Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 42


__ADS_3

“Apa yang lu lakuin hah?!” tanya Clarissa sambil mendekati pria dan wanita itu.


“Gua cuma ngasih dia pelajaran karena tidak berhati-hati ketika berjalan!” jawab si Pria.


“Temen gua kan udah minta maaf! Kenapa malah lu tendang?!” bentak Clarissa.


“Sudah Ris, aku juga yang salah,” ujar Arnold sambil memegang dadanya yang terkena tendangan.


“Nggak bisa gitu dong Ar. Dia itu sudah jelas-jelas keterlaluan sampai menendangmu!”


“Eh Lu jangan macem-macem ya!” bentak si Pria sambil melangkah mendekati Clarissa.


Tampak si pria sudah begitu marah. Tangan si wanita menahannya ketika hendak memukul Clarissa. Dengan tenang wanita itu mendekati Clarissa. Kemudian dia memasukan tangan kanannya ke dalam tasnya. Aditya mulai waspada. Dia khawatir jika wanita itu akan mengeluarkan pistol.


Aditya pikir kelihatannya kali ini mereka akan terlibat masalah yang cukup besar. Dilihat dari pakaiannya mereka berdua jelas bukan orang sembarangan. Perhatian semua orang di sana juga tertuju kepada si wanita itu. Tubuhnya tampak begitu proporsional dibalut dengan pakaian yang terbilang seksi.


Paras cantik wajahnya menambah kesempurnaan wanita itu. Aditya pikir pastinya wanita itu merupakan orang yang penting. Bukan tanpa alasan Aditya berpikir demikian. Pria yang ada di belakangnya tampak begitu sangar dan sangat menghormati si wanita. Jelas-jelas kalau dia bukanlah kekasih wanita itu, melainkan bodyguard atau kemungkinan terburuknya, dia adalah anak buah wanita itu.


“Maafkan temanku,” kata si wanita sambil mengeluarkan sejumlah uang dan melemparkannya ke tubuh Arnold. Aditya merasa lega melihatnya.


“Lu pikir kami siapa hah?! Kami bukan pengemis!” bentak Clarissa karena merasa terhina dengan kelakuan si wanita, dia melayangkan tinjunya.


“Lalu, apa aku harus bilang kalian itu berandalan?” tanya si wanita sambil menahan tinju Clarissa.


“Lu bener-bener suka menghina orang ya,” ujar Clarissa.


“Lu jangan mencoba memancing amarah gua ya!” bentak si wanita lalu menghentakkan tangan Rissa.


“Nggak nyangka juga ternyata di balik keanggunanmu tersembunyi sikap preman seperti itu,” ledek Clarissa.


“Memangnya itu masalah buat lu?” tanya si wanita sambil menatap tajam Clarissa.


Entah kenapa Aditya serasa melihat dua Clarissa sedang bercekcok di hadapannya. Dibalik paras cantik dan sikapnya yang anggun ternyata wanita itu cukup temperamental juga. Kelihatannya masalah ini tidak akan bisa di selesaikan dengan pikiran yang dingin. Aditya hanya bisa geleng-geleng kepala melihatnya.


“Sudah jelas temen lu sendiri yang salah, malah mancing keributan,” kata si wanita.


“Emang salah. Tapi kelakuan temen lu juga udah keterlaluan tahu!” jawab Clarissa.

__ADS_1


“Lu masih kecil sudah berani bentak-bentak orang dewasa ya! Apalagi kalo udah gede nanti!”


“Yang jelas kelakuan gua pas gede nanti nggak akan sehina lo!”


Si pria yang ada di sana juga tampak bingung. Dia terus memperhatikan jam tangannya sejak tadi. Mungkin dia ingin menghentikan pertengkaran diantara kedua wanita yang temperamen itu, namun tidak berani. Sedangkan Arnold merangkak menjauhi situasi yang menurutnya berbahaya itu.


“Lu sekarang harus minta maaf sama temen gue!” tegas Clarissa.


“Eh yang ada juga temen lo harus minta maad sama gua!” bentak si wanita.


“Maaf, tapi kita akan terlambat mendaftar balapan jika terus berada di sini,” kata si pria memberanikan diri untuk berbicara.


“Jangan ikut campur!” bentak Clarissa dan si wanita itu membuat si pria terlihat ketakutan.


“Oh jadi lu kesini mau balapan ya,” kata Clarissa sambil tersenyum sinis.


“Emang kenapa? Lo berani nantang gua balapan?” tanya si wanita sambil tertawa meremehkan.


“Siapa takut! Kalo lo kalah, lo harus bersujud minta maaf sama temen gua!” jawab Clarissa.


“Punya nyali juga rupanya. Oke, kalo lu kalah, lu yang harus sujud minta maaf sama gua!”


“Siapa nama lo? Gua mau pastiin lo ada di urutan terakhir nanti balapan,” ledek si wanita.


“Gua Clarissa, tapi bukan gue yang mau ikut balapan. Tapi kakak gua!” kata Clarissa sambil menunjuk Aditya.


Semua perhatian di sana tampak tertuju kepadanya. Aditya hanya menunjuk dirinya sendiri seolah menanyakan kenapa dirinya harus terlibat juga. Clarissa hanya mengangguk sambil tersenyum. Aditya menghela nafas dalam, karena tampaknya Clarissa yakin dengan kata-katanya utnuk melibatkan dirinya dalam balapan.


“Oke terserah lu! Gua Ratna Riani nunggu lu semua di arena balapan! Itu juga kalo kalian bukan pengecut,” ledek si wanita sambil melangkah keluar dari restoran diikuti si pria.


Aditya hanya memegang kepalanya karena lagi-lagi calon adik iparnya yang manis itu harus melibatkannya dengan masalah. Dia semakin kaget ketika melihat si wanita yang bernama Ratna Riani masuk ke dalam mobil sport hitam classik yang mereka perbincangkan. Sedangkan temannya membawa mobil sport lain. Kelihatannya ini akan menjadi masalah yang cukup merepotkan.


Di sebuah ruangan yang terdapat di rumah mewah tampak seorang pria tua berkacamata hitam sedang menikmati cerutu di tangannya. Tampak di hadapannya ada beberapa pria yang bertampang sangar dan bertato, namun di sana ada juga pria tua lainnya yang berpenampilan rapi sedang duduk. Seorang pria lainnya tiba-tiba masuk ke dalam ruangan dengan wajah gembira.


“Lapor Bos. Saya mendapat kabar dari orang lapangan bahwa Mentarinya Bandung sudah mendaftar di balapan yang anda selenggarakan,” kata si pria yang baru masuk.


“Baguslah, Anda dengar itu Mr. Bark? Pembalap unggulan kita sudah ada di sekitar arena balapan,” kata pria bercerutu kepada pria yang sedang duduk dengan orang-orang sangar.

__ADS_1


“Baguslah Mr. K. aku memuji kemampuanmu, hingga mampu menarik pembalap terkenal seperti Mentarinya Bandung,” puji Mr. Bark.


“Poisisi pertamanya sudah berhasil kita tentukan, sekarang kita hanya perlu menentukan posisi kedua dan ketiganya saja,” ujar Mr. K sambil tertawa senang.


“Kamu benar, selama ini Mentarinya Bandung belum pernah kalah di kompetisi balapan manapun. Sudah tentu dia akan kembali menjadi juara pertama kali ini. Untuk posisi kedua dan ketiganya, aku sedang menunggu kabar dari bandar judi lainnya,” jawab Mr, Bark ikut tertawa.


“Seperti yang kukatakan sebelumnya, balapan kali ini akan menjadi balapan paling besar sejak kerjasama kita. Tapi sesuai kesepakatannya. Tiga puluh persen keuntungan setiap bandar akan menjadi milikku.”


“Tentu masih kami ingat kesepakatan itu. Aku yakin malam ini banyak sekali orang yang akan datang untuk bertaruh. Aku juga sudah mengberitakan balapan ini kepada beberapa geng besar kota Bandung.”


“Aku yakin pembalap amatir dan professional yang mempunyai uang juga akan mengikuti balapan ini untuk mencari harapan yang sia-sia.”


“Hahaha Anda benar. Mereka tidak tahu jika hanya kita yang akan mendapatkan keuntungan dari balapan ini.”


“Baguslah. Sebaiknya segera kita tentukan siapa yang akan menjadi juara kedua dan ketiganya malam ini. Waktunya sudah sangat sempit, aku yakin kalian juga ingin menyaksikan balapan itu.”


“Baiklah,” jawab Mr. Bark.


Dia kemudian mengeluarkan ponselnya dan tampak memanggil seseorang. Dari pembicaraannya yang diselingin tawa bisa diasumsikan kalau mereka sedang gembira. Mr. Bark kemudian mencatat beberapa nomor di buku kecilnya. Setelah tertawa lebar dia mengakhiri panggilannya.


“Bagaimana Mr. Bark?” tanya Mr. K.


“Kami sudah menentukan sepuluh besar pembalap yang akan menjadi juara di balapan kali ini,” jawab Mr. Bark.


“Sepuluh? Bukannya kita hanya akan menentukannya sampai juara tiga saja?”


“Jangan khawatir. Mereka adalah pembalap titipan, aku yakin anda juga akan mendapatkan bagian dari uang titipannya.”


“Hahaha, baiklah kalau memang seperti itu. Jadi nomor berapa saja yang akan menjadi juara malam ini?”


“Semua nomot mobilnya ada di sini,” kata Mr. Bark sambil memberikan catatan di kertas.


“Baiklah aku mengerti,” jawab Mr. K setelah melihat catatan di kertas itu.


“Kami mengandalkanmu,” kata Mr. Bark.


Mereka berdua bersalaman. Mr. Bark kemudian pamit dari sana. Mr. K kemudian menyuruh anak buahnya untuk segera menyiapkan mobil untuk menuju tempat balapan. Dia juga memberikan catatan kertas Mr. Bark kepada anak buahnya. Dia berkata bahwa merekalah yang akan menjadi juara pada malam ini.

__ADS_1


BERSAMBUNG…


__ADS_2