
Keesokan harinya Komandan Malik menjemput Aditya di lobi hotel. Mereka tidak janjian, jadi Aditya kaget juga waktu melihat mantan komandannya sedang asyik baca- baca koran di sofa lobi.
“Halo, Dit. Sudah check out?” tanya Komandan Malik selagi melipat koran yang ia baca dan meletakkannya ke atas meja. Ia lalu bangkit berdiri.
Aditya sempat curiga jangan-jangan Malik berubah pikiran. Jangan-jangan lelaki itu menyuruhnya berangkat lagi ke negeri entah apa untuk menjalankan misi.
“Ini saya baru mau check out,” jawab Aditya dengan suara datar dan malas.
“Kutunggu di parkiran, ya? Jangan lama.”
Sebelum Komandan Malik berjalan menjauh, Aditya bertanya, “Memangnya Anda ada urusan apa menunggu saya, Pak?”
“Terlalu banyak jasamu bagi militer, Dit. Terutama bagiku yang tak bisa memberi apa-apa. Jadi biarkan kami mengantarmu sampai ke desamu. Sekalian agar aku tahu di mana kamu dulu dibesarkan,” kata Komandan Malik.
Aditya sama sekali tak keberatan dengan ide itu. Tapi, perjalanan ke desanya cukup jauh. Itu ada di pelosok Jawa Tengah. Berkendara lewat jalur darat bisa memakan dua kali lipat waktu normal dari Jakarta, karena medannya cukup susah.
Malik seperti tahu apa yang dipikirkan Aditya. Dia bilang, “Sudah, kau tenang saja. Kutunggu di parkiran.”
Aditya melangkah ke resepsionis untuk check out.
Saat menyerahkan kunci kamarnya ke pegawai hotel, Aditya membatin, “Untuk ke sana pun juga enggan naik pesawat. Dari bandara ke desa memakan waktu berjam-jam. Semoga waktu selama itu tidak bikin Malik merayuku biar balik lagi kerja dengannya.”
Ternyata tidak.
Mereka tidak menumpang mobil atau kereta, apalagi pesawat terbang. Malik pagi itu mengajak Aditya berkendara melintasi keramaian kota Jakarta untuk menuju rumah seorang pengusaha. Entah siapa pengusaha itu. Aditya tidak kenal saat Malik menyebut namanya.
Kata Malik, “Dia sendiri yang menawarkan akan mengantarmu dengan helikopter pribadinya. Semoga kau tidak keberatan.”
“Selama keinginan saya tidak terganggu, saya mau saja, Pak,” jawab Aditya.
Ternyata pengusaha yang dimaksud adalah saudara sepupu Profesor Joe. Ia ingin berbuat begini sebagai ucapan terima kasih karena menyelamatkan nyawa sang profesor itu. Sungguh suatu momen yang menurut Aditya sangat canggung. Ia tak merasa sebagai pahlawan. Ia pergi ke Thailand dengan terpaksa waktu itu.
“Terima kasih sudah repot-repot melakukan ini, tapi sungguh Anda tidak perlu,” kata Aditya.
“Ah, jangan begitu, Nak. Sekarang mari kita berangkat,” kata si pengusaha itu.
__ADS_1
Mereka pun menumpang helikopter selama beberapa jam saja hingga kendaraan itu mendekati dekat puncak bukit di mana desa masa kecil Aditya berada. Desa itu terlihat begitu asri dan hijau di mata si pengusaha yang terbiasa melihat bangunan-bangunan kota yang modern dan dilingkupi polusi udara.
Malik berkata, “Sudah berapa lama kau pergi dari desa ini, Dit?”
“Entahlah, Pak. Saya tidak terlalu ingat. Yang pasti, lebih dari enam tahun. Saya tak pernah cerita ini pada siapa pun, termasuk teman-teman akrab saya di ketentaraan,” kata Aditya.
“Wah, jadi begitu?”
“Semoga Paman masih mengenali wajah saya yang sudah banyak berubah ini, dan terutama masih mau menerima saya,” kata Aditya.
“Aku yakin dia mau setelah mendengar kisah penyelamatanmu.”
“Pak, sebaiknya Anda jangan ceritakan soal itu,” potong Aditya sesegera mungkin.
Komandan Malik paham dan mengangguk.
Aditya kemudian mengenang perpisahannya dengan sang paman yang merawat dan membesarkan dirinya sejak kecil. Kedua orang tua Aditya sudah meninggal waktu itu. Kebetulan sang paman tidak pernah menikah dan tidak mempunyai anak. Maka Aditya kecil dirawatnya dengan segala keterbatasan.
Aditya tak akan lupa bagaimana dulu sang paman berjualan ubi untuk sekadar bisa memberi makan perut mereka berdua. Aditya hanya bisa sekolah hingga SMP di desa ini. Sempat bolak-balik ke kota sebelah untuk pendidikan SMA-nya, berkat bantuan dari seorang lurah yang menyukai kebaikan hati sang paman.
“Apa yang membuatmu pergi, Dit?” tanya Malik setelah hening beberapa lama.
“Kalian bertengkar? Soal apa?”
“Itu cuma persoalan sepele yang kami berdua ributkan. Itulah yang saya lupa apa. Saya sungguh menyesal. Beberapa tahun terakhir terus kepikiran Paman. Saya sendiri sudah lupa apa penyebab sepele yang memisahkan kami. Sungguh berdosa jika saya tak pulang sebelum Paman tiada.”
Pilot helikopter itu berkata melalui alat komunikasi yang tersambung ke telinga tiap penumpang. Ia bilang, “Di mana persisnya posisi rumah Anda, Pak Aditya?”
“Dekat tanah lapang itu. Yang ada mushala kecil dengan kubah hijau terang!” kata Aditya setengah berteriak karena suara baling-baling helikopter cukup berisik. Bicara di dalam kendaraan macam ini memang harus dengan suara keras.
“Oke! Mendarat di tanah lapang itu, ya?”
“Silakan saja!” kata Aditya, sambil berpikir betapa ini akan jadi kejutan bagi sang paman. Entah antara kejutan yang menyakitkan atau menyenangkan. Semoga saja sang paman senang melihatnya datang dengan cara seajaib ini.
Di luar dugaan Aditya, sang paman yang waktu itu sedang cari angin di luar rumah setelah dagangannya habis diborong oleh orang hajatan, terlihat girang begitu tahu ada helikopter persis di atas rumahnya.
__ADS_1
Ia tentu tahu itu helikopter. Hanya saja, baru pertama itu ia melihatnya!
Orang-orang desa lain berkumpul di sekitar situ demi melihat pendaratan kendaraan yang mungkin hanya sekali mereka lihat secara langsung dalam beberapa tahun ke depan itu. Suara ributnya, angin kencangnya yang mengibarkan jemuran dan membuat mata mereka pedih, sama sekali tidak menghalangi mereka. Warga yang datang malah makin membludak.
“Wah, inilah yang saya tidak suka,” kata Aditya.
“Dit, kurasa situasi ini justru akan membantu. Pamanmu justru akan lebih mudah memaafkanmu jika disaksikan orang sebanyak ini. Aku ingin tahu di mana beliau?” kata Malik.
Aditya menunjuk seorang pria berambut putih yang berdiri di barisan paling depan. Pria tua itu mengenakan kaos Dagadu lawas yang entah sejak kapan dimilikinya. Kaos itu terlihat lusuh dan berlubang di sana-sini.
Begitu helikopter mendarat, orang-orang serentak menyerbu mendekat. Mungkin saja dikiranya ini rombongan pejabat.
“Wah, siapa yang datang ya?”
“Ayo, kita lihat!” kata mereka.
Hanya saja yang turun malah seorang berbadan kekar berseragam tentara dan lelaki yang tampaknya tak terlalu asing bagi mereka. Si pengusaha nyentrik itu juga turun, tetapi lebih terlihat seperti orang biasa di mata warga, sebab cuma memakai kaos dan celana pendek saja.
Benar saja, wajah Aditya yang hanya sedikit berbeda dari masa lalu membuat satu dua orang warga segera mengenalinya.
“Lho, Aditya?”
“Wah, sudah kaya kamu sekarang, Le! Punya helikopter! Hahaha!”
“Hei, ini Aditya datang! Keponakannya Pak Salim!”
“Hebat benar, ya! Pulang-pulang bawa helikopter! Hihihi!”
Mendengar itu semua, Paman dari Aditya segera berubah ekspresi, dari tersenyum takjub jadi terkaget-kaget.
“Aditya?” batinnya tak percaya. “Masa sih lelaki yang gagah itu Aditya?!”
“Paman, saya pulang,” kata lelaki tersebut begitu ia berada persis di depan Paman Salim.
Pamannya hanya bisa melongo seperti patung, lalu terduduk di tanah karena tak kuat berdiri. Ia benar-benar shock. Mengira keponakannya sudah mati karena tak pernah ada kabar, lalu suatu hari yang damai mendadak ia pulang.
__ADS_1
“Ke mana saja kau, Le?!” teriak lelaki tua itu sambil menangis sesenggukan.
Bersambung...