sakit,” jawab Ratna dengan mata berkaca-kaca.


“Apa? Dia sakit apa?” tanya Aditya dengan mimik sangat terkejut bercampur cemas.


“Dokter belum bilang apa-apa kepada kami, yang jelas saat ini dia masih koma,” jawab Ratna sambil mencoba menahan tangisnya.


“Memangnya seperti apa kejadiannya hingga dia koma?”

__ADS_1


“Tadi malam setelah makan-makan bersama beberapa petinggi dan anggota geng Merak, kakek tiba-tiba pingsan. Kami langsung membawanya ke rumah sakit tapi sampai saat ini dia malah koma dan tidak sadarkan diri,” jawab Ratna. Butiran air matanya mulai meleleh di pipinya.


“Aku bingung harus bagaimana lagi, aku tidak tahu harus berbuat apa. Hampir semua kegiatan geng juga berhenti. Saat ini geng Merak benar-benar sedang kacau,” tambah Ratna. Aditya mengambil tisu lalu menyeka air mata Ratna dengan lembut.


“Sekarang bagaimana kondisi kakekmu?” tanya Aditya pelan.


“Menurut Dokter saat ini kondisi kakek mulai membaik, tapi entah kapan dia akan sadar dari komanya. Aku bener-bener bingung Dit. Kakek adalah keluargaku satu-satunya yang tersisa,” kata Ratna sambil terisak. Tanpa lelah Aditya terus menyeka air mata Ratna dengan lembut.


“Aku mengerti perasaanmu Rat, aku juga tahu bagaimana rasanya ketika merasakan rasa takut kehilangan seseorang yang berharga bagi hidupmu. Bagiku kakekmu juga sudah kuanggap orang tuaku juga. Aku tidak mungkin jadi seperti ini kalau tidak bertemu dengannya,” hibur Aditya.


“Kamu sekarang jangan cemas atau panik. Aku yakin kakekmu akan baik-baik saja. Dia itu sangat kuat tahu, bahkan Ketua geng besar lainnya pasti takut kalau harus berhadapan dengan kakekmu. Aku juga yakin rumah sakit akan semaksimal mungkin merawat kakekmu,” jelas Aditya mencoba menegarkan hati Ratna.


“Sekarang yang perlu kamu lakukan hanyalah berdoa sambil berusaha untuk terus menemaninya setiap waktu, mengajaknya bicara, aku yakin dengan begitu kakekmu akan cepat tersadar kembali,” saran Aditya sambil mengusap lembut pipi Ratna dengan tangannya.


“Terimakasih banyak Dit, aku pasti akan melakukannya,” jawab Ratna sambil tersenyum.


“Kalau begitu nanti malam aku akan datang menjenguk kakekmu, nanti kirimkan alamat rumah sakitnya ya.”


“Iya, nanti akan aku kirimkan lokasinya.”


Mereka berdua kemudian menikmati makanan yang sudah tersedia di meja. Setelah selesai makan tiba-tiba saja ponsel Aditya berdering. Tampak Frita yang meneleponnya.


“Dit kamu di mana sih? Di kantor ada pak Arya tahu,” sapa Frita.


“Aku sedang makan siang di luar, mau apa pak Arya ke kantor?”


“Entahlah katanya dia hanya ingin berbicara berdua denganmu.”


“Berbicara berdua?”


“Iya begitu katanya, cepat kemari ya,” kata Frita sambil mengakhiri panggilannya.


Aditya mengernyitkan keningnya. Ratna juga terlihat heran. Aditya kemudian berpisah dengan Ratna di luar restoran. Dia kembali menuju perusahaan Glow & Shine co. dengan penuh rasa heran. Dia yakin Arya tidak akan datang begitu saja ke sana tanpa alasan yang jelas.

__ADS_1


“Sebenarnya apa alasan dia datang ke sini?” gumam Aditya. tiba-tiba ponselnya kembali bergetar. Terlihat ada pesan dari Putra. Setelah Aditya membacanya dia tersenyum gembira. Mobilnya semakin cepat melaju di jalanan.


BERSAMBUNG…


__ADS_2