Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 256


__ADS_3

Frita kaget tak kepalang ketika mendapatkan telepon sore itu dari nomor yang tidak dikenal. Tapi, dia tahu suara siapa yang meneleponnya.


“Mas, itu kamu?!” tanya Frita terheran-heran.


“Ya, ini aku. Aku masih hidup,” jawab Aditya di seberang telepon.


Frita terdengar girang. Ia membuat Pandu dan Gina yang saat itu kebetulan ada di ruang meeting bersamanya mendekat.


Pandu bertanya, “Aditya masih hidup? Kok bisa? Apa yang terjadi?”


“Tunggu dulu, Pa! Ini biar aku tanya pelan-pelan!” sahut Frita masih sulit lepas dari kebahagiaannya.


Maklum saja selama beberapa bulan terakhir ini, Frita dibebani oleh kesedihan atas kematian Aditya yang tak jelas kenapa dan di mana. Seseorang dari kepolisian tahu-tahu datang saja dan memberi kabar itu. Lalu beberapa hari kemudian datang sebuah peti mati. Paman Salim turut hadir di pemakaman itu. Dia dan Frita tampak sangat terpukul.


Hanya saja, Aditya bilang, “Aku tak bisa bilang dulu kenapa aku bisa ‘mati’ waktu itu. Masih ada waktu nanti. Ada sesuatu yang harus kukerjakan.”


Frita tak bisa menggali informasi lebih, karena Aditya tetap memilih bungkam. Tak bicara tentang sesuatu yang mungkin berbahaya bagi Clarissa. Yang jelas, ia sudah lega karena membuat Frita tahu ia belumlah mati.


Aditya juga tentu saja tak lupa menelepon Deri dan Yusi yang sengaja ditugasi oleh Pandu untuk menjaga Paman Salim di desa. Paman Salim hanya bisa terisak dan berkata, “Kamu harus pulang, Dit! Apa pun yang terjadi, jangan mati di luar sana!”


“Tenang, Paman. Aku bisa menjaga diri. Aku harus pergi dulu untuk pekerjaan yang terakhir. Semoga saja setelah semua ini selesai, kita bisa berkumpul lagi seperti dulu,” kata Aditya.


***


Suatu hari yang mendung.


Di kampus, Clarissa terlihat murung. Entah apa yang dipikirkannya. Tapi, tiba-tiba saja ia berdiri dan tampak terkejut.


“Kak Aditya! Itu kamu?!” tanya Clarissa.


“Sstt...” jawab lelaki yang berjalan dengan tongkat. Kaki kirinya tampak di-gips.


“Kamu kenapa ke sini?” tanya Clarissa lagi.


“Ini rahasia antara kita saja, ya.” Mata Aditya waspada mengamati suasana di sekitar. Suasana di lapangan basket itu sungguh sepi. “Aku ada tugas baru. Misi baru, yang mengharuskanku menyamar di sini.”

__ADS_1


“Wah, keren! Enggak nyangka Kakak ngasih surprise di sini!” sahut Clarissa.


“Ssstt ... kamu jangan mencolok begini, Clarissa. Ini bukan main-main,” kata Aditya dengan cemas.


Sekelompok mahasiswi sedang berjalan melewati mereka. Aditya mencoba untuk bersikap senormal mungkin, meski cewek-cewek itu terlihat acuh tak acuh pada mereka berdua. Clarissa tidak kenal mereka juga.


“Ayo, mana kadonya? Bukankah kamu ke sini untuk ngasih kado, Kak?” tagih adik kandung Frita itu.


Aditya malah menggaruk kepala. Tak tahu betapa ini hari ulang tahun Clarissa, dan Clarissa sendiri tampaknya sudah salah paham.


Clarissa terus mengoceh. “Mana Kak Frita? Papa dan Mama juga mana?” Ia terus saja berkata begitu sambil melongok ke sana kemari. Tapi lapangan basket di sisi barat kampus itu tetap saja sepi.


“Maaf, Clarissa. Aku ke sini ini bukan untuk memberimu surprise. Aku serius. Kakakmu bahkan tidak tahu aku ada di sini. Ia jangan sampai tahu aku ada di sini,” kata Aditya.


Clarissa tampak sedih. Hari ini semua orang melupakan ulang tahunnya. Hari ini Frita bahkan lupa meneleponnya. Juga kedua orang tuanya. Sepertinya ini ulang tahun terparah baginya. Hanya seseorang yang ia benci yang mengucapkan ulang tahun pada dirinya, yakni Rako, seorang mahasiswa baru juga yang terlihat gigih mengejarnya.


Namun, Clarissa masih terhibur akan kehadiran Aditya yang waktu itu dikabarkan hidup. Dan ia tak menyangka pertemuan pertama mereka akan terjadi di sini.


“Kalau boleh tahu, misi apa itu, Kak?” tanya Clarissa beberapa waktu kemudian di saat mereka berjalan menuju ke kantin.


Clarissa agak jengkel, tapi ia memahami bagaimana pekerjaan Aditya. Ia pun tidak bertanya-tanya lagi.


Aditya hanya mengatakan, “Aku menyamar sebagai mahasiswa baru juga di sini. Ada sesuatu yang harus kucari tahu di tempat ini. Kurasa kamu hanya boleh tahu bagian itu saja, Clarissa.”


“Baiklah. Kalau kaki yang pincang ini?” tanya Clarissa.


“Oh, ini juga samaran.”


Mereka tiba di salah satu kafe di area kampus, lalu memesan makanan. Aditya pun menghibur Clarissa, dengan mengatakan akan mentraktirnya sepuasnya, karena hari ini ia ulang tahun.


“Maaf soal ulang tahunmu yang terlupakan. Semoga saja makan-makan kita kali ini bisa mengobatinya,” kata Aditya.


Clarissa senang mendengar itu. Ia menatap wajah calon kakak iparnya itu. Sungguh wajah Aditya memang masih menyiratkan garis keremajaan. Seperti halnya Frita. Maka penyamaran ini benar-benar sempurna. Dan entah bagaimana, memandangi wajah sang calon kakak ipar, membuat dada Clarissa berdebar-debar saja.


Mereka makan sambil mengobrol banyak, bercanda tentang hal sehari-hari, dan itu membuat beberapa teman lama Clarissa yang kebetulan kuliah di situ juga jadi heran.

__ADS_1


“Siapa sih cowok ganteng yang duduk bareng Clarissa itu?” tanya seorang cewek.


“Anak pindahan dari Jakarta sih katanya,” jawab cewek lainnya.


“Kok bisa?” sahut cewek ketiga.


“Ya, mana gue tahu!”


Aditya seketika menjadi bahan gosip di kampus itu, karena selain kedatangannya ke kampus terlihat janggal, ia juga mendadak saja tampak dekat dengan Clarissa. Seperti ia sudah kenal lama saja.


Tapi gosip itu tak terlalu bergulir parah. Hanya berputar di lingkaran pergaulannya Clarissa. Suatu kali Rako yang tak henti menjadi stalker sejati Clarissa mendengar soal Aditya.


“Siapa si pincang itu?” tanya Rako yang mendadak mencegat Clarissa yang barusan keluar dari toilet.


“Eh, kamu ngapain sih?” sembur Clarissa dengan kesal.


Clarissa mencoba menyingkir dan pergi dari situ, tapi Rako segera saja mencegatnya dengan tubuh jangkungnya.


“Kok gak dijawab sih?” tanya Rako kesal.


“Itu pacarku! Puas kamu?!” jawab Clarissa sambil mendorong tubuh Rako agar menjauh.


Clarissa berhasil lolos dari cegatan Rako, dan kebetulan di ujung lorong tampak Aditya berjalan dengan tongkat. Clarissa segera menghampirinya dan menggandeng tangan Aditya.


“Kenapa ini?” tanya Aditya kaget.


“Sudahlah, Kak! Diam saja! Itu di depan ada Rako! Orang yang terus menguntitku selama ini!” kata Clarissa.


Aditya seketika bertatapan mata dengan Rako. Jadi, dialah target misinya kali ini. Tampak mudah. Aditya memikirkan cara agar bagaimana ia bisa cepat-cepat menyudahi misinya.


“Kubilang kalau Kak Aditya itu pacarku!” bisik Clarissa.


Aditya ingin memancing amarah Rako. Ia sengaja membelai rambut Clarissa selagi memeluk bahunya dan terus berjalan mendekat ke arah pemuda itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2