Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 32


__ADS_3

Frita di laundry mengambil baju milik penyelamatnya yang sudah kering dan harum. Dia berniat menjahit sendiri bagian yang robek di baju itu, baju itu robek saat penyelamatnya terkena pisau penjahat. Dengan senang dia kembali masuk ke dalam mobil.


“Kelihatannya hari ini kamu senang banget Fri?” tanya Aditya.


“Memangnya kenapa? Harusnya kan kamu sebagai tunanganku juga ikut seneng dong.”


“Aku juga seneng kok. Cuma ya nggak biasanya saja, biasanya kan dingin terus kayak es.”


“Ya aku pikir nggak salah juga sesekali bersikap manis sama kamu.”


Aditya semakin curiga mendengar jawaban Frita seperti itu. Di mall tampak Frita membeli banyak barang hingga Aditya kesusahan membawanya. Mereka juga berkeliling kesana kemari untuk mencari beberapa barang yang diinginkan Frita. Aditya sudah mulai merasakan gelagat aneh dari tunangannya itu.


Aditya keluar dari mall dan mengeluarkan barang belanjaan Frita dari troli. Frita meminta kunci mobilnya ke Aditya, dia bilang ingin membawa sendiri mobilnya dari tempat parkir ke depan mall. Aditya disuruh menjaga barang belanjaan yang banyak itu di sana dengan alasan jika Frita yang menjaganya takut malah menjadi sasaran pencuri.


Frita mengemudikan mobilnya keluar dari tempat parkir menuju tempat Aditya. Ketika Aditya menghampiri mobil hendak membuka bagasi, tiba-tiba Frita menancap gasnya dan meninggalkan Aditya sambil melambaikan tangan dari jendela mobil.


“Sialan,” gumam Aditya. Ternyata itu memang rencana Frita dari awal.


“Kenapa mas?” tanya orang yang melihat kejadian itu.


“Itu temen saya malah ngerjain saya di sini,” gerutu Aditya.


“Loh kok bisa gitu?”


“Aku juga bingung. Oh iya mas boleh pinjem HP-nya sebentar nggak?” tanya Aditya. Dia saat ini belum mempunyai HP lagi setelah HP satu-satunya remuk saat kejadian di hotel.


“Duh maaf mas nggak ada pulsanya,” jawab orang itu sambil pergi.


Aditya terus menggerutu, dia pasti akan membalas kelakuan Frita saat itu. Setelah dengan bersusah payah meminjam HP ke beberapa orang, akhirnya Aditya dipinjami HP oleh seorang wanita yang kasihan melihatnya. Dia segera memesan taksi online.


Setelah taksi online datang dia berterimakasih kepada si wanita. Dengan cepat Aditya memasukan belanjaan Frita dan menyuruh sopir taksi untuk cepat-cepat pergi dari sana.


Frita sampai di rumahnya. Pandu terkejut melihat putrinya malah menyetir sendirian. Ketika Pandu menanyakan Aditya Frita malah tertawa puas. Dia bilang telah meninggalkan Aditya sendirian di mall.


“Ih kok kamu gitu Fri. kasian Aditya lagian dia juga belum punya HP lagi. Nanti dia pulang gimana?” tanya Pandu dengan wajah cemas.


“Ayah kok kayak belain dia sih?” gerutu Frita.


“Bukan begitu Fri. gimana kalo nanti dia datang marah-marah karena dikerjain?”


“Nggak apa-apa yah lagian dia juga bukan bocah. Biarin saja biar dia nggak nyaman berada di sini. Aku malah berharap kalau dia memutuskan untuk pergi dari kehidupan kita,” jawab Frita dengan wajah gembira.


Pandu tidah habis pikir jika putrinya akan bertindak sekejam itu kepada tunangannya. Frita langsung pergi ke kamarnya lalu meminta bantuan kepada pembantunya untuk menjahit baju kemeja milik penyelamatnya itu.

__ADS_1


Aditya datang ke rumah Frita sambil membawa banyak barang belanjaan. Pandu membantunya memasukan belanjaan Frita ke dalam rumah. Frita datang menghampiri mereka sambil membawa barang belanjaannya ke kamar.


“Kamu sadis banget Fri ninggalin aku begitu saja,” ucap Aditya.


“Tadi aku lupa kalau kamu ketinggalan Dit,” jawab Frita dengan wajah dingin.


“Begitu ya. Aku benar-benar terjebak.”


“Puas!” ledek Frita.


“Maafin Frita ya Dit,” kata Pandu setelah Frita pergi.


“Nggak masalah Pak. Lagipula ini kesalahan saya sendiri karena bisa terjebak oleh dia.”


Malam harinya Aditya terbaring di kamarnya. Dia benar-benar dikerjai oleh Frita. Tampaknya wajah manis Frita bisa membuatnya terhipnotis. Dia tersenyum sendiri karena tidak menyangka ada wanita yang berani melakukan hal seperti itu kepadanya. Jam dinding sudah menunjukan pukul 12:36 malam.


Ketika Aditya hendak terlelap terdengar suara aneh. Dia tahu jelas kalau itu bukanlah suara angin, jelas-jelas itu terdengar seperti pagar besi yang diinjak oleh seseorang. Perlahan Aditya keluar dari kamarnya dan mengintip dari kaca jendela. Tampak di luar ada dua orang berpakaian hitam dan mengenakan topeng.


Mereka bergerak memutar ke belakang rumah. Tampaknya mereka mencoba untuk masuk ke dalam rumah dari arah belakang. Aditya perlahan bergerak ke luar rumah melalui jendela. Dengan cepat dia menyelinap tanpa menimbulkan suara mendekati kedua orang itu. Dari gelagatnya Aditya sangat yakin kalau mereka berdua adalah pencuri.


“Kita lewat mana Bro?”


“yang penting masuk dulu saja.”


“Ya sudah. Kita incar barang berharga saja jangan yang berat-berat.”


“Gila rumahnya gede banget ini. Kira-kira di mana ya mereka menyimpan barang berharganya?”


“Lah mana gua tahu. Sudah kita masuk saja dulu.”


Para pencuri tampak sedang berusaha mencungkil kaca jendela belakang rumah Pandu. Aditya segera mendekat. Suasana belakang rumah yang gelap membuat para pencuri tidak menyadari keberadaan Aditya.


“Butuh bantuan nggak?” bisik Aditya ke seorang pencuri lalu dia bersembunyi kembali di balik tanaman hias.


“Ya jelaslah. Dari tadi lu nyungkil di sana terus nggak kebuka buka juga.”


“Lu ngomong apa Bro?”


“Lu tadi nanyain butuh bantuan.”


“Lah siapa yang nanya kayak gitu?”


“Lu jangan nakut nakutin lah.”

__ADS_1


Mereka mulai memperhatikan sekelilingnya. Dengan cepat Aditya menghajar leher seorang pencuri hingga terkapar di rumput. Melihat temannya jatuh pencuri yang satu lagi waspada terhadap Aditya sambil menodongkan besi yang sedang digunakan untuk mencungkil jendela.


“Siapa lu?”


“Ssst pelanin suara lu! ni rumah target gua! Jangan seenaknya saja mencuri di sini,” jawab Aditya pelan.


“Sorry bang gua kagak tahu kalau rumah ini target abang,” kata penjahat pelan.


“Ya sudah pergi sana!” perintah Aditya.


“Ba baik, Bang.”


Pencuri itu cepat-cepat keluar dari rumah Pandu. Aditya bernafas lega, dia tidak perlu menguras tenaganya lagi untuk melumpuhkan pencuri amatir seperti mereka. Dia takut identitasnya terbongkar jika Frita tahu kalau dia bisa melumpuhkan pencuri yang datang ke sana. Aditya kembali ke kamarnya dengan tenang lalu terlelap tidur.


Esok paginya. Semua orang di rumah Pandu terbangun mendengar teriakan salah seorang pembantunya yang sedang menyapu di belakang rumah. Semua orang segera bergegas menemuinya. Tampak seorang pria berbaju hitam dan mengenakan topeng sedang terbaring di rumput.


Aditya lupa tadi malam dia tidak mengeluarkan pencuri yang tergeletak itu keluar rumah. Dia hanya bisa memegangi kepalanya berharap penjahat itu tidak mengenalinya. Saat Aditya hendak mengikatnya dengan tali tiba-tiba saja penjahat itu terbangun dan melihat sekeliling.


“Siapa lu?” tanya Aditya ketika penjahat duduk dan mengucek ngucek matanya.


“Panggil polisi Fri cepat,” perintah Pandu kepada Frita.


“Iya Yah,” jawab Frita sambil berlari ke dalam rumah.


“Eh jawab lu siapa?” tanya Pandu.


“Saya siapa ya?” gumam pencuri itu, tampaknya dia pura-pura hilang ingatan.


“Lu ngapain tidur di sini?” tanya Aditya.


“Duh kepalaku sakiit,” ujar pencuri itu sambil memegang kapalanya dan berguling guling di rumput.


“Eh jawab!” bentak Pandu.


“Aaaa kepalaku sakiit.. aku di mana? Siapa aku? Kenapa kepalaku sakit?” teriak pencuri itu sambil terus berguling guling.


Aditya terlihat menahan tawa mendengar trik murahan pencuri itu. Sedangkan Pandu semakin kesal, dia menyuruh pembantunya untuk membawa cermin yang besar ke sana. Lalu cermin itu di pegang oleh Pandu.


“Nih liat pakaian lu! Lu pasti mau mencuri kan?!” bentak Pandu sambil menyodorkan cermin.


“Hah? Kenapa aku pakai topeng? Siapa aku? Siapa kalian? Toloong.. kepalaku sakit,” kata penjahat itu sambil memegang kepalanya kembali.


Polisi datang ke rumah Pandu. Pencuri itu dibawa ke mobil polisi sambil terus berakting hilang ingatan dan memegangi kepalanya. Aditya kemudian menceritakan kejadian sebenarnya kepada Pandu dan berkata agar jangan memberitahukannya kepada yang lain termasuk polisi. Setelah mendengar penjelasan Aditya dia baru bisa tenang.

__ADS_1


BERSAMBUNG…


__ADS_2