
Ellena tidak bisa menjawab apa yang dikatakan oleh Sean. Dia hanya mencoba mengatur nafas dan juga degup jantungnya yang kian memburu. Dia tidak ingin Sean mendengar deburan jantungnya yang seperti sedang berlari ini.
Mata Ellena hanya mengedip-ngedip beberapa kali saat hembusan nafas Sean menerpa wajahnya. Dia tidak berani menatap mata Sean yang semakin tajam menatapnya. Wajah Sean kini juga semakin mendekat padanya.
‘Ga usah GR, Ellena. Paling bentar lagi dia juga ngejauh lagi,” ucap Ellena dalam hati.
Tapi apa yang dikatakan oleh hati Ellena ini salah besar. Sean bukannya menjauh, tapi malah menempelkan bibirnya di bibir Ellena. Benda lembut itu kini makin membuat jantung Ellena bekerja sangat keras.
Sean tidak mampu lagi menahan pesona Ellena. Wajah Ellena selalu saja tampak seperti sedang menantangnya saat seperti ini. Dan saat ini dia harus tidak mampu menahannya lagi.
Sean mulai menggerakkan bibirnya perlahan menikmati madu yang pernah dia rasakan di bibir Ellena 7 tahun silam. Sean segera saja mendapatkan rasa manis yang sejak dulu dia rindukan. Namun sayangnya, wanita yang ada di hadapannya itu masih belum membalas apa yang sedang dia lakukan.
“Tutup mata kamu, Ell,” ucap Sean pelan saat dia melihat Ellena masih membuka matanya karena kaget.
Setelah mengatakan itu, bibir Sean mulai menikmati lagi madu manis bibir Ellena. Candu bagi Sean yang sangat susah untuk dia lupakan. Candu yang membuat Sean selalu ketagihan.
Mendapatkan perlakuan seperti itu dari Sean, Ellena mulai membalas cecapan bibir Sean. Ellena yang tadinya ingin menolak dan mendorong badan Sean dengan tangannya malah berpegangan pada pundak sang pemuda. Kini bibir mereka saling menikmati dan menyalurkan perasaan hati mereka masing-masing.
Lift yang telah sampai di lantai dasar itu terus saja di tahan oleh tangan Sean agar tidak terbuka dengan menekan tombol tertutup. Sean masih belum ingin melepaskan candunya itu. Dia masih ingin menikmatinya sedikit lebih lama agar hatinya tenang.
“Jangan buat aku cemburu, Ell. Jangan buat aku menggila karena cemburu. Aku bisa nekat nanti. Kamu ngerti kan?” ucap Sean pelan sambil menempelkan keningnya di kening Ellena.
“Maafkan aku,” jawab Ellena pelan.
Kruuug
“Aduuh,” pekik Ellena kaget dengan kesadaran yang telah kembali secara utuh.
“Waah ... ada yang protes, Ell,” ucap Sean sambil menahan tawa.
“Maaf,” ucap Ellena malu sambil memegangi perutnya yang tadi berbunyi.
“Kita makan. Kamu tadi belum habiskan roti lapisnya juga kan,” jawab Sean sambil mulai keluar dari lift.
“Lalu Pak Ivan gimana? Apa ga telat?” tanya Ellena yang masih mengikuti langkah Sean dari belakang.
__ADS_1
“Itu bohong. Orangnya masih di luar negri. Ayo buruan makan.”
“Haahh ... bohong?? Seenaknya aja dia bilang itu boong. Dasar orang aneh!!” gerutu Ellena kesal sambil menghentikan langkahnya
Sadar Sean semakin jauh karaknya dengan dia, Ellena segera berjalan lebih cepat lagi untuk menyusul langkah Sean yang lebih lebar darinya. Ternyata di depan lobi kantor, mobil Sean sudah ada di sana lengkap dengan Mathias yang sudah membukakan pintu mobil untuk Sean.
“Eeh ... mau ke mana kamu?” tanya Sean sambil menarik tas Ellena saat Ellena akan berjalan memutari mobil.
“Ya kan saya lewat sana. Saya ga di suruh nyetir kan, Pak?” tanya Ellena sambil menoleh ke Sean.
“Yang nyetir Mathias. Kamu duduk sini sama aku. Buruan masuk!”
“Haah ... di sini?” ucap Ellena sambil menunjuk ke pintu belakang mobil sedan mewah yang di buka oleh Mathias.
“Udah buruan masuk. Udah laper tapi masih aja banyak omong,” ucap Sean sambil menundukkan kepala Ellena lalu mendorongnya pelan agar segera masuk ke dalam mobil.
Ellena yang terdorong dari belakang akhirnya mau tidak mau segera masuk ke dalam mobil. Setelah dia masuk dan duduk di sana, Sean ikut masuk juga. Ini otomatis membuat Ellena harus bergeser agar Sean bisa duduk di sampingnya.
Biasanya pegawai seperti Ellena harus duduk di samping sopir kalau bepergian dengan bos, apa lagi bos besar seperti Sean. Tapi kali ini karena Ellena adalah wanita special, maka Sean menyuruhnya duduk di sampingnya.
Mobil pun melaju meninggalkan gedung perkantoran itu. Ellena melihat ada beberapa orang di kantor yang melihat ke arah mobil Sean yang bergerak meninggalkan gedung. Sepertinya mereka tahu apa yang terjadi di depan lobi tadi.
“Gosip? Gosip apa?”
“Iya ... gara-gara saya datang ke pesta waktu itu. Saya di bilang Cinderella, Bapak. Udah gitu besoknya setelah pesta, saya dibilang balik lagi jadi upik abu,” Ellena mengadu pada Sean.
“Upik abu? Siapa yang berani bilang kaya gitu ke kamu! Bilang sama aku, biar aku pecat dia sekarang juga.”
Ellena menoleh dengan cepat ke arah Sean, “Eeh ... kok di pecat sih?” tanya Ellena kaget.
“Ya iya lah. Siapa yang berani hina wanita Sean, itu sama aja hina aku! Kurang ajar! Mathias, keluarkan SP 3 buat mereka!”
“Siap, Bos.”
“Eeh ... jangan! Aduuh kalian itu ya. Jangan gitu, bisa ga punya temen aku nanti di kantor. Jangan pokoknya jangan!” ucap Ellena sedikit panik.
__ADS_1
“Ell, dia hina kamu sayang, mana mungkin aku diem aja.”
“Bapak salah sangka, bukan itu maksud mereka. Mereka ga sampe kaya gitu kok, Pak.”
“Bisa ga sih kamu ga panggil aku kaya gitu terus, risih aku tau ga!”
“Trus saya harus panggil apa?”
“Kan udah aku bilang, kalo lagi berdua, panggil aku kamu aja. Ato panggil Sean ... sayang juga boleh, itu lebih baik,” ucap Sean memberi contoh.
“Tapi kita ga lagi berdua. Itu ada Pak Mathias di depan,” bisik Ellena.
“Anggep aja dia ga ada. Mathias ga akan ember kaya temen-temen kamu! Trus mau kamu apa sekarang sama mereka?”
“Ya udah biarin aja. Aku juga ga ambil pusing kok. Ntar juga ilang sendiri. Santai aja.”
“Kamu yakin? Tapi nanti kalo kamu sakit hati gimana?”
“Ntar aku bilang kalo mereka keterlaluan dan sakit hati. Aku janji,” ucap Ellena berusaha menenangkan Sean.
“Janji ya, awas kalo boong. Oh ya, kamu kalo dikirimi pesan itu di bales! Nyebelin banget sih nyuruh orang nungguin,” ucap Sean sambil sedikit memukul kepala Ellena pelan.
“Eeh ... nungguin ya? Aduuh maap deh, tadi lupa mau bales. Seneng banget ya, pegawai rendahan bisa bikin presdirnya nungguin balesan chat,” ucap Ellena sambil terkekeh.
“Dasar nakal,” ucap Sean sambil mengacak rambut Ellena.
Sean segera meraih tangan Ellena. Dia menggenggam tangan itu sangat erat. Dia tidak ingin lagi kehilangan Ellena. Bahkan kalau bisa, saat ini Sean ingin mengumumkan pada dunia kalau Ellena miliknya. Dia ingin semua orang tahu kalau kini mereka pasangan.
Mathias yang ada di balik kemudi pun ikut senang melihat bosnya kini bisa tersenyum lagi. Selama 7 tahun ini, Sean lebih sering uring-uringan karena masih belum melihat pencuri hatinya yang menghilang.
“Ell, kita nikah aja yuk,” ucap Sean sambil menatap Ellena.
“Nikah? Sama kamu?” tanya Ellena balik sambil menoleh ke arah Sean.
“Iya lah ... kalo ga sama aku emangnya sama siapa lagi.”
__ADS_1
“Ga mau! Aku ga mau!” ucap Ellena tegas.
Bersambung....