
Frita sampai ke kantornya. Beberapa pegawai tampak heran karena tidak biasanya Frita diantar oleh taksi online. Frita segera masuk ke dalam kantor tanpa menghiraukan tatapan karyawan lain yang memperhatikannya dari kejauhan. Wira yang melihat hal itu dari kantor sopir tampak begitu senang. Dia pikir jika rencananya untuk menyingkirkan Aditya sudah sukses.
“Ada apa Wir, keliatannya kamu senang begitu?” tanya Jana.
“Lu tadi nggak liat Jan, bu Frita datang ke kantor dianterin sama taksi online tahu,” jawab Wira.
“Ah masa? Aku nggak ngeliat tuh.”
“Lah terus dari tadi kamu ngapain saja di sini?”
“Aku lagi mikirin istriku di rumah Wir. Dia marah-marah terus karena sebulan tidak aku kasih uang.”
“Emangnya gajimu dipakai buat apa?”
“Buat selingkuhan baru gua,” jawab Jana sambil tertawa.
“Dasar. Pantesan saja lah kalo begitu. Untung juga kamu masih dikasih makan sama istrimu.”
Mendengar percakapan Wira dan Jana yang sedikit kencang, beberapa sopir lain ikut nongkrong di luar kantor karena penasaran dengan apa yang sedang mereka bicarakan. Hadi sang kepala sopir juga ikut duduk di dekat mereka.
“Ada apa nih Wir?” tanya Hadi.
“Ini Bos, tadi aku lihat bu Frita datang ke kantor dianterin sama taksi online,” jawab Wira.
“Lah si Aditya kemana ya?”
“Ya kemana lagi Bos. Dia pasti di pecat lah karena terlambat mengantar bu Frita kemarin. Tenang kan kita sekarang,” sela Jana sambil tertawa.
“Lah yang bener saja. siapa tahu dia disuruh pak Pandu ke tempat lain. Aku agak ragu kalau Aditya di pecat, dia kan bawaan pak Pandu langsung. Bu Frita juga nggak mungkin bisa seenaknya mecat dia,” jelas Hadi.
“Kita taruhan saja kalo begitu. Nih kalau Aditya di pecat aku kasih gajiku bulan ini dua puluh lima persen buat yang yakin Aditya tidak di pecat. Siapa lagi yang mau ikutan?” tantang Jana.
“Oke. Aku taruhan kalo Aditya belum di pecat,” kata Hadi.
“Lu Wir?” tanya Jana.
“Aku bertaruh Aditya belum di pecat,” jawab Wira sambil tertawa.
“Lah kan tadi lu bilang bu Frita datang sendirian? Gimana sih,” gerutu Jana.
__ADS_1
“Terus yang bilang di pecat siapa? Aku cuma bilang kalau kemungkinan kita nyingkirin Aditya berhasil. Cuma ya belum tentu di pecat kemarin lah, bisa saja hari ini.”
“Lu mah nggak asik lah.”
Banyak diantara para sopir yang bertaruh kalo Aditya sudah di pecat. Namun mendengar penjelasan Wira mereka mulai kehilangan harapan memenangkan taruhan. Wira, Hadi dan tiga orang lainnya bertaruh kalau Aditya belum dipecat.
Tak lama kemudian mobil yang biasa Aditya bawa masuk ke tempat parkir. Wira dan orang yang bertaruh Aditya belum dipecat tampak bersorak. Sedangkan Jana dan yang lainnya mulai pusing memegangi kepalanya. Walaupun Wira begitu membenci Aditya namun hari ini setidaknya Aditya sudah membantunya memenangkan taruhan.
Aditya berjalan ke arah kantor sopir untuk melakukan absensi. Beberapa sopir lain pergi dari tempat itu, hanya tersisa Jana dan Wira saja yang masih duduk di luar sambil memperhatikan Aditya dengan tatapan tajam penuh kebencian.
“Selamat pagi Jan, Wir,” sapa Aditya sambil masuk ke dalam kantor untuk menyimpan tasnya di loker.
“Jangan pernah sok akrab dengan kami,” gerutu Jana.
“Maaf kalau memang begitu. Tadinya kukira kalian ingin disapa olehku hingga menunggu di depan kantor seperti itu,” ucap Aditya sambil tersenyum.
“Sikapmu itu benar-benar menyebalkan juga ya. Kalau lu bersikap seperti itu ketika bertemu denganku di luar kantor, akan kucincang cincang hingga tipis!” bentak Jana.
“Wah. Aku tidak menyangka jika kamu juga mantan tukang masak,” ledek Aditya.
“Kurang ajar!” teriak Jana sambil berjalan mendekati Aditya, namun tangannya di tahan oleh Wira.
“Ho. Aku rasa hal itu sangat kecil terjadi,” tegas Aditya.
Frita duduk di ruangannya ditemani oleh Rani. Di sana mereka sedang mengurus laporan kerja sama dengan Mr. James. Namun Rani lihat Frita begitu murung hari ini. Dari wajahnya tersirat kekesalan yang sedang disembunyikan olehnya.
“Kamu baik-baik saja kan Mbak?” tanya Rani cemas.
“Aku baik-baik saja Ran. Aku hanya sedang kesel doang kok,” jawab Frita sambil terus menatap laptopnya.
“Kesel sama siapa Mbak?”
“Ada deh Ran. Yang jelas orang itu sudah berani mengusik kehidupan pribadiku terlalu jauh.”
“Ih aku makin penasaran tahu Mbak.”
Frita menatap wajah sahabatnya yang tengah penasaran itu. Dia tidak mungkin mengatakan kalau ayahnya dipaksa untuk menikahkannya dengan Aditya. Dia juga khawatir kalau akan ada orang lain yang mendengar pembicaraan mereka. Karena itu Frita mencoba untuk tidak mengatakan hal itu secara gamblang.
“Ya siapa lagi kalau bukan Erik,” jawab Frita asal-asalan.
__ADS_1
“Erik? Lah orang kayak dia kamu pikirin Mbak. percuma tahu, dia emang dari dulu sudah aneh,” ujar Rani sambil tertawa.
“Yah mau nggak mau juga tetep kepikiran Ran. Aku khawatir kalau Erik memaksa ayah agar bisa menikah denganku. Selama ini ayah juga sudah sering dibantu Unesia Corp., itu yang aku khawatirkan,” jelas Frita mencoba menyamarkan kenyataan yang dia alami sebenarnya,
“Begitu ya. Aku yakin kok ayahmu juga nggak akan mau menikahkanmu dengan orang aneh seperti Erik.”
“Ini misalkan saja Ran, bisa saja kan ayah berhutang nyawa sama ayahnya Erik sampe dia nggak bisa ngebalas kebaikannya kecuali dengan menikahkanku?”
“Lah sejak kapan ayahnya Erik menekuni usaha kredit nyawa?” tanya Rani sambil tertawa lebar.
“Ih malah bercanda, aku serius tahu Ran.”
“Maaf. Habisnya lucu sih kata-katamu tadi.”
“Nah kalau kamu jadi aku mau ngapain kalo kejadian kayak gitu?”
“Kalau aku sih Yes.”
“Ih!”
“Bercanda. Kalau emang aku nggak punya pilihan buat nolak atau malah keluargaku terancam ya mau gimana lagi. Aku mungkin akan terpaksa menerimanya. Tapi aku pasti bikin orang itu nggak betah dekat denganku, akan kusiksa dia sampe menyerah dan meninggalkanku.”
Frita tampak tersenyum puas mendengar jawaban dari Rani. Ternyata pemikiran mereka memang sama. Dia lalu memikirkan cara agar Aditya tidak betah berada di Glow & Shine Co. Setidaknya setelah Aditya pergi dari perusahaan dengan sendirinya maka dia akan lebih tenang, habis itu dia tinggal mencari cara agar Aditya membatalkan pertunangan mereka.
Tampak Frita tersenyum jahat karena menemukan cara untuk membuat Aditya tidak betah berada di Glow & Shine Co. Rani sedikit khawatir melihat temannya tersenyum sendiri. Dia takut Frita ketularan penyakit Erik.
“Kamu jangan ikut-ikutan Erik dong Mbak, ngeri aku liatnya,” ujar Rani sambil bergidik.
“Putri senjaku yang manis, andai di dunia ini sudah tak ada lagi senja, aku akan tetap menunggumu sampai kamu mau menikahiku,” kata Frita mencoba menirukan suara Erik. Mereka berdua lalu tertawa. Rani senang melihat Frita ceria kembali seperti biasa.
“Kamu ini. Ketahuan Erik tahu rasa nanti.”
“Biarin, yang jelas aku sudah dapet ide bagus hari ini.”
“Ide apaan Mbak?”
“Aku ingin semua sopir mendapat latihan khusus dari bagian keamanan.”
“Loh kenapa tiba-tiba begitu Mbak?”
__ADS_1
BERSAMBUNG…