
“Keluar lu keparat!” bentak Arfa sambil menggebrak meja hingga Mr. K kaget sampai kepalanya membentur meja.
“Aduh,” teriak Mr. K.
“Udah aduh! Ayo keluar bangsat!” bentak Arfa lagi sambil menyeret kaki Mr. K agar keluar dari bawah meja.
“Ampun bang ampun,” kata Mr. K sambil tangannya mengenggam erat meja.
“Ampun ampun. Dasar kurang ajar!” bentak Arfa sambil terus menyeret Mr. K bersama meja yang dia pegang.
Melihat Mr. K yang masih menempel dengan meja membuat Arfa kesal. Dengan keras dia menendang Mr. K hingga terlepas dari meja. Tampak dia meringis kesakitan. Tapi lagi-lagi dia merangkak masuk kembali ke kolong meja yang lain. Wajah Arfa memerah karena marah.
Dengan cepat Arfa kembali menarik kaki Mr. K dan menyeretnya menjauh dari tempat itu lalu membantingnya ke jalanan. Mr K bangkit dan menghunuskan pisau yang dia bawa. Arfa hanya menyeringai melihat tingkah laku Mr. K.
“Lu nggak tahu siapa gue ya?!” tanya Arfa sambil berjalan mendekati Mr. K yang gemetaran.
“Saya tahu kalo abang ini salah satu petinggi di geng Gagak,” jawab Mr. K.
“Terus kenapa lu hunusin pisau ke arah gua hah?! Udah bosen hidup ya!” bentak Arfa sembari menendang Mr. K hingga tersungkur. Pisau yang dipegangnya terlempar jauh.
“Ampun bang, saya tidak sadar tadi,” rengek Mr. K sambil memegang kaki Arfa.
“Cih, jijik gue lihat pria tua merengek-rengek,” kata Arfa sambil menghentakkan kakinya agar Mr. K menjauh.
“Lu tahu nggak wilayah siapa ini?!” tanya Arfa sambil mencengkram kerah baju Mr. K.
“Saya nggak tahu bang.”
“Brengsek! Makanya cari tahu dulu! Jangan seenaknya saja ngadain balapan!” bentak Arfa sambil membanting Mr. K ke tanah.
Beberapa kali Mr. K meminta ampun. Namun Arfa dengan kejamnya terus menghajar Mr. K hingga babak belur. Dari tepi mulutnya, hidungnya dan beberapa bagian tubuhnya tampak mengeluarkan darah. Arfa tidak berhenti, dengan geram dia terus menghajar Mr. K hingga puas.
Clarissa tampak ketakutan melihat situasi yang dialaminya saat ini. Arnold gemetaran di dalam mobil. Vivi tampak pucat. Hanya Ratna dan Aditya yang masih terlihat tenang saat ini. Jeritan dan raungan terdengar jelas. Geng Gagak tanpa ampun terus menghajar orang-orang yang ada di sana.
“Hajar semuanya! Biarkan mereka tahu apa akibatnya bermain main dengan geng Gagak!” teriak Adrian sambil berjalan ke arah Aditya.
“Kelihatannya masalahnya akan semakin rumit,” gumam Ratna sambil mengeluarkan ponselnya.
“Kita akan baik-baik saja,” ujar Aditya sambil mengusap kepala Clarissa.
“Apa kamu punya rencana Wir?” tanya Vivi.
__ADS_1
Aditya hanya tersenyum sambil menatap tajam ke arah Adrian yang datang mendekat sambil menghajar semua lawan yang menghalanginya. Tiba-tiba ada beberapa bawahan Adrian yang menerjang hendak menyerang Aditya namun dengan cepat Adrian mencegah tindakan mereka. Ratna heran melihatnya, dia membatalkan panggilannya dan memasukan kembali ponselnya.
“Lama tidak berjumpa, Bos,” sapa Adrian sambil mengajak bersalaman kepada Aditya.
“Aku tidak menyangka jika kamu masih mengenaliku, Adrian,” jawab Aditya, maju sambil menerima jabat tangan dari Adrian.
“Beberapa tahun aku menjadi bawahanmu, semua itu tidak ada artinya jika saat ini aku tidak bisa mengenalimu.”
“Lalu di mana Arfa? Tadi aku sekilas melihatnya.”
“Dia aku perintahkan untuk mencari dalang di balapan ini.”
“Untuk apa?”
“Dia mengadakan balapan sebesar ini tanpa mendapat izin dari geng Gagak.”
“Oh, aku tidak menyangka jika saat ini wilayah milik geng Gagak sudah semakin luas.”
“Setelah Bos pergi banyak perubahan yang terjadi.”
“Begitu ya, lalu bagaimana dengan Egi dan Ketua?”
Aditya hanya mengangguk pelan. Ratna tampak sangat terkejut melihat Aditya kenal dengan salah satu petinggi geng Gagak. Clarissa tampak sudah mulai tenang karena ternyata Aditya sendiri mengenal orang itu. Vivi semakin penasaran dengan identitas Aditya. Sejak balapan dengannya dia tidak henti-hentinya membuat hatinya kagum.
Para bawahan Adrian terlihat sedang mengumpulkan para preman yang menyerang Aditya, tampaknya para preman itu sudah menyerah untuk menghadapi geng Gagak. Mereka semua tampak heran melihat Adrian sedang berbicara dengan pria yang tidak dikenal laiknya kawan lama yang bertemu kembali.
Dari kejauhan terlihat Mr. K yang sudah babak belur berjalan menuju mereka. Arfa berjalan di belakangnya sambil terus sesekali membentaknya. Mr. K kemudian berlutut di depan Adrian dan Aditya.
“Maafkan saya bang. Saya tidak akan mengulanginya lagi,” ujar Mr. K sambil tertunduk.
“Ubang abang, emangnya gue abang lu!” bentak Adrian.
“Maafkan saya.”
“Udah tua masih merengek rengek kayak begitu. Panggilan saja keren Mister K.”
“Maaf, saya ngaku salah,” rengek Mr. K bahkan tanpa malu dia terdengar menangis.
“Dih jijik gue. Nama asli lu siapa sih?”
“Nama asli saya Karmin bang.”
__ADS_1
“Terus kenapa malah dipanggil Mr. K?”
“Saya nggak PeDe bang. Nanti para bandar judi malah ngetawain saya.”
Semua orang yang ada di sana malah tertawa mendengarnya. Beberapa anak buah Adrian malah mencemoohnya. Suasana yang awalnya tegang kini kembali terasa tenang. Arfa kemudian mendekati Aditya, mereka berdua berjabat tangan. Arfa terlihat gembira bisa bertemu dengan Aditya. Mr K yang melihat itu tampak kaget dan semakin ketakutan.
“Maafkan saya bang. Saya nggak tahu kalo abang anggota geng Gagak,” kata Mr. K sambil memeluk erat kaki Aditya.
“Brengsek! Jangan kotori celana bos gue!” bentak Arfa sambil menendang Mr K hingga tersungkur.
“Apa maksud lu mau mengeroyok kami hah?!” tanya Ratna dengan tatapan tajam.
“Maafkan aku Mentarinya Bandung, aku tadinya cuma berniat mengambil kembali hadiah balapan dari kalian berdua,” kata Mr. K sambil menangis tersedu sedu.
Clarissa tertawa kecil melihat kelakuan Mr. K. rasa takut yang tadi menyelimutinya sudah hilang ketika melihat kelakuan pria tua di hadapannya itu. Arfa menatap tajam ke arah Ratna. Dia akhirnya paham keadaanya. Dia hanya tersenyum karena tahu siapa pembalap yang telah mengalahkan Mentarinya Bandung.
“Sekali lagi tolong maafkan saya,” kata Mr. K.
“Dengar! Kalian semua para preman yang tidak tahu diri. Disini adalah wilayah geng Gagak. Siapapun yang berani berbuat onar disini akan berhadapan dengan gue!” teriak Adrian.
“Hari ini kalian sudah membuat kesalahan besar karena berani mengganggu orang yang begitu gue hormati! gue nggak akan mengampuni kesalahan kalian! Malam ini kalian bisa saja kehilangan nyawa, tapi yang akan memutuskan hukuman bagi kalian bukanlah gue!” tambah Adrian sambil menatap Aditya. Seketika saja Aditya paham dengan maksud Adrian, dia kemudian maju.
“Gue nggak akan mengotori tangan di sini! gue emang kesal sama lu semua, tapi kali ini gue ampuni. Tapi jika lu semua berani mengganggu mereka. Lari kemanapun, lu nggak akan selamat!” kata Aditya dengan tegas sambil menunjuk Clarissa, Ratna dan Vivi.
Suara Aditya yang lantang dan tegas. Menunjukan dirinya yang memang berwibawa. membuat semua orang di sana kagum. Dari suaranya saja aura intimidasi yang mengerikan dirasakan oleh para preman yang ada di sana. Rasa takut dan kagum mengalir di tubuh mereka.
“Baiklah, tapi aku tidak bisa mengampuni si tua Bangka itu,” kata Adrian sambil menunjuk Mr K.
“Itu terserah kalian saja.”
“Terimakasih Bos.”
“Sudahlah panggil saja namaku jangan kayak begitu.”
“Saya lebih suka seperti ini saja,” jawab Adrian dengan mantap.
Aditya hanya menghela nafas mendengarnya. Adrian kemudian menyuruh semua anak buahnya untuk kembali ke wilayah masing-masing. Mr K diperintahkan untuk dibawa ke arkas besar geng Gagak beserta para preman yang ada di sana.
“Bos. Kenapa tidak kembali bergabung saja dengan kami? Aku yakin Ketua juga akan senang,” tanya Arfa sambil menatap tajam Aditya.
BERSAMBUNG…
__ADS_1