Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 299


__ADS_3

Frita mendorong tubuh Aditya menjauh. Ia berjalan kembali ke mobilnya yang ada di seberang jalan depan rumah Ratna. Pantas saja tadi Aditya tak mendengar ada suara mobil mendekat.


Aditya memohon, “Kamu bisa dengarkan aku dulu, Frit!” Ia menarik lengan wanita itu.


Tapi Frita telanjur terbakar amarah. Ia tidak bisa dibujuk dengan kata-kata apa pun dari sang suami. Mungkin kini saatnya mereka harus berpisah. Frita merinding, terpikir betapa tragis kisah rumah tangganya bersama seorang mantan anggota pasukan khusus sekaligus mata-mata ini.


“Tahu begini aku tak pernah mau menikah denganmu!” bentak Frita begitu ia tiba di depan mobilnya, dan akan membuka pintunya.


Aditya segera menahan pintu itu dan merengkuh pundak Frita dengan lembut. Dia segera memeluknya. Frita tak bisa melepaskan, jadi wanita itu mencoba menjerit. Hanya itu yang bisa ia lakukan.


“Lepaskan aku, Dit!” jeritnya.


“Jangan gitu dong! Nanti tetangga mikir yang enggak-enggak,” tukas Ratna yang kini berjalan menyusul mereka.


“Sekarang kamu sudah dapatkan apa yang kamu inginkan, Ratna. Biarkan aku pergi!” kata Frita.


“Kamu ngomong apaan sih?” balas Ratna yang kemudian ikut mendekat pada Frita. “Dengerin dulu dong suamimu bicara!”


Aditya menatap mata Ratna yang tak disangka bakal sedikit membantunya. Tanpa membuang waktu, Aditya segera bilang, “Semua ini sandiwara, Frita! Semua ini hanya agar Setiawan Budi menyerah!”


Tentu saja Aditya berkata itu sambil berbisik, agar kiranya pada tetangga yang tahu kejadian itu tak bisa mendengarnya.


“Sandiwara apaan? Kalian janggan membodohiku! Ovie sudah tunjukkan foto-foto pernikahan kalian!” balas Frita menatap tajam wajah kedua sosok ini.


Aditya dan Ratna saling berpandangan. Ratna seketika tertawa, sedangkan Aditya malah tampak kesal. “Ovie lagi, Ovie lagi! Kenapa dia selalu membuat masalah sih!”


Tapi Aditya tahu bahkan Ovie sendiri juga tak tahu kalau pernikahan dia dan Ratna ini cuma sandiwara.


“Kami memang membuatnya begitu, Frita. Guruku yang mengatur ini. Pak Gandi itu. Kamu kan sudah ketemu dia,” kata Aditya.


“Ya, kalau enggak percaya, tanya saja Pak Gandi itu,” sahut Ratna sambil acuh tak acuh, sebab Frita terlihat masih saja marah.


“Ayo, kita masuk. Di sini dingin lho,” lanjut Ratna yang melangkah kembali ke rumahnya.

__ADS_1


Aditya menatap mata Frita dalam-dalam. Perempuan itu jelas masih marah. Ia sulit percaya semua ini sandiwara, bahkan meski untuk menipu Setiawan Budi. Lagi pula itu terdengar tak mungkin.


“Aku tak percaya sandiwara macam ini,” geram Frita.


“Kamu akan percaya kalau dengar semua perkataan Pak Gandi. Tapi sekarang dia tak ada di sini. Aku bisa teleponkan dia kalau kamu mau,” kata Aditya.


“Enggak usah!”


Ratna kembali mengintip dari pintu rumahnya. Halaman rumah itu tak terlalu luas, meski rumahnya mewah. Ia memanggil mereka sekali lagi, “Ayo, masuk ke sini! Nanti kamu menyesal, Frita!”


Akhirnya Frita pun menyanggupi, tapi dia tak memilih percaya dulu pada mereka berdua. Sandiwara macam apa juga yang membuat dua orang menikah dengan setting pernikahan asli dan para tamu yang sepertinya juga asli (dari foto-foto itu)? Bagaimana pula mereka bisa tinggal serumah? Ini yang paling membuat Frita marah.


Setelah Frita masuk, Ratna segera menjelaskan, “Kami tidak menikah benaran kali. Semua ini cuma sandiwara. Setiawan Budi tahu reputasi mendiang kakekku dan selama ini tak berani mengusikku. Dengan Aditya menikah denganku, Setiawan Budi mungkin saja akan menyerah mengincar kepala Aditya.”


“Dan hasilnya?” tanya Frita.


“Dia memang menyerah. Dia terlihat gugup dan gelisah. Tapi dia memang sekarang sudah di ambang kebangkrutan juga,” sahut Aditya.


“Situasi di luar belum pasti. Setiawan Budi mungkin bisa mengambil jalan lain. Kita harus pastikan semua aman dulu,” terang Ratna.


Frita tampak diam dan berpikir. Memandangi dua sosok di depannya dengan cara yang sulit ia lukiskan sendiri. Antara marah, kesal, bingung, dan juga penasaran. Maka, Frita putuskan untuk menginap di sana malam itu.


“Aku akan tidur di sini sampai semuanya kembali normal!” katanya tegas.


Aditya terlihat kebingungan. Lalu berkata, “Kita bisa kembali ke rumah kita yang biasanya, Frita.”


Ratna segera menyela, “Tidak bisa. Kita tetap di sini, Dit. Nanti sandiwara kita bisa terbongkar. Frita boleh menginap di sini kok, kalau dia mau.”


“Ya, aku jelas mau. Untuk memastikan kalian tak berbuat apa-apa. Aku bisa pergi kapan pun aku mau,” jawab Frita.


Mereka pun berjalan ke lorong menuju ruang tengah dengan sangat canggung. Tak ada yang bisa Aditya ucapkan, jadi dia memilih diam saja. Ratna menjelaskan di mana ia dan Aditya tidur.


“Aku dan suamimu tidur di lantai dua. Ada di satu ruangan, tetapi punya tembok pembatas,” katanya.

__ADS_1


Frita tampak penasaran. “Coba kulihat.”


Ratna menunjukkan sofa tempat di mana ia meniduri Aditya dengan pengaruh obat khusus waktu itu. Juga menunjukkan tempat tidurnya sendiri yang ada di seberang bagian itu.


“Aku tak yakin kalian tak berbuat sesuatu,” gerutu Frita.


Aditya seakan terkunci mulutnya.


Tapi Ratna menjelaskan dengan santai, “Enggak bakal itu terjadi. Aku enggak ada rasa lagi pada Aditya sih. Saat ini malah dekat dengan lelaki lain.”


“Oh, ya?” tanya Frita pura-pura tak percaya.


“Ya, dan kalian enggak perlu tahu siapa lelaki itu. Yang jelas, sandiwara ini harus sempurna. Aku membantu Aditya sebagai teman. Kalau Aditya mati, bukankah kamu juga yang akan menyesal, Frita?” tukas Ratna dengan menatap mata Frita tajam.


Itu seperti tatapan kejujuran yang tak mungkin dibuat-buat. Sebuah tatapan yang sebenarnya cukup lama dilatih oleh Ratna jauh sebelum urusan ini. Dia jelas merasa tak perlu menjelaskan perasaannya yang masih menggebu terhadap Aditya, juga tak bakal menuturkan persetubuhan mereka waktu itu. Ia memang tak ada niatan untuk merusak rumah tangga Aditya.


Kini Frita mulai tampak percaya. Dia dipersilakan Ratna untuk tidur di ruangan itu bersamanya, di kasurnya, selama apa pun yang ia mau. Bisa berhari-hari, bahkan boleh jadi berminggu-minggu sampai situasi di luar sana aman.


“Kita hanya perlu menunggu kartu terakhir Setiawan Budi. Ia sudah tak memiliki apa-apa dan siapa-siapa. Setelah itu semua sandiwara ini berakhir,” kata Ratna kepada Frita. Mencoba menenangkannya.


Aditya akhirnya bisa tidur nyenyak malam itu di sofa dekat meja TV. Sementara di seberang tembok di sisinya, terbaring Ratna dan Frita yang belum tertidur. Mereka tak bicara sama sekali. Frita kemudian tak sengaja menemukan sesuatu di bawah bantalnya. Sebuah semprotan merica.


“Ini punyamu?” tanya Frita pada Ratna.


“Yeah, buat jaga-jaga siapa tahu suamimu sedang mabuk,” jawab Ratna terkekeh.


Frita hanya menatapnya kesal, tapi kemudian dia juga bisa tidur dengan nyenyak.


Ratna diam-diam bangga pada dirinya sendiri. Berhasil membuat semua ini amat sempurna dan tak mencurigakan. Meski tentu, pada akhirnya nanti, ia tidak akan pernah bisa memiliki sosok Aditya.


“Setidaknya aku bisa tidur bersama lelaki itu untuk terakhir kalinya,” batin Ratna bahagia.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2