
Di aula utama tempat di mana konser berlangsung.
Aditya tak tahan mendengar dentuman musik yang cukup kencang karena ia berdiri tak jauh dari panggung, dari mana ada begitu banyak pengeras suara. Ia dan Frita segera memisahkan diri dari Julio yang tak sengaja menemui teman masa kecilnya.
“Biar mereka yang masih muda-muda itu nonton bareng. Kita cari tempat sendiri, yuk,” kata Aditya.
Frita melirik calon suaminya dengan genit. “Kita juga belum terlalu tua kali!”
Tapi mayoritas penonton konser Shelly D adalah para remaja SMP dan SMA, yang tentu umurnya beberapa tahun di bawah mereka. Jadi Frita setuju mereka berdua harus mencari tempat yang lebih nyaman ketimbang di dekat panggung.
“Lihat, mereka yang enggak kebagian berdiri di barisan depan pada menjerit seperti mau kiamat saja,” kata Frita pada Aditya sambil menunjuk ke kejauhan.
Di sana tampak seorang gadis pingsan setelah menjerit tak keruan dan membuat barisan manusia semakin kacau.
“Seumur-umur baru kali ini aku pergi ke konser,” kata Aditya.
“Oh, ya?” Frita tampak tak percaya.
“Dan, ternyata rasanya enggak terlalu menyenangkan. Seru, tapi ada yang kurang saja,” sambung lelaki itu sambil menggaruk kepala.
“Apa itu?”
“Entahlah, aku juga enggak tahu, Frita. Hahaha.”
Mereka akhirnya menemukan kafe kecil yang berdiri di sisi barat aula. Ada entah berapa belas kafe dan outlet yang menjual suvenir Shelly D di sana. Ada ratusan kaus yang dipajang bertanda tangan Shelly D (tanda tangan yang tentu saja cetakan), gelas dan mug bergambar sang artis, juga stiker, poster, serta tak ketinggalan: buku biografi Shelly D yang baru terbit sebulan yang lalu.
“Seorang artis muda berbakat sudah menerbitkan buku biografi. Apa menurutmu ini enggak terlalu dini?” tanya Frita.
“Enggaklah. Namanya juga cari duit,” jawab Aditya masuk akal.
Mereka segera tertawa.
Di salah satu kafe itu Aditya dan Frita memesan minum dan mengobrol. Menikmati lagu-lagu Shelly D yang, walau tidak terlalu Aditya hafal, bisa juga menghibur hatinya setelah semua kejadian yang berlalu belakangan ini.
Aditya juga terutama terhibur setelah melihat betapa senang Julio dan teman-teman serta para penonton lainnya. Mereka melonjak-lonjak tanpa lelah dari lagu pertama hingga kini tiba di lagu kelima. Ketika Shelly D menghilang di balik tirai panggung untuk rehat, Julio mencari-cari mereka.
“Ke mana saja kalian? Enggak nonton juga?” tanya pemuda itu.
“Nonton juga, kok. Kan dari sini kelihatan,” jawab Frita sambil menyeruput segelas es limunnya.
“Ya, coba dari depan, pasti lebih mantap,” kata sepupunya tersebut.
“Di sini malah lebih oke,” sahut Aditya, “karena selain bisa melihat Shelly D dari jauh, juga bisa menonton kalian para fans-nya yang luar biasa.”
Julio hanya tertawa mendengar itu.
Setelah lagu berikutnya kembali dibawakan, segera Julio menjauh dari mereka. Frita dan Aditya tak banyak bicara kali ini, bahkan tentang rencana pernikahan mereka yang telah bulat itu. Itu karena mereka terlalu hanyut oleh lantunan suara Shelly D.
Tak berapa lama, Aditya memegangi perutnya. “Aduh, gawat ini!”
“Kenapa, Mas?”
“Perutku mulas,” kata Aditya.
__ADS_1
Ia meninggalkan Frita di situ untuk mencari toilet. Sungguh di tempat yang tak cukup terang begini, karena konsep konser Shelly D menyajikan full tema warna ungu dan hijau tua, mencari pintu toilet berasa berjalan kaki bermil-mil jauhnya di tengah kepungan kabut.
Setelah akhirnya toilet ketemu, itu pun Aditya masih harus menunggu.
“Sialan, siapa sih yang ada di dalam situ?” gerutunya dalam hati. Perutnya sudah tak tahan dan rasanya ingin meledak saja.
Beruntunglah sebelum ia mengotori celananya, si pengguna toilet yang lama itu pun keluar, dan Aditya kaget mendapati Rudi di situ. Sejak misi di Thailand, mereka tidak pernah bertemu lagi. Namun ternyata kali ini tahu-tahu bertemu di tempat ini. Di konser Shelly D yang sedang hits dan digandrungi para remaja.
“Lha, loe ngapain di sini, Rud?” tanya Aditya kaget.
“Loe sendiri ngapain?”
Rudi terlihat kikuk, dan mungkin saja malu, ketika Aditya memergokinya berada di gedung ini. Ternyata si Rudi belum lama memacari seorang gadis dan pacarnya itulah yang mengajaknya ke sini.
Ya, mereka mengobrol lumayan lama setelah Aditya menuntaskan panggilan alam.
“Mau bagaimana lagi, Dit? Dia memaksaku pergi ke sini. Yah, hitung-hitung selagi menghabiskan jatah cutiku,” kata Rudi sambil masih terlihat kikuk.
Di lorong depan pintu toilet itu tampak lalu-lalang anak-anak SMP dan SMA yang membuat Rudi canggung. Aditya bertanya kenapa dia tak rileks saja, padahal selama misi di Thiland, Rudi termasuk orang yang tenang.
“Ya, loe belum tahu saja apa yang dibilang teman-teman pacar gue,” kata Rudi agak cair. Kali ini ia terlihat akan membicarakan sesuatu yang lucu.
“Memangnya bilang apa mereka?”
“Anak-anak SMA tuh. Kenapa sih mereka beda dengan waktu gue SMA?” gerutu Rudi.
“Kenapa memang?” balas Aditya tak sabar.
“Ya, mereka bilang ke pacarku kalau tampangku mirip om-om!”
Namun, perjalanan ke aula utama membuat Aditya tak sengaja menabrak seorang petugas konser dengan kartu identitas tergantung di lehernya. Petugas itu menoleh ke sana kemari tanpa melihat ke depan sambil berjalan.
Brak!
“Aduh! Maaf, Kak! Saya jalan enggak lihat-lihat!” kata petugas yang tampak tak jauh beda usianya dengan si Julio itu.
“Tak apa,” kata Aditya pendek.
Petugas itu lalu menyingkir, tapi Aditya tahu si petugas baru saja tak sengaja memutuskan kabel di belakang panggung.
Rudi bilang, “Dit, ngapain di situ?” Ia melihat Aditya tampak jongkong di balik kegelapan belakang panggung.
“Kabelnya putus. Ini kabel apaan sih?” kata Aditya.
Rudi menghampirinya. “Itu salah petugas tadi. Coba gue lihat.”
Rudi memeriksa kabel tersebut, dan ia segera tahu itu kabel yang menghubungkan alat musik utama, yakni gitar, dengan pengeras suara. Ia bilang, konser semegah ini kok bisa masih pakai alat macam ini?
“Bukankah ada wireless?” tanya Rudi terheran-heran.
Aditya menyahut, “Yah, itu bukan urusan kita. Yang jelas, suara gitar itu masih juga terdengar.”
Memang konser Shelly D sama sekali tak terganggu meski salah satu kabel penting putus. Maka, setelah Aditya kembali ke Frita, dia bilang, “Ini bukan konser langsung, lho. Aku baru tahu rahasianya.”
__ADS_1
“Maksudmu?” tanya Frita yang saat itu sedang ditemani Julio.
Meski Shelly D masih bernyanyi, Julio memutuskan ke tempat sepupunya karena haus, dan lagi pula ternyata view dari kafe ini malah lebih bagus.
“Ya, Shelly D itu sebenarnya lip sync,” bisik Aditya ke Frita.
“Apaan sih?” potong Julio.
Frita membisiki Julio karena tak enak pada orang kafe yang mungkin dengar apa yang mereka bicarakan.
“Ah, yang benar saja!” kata Julio tak percaya.
“Ini kenalin temenku Rudi. Kami baru saja mengungkap fakta itu,” kata Aditya.
Julio terlihat kecewa, tapi Shelly D cantik dan ia memaklumi jika seorang artis terpaksa harus melakukan lip sync. Itu tak sepenuhnya salah sang artis. Bisa jadi sarana dan alat di tempat konsernya kurang menunjang untuk tampil live.
Maka, karena bosan dan tahu fakta Shelly D kali ini tidak tampil live, si Julio memutuskan mereka pulang saja. Rudi melambaikan tangan dengan pasrah sebab ia harus menemani sang pacar yang kini berada di barisan terdepan penonton, sibuk teriak dan menyerukan nama sang idola.
Di tempat parkir sepi tadi, Aditya, Frita, dan Julio tak langsung pulang. Malah Frita belum bergabung bersama mereka, sebab ia masih harus pergi ke toilet.
“Kalian duluan saja, nanti aku nyusul,” katanya masuk toilet.
“Minuman dari kafe itu ya?” kata Aditya.
“Sepertinya!” jawab Frita.
Di tempat parkir, Julio dan Aditya tak sengaja melihat seorang berjaket tudung lagi mencoba memasuki sebuah mobil. Tingkahnya mencurigakan. Ia tak bisa membuka pintu mobil itu dan membuat Aditya curiga ia pencuri.
“Hei, kamu mau mencuri, ya?!” bentak Aditya.
Sosok itu terlihat panik, tapi tidak lari.
Aditya menghampirinya dan hampir memukulnya, tapi ternyata wajah di balik tudung itu adalah Shelly D!
Julio senang tak terkira.
Shelly D bilang, “Bawa aku pergi dari sini. Konserku selesai, tapi penonton pada menggila!”
“Oh, ada syaratnya dong,” kata Julio.
“Apa itu? Katakan saja. Please, cepetan biar aku bisa segera pergi!”
“Bisa kita foto bareng? Berdua saja? Nanti akan kami antar kamu ke mana pun kamu mau!” kata Julio girang tak kepalang.
Tentu saja Shelly D bersedia.
Aditya jadi tukang foto dadakan, membuat Frita yang datang tidak lama kemudian terheran-heran. Melihat Aditya yang dingin dan hebat dalam bertarung itu patuh pada seorang pemuda lucu demi mendapat foto terbaik bersama artis pujaan!
“Nah, ini baru bagus!” kata Julio setelah jepretan kelima puluh.
“Akhirnya kelar!” seru Aditya lega.
Frita dan Shelly D tertawa melihat mereka. Dan, mobil pun melaju, meninggalkan area itu, menembus suasana malam di Kota Bandung.
__ADS_1
Bersambung....