
“Hei keluarkan mereka berdua!” perintah Javier sambil menunjuk mobil yang ditumpangi oleh Frita dan Gina.
“Cepat keluar!” bentak pria yang menodongkan pistol ke mobil.
“Denger nggak!” bentak pria itu karena Gina dan Frita tidak segera keluar.
Frita bersamaan dengan Gina segera keluar dari dalam mobil dengan rasa cemas yang semakin menjadi. Javier perlahan mendekati mereka berdua sambil menodongkan pistolnya. Dia kemudian tersenyum sambil menatap Frita.
“Cantik juga rupanya. Pantas juga kamu dijuluki Rembulannya Bandung,” puji Javier.
“Kamu jangan macam-macam sama putriku!” bentak Gina.
“Hah? Apa yang harus kutakutkan memangnya dari kalian?”
“Ayah pemuda di sana adalah seorang tentara, jika terjadi sesuatu kepada kami pasti para tentara juga akan bergerak!” gertak Gina.
“Hahaha kalian pikir kami akan takut? Gue kan punya kalian, memangnya ada orang yang mau keluarganya celaka?” ancam Javier.
“Apa masalahmu dengan kami? Kami bahkan tidak pernah bertemu dengan kalian sebelumnya! Tapi kenapa kalian berbuat jahat seperti itu?” tanya Frita.
“Kalau kami berbuat baik maka kami tidak akan dipanggil penjahat. Karena itulah kami berbuat jahat.”
“Lalu kenapa harus kami?”
“Duh kamu ini kepo juga ternyata ya cantik. Yang jelas tadinya kami ingin mengajak kamu untuk makan malam, eh si cowo brengsek ini malah berbuat ulah. Terpaksa deh kalian harus melihat hal mengerikan seperti ini.”
“Bohong!” bentak Diaz.
“Eh lu berani bentak-bentak lagi rupanya. Mentang-mentang di depan wanita cantik,” gerutu Javier sambil mendekati Diaz.
“Eh lu nggak lihat apa anak buah lu sudah pada telanjang semua. Lu mau selamat nggak sih?!” bentak Javier dengan tatapan menakutkan.
“Ma mau bang.”
“Kalau begitu buka pakaian lu!” bentak Javier.
Diaz hanya termenung sambil menatap ke arah Gina dan Frita yang terus memperhatikannya. Dia juga menatap para anak buahnya yang sedang push up tanpa mengenakan pakaian sedikitpun.
“Eh lu masih mau selamat nggak!” bentak Javier sambil merobek baju Diaz dengan pisaunya.
__ADS_1
“Baju dua ribu dolarku, iya bang iya,” jawab Diaz sambil segera membuka baju dan celananya. Kini hanya tersisa pakaian dalam saja yang membalut tubuhnya.
“Hahaha katanya anak tentara tapi lu pengecut juga ternyata, kebetulan gue masih punya roti. Lu makan nih roti!” perintah Javier sambil membuka roti dari bungkusnya lalu dia lemparkan ke jalanan. Tapi Diaz hanya terdiam saja sambil menahan emosinya.
“Eh lu masih mau hidup nggak?!” bentak Javier sambil menginjak celana dan sepatu Diaz.
“Sepatu seribu dolarku, celana dua ribu dolarku,” gumam Diaz dengan mata berkaca-kaca.
“Makan tuh roti seperti anjing!” bentak Javier sambil menodongkan pistolnya.
Diaz merangkak laiknya anjing yang kelaparan. Dia kemudian memakan roti yang sudah tergeletak di jalan menggunakan mulutnya. Tingkahnya benar-benar sudah mirip dengan anjing. Javier dan anak buahnya menertawakan tingkah laku Diaz. Beberapa anak buah Diaz juga bahkan ada yang ikut tertawa.
Gina hanya terdiam dengan wajah jengkel melihat Diaz yang ternyata hanyalah seorang pengecut saja. Sedangkan Frita terus berpikir cara untuk meloloskan diri dari situasi yang berbahaya seperti itu.
“Dia benar-benar lelaki tidak berguna!” gerutu Gina sambil menatap Diaz yang masih menikmati roti sambil ditertawakan oleh para penjahat.
“Dia benar-benar mirip anjing.”
“Lah bukannya dia memang anjing?”
“Hahaha tadi saja belagu menyuruh kita minggir”
Beberapa anak buah Javier terdengar terus mengolok olok Diaz. Setelah puas mempermainkan Diaz Javier segera berjalan mendekati Frita dan Gina. Hal itu sontak membuat mereka berdua ketakutan, Frita dalam situasi panik seperti ini selalu tidak bisa tenang. Dia hanya bisa pasrah sambil membayangkan wajah Aditya.
“Lu harus ikut sama kami,” ucap Javier sambil menunjuk Frita dengan pistolnya. Frita hanya terdiam ketakutan sambil memeluk ibunya dengan erat.
“Jangan apa-apakan putriku!” bentak Gina.
“Hahaha tenang saja, dia tidak akan kami apa-apain. Dia hanya perlu ikut saja ke tempat kami.”
“Aku tidak akan menyerahkannya kepada kalian!” tegas Gina
“Hoi jangan buat kami marah!” bentak Javier sambil menembakan pistolnya ke dekat Gina dan Frita. Mereka berdua segera menutup mata saat terdengar suara tembakan.
“Kalau lu berdua masih ingin hidup, turutin perintah gue!”
“Aku akan ikut tapi jangan lukai ibuku,” jawab Frita.
“Nah begitu dong. Tenang saja gue jamin ibu lu bakalan tetap hidup kalau lu nurut/”
__ADS_1
“Jangan Fri nanti kamu kenapa-napa,” cegah Gina.
“Tidak ada pilihan lain bu.”
“Biar aku saja yang kalian bawa! Biarkan putriku yang bebas.”
“Hahaha yang kami perlukan adalah si cantik ini, tapi jika memang kalian masih ingin wanita ini selamat lu harus nurutin perintah gue,” ucap Javier sambil tertawa puas. Dia kemudian menatap anak buahnya.
“Kalian semua habisi orang-orang brengsek itu!” perintah Javier
Semua anak buahnya mengangguk lalu menghajar semua anak buah Diaz hingga terkapar tidak sadarkan diri, Diaz yang masih menikmati roti juga ikut dihajar hingga tergeletak tak berdaya di jalanan. Javier hanya tertawa puas sambil menatap Frita dan Gina.
“Aku akan membawa si cantik ini dan membiarkanmu bebas. Jika lu sekeluarga masih ingin wanita ini hidup lu harus turutin semua syarat-syarat gue. Tapi ingat jangan sampai polisi terlibat!” perintah Javier dengan tatapan menakutkan.
***
Di sebuah ruangan, Arya tampak sedang berbicara serius dengan seorang pria yang lebih tua darinya sambil menikmati secangkir the. Raut wajah mereka terlihat sangat serius tanda betapa pentingnya pembicaraan mereka itu.
“Aku dengar kamu sekarang diangkat sebagai salah satu petinggi geng Serigala?” tanya pria itu dengan tatapan tajam.
“Anda benar, saya berhasil menarik perhatian mereka hingga akhirnya mempercayakan saya untuk menjabat sebagai salah satu petinggi geng Serigala. Karena itulah kemungkinan mulai sekarang saya akan lebih aktif di sana daripada di kepolisian,” jawab Arya.
“Kamu benar-benar hebat, tapi kamu juga harus berhati-hati karena semakin dalam kamu menyelam maka tekanan airnya juga akan semakin berat.”
“Saya paham. Tapi saya akan terus menyelam hingga dasar lautan yang paling dalam. Sejak awal target saya memang organisasi paling penting di pasar gelap, Black Mafia.”
“Ya, sekarang langkahmu sudah semakin dekat dengan mereka. Tapi ingat Ketua geng Serigala adalah orang yang sangat waspada, dia tidak akan mungkin dengan mudahnya membiarkanmu bertemu dengan orang-orang elit dari pasar gelap.”
“Tidak masalah, yang perlu saya lakukan sekarang hanya membuatnya untuk percaya. Beberapa hari yang lalu saya mendapat perintah dari wakil ketua geng Serigala untuk mengumpulkan beberapa orang-orang kuat.”
“Untuk apa?”
“Saya tidak tahu karena mereka tidak mengatakan apapun. Tapi yang saya dengar mereka juga menerima perintah itu dari salah satu klien penting mereka di pasar gelap, kemungkinan besar itu semua berhubungan dengan Black Mafia.”
“Begitu ya, kamu harus berhati-hati Ar. Batasi juga komunikasi kita, aku yakin mereka semua sangatlah waspada. Jika kamu membuat kesalahan kecil saja bisa-bisa nyawamu melayang.”
“Tidak usah cemas. Saya akan berusaha semampu saya untuk menguak identitas mereka semua,” jawab Arya dengan mantap.
BERSAMBUNG…
__ADS_1