
“Kok kita di sini sih?” tanya Ellena dengan nada sedih saat mobil Sean sudah parkir di depan sebuah hotel di dekat rumah Ellena.
“Ya kan tadi aku udah bilang kalo kita bakalan tidur bareng. Kalo mau tidur ya di kamar,” ucap Sean sambil melihat Ellena.
“Kamu ... kamu seriusan?” tanya Ellena mulai sedikit panik.
“Iya lah ... ato kamu ga mau di sini? Kita ke apartemen aku aja kah?” tawar Sean sambil menaik turunkan alisnya.
“Apartemen?” ucap Ellena panik.
“Jangan ... di sini aja. Eh ... maksud aku kita pulang aja. Ke rumah aku,” lanjut Ellena lagi.
“Ke rumah kamu? Emangnya aku boleh tidur di rumah kamu? Ibu ga marah nanti?”
“Maksud aku ga gitu ... itu ....”
“Ah lama!! Buruan turun, udah ngantuk banget aku,” ucap Sean memotong ucapan Ellena.
Sean segera melepas sabuk pengamannya dan segera keluar dari mobil. Dia tidak peduli dengan Ellena yang masih ada di dalam mobil. Dan dia pun bahkan segera memberikan kunci mobilnya pada petugas parkir.
Ellena yang merasa tidak enak pun segera ikut turun. Dia terpaksa mengikuti langkah kaki Sean yang sudah masuk ke dalam hotel terlebih dahulu. Dia kini melihat Sean sudah ada di depan resepsionis untuk meminta sebuah kamar.
“Ini kenapa sih kok gini lagi. Ga bisa apa ya cerita sambil makan ato pergi ke mana gitu. Kenapa harus hotel sih. Aduuh ... apa dia beneran pengen bikin adik buat Nathan ya?” gumam Ellena sambil berjalan pelan ke arah Sean.
“Ell, mau masuk ga?” tanya Sean sambil menunjukkan sebuah master key yang ada di tangannya.
Ellena tidak menjawab. Dia hanya menundukkan kepalanya dan berjalan lemah ke arah lift tempat Sean sekarang berada. Sean sengaja menahan pintu lift agar tidak tertutup sebelum Ellena masuk ke dalam.
Kini mereka hanya berdua di dalam lift itu. Ellena melihat ke arah Sean yang melihat lurus ke depan. Sean seolah membiarkan Ellena terus bermain dengan pikirannya sendiri saat ini. Yang penting baginya saat ini adalah dia ingin tidur bersama Ellena untuk melepas stres.
“Sean,” panggil Ellena lemah.
“Hmm ...,” jawab Sean dengan deheman saja.
“Kamu serius malam ini?” tanya Ellena berharap akan ada perubahan jawaban.
“Aku stres, Ell. Kamu tau kan kalo aku stres kudu ngapain. Katanya kamu juga mau denger cerita soal Luna.”
__ADS_1
“Iya ... tapi kan ....”
“Kita udah sampai. Ayo buruan. Aku mau mandi, gerah banget,” ucap Sean sambil menarik tangan Ellena agar keluar dari lift.
Jantung Ellena makin berpacu dengan sangat cepat. Dia semakin takut kalau Sean akan meminta hal yang seperti mereka lakukan dulu. Kini perasaan yang duli pernah Ellena rasakan saat akan menjadi pemanas ranjang Sean pun terulang lagi.
Rasa cemas dan juga tidak nyaman menyatu jadi satu di dalam hatinya. Ellena mengambil nafas dalam saat dia sudah ada di depan pintu sebuah kamar yang disewa Sean.
Tulaliitt
Bunyi suara pintu yang sudah terbuka setelah Sean menempelkan master key yang ada di tangannya terdengar seperti sedang mengejek Ellena. Wanita itu makin membenamkan wajahnya dalam-dalam saat masuk ke dalam kamar.
“Kamu mau mandi duluan ato aku duluan? Ah kayanya mending mandi bareng aja ya?” ucap Sean sambil meletakkan barang-barangnya.
“Aku tadi udah mandi kok. Masa mandi lagi sih?” jawab Ellena.
“Kamu habis dari mall. Jangan jorok deh, buruan mandi sana,” perintah Sean pada Ellena.
“Trus kamu mau ngapain?”
“Mau telpon Mathias. Kenapa ... kamu mau ajak aku mandi bareng ya?” tanya Sean.
“Jangan takut, Ell. Kita pernah lakukan itu 7 tahun lalu. Kita lakukan 3 kali. Dan malam ini kasih aku 4 kali ya,” ucap Sean menggoda Ellena.
“Sean ih!” ucap Ellena dengan semakin mempercepat langkahnya.
“Kenapa sih. Ntar juga biasa kok,” ucap Sean sambil terkekeh.
Ellena segera beranjak ke kamar mandi. Dia masih sempat mengintip Sean yang ada di kamar. Dia ingin melihat apa Sean benar-benar serius dengan ucapannya tadi. Ellena masih berharap kalau apa yang dikatakan oleh Sean itu hanya sebuah gurauan saja.
Tapi ternyata tidak ada perubahan mimik wajah sama sekali. Pria yang sedang duduk di sofa itu kini terlihat sangat serius saat berbicara dengan asisten pribadinya di telepon. Ellena akhirnya menyerah. Dia kini masuk ke dalam kamar mandi untuk segera membersihkan diri.
“Ya ampun ... kenapa secepat ini sih? Duh emang dasar Sean. Masa iya ngajak cewek tidur bareng di hotel kaya lagi mau beli makanan aja. Emang benar-bener pengalaman dia. Ayo Ell, paling ga kan kini bukan yang pertama sama Sean. Percaya aja ama Sean. Tapi tolak dulu sebisa mungkin. Ayo Ell, kamu bisa!!” ucap Ellena di depan wastafel memberi semangat pada dirinya sendiri.
“Aduuuhh aku takut,” keluh Ellena kemudian sambil memasang wajah memelas.
Ellena pun mandi. Dia ingin menenangkan dirinya dulu sebelum dia keluar lagi untuk menemui Sean. Dia mencoba mengendurkan otot badannya yang menegang di bawah guyuran air hangat. Karena takut masuk angin, Ellena tidak berani terlalu lama mandi. Dia takut kedinginan.
__ADS_1
Setelah Ellena keluar dari kamar mandi, Sean pun segera masuk ke dalamnya. Sean melewati Ellena begitu saja seolah ini bukan masalah besar. Ellena hanya melihat Sean dengan tatapan permohonan yang diacuhkan begitu saja oleh Sean.
“Kamu cantik kalo abis mandi gitu. Aku jadi makin pengen lebih sering liat kamu rada basah gini deh,” puji Sean saat dia keluar dari kamar mandi.
“Sean aku ngantuk,” ucap Ellena.
“Sama. Kamu ga usah pulang ya. Kita abisin malam ini di sini,” jawab Sean sambil mengatur pencahayaan agar lebih temaram.
“Kita nginep sini?”
“Iya lah. Ngapain sewa hotel kalo cuma satu dua jam doank. Aku mau sampai pagi sama kamu,” jawab Sean yang segera mengangkat dagu Ellena.
“Kamu benar-benar cantik, sayang,” puji Sean lagi saat melihat wajah Ellena semakin dekat dengannya.
Dua bibir itu kini sudah saling bertautan. Sean masih mendominasi permainan karena sepertinya Ellena masih diselimuti dengan rasa gugup. Namun bukan Sean namanya kalau dia tidak bisa memberikan rasa nyaman pada pasangannya.
Ellena yang masih dalam posisi duduk itu pun kini sudah berpegangan pada pinggang Sean yang menikmati bibirnya sambil membungkukkan badannya di depan Ellena. Tautan bibir itu kian dalam dan saling menuntut setelah Ellena mulai merasa terbiasa.
“Kita pindah, sayang,” bisik Sean pada telinga Sean.
Tanpa perlawanan lagi Ellena pun mengikuti Sean yang sudah menggandeng tangannya untuk naik ke atas tempat tidur. Kini mereka sudah berbaring bersama di bawah selimut tebal dan saling berpandangan. Tangan Sean sudah membelai wajah Ellena dengan sangat lembut.
Ellena memejamkan matanya saat ibu jari Sean mulai menyusuri bibirnya. Ada tasa nikmat dan geli bercampur jadi satu saat permukaan bibirnya yang basah itu disapu oleh kulit tangan Sean yang lembut.
Tanpa perlu waktu lama lagi, Sean pun kembali menyerang bibir Ellena. ******* panas kini sudah terjadi di antara dua insan yang sedang dimabuk cinta itu. Ellena bahkan sudah lupa dengan niatannya untuk menolak Sean malam ini. Dia terlalu mabuk untuk menolak semua perlakuan manis pria tampan ini.
Selagi bibir mereka saling bergulat memberikan pelayanan pada pasangan, tangan Sean tidak diam saja. Tangan nakal yang sedari tadi mengusap lembut punggung Ellena sampai wanita itu menggeliat seperti cacing kepanasan kini sudah menyusup berpindah ke bagian depan. Bongkahan kenyal milik Ellena menjadi sasarannya. Namun baru beberapa saat saja Sean meremasi bongkahan itu, suara leguhan sudah mulai terdengar.
“Kayanya makin gede ukurannya, Ell,” bisik Sean menggoda di telinga Ellena.
Ellena tidak berani menjawab. Dia masih sibuk menyembunyikan wajahnya yang sudah sangat ingin mendapat perlakuan seperti tadi dari Sean.
“Aku ngantuk, Ell. Kita bobo dulu ya. Sini aku peluk,” ucap Sean sambil menyeret tubuh Ellena masuk dalam pelukannya.
Ellena memejamkan matanya lalu dia sedikit mendengus kesal, ‘Brengsek Sean! Aku udah naik malah dianggurin. Dasar setan!!” umpat Ellena dalam hati karena Sean tidak melanjutkan apa yang dia lakukan tadi.
Namun baru saja Ellena akan mencoba untuk tidur, tiba-tiba badannya di balik secepat kilat oleh Sean untuk menghadapnya. Kini mereka saling berpandangan.
__ADS_1
“Udah merah, Ell. Udah pengen ya. Mau di lanjutin ga?” ucap Sean dengan tatapan menggoda.
Bersambung....