
Aditya langsung menuju ke gedung bagian keamanan seperti biasanya. Namun di sana ternyata hanya ada para sopir dan calon satpam saja. semua bagian keamanan terlihat sedang sibuk. Hanya ada Dani dan satu orang lainnya saja di sana.
“Kenapa sepi begini Dan?” tanya Aditya.
“Bagian keamanan diperintahkan bu Heni untuk menyelidiki penyusup yang melumpuhkan keamanan jaringan perusahaan.”
“Kamu sendiri kenapa masih di sini?”
“Aku di tugaskan di sini untuk mengawasi agar tidak ada yang keluar dari ruangan ini. Juga menangkap orang yang sekiranya berbuat mencurigakan di sini,” bisik Dani.
“Kok bagian keamanan sampai turun tangan, bukannya itu masalah bagian IT?”
“Masalahnya bu Heni bilang jika bagian IT memastikan kalau Hacker yang menyerang memiliki anak buah di dalam perusahaan. Karena itulah dia memerintahkan bagian keamanan untuk menyelidiki orangnya,” jelas Dani.
Aditya termenung memikirkan hal itu. Dia merasa akhir-akhir ini setelah Pandu melimpahkan wewenang kebijakan perusahaan kepada Frita, banyak sekali masalah yang timbul. Kenapa masalah seperti ini baru timbul sekarang selang waktunya juga tidak lama. Dia merasa semua kejadian ini tidaklah wajar jika dikatakan kebetulan belaka.
Beberapa anggota bagian keamanan termasuk wakil kepala masuk ke dalam ruangan mereka dengan wajah serius.
“Saya kemari atas perintah bu Heni. Kami saat ini sudah berhasil menemukan bukti tentang siapa penyusup yang memasukan malware untuk melemahkan jaringan keamanan perusahaan,” jelas wakil kepala bagian keamanan.
“Lalu apa yang perlu kami bantu?” tanya Dani.
“Tidak, aku datang ke sini hanya ingin meminta pelaku agar menyerahkan dirinya sendiri karena identitas dirinya sudah diketahui.”
“Sekali lagi, jika kalian ingin menyerahkan diri baik-baik mungkin perusahaan akan mempertimbangkan pengampunan untukmu!”
Namun tidak ada satupun yang mengaku. Semua orang di sana hanya saling bertatapan. Karena tidak ada yang mengaku wakil kepala bagian keamanan memerintahkan anak buahnya untuk menangkap Aditya. Sontak Aditya sangat kaget, dia tidak menyangka jika akan dijadikan tersangka.
“Tunggu sebentar, kenapa kalian malah ingin menangkapku?” tanya Aditya.
“Sebenarnya kami ingin mengungkap kebusukanmu hanya di depan para petinggi saja, tapi karena itu permintaanmu akan kami jelaskan di sini. Komputer yang paling pertama terkena malware adalah computer yang ada di ruangan pak Hadi. Dan kamu adalah orang terakhir yang menggunakan computer itu,” jelas wakil kepala bagian keamanan.
“Sial,” batin Aditya. Dia benar-benar sudah di jebak oleh seseorang.
__ADS_1
“Huuu, pantesan sejak masuk ke sini lu Cuma bikin rusuh doang. Ketahuan sekarang,” teriak Jana.
“Ternyata serigala berbulu domba ya,” timpal Wira.
“Dasar tidak tahu malu!”
Suasana di sana mulai gaduh. Aditya menjadi bahan cemoohan oleh semua orang. Daripada dia meluapkan emosinya di sana Aditya memilih untuk ikut dengan bagian keamanan. Dia keluar dari ruangan disertai teriakan dari orang-orang di sana. Hanya Dani yang kelihatannya masih belum percaya dengan tuduhan yang ditujukan kepada Aditya.
Aditya di bawa ke ruangan kontrol di gedung bagian IT. Frita, Rani dan Heni sangat terkejut ketika melihat Aditya di bawa ke ruangan itu. Aditya duduk di kursi. Dia melihat semua bagian IT sedang sibuk mengatasi serangan Hacker yang terus merangsek masuk ke server.
“Ini adalah orang yang kami maksudkan,” tegas wakil bagian keamanan.
“Apa ada bukti yang menguatkan dugaaan kalian jika dia adalah pelaku yang memasukan virus itu ke Komputer di kantor sopir?” tanya Frita, dia terlihat masih belum percaya jika sopirnya sendiri adalah anak buah si hacker.
“Silahkan Mbak Frita melihat ini. CCTV yang ada di ruangan pak Hadi merekam semuanya. Ini adalah waktu ketika semua sopir keluar. Nah, kita bisa melihat jika Aditya kembali masuk ke kantor setelah sepi,” jelas wakil kepala keamanan sambil menunjukan rekaman CCTV di layar.
“Itu karena aku hendak menaruh barang milik pak Yana di ruangan itu,” potong Aditya.
Aditya kemudian menceritakan kejadian tadi sore saat Hadi memerintahkannya untuk membelikan beberapa barang milik Yana. Namun semua ceritanya itu tentu tidak bisa melepaskannya dari tuduhan ini.
“Jika memang masih mengelak coba lihat ini, dia jelas-jelas mengoperasikan komputer yang ada di ruangan itu. Kemudian di catatan keamanan tercatat jika hacker mulai masuk mengendalikan data-data penting sekitar lima menit setelah dia keluar dari ruangan.”
“Apa kamu masih ingin mengelak?” tanya William.
“Aku memang mengoperasikan komputer di ruangan itu, tapi Cuma untuk mematikannya saja. Saat aku masuk ke dalam ruangan monitornya memang mati tapi CPU nya masih hidup karena itu aku berniat mematikannya.”
“Alesan,” sela William.
“Kalau begitu saya ingin pak Hadi dan pak Yana juga datang ke sini.”
“Ayolah apa gunanya mereka datang ke sini. Memangnya mereka bisa membuktikan kalau kamu tidak bersalah?” potong William sambil tersenyum.
Frita, Rani dan Heni terus menatapnya dengan penuh kekecewaan. Mereka pastinya tidak pernah menyangka jika Aditya bisa berbuat seperti itu. Aditya sadar sekarang siapa orang yang telah menjebaknya. Itu artinya percuma berdebat di sinipun. Karena William pasti akan terus memojokannya.
__ADS_1
“Hei bro, gue nggak nyangka ya. Selama ada pak Pandu di sini sikap lu baik-baik saja sok polos. Setelah pak Pandu tidak datang ke sini lagi kamu baru menunjukkan dirimu yang sebenarnya. Dasar tidak tahu diri,” ucap William. Frita terlihat semakin kesal kepada Aditya setelah mendengar opini William.
“Dit, sebaiknya mengaku saja jika hal itu benar!” bentak Heni.
“Percuma saja bu. Mana ada maling yang mau ngaku.”
“Sial banget hari ini,” ujar Aditya sambil tertawa kecil.
“Sial karena tertangkap kan?” ledek William.
“Aku nggak tahu siapa hacker murahan yang menyerang perusahaan ini hingga aku di curigai sebagai anak buahnya,” ujar Aditya sambil bangkit. Semua mata tertuju kepada Aditya yang tersenyum santai.
“Aku sadar jika tidak akan bisa membuktikan apapun jika aku berdebat di sini, karena itu aku meminta waktu kepada semuanya selama dua jam untuk membuktikan bahwa aku tidak bersalah.”
“Mau ngapain dua jam itu, mau kabur?” ledek William sambil tertawa.
“Sebaiknya kita langsung kirim saja dia ke polisi,” cegah William.
“Wah, sejak tadi bapak ibu yang terhormat selalu menuduhku sebagai tersangka dan tidak mendengarkan pembelaanku. Terus sekarang aku akan membuktikannya sendiri dengan bukti nyata, tidak boleh?” tanya Aditya sambil tersenyum.
“Di mana kebijaksanaan kalian semua sebagai petinggi perusahaan! Apa yang kalian bisa hanya menyalahkan bawahan saja?” sindir Aditya dengan tegas. Semua orang di sana terdiam mendengar kata-kata Aditya.
“Sebaiknya kita memang memberikan waktu kepadanya untuk membuktikan bahwa dia tidak bersalah,” usul Frita dia merasakan kemarahan Aditya di kata-katanya tadi.
“Bagaimana jika dia malah membuat bukti palsu?” tanya William.
“Tenang saja pak, dia tidak akan bisa membuat bukti palsu. Kami jamin itu,” ucap wakil kepala baian keamanan.
“Jika dia memang malah membuat bukti palsu, hukuman yang akan diterimanya pasti akan semakin berat,” ancam Frita sambil menatap tajam Aditya.
“Terimakasih atas pengertian bapak ibu semuanya,” jawab Aditya sambil tersenyum. Dia pasti akan membongkar kedok orang yang menjebaknya.
BERSAMBUNG…
__ADS_1