
Aditya berjalan dengan tatap mata waspada meninggalkan tempat karaoke itu. Dia tetap tak dikenali oleh orang-orang di sekitar. Beberapa sosok yang tak sengaja dia temui di parkiran gedung itu bahkan termasuk mereka yang menghajarnya di malam pesta ulang tahun Ovie waktu itu.
“Tak ada waktu untuk ribut,” bisik Aditya pada dirinya sendiri.
Ia terus berjalan menembus kerumunan tanpa menimbulkan curiga. Di tepi jalan, Aditya mencoba mencari-cari mobil Shelly D, tetapi tidak ketemu. Ia melihat begitu banyak mobil mewah terparkir di sepanjang jalan itu. Rupanya tak jauh dari situ ada sebuah seminar yang baru selesai digelar sore tadi. Para tamu undangan berhamburan keluar meninggalkan lokasi acara.
“Shelly, kamu di mana?” tanya Aditya setelah teleponnya tersambung. Ia tak henti menoleh ke sana kemari, mencari di antara para undangan seminar yang berjalan di sekitarnya, berharap menemukan Shelly.
Lokasi itu terlalu ramai. Penuh dengan manusia. Antara pengunjung karaoke dan acara seminar di seberang, serta sebuah food court tak jauh dari situ, sudah tak bisa dibedakan lagi. Aditya tak sadar seseorang sedang mengintainya.
Shelly D menjawab, “Kamu keluar dari tempat karaoke, lalu jalan beberapa ratus meter ke arah barat. Ada salon pria yang tutup, aku pakir di depannya pas.”
“Baiklah,” jawab Aditya lalu menutup telepon. Dia segera berjalan dengan tenang sesuai arahan Shelly D. Masih tak sadar dibuntuti. Ketika akhirnya Aditya sadar ada sosok bayangan mengikutinya ke kegelapan jalanan dekat salon pria itu, dia segera berbalik badan.
“Pak Gandi? Anda bikin kaget saja!” pekik Aditya tak percaya.
“Setelah kucari tahu, sepertinya ada cara yang lebih baik selain kalian harus saling melukai atau saling bunuh,” kata lelaki berambut putih itu.
“Apa?”
“Pernikahan. Ya, kurasa itulah cara terbaik yang kutemukan, Dit, agar keluarga Setiawan Budi berhenti mengusikmu,” jawab Guru Tanpa Nama.
“Maksud Anda apa? Saya kan sudah menikah dengan Frita,” jawab Aditya heran.
“Aku tahu perempuan bernama Ratna itu,” kata Rahman Sugandi tanpa peduli apa yang barusan dikatakan Aditya. “Nah, mendiang kakeknya dulu juga punya pengaruh yang sangat kuat. Setiawan Budi segan padanya. Bahkan hingga saat ini setelah sang kakek itu tiada.”
Rahman Sugandi sedang bicara tentang kakek Ratna. Aditya mengerti kaitannya. Ia tentu bisa berpikir begini: jika dirinya menikahi Ratna, segala masalah dengan Setiawan Budi akan beres. Sebab, saat ini, hanya geng Ratna-lah yang mendominasi kota selain keluarga Setiawan Budi.
“Dua kerajaan besar tak akan berperang demi sesuatu yang sepele. Seperti dendam dari masa lalu, misalnya,” tutur Guru Tanpa Nama setelah diam beberapa saat.
“Apa maksud Anda?”
“Setiawan Budi sudah tak mengincar Frita dan keluarga kalian lagi. Kini kepalamu saja yang jadi incaran mereka, Dit,” jawab Guru Tanpa Nama.
“Tapi saya tak mungkin menikahi Ratna. Kami juga tak akan cocok kalaupun saya belum menikahi Frita!” ujar Aditya terlihat kesal.
Saat itu mereka sudah berjalan begitu dekat dengan mobil Shelly D.
Guru Tanpa Nama berhenti, menoleh pada Aditya yang berdiri di sampingnya, lalu berkata, “Semua pilihan ada di tanganmu, Dit. Ratna sudah bicara dengan Amy saat ini. Kita lihat saja bagaimana selanjutnya.”
“Apa? Ratna bicara dengan Amy?! Apa-apaan ini, Guru?” tanya Aditya tak percaya.
__ADS_1
“Kau minta bantuan. Maka inilah saranku dan Amy. Tak ada cara lain, kecuali kau mau orang-orang yang mati akan terus bertambah. Setiawan Budi jauh lebih garang dari musuh-musuhmu yang sudah mati,” tutur Guru Tanpa Nama lalu berpaling dan pergi, menghilang ditelan kegelapan malam .
Shelly D terdiam saja ketika Aditya masuk ke bangku kemudi.
Aditya tak tahu harus berkata apa. Ia shock mendengar perkataan dari sang guru barusan. Dan juga masih marah soal pemerkosaan pada Shelly D barusan. Ia hanya bisa bilang, “Kita pulang, Shelly. Pulang ke rumah orang tuamu, ya?”
Shelly D agak enggan mendengar orang tuanya yang sejak dulu tak pernah akur, tapi tak ada pilihan lain. Ia saat ini harus mengurung diri dari publik. Tak ingin terjadi sesuatu yang buruk lagi sampai semuanya aman.
Aditya pun bermobil, mengikuti petunjuk di maps yang Shelly D tunjukkan: arah rumah kedua orang tua Shelly D.
Shelly D memiliki kedua orang tua yang sederhana. Hidup apa adanya, tapi bukan orang baik-baik. Keduanya sama-sama pernah dipenjara dan bahkan sampai hari ini masih sesekali berulah di luar sana untuk mendapat sedikit uang.
Shelly D selalu bilang kepada ayahnya yang berwatak kocak, bahwa dia tak perlu lagi mencuri, karena Shelly sudah kaya raya dari menyanyi, tapi lelaki yang bernama Marwan itu selalu bilang, “Aku tak mau menyusahkan putriku selama masih mampu mencari duit sendiri!”
Sementara itu, sang ibu entah bekerja apa. Shelly D tak pernah tahu dan sang ibu juga selalu marah atau tersinggung saat ditanya. Sejak kecil ia sering diledek sebagai anak seorang pelacur.
“Ibuku bekerja, tapi dia bukan pelacur,” kata Shelly D semasa kecilnya dulu jika ada teman yang meledek.
“Tapi kerja ibumu apa coba? Memangnya kamu tahu?” ledek teman-temannya.
Shelly D sayangnya tak pernah bisa menjawab.
***
Aditya coba berbasa-basi untuk membunuh sepi, “Rumah pesembunyianmu yang dekat dengan rumah Frita itu, memangnya tak pernah mereka tempati?”
“Tidak sejak lama. Ayah ibuku memang orang-orang aneh. Mereka jarang hidup di rumah lama kami itu. Lebih sering ada di sini,” jawab Shelly D.
Tempat ini memang agak jauh dari mana-mana. Aditya menengok ke samping. Di sana ada semacam empang, yang gelap dan penuh suara jangkrik serta kodok. Entah apa yang ada di seberang empang itu. Tempat tersebut sangat gelap.
Seorang lelaki paruh baya membukakan pintu. Menatap wajah Shelly D dengan heran.
“Tumben kamu kemari? Katanya lagi sibuk?” sapa lelaki itu.
“Ini ayahku,” kata Shelly D sambil melirik Aditya, tak berminat menjawab tanya sang ayah barusan. “Yah, ini temanku, Aditya.”
Mereka saling berjabat tangan.
“Mana ibu? Kerja lagi? Ke mana lagi sekarang?” tanya Shelly D.
“Enggak. Dia keluar sebentar tadi tapi sudah balik,” jawab Marwan.
__ADS_1
Seorang wanita bertubuh langsing, nyaris kurus malah, keluar dan menatap Shelly D dengan tatapan kesal.
“Kenapa kalau aku tetap kerja? Aku boleh kerja sesukaku untuk dapat duit banyak yang bisa kupakai sendiri!” sembur wanita itu pada Shelly.
Sang penyanyi cuma diam. Aditya membatin, “Ini keluarga yang sangat aneh.”
“Oh, ya kenalin ini Aditya, Bu. Temanku yang barusan menolongku,” kata Shelly D pada sang ibu.
Mereka berjabat tangan. Aditya menyebutkan nama aslinya, dan begitu pula ibu Shelly D. Nama wanita itu Brenda Sukma.
Aditya dipersilakan duduk. Marwan membuatkan teh untuknya di dapur.
“Kenapa? Rama lagi?” tanya ibunya.
“Ya, tapi kali ini dia keterlaluan,” jawab Shelly D yang terlihat akan menangis lagi. Tapi coba dia tahan-tahan air matanya.
“Ya, sudahlah, biarkan dia. Toh yang membuatmu terkenal juga keluarga mereka!” jawab sang ibu dengan ketus.
Aditya ingin membela Shelly D, tapi merasa tak ada wewenang di rumah ini, jadi biar tidak kesal, dia pun pamit.
“Tunggu, kamu Aditya?” tahan ibunda Shelly D.
“Ya, Tante,” jawab Aditya.
“Orang mana sih?” tanya Brenda dengan meneliti wajah samaran Aditya yang tak terlihat familier.
“Dia orang Bekasi,” jawab Shelly D. “Sudahlah, Bu, dia mau pulang. Sudah malam juga.”
Brenda terlihat tak henti mengamati Aditya dengan cara yang tak wajar.
Marwan melangkah keluar, membawa nampan teh. Tapi Aditya sudah berlalu pergi.
“Lah, ini tehnya belum diminum,” gerutu lelaki paruh baya itu.
“Ya, sudah. Buat aku saja!” sambar Brenda dengan kasar.
Marwan hanya bisa nyengir pasrah, tak berkata-kata melihat kekasaran sang istri.
“Aku penasaran teman barumu itu. Kok wajahnya tampak aneh,” kata Brenda pada Shelly D pelan.
“Ya, dia cuma menyamar sih. Ada bahaya yang mengintainya,” jawab Shelly D singkat.
__ADS_1
Brenda entah kenapa terlihat menyembunyikan senyum. Senyum licik yang hanya akan muncul jika pekerjaan baru datang untuknya.
Bersambung....