Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 143


__ADS_3

Sebuah mobil melesat di samping mobil mewah Diaz. Tak berselang lama mobil itu sudah berhasil melewati mobil Diaz. Frita dan Gina terlihat terkejut melihat mobil yang menghalangi jalan.


“Mobil siapa itu? Berani juga dia menyalipku,” gerutu Diaz.


“Kenapa dia datang ke sini,” ucap Gina sambil terlihat kesal.


“Hei. Kenapa malah menghalangi jalan?” tanya Diaz dengan kesal kepada pria yang turun dari mobil. Beberapa anak buah Diaz tampak sudah waspada.


“Aku ayahnya Frita,” jawab Pandu sambil menghampiri mobil Diaz.


“Eh? Maaf om aku beneran nggak tahu. Pantas saja pakaian om keren begini,” ucap Diaz salah tingkah. Dia tidak menyangka jika yang ada di hadapannya adalah ayah Frita.


“Kamu tunggu saja di dalam ya Fri,”ucap Gina sambil keluar dari mobil.


“Ada apa mas?” tanya Gina.


“Aku tadi dengar dari Clarissa kalau Aditya pergi ke pesta bersama kalian. Aku susul ke kapal pesiar ternyata kalian sudah tidak ada, aku berniat menyusul kalian ke rumahmu tapi malah bertemu di sini. Di mana Aditya?” tanya Pandu sambil memperhatikan mobil yang ada di sana.


“Untuk apa sih mas peduli banget sama orang kayak dia? Barusan Frita meninggalkannya di kapal pesiar, mungkin dia lagi depresi karena Frita tolak,” jawab Gina.


“Apa?! Sudah kuduga jika kamu sengaja mengundang dia ke pesta itu hanya untuk merendahkannya! Kamu benar-benar tega ya Gin!” ucap Pandu marah-marah.


“Dia memang pantas mendapatkannya! Sejak dulu aku sudah memperingatkannya agar menjaga Frita dengan baik tapi buktinya? Frita tetap saja beberapa kali berhasil diculik juga! Dia itu memang tidak berguna,” balas Gina dengan nada tinggi.


“Kamu itu selama ini tidak tahu sebesar apa pengorbanan Aditya untuk menyelamatkan Frita!” bentak Pandu.


“Itu memang sudah tugasnya! Dia kan juga dibayar!”


“Kamu itu tidak tahu apa-apa Gin! Selama ini Aditya tidak pernah mau menerima uang apapun dariku! Dia hanya mau menerima upah kerjanya di kantor yang tidak seberapa!” jawab Pandu dengan penuh emosi.


Mendengar hal itu Gina terdiam, Frita juga terlihat terkejut di dalam mobil. Dia tidak menyangka jika hal itu benar-benar dilakukan oleh Aditya selama ini. Melihat hal itu Diaz mulai memberanikan diri untuk ikut berbicara.


“Tapi tetap saja om Frita dalam bahaya karena diculik. Kalau aku sih jamin nggak bakal ada penjahat yang bisa mendekat semeterpun kepada putri om,” ucap Diaz.


“Itu benar mas, tetap saja Frita berhasil diculik. Selama ini dia cuma beruntung karena para penculiknya hanyalah penculik rendahan, kalau penculiknya yang sudah hebat bagaimana jadinya putir kita?” timpal Gina.


“Lihatlah, Diaz bahkan bisa menyewa banyak bodyguard yang gagah dengan uangnya sendiri untuk melindungi Frita. Aku yakin ini adalah jalan terbaik untuk keselamatan Frita,” tambah Gina setelah Pandu diam saja.

__ADS_1


“Uang tidak akan bisa membeli segalanya Gin! Setidaknya kamu juga harus mempertimbangkan perasaan Frita juga.”


“Frita sendiri sudah menolaknya, lalu apalagi yang mesti dikhawatirkan? Lagipula aku yakin Frita nantinya pasti bahagia juga.”


“Tenang saja om saya juga berjanji akan membahagiakan Frita,” timpal Diaz.


“Kalau begitu kami pergi dulu, pastikan malam senin mas datang bersama Clarissa.”


“Mari om.”


“Gina, jangan paksakan keegoisanmu kepada putri kita. Aku tidak ingin kisah cintanya berakhir seperti hubungan kita,” ucap Pandu sambil menatap tajam Gina.


“Jangan samakan pilihanku dengan dirimu,” balas Gina sambil melangkah pergi.


Pandu hanya terdiam sambil menatap Frita yang terus menunduk tak kuasa melihat wajah ayahnya. Rombongan Gina dan Diaz kembali melanjutkan perjalanan menuju rumahnya. Pandu juga kembali pulang menuju rumahnya.


Frita terus murung sepanjang jalan, kegelisahan di hatinya sudah tidak bisa disembunyikan lagi. Dia sadar kata-kata dan perlakuannya tadi sudah berlebihan. Dia khawatir dengan keadaan Aditya sekarang. Dia teringat kembali ekspresi Aditya sesaat setelah dia menamparnya, dia bahkan tidak berterima kasih atas kalung berharga yang dia berikan.


Gina tidak bisa berbuat apa-apa melihat Frita seperti itu. Sedangkan Diaz hanya diam saja sambil fokus menyetir. Rumah Gina tidak jauh lagi, Diaz semakin cepat memacu mobilnya di jalanan sepi. Tiba-tiba di kejauhan terlihat tiga mobil melintang menghalangi jalan, beberapa orang pria duduk di mobil dengan tatapan tajam melihat ke arah rombongan Diaz.


“Kak Aditya kok pulang sendirian?” tanya Clarissa sambil bangkit dari kursi saat melihat Aditya turun dari taksi.


“Memangnya kenapa Ris?” tanya Aditya sambil berusaha untuk tersenyum.


“Kak Frita sama mama nggak ikut pulang?”


“Mereka katanya mau menginap di rumah mamamu.”


“Kenapa kak Aditya nggak ikut menginap saja?” tanya Clarissa sambil tertawa kecil.


“Lah buat apa menginap di sana, nanti yang ada di usir sama satpam.”


“Nggak mungkin lah, kan kak Aditya tunangannya kakak.”


Aditya tertegun mendengar ucapan Clarissa. Dia sadar bahwa Gina dan Pandu tidak memberitahukan pernikahan Frita kepada adiknya sendiri. Aditya hanya tersenyum sambil melihat keadaan rumah yang cukup sepi.


“Nyariin Papa ya?” tebak Clarissa.

__ADS_1


“Memangnya papamu kemana?”


“Tadi agak siang dia nanyain kak Aditya. aku bilang saja sesuai yang kak Aditya bilang tadi pagi hari. Eh dia malah tiba-tiba berangkat, katanya mau nyusul ke sana, aku nggak diajak. Memangnya nggak ketemu?”


“Begitu ya. Tadi kaka emang pulang duluan jadi nggak ketemu.”


Aditya kemudian pergi ke kamarnya untuk membereskan barang-barang miliknya. Tak berselang lama terdengar suara mobil berhenti di halaman. Pandu kemudian masuk ke dalam kamarnya.


“Dit,” sapa Pandu.


“Kenapa pak?” tanya Aditya sambil terus mengemas pakaiannya ke dalam koper.


“Maafkan kelakuan buruk Gina. Hemh, mungkin lebih tepatnya maafkan kelakuan kami sekeluarga.”


“Untuk apa minta maaf, sejak awal ini semua hanyalah kesepakatan yang kita buat. Saya sendiri yang malah terbawa suasana.”


“Tapi aku merasa keluargaku tetap melakukan kesalahan besar kepadamu yang selama ini bahkan bersedia berkorban nyawa hanya untuk menyelamatkan Frita. Tapi sekarang kami malah memperlakukanmu seperti tidak pernah melakukan apapun.”


“Itu tidak benar pak, jika dibandingkan dengan kebaikan anda selama ini kepada saya, semua hal yang saya lakukan selama ini tidaklah seberapa. Justru saya yang meminta maaf karena selalu merepotkan anda sekeluarga.”


“Tidak jus-“


“Jika dilanjutkan maka tidak akan selesai pak, ini semua sudah menjadi keputusan saya.”


“Setidaknya kamu masih bisa tinggal di sini dan bekerja di kantor seperti biasanya. Aku yakin Frita juga akan memperbolehkannya.”


“Maaf, sejak awal saya tidak pernah berniat seperti itu. Saya kemari dan bekerja hanya semata-mata karena kesepakatan yang telah kita buat dulu. Lagipula saya tidak yakin akan mampu melakukan semua itu seperti biasa lagi,” ucap Aditya sambil tertunduk.


“Maafkan aku,” ujar Pandu sambil pergi meninggalkan kamar Aditya. dia tidak mau membuat Aditya lebih menderita lagi dengan berharap untuk terus tinggal dan bekerja seperti selama ini.


Aditya mulai mengemas semua pakaian dan barang-barangnya dengan rapi. Lalu mengeluarkannya dari kamar. Clarissa tampak heran melihat Aditya mengeluarkan semua barang-barangnya. Hanya tinggal beberapa pakaian saja yang masih belum Aditya bereskan. Perlahan dia membuka lemari pakaiannya. Tangannya mengambil satu setel pakaian yang dulu pernah menjadi kebanggaannya sebagai tentara.


“Jika hari itu tidak pernah terjadi dalam hidupku. Mungkin kepahitan ini tidak akan pernah datang,” ujar Aditya pelan. Matanya mulai berkaca-kaca ketika tangan kanannya memegang lima tanda pengenal militer.


“Gina? Tidak biasanya dia menghubungiku,” gumam Pandu yang sedang berdiri mematung memperhatikan barang-barang Aditya. di ponselnya ada satu panggilan tidak terjawab dari mantan istrinya.


BERSAMBUNG…

__ADS_1


__ADS_2