Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 248


__ADS_3

“Bagaimana, Hacker? Coba kau pikirkan tawaranku,” kata Jim sambil mengantar Aditya yang babak belur setelah dihajar di ruang siksaan oleh para penjaga.


Aditya didorong ke dalam sel, lalu sengaja ia mengarahkan dorongan tersebut agar menabrak tubuh Rai Siluman. Terdengar suara pendek dari bibir Rai, “Ah!”


Jim mendadak terkejut mendengar itu.


“Hei, dengar? Si bisu ini mulai bicara? Kau sembuh? Ayo, sekarang giliranmu ikut denganku. Bawa dia!” perintah Jim pada empat orang penjaga.


Rai Siluman tak pernah melawan. Tubuhnya penuh dengan bekas luka pukulan dan sundutan rokok, dan kadang jika Aditya berada cukup dekat, bisa juga melihat luka sayatan silet atau pisau di pipinya yang sudah kering.


Rai Siluman dipenjara di sini sejak sekitar setahun lalu sebelum Aditya mendapat tugas untuk membujuknya bicara. Entah berapa kali siksaan ia terima dari Jim. Sungguh kuat daya tahan lelaki paruh baya itu.


Tentu saja Aditya tak mendapat siksaan yang separah itu. Ia sekadar dipukuli oleh penjaga. Beberapa kali saja sampai ada sedikit darah di pelipis dan sudut bibir. Semua ini demi sandiwara mereka.


“Waktu kita sedikit, Dit. Info dari Amy Aurora, dokumen kemiliteran itu kini boleh jadi ada di pelelangan gelap. Sudah masuk list incaran beberapa penjahat internasional. Belum ada yang benar-benar sepakat, karena harga yang diajukan terus saja bertambah,” kata Jim setelah ‘menghajar’ Aditya.


“Jadi kita sudah tahu di mana barang itu? Berarti usaha membujuk Rai tidak lagi kita perlukan?”


“Tidak. Kita belum tahu di mana barang itu berada. Masih simpang siur. Beberapa kelompok mafia kita curigai memegang itu. Hanya Rai yang tahu pasti di mana barang itu ia jual?”


“Jadi begitu, ya. Rumit juga.”


“Bisa jadi ada di Italia, atau Amerika Serikat, bisa juga di Meksiko atau di Jepang. Kita belum tahu,” tambah Jim.


“Saya harus segera membuat Rai bicara,” kata Aditya.


“Ya. Kalau tidak, dokumen itu segera jatuh ke tangan orang-orang yang tak pernah kita harapkan.”


“Bunuh kami berdua saja,” kata Aditya setelah terlihat berpikir beberapa saat.


“Apa?!” sahut Jim heran.


“Bunuh kami berdua, Pak.”


“Kamu gila ya? Aku memang sangat ingin menembaknya, tapi ini bisa kacau. Coba jelaskan rencanamu,” tukas Jim dengan cemas.


Aditya tampak berbisik pada Jim. Selama ini ia sudah mengamati tingkah laku Rai. Meski bisu dan tak mau bicara, Aditya tahu Rai Siluman sebenarnya peduli padanya. Terlebih ketika ia mengisahkan tentang seorang paman dan calon istri yang dipisahkan darinya karena kasus sepele membajak rekening orang-orang kaya yang tak taat bayar pajak.


“Maksudmu Rai memiliki keluarga di luar sana?” tanya Jim setelah mendengar bisikan Aditya.


“Saya yakin itu. Anda tak pernah tahu?”

__ADS_1


“Kupikir semua orang hanya tahu kalau Rai hidup sebatang kara. Ia bahkan tidak pernah menikah,” kata Jim.


“Saat saya mencoba menggali perasaannya tentang anak atau istri atau teman dekat di luar sana, ia terlihat berbeda. Maksud saya, ekspresi wajahnya terlihat lain. Seperti ia menyimpan sebuah kecemasan di sana,” terang Aditya.


“Baiklah, kau harus pastikan mendapatkan info yang lebih terang tentang itu. Kita bisa atur hukuman mati untuk kalian jika segalanya sudah pasti. Kau harus bekerja cepat, Dit.”


“Akan saya lakukan semampu saya.”


***


Hari demi hari berlalu.


Aditya yang menyamar sebagai Feri, hacker muda 21 tahun, tak henti mengeluh dan curhat tentang pacarnya yang akan ia nikahi, kepada Rai Siluman. Rai tidak bicara, tapi sesekali mengangguk dan menatap Aditya dengan simpati. Aditya tahu cara inilah yang paling ampuh untuk memperdaya Rai.


Maka, dia terus saja berkata, “Ayolah, kamu pasti memiliki seseorang di luar sana. Apa kalian lama berpisah? Kau merindukannya? Siapa saja mereka? Aku tak tahu apa kita harus berada di sini sampai mati?”


Rai menggeleng.


“Berapa tahun hukumanmu?” tanya Aditya yang melihat ada sedikit kemajuan. Kini mereka bisa berinteraksi sedikit demi sedikit, meski tanpa suara Rai.


Rai mengacungkan kesepuluh jarinya, tapi ia tampak tak terlalu yakin.


“Sepuluh tahun? Tapi, kenapa kau terlihat ragu?”


“Ayolah, Bung, Katakan sesuatu soal penjara ini. Soalnya mereka tak pernah sudi memberitahuku berapa lama hukumanku. Aku bahkan tidak diadili di pengadilan!” kata Aditya sambil menangis.


Tak disangkanya, Rai kini mendadak bicara dengan berbisik padanya, “Kau tidak akan tahu dan tidak akan pernah tahu segila apa Jim itu! Dia kadang menahan napi di sini lebih lama dari yang seharusnya!”


Aditya hanya melongo mendengar itu.


“Akhirnya kau bicara juga, Bung!” katanya dengan senang.


“Ya, terpaksa! Begini ya. Aku tak pernah akan mengatakan apa pun pada Jim atau para penjaga itu tentang barang curianku!” tukas Rai Siluman.


“Ya, semua orang tahu tentang barang rahasia yang tetap tersembunyi itu. Tapi, kenapa?”


“Kau benar tentang anak. Aku memiliki anak di luar sana. Seseorang yang membeli barang berharga itu mengancamku setelah posisiku terendus polisi,” ujar Rai Siluman dengan wajah cemas.


“Ancaman?”


“Dia akan membunuh anakku jika sampai polisi atau orang luar tahu di mana kini dokumen itu berada!”

__ADS_1


Rai juga menjelaskan kini anaknya direkrut bekerja di kantor ‘pembeli dokumen rahasia’ itu. Tepatnya di Jepang. Sang pembeli itu tak lain adalah sesosok mafia paling keji, yang namanya tak populer seperti Yakuza, tapi kabar burung mengatakan, mereka jauh lebih sadis.


“Entah apa saja yang sudah terjadi pada anak gadisku itu! Aku tak tahu dan hanya bisa berharap segera bebas dari sini. Tapi, 10 tahun bukan waktu yang singkat! Itu pun kalau Jim tidak mencurangi masa hukumanku!” gerutu Rai dengan kesal.


Tanpa Rai curiga, minggu berikutnya ia dan Aditya digiring ke ruangan lain, suatu titik yang belum pernah mereka singgahi di penjara terpencil itu.


Dua buah kursi diletakkan berjejer di sana. Sebuah meja dengan dua lembar surat perjanjian yang entah tentang apa, berada di depan kedua kursi itu.


Jim sengaja menutup mata Aditya dan Rai agar keduanya tak tahu jalan mana yang mereka lalui.


Setelah tutup mata keduanya dibuka, mereka mendengar Jim bicara, “Nah, hukum memang sering kali tidak adil. Tapi, lihat apa yang kalian perbuat? Mengancam nyawa dan keselamatan banyak orang! Pengadilan lepas tangan, begitupun polisi atau siapa pun. Mereka mengerahkan tim yang lebih baik untuk melacak dokumen itu tanpa bantuan darimu, Rai.”


Rai terlihat bingung.


“Apa maksudmu?” tanya Rai.


“Nah, si bisu ini bisa bicara. Begini, kau kuhukum mati di tempat ini, sekarang juga, jika tetap menolak mengatakan di mana barang itu berada. Bagaimana?”


“Bangsat kau Jim!”


“Oh, mereka tidak mempersoalkan kematian orang sepertimu. Lagian kami sudah tahu di mana barang itu berada. Di Jepang bukan? Kami hanya perlu melacak kota atau distriknya saja,” ujar Jim santai.


Rai terlihat kaget, tapi ia tak curiga pada Aditya, yang sebenarnya membocorkan itu pada Jim.


Tim dokter segera memasuki ruangan misterius itu sambil membawa sebuah koper.


Jim berkata, “Suntikan mati cocok untuk kalian berdua ketimbang peluru biasa. Tapi, jika kalian sudi untuk menandatangani kerjasama kita, kalian akan selamat.”


“Hei, tunggu dululah! Apa yang perlu aku sepakati?” tanya Aditya.


“Menjadi hacker untukku, Feri. Kau harus mau kalau tidak mau mati,” jawab Jim dengan ogah-ogahan.


“Ini enggak adil!” teriak Aditya pura-pura panik.


Rai merasa cemas. Di satu sisi ia tak ingin anaknya celaka. Di sisi lain, ia takut mati. Tapi, jika sang anak tetap hidup sementara ia mati, kalau dipikir lagi, itulah yang terbaik bagi mereka.


Maka, Rai diam ketika suntikan itu diberikan padanya. Ia duduk dengan tenang dan ini membuat Aditya gusar.


Aditya baru merasa tenang setelah tahu kalau Amy Aurora ada di tim dokter yang memakai masker itu.


Amy Aurora berbisik, “Dia tak akan mati. Tapi kalian akan kami kubur tak jauh dari pantai selatan di Jawa Barat. Kau harus segera menolong Rai. Berpura-pura kalian bisa bangkit dari kematian.”

__ADS_1


Aditya mendengar itu dengan perasaan takjub. Rencana macam apa ini? Batinnya berseru, tapi sejujurnya, rencana ini hebat juga baginya.


Bersambung....


__ADS_2