
Ratna Riani sama sekali tak tahu bahwa Aditya masih hidup. Ia hanya dengar waktu itu si pemuda yang ia sukai tersebut dikirim ke Thailand dalam sebuah misi yang cukup berbahaya.
Ratna Riani tentu sangat mencintai Aditya, tapi kini ia sudah mulai bisa merelakan kepergian lelaki tampan tersebut. Luka pahit akibat kematian sang kakek membuatnya tak dapat melakukan hal lain selain melanjutkan hidup. Jadi ia tak sempat mencari tahu soal Aditya.
Hanya saja, saat Ratna akan menghadiri pesta pernikahan salah satu sepupunya di salah satu hotel di Jakarta, ia tahu-tahu tersesat. Seperti ada tangan gaib yang menuntun gadis itu kemari. Ia masuk ke ruangan yang salah dan bertanya pada dua orang pemuda yang terlihat asyik makan untuk memastikan ia tidak salah masuk.
“Wah, sepertinya kamu tersesat,” kata Teo pada Ratna.
“Ya, ini bukan tempat resepsi pernikahan Liliana siapa tadi? Ini pesta pribadi untuk teman kami,” sambung Charlie yang terlihat sangat bersemangat. Jelas saja, Ratna saat itu mengenakan gaun yang membuatnya tampak sangat anggun. Terlihat jauh lebih cantik dari Ratna yang sehari-hari memang sudah tampak cantik.
“Oh, begitu ya. Maaf,” balas Ratna.
Saat itulah Aditya menyadari kehadirannya.
Entah bagaimana Charlie mendadak menunjuk wajah Aditya dari kejauhan, dan itu membuat Ratna segera tercengang.
“Nah, itu teman kami yang punya pesta kali ini. Dia dan pacarnya yang di dekatnya itu,” kata Charlie pada Ratna.
Mendengar itu, perasaan Ratna menjadi kacau, tapi sekaligus bahagia. Kacau sebab cemburu, dan bahagia karena ternyata Aditya terlihat baik-baik saja. Ia yakin ia tidak salah lihat, sebab Aditya yang juga menatapnya dari sana terlihat kaget juga.
Ratna benar-benar sudah lupa pada pesta pernikahan sepupunya dan berkata pada Teo dan Charlie, “Itu sih teman-temanku. Aku harus ke sana menyapa mereka. Terima kasih buat kalian, ya!”
Teo dan Charlie saling berpandangan. Mereka tak menyangka akan mendapatkan peluang emas di hari yang mungkin membosankan ini.
Betapa tidak? Ini harinya Aditya dan Frita. Semua orang tahu itu. Aditya mendapat tempat istimewa di pesta jamuan ini. Dan mereka hanya sebagai penonton. Melihat ada gadis cantik yang mungkin saja bisa mereka dekati, mereka jadi sangat semangat.
“Gue duluan, Bro!” kata Teo sambil buru-buru menyelesaikan makannya.
“Ah, loe tahu itu tadi tipe gue!” balas Charlie yang tak kalah gesit sebab ia segera meletakkan piringnya yang belum kosong.
Hanya saja, Charlie tak bisa menyusul Ratna, sebab lengannya segera dicengkeram dengan kuat oleh Teo.
“Oh, begitu ya? Loe mau main kasar ya?” kata Charlie sambil tertawa-tawa pada sahabatnya itu.
“Kita maju sama-sama dong, Bro! Biar cewek itu memilih siapa yang terbaik!” balas Teo.
“Enggak bisa! Gue yang ngincer dia duluan!” tukas Charlie.
Akhirnya keduanya bergulat di atas karpet, disaksikan sejumlah pengunjung pesta yang keheranan, tapi mereka justru tertawa sebab Teo dan Charlie bukan terlihat ingin saling bunuh, malah seperti dua anak kucing yang sedang bercanda. Mereka saling kunci dan saling gelitik satu sama lain.
__ADS_1
***
“Hai, Dit. Kamu di sini ternyata?” sapa Ratna.
“Ratna, apa kabar?” balas Aditya terlihat tak berdaya.
“Baik. Kamu sendiri?”
“Seperti yang kamu lihat. Aku sehat-sehat saja.”
Sesungguhnya, Aditya sendiri juga sempat memiliki perasaan pada Ratna, tetapi itu dulu. Semua itu sudah berlalu baginya dan ia tahu itu bahkan sejak sebelum dirinya berangkat ke Thailand tempo hari.
Namun, Frita melihatnya berbeda. Frita merasa sangat cemburu, tetapi karena tidak mungkin ia berbuat lain selain menyambut dengan sopan, maka gadis itu berkata, “Hai, Ratna. Kamu di sini?”
“Oh, ya, aku tak sengaja salah masuk. Harus ke pesta pernikahan sepupuku hari ini, di hotel ini juga, tetapi ternyata malah ketemu kalian di sini,” kata Ratna.
Frita yang merasa kalimat sapaannya ternyata agak mirip dengan sapaan Ratna pada Aditya barusan, merasa sangat canggung.
Pertemuan mereka bertiga memang sangat canggung. Orang yang lihat ketiganya dari jauh mungkin tak akan curiga. Mereka hanya akan berpikir bahwa tiga orang di situ sedang mengobrol biasa, padahal ketiganya mencoba mencari cara untuk bisa santai satu sama lain, tapi sayang tidak bisa.
Untunglah kedatangan Charlie dan Teo tak lama setelah itu bisa memecah kebekuan di antara mereka. Teman-teman baru Aditya itu memperkenalkan diri pada Ratna dengan cara yang sangat baik dan sopan. Tidak terlihat norak, meski tadi sempat adu gulat.
“Kalau tahu kamu temannya Bang Aditya, sudah pasti kusambut dengan lebih baik tadi,” kata Teo.
“Ya, loe juga sama tukang makan!”
Ratna hanya tersenyum melihat tingkah mereka yang terlihat lucu. Maklum saja, usia Teo dan Charlie beberapa tahun lebih muda dari Aditya maupun dirinya.
Aditya merasa terselamatkan oleh tingkah Charlie dan Teo. Ia mungkin sudah tahu apa yang mesti dilakukannya tentang Ratna jika alur ceritanya bergulir ke arah dilematis. Ah, tapi itu sekadar ada dalam pikirannya. Lagi pula, mana mungkin Ratna bisa begitu saja berpindah hati ke lelaki lain?
Aditya memang tahu betul bagaimana dalamnya perasaan dua gadis ini padanya. Dan itu sangat membuatnya tersiksa.
***
Pesta itu berlangsung kurang lebih 3 jam. Ratna sudah pamit ke pesta milik sang sepupu setelah bicara tidak lebih dari 15 menit. Aditya merasa sedikit lebih tenang lagi.
“Jadi, besok kamu pulang ke desamu?” tanya Frita begitu para tamu yang hadir di pesta sudah tinggal segelintir lagi.
Tampak di pintu ruangan Pandu dan Gina mengucap terima kasih pada para tamu yang pamitan pulang. Aditya dan Frita memandangi mereka dari dekat meja berisi minuman dan kue pencuci mulut.
__ADS_1
“Ya, aku harus membuat lukaku ini tidak terlalu bikin cemas pamanku,” kata Aditya sambil menunjukkan bekas-bekas pukulan anak buah Garry Lee kemarin.
“Benar, kamu harus menginap dulu di sini setidaknya sampai dua hari lagi,” kata Frita.
“Kurasa semalam saja cukup,” balas Aditya, yang tak bisa lepas dari pikiran tentang Paman Salim, Diana, dan Dirga. Batinnya segera berkata, “Ke mana saja si Deri ini. Dia belum balas pesanku.”
“Kalau boleh, aku ikut denganmu, ya?” pinta Frita sambil menatap penuh harap pada Aditya.
“Jangan dulu, Frita.”
“Kenapa?”
“Pokoknya jangan dulu. Ada orang usil di desa yang mungkin masih punya urusan denganku,” jawab Aditya.
Frita terlihat cemas.
“Enggak usah khawatir. Cuma bocah desa sok jagoan saja. Aku cuma mau pastikan semua kembali normal.”
Malam itu juga Aditya dan sebagian anggota Skuad Malam yang berdomisili di luar Jakarta disewakan kamar di hotel tersebut oleh Pandu Saputra. Mereka harus istirahat sebelum menikmati cuti beberapa minggu ke depan.
Aditya lagi-lagi sulit tidur seperti semalam. Ia kembali memeriksa ponselnya, dan menyadari keteledorannya sendiri.
“Pantas saja Deri tidak membalas pesanku! Bateraiku saja sudah habis dan aku kelupaan!”
Dia segera memasang kabel charger pada ponsel tersebut dan menyalakannya. Tak lama terdengar denting berkali-kali yang cukup mengganggu. Pesan beruntun dari Deri! Dan, terlihat juga catatan panggilan terabaikan hingga 47 kali!
“Sial! Ini pasti soal Dirga si anak lurah itu!” gerutu Aditya.
Memang benar, pesan dari Deri berbunyi: Pamanmu sedang dalam masalah. Dirga pelakunya. Saya yakin pasti Dirga meracuni dagangan pamanmu!
Pesan lain berbunyi: Dit, tolong balas!
Entah berapa banyak pesan dari Deri selama seharian tadi. Aditya mengutuki diri sendiri yang sudah teledor.
Aditya memutuskan pulang ke desanya malam ini juga. Cepat saja ia mengemasi seluruh barangnya yang sedikit ke dalam koper.
Hanya saja, sebelum meninggalkan kamar hotel, Aditya melihat Ratna yang sedang mabuk berdiri tepat di depan pintu kamarnya.
Ratna terlihat jauh beda. Gaunnya siap dibuka oleh tangannya sendiri yang berkulit halus, membuat pikiran Aditya benar-benar kacau.
__ADS_1
Gadis itu mendesaknya masuk kembali ke kamar dan berbisik, “Miliki aku, Aditya. Miliki aku selamanya!”
Bersambung....