
Di Jepang, sehari setelah Gunawan Mahdi ditemukan mati oleh kepolisian Korea Selatan.
Seorang lelaki sedang duduk bersila, menghadap danau luas di sebuah rumah kecil sederhana yang sengaja dibangun untuk menjauh dari kepadatan kota. Lelaki itu tiada berkedip memandangi foto enam orang berseragam taktis, dan terutama seseorang yang tak lain adalah pemimpin mereka.
Foto itu dari CCTV di sekitar lokasi pabrik di mana Gunawan Mahdi dan entah tak tahu berapa banyak anak buahnya di Serigala Hitam dibantai habis-habisan hanya oleh enam orang itu.
“Mungkin kau tak perlu mati, Bedebah,” batin si lelaki ini sambil memandangi foto si pemimpin dari lima orang itu.
“Mungkin kau hanya perlu merasakan apa yang kurasakan, Aditya.”
Ya, orang itu kini menyimpan dendam pada Aditya. Ia segera mengerahkan sumber dayanya, melacak keberadaan Aditya saat ini, bahkan hingga mencari tahu sejarah hidup lelaki yang dianggapnya telah menghabisi ayah angkatnya sendiri.
Oh, ya. Dialah Takeshi Yobu, lelaki muda 25 tahun, samurai dari Jepang, seorang tentara yang dipecat karena banyak pelanggaran, dan kini bekerja sebagai semacam lone wolf. Tak pernah terkait dengan kelompok mana pun, sekalipun ia dekat dengan Uncle Gun dan beberapa orang di Serigala Hitam.
Pekerjaan utamanya: membunuh orang-orang yang membuatnya sakit hati.
Takeshi Yobu tak ingin menyebutkan pekerjaan halal apa yang ia lakukan sehingga ia bisa menghidupi dirinya. Yang pasti ia selalu menolak bantuan Uncle Gun yang dulu menyelamatkannya dari tong sampah ketika masih bayi. Ia tak pernah meminta bantuan apa pun, meski sangat menyayangi dan menghormati lelaki tua gembong mafia itu.
Kematian Gunawan Mahdi yang bernama asli Takeda ini membuatnya sakit hati. Ia segera pergi beberapa hari kemudian setelah mendapatkan cukup banyak informasi soal Aditya.
“Kau tak akan menyadari eksistensiku sampai kau tahu kau telah benar-benar kalah, Aditya.”
***
Aditya dan Sherly sama-sama merasa canggung. Tapi, Aditya tak marah. Ia hanya merasa menyesal.
Sherly bilang, “Aku tak tahu lagi harus berbuat apa, Mas. Maafkan aku. Aku cuma ingin semalam saja, hanya semalam, memilikimu untuk kali terakhir.”
Aditya tak bisa berkata-kata. Ia tak menyingkir ketika Sherly memeluknya, tapi dia bilang, “Aku harus pergi sekarang juga. Urusanku dengan Christian Santoso belumlah kelar.”
Aditya segera mandi, dan selesai mandi, ia mendapati Sherly menyodorkan sebuah tas belanjaan yang entah kapan ia dapatkan.
__ADS_1
“Ini baju untukmu. Bajumu semalam penuh darah. Orang pasti curiga,” kata Sherly.
“Kamu kapan membelinya?” tanya Aditya penasaran.
“Entah kapan. Aku sendiri lupa. Waktu itu kupikir bagus saja baju ini buatmu dan mungkin cocok. Jadi kubeli buat hadiah untukmu, Mas. Tapi kita lama enggak ketemu sih,” jelas Sherly. Ia memang mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Baju itu dia beli sudah lumayan lama.
Aditya berterima kasih dan mengenakan pakaian baru pemberian Sherly. Ia tidak tahu harus membalasnya dengan apa. Tapi suatu hari mungkin ia bisa datang membantu gadis ini jika ia sedang kesulitan. Namun, apa pun itu, ia jelas tahu tak bisa memberikan cintanya pada Sherly.
Sebelum pergi meninggalkan rumah Sherly dalam kecanggungan, Aditya mendapat telepon dari Deri.
“Kenapa, Der?”
“Kamu harus ke sini, Dit. Situasi di desamu kacau!” jawab Deri dengan suara yang cukup panik.
Aditya segera teringat pamannya. Ia bertanya apakah Paman Salim baik-baik saja.
Telepon diberikan oleh Deri pada sang paman. “Aku baik-baik saja, Dit. Tapi, bisa kamu pulang sekarang? Desa kita kedatangan wabah, atau penyakit, atau entah apa. Tak ada yang tahu. Bahkan Dirga yang biasa dicap tukang bikin onar saja juga mati!”
Tapi, Aditya tak bisa membiarkan Paman Salim dalam bahaya. Apa yang terjadi di desa mereka saat ini? Ia tak henti bertanya-tanya dalam hati. Deri tak bisa memberikan penjelasan selain bahwa banyak orang yang mati mendadak dalam kondisi mengerikan dan aneh.
“Baik, aku ke sana hari ini juga,” kata Aditya.
Lalu Aditya menelepon Skuad Malam. Nancy bilang, “Aku baru saja mau telepon kamu.”
“Ada kabar terbaru?”
“Sudah ketemu, Dit. Christian Santoso sudah ditemukan posisinya. Dia sembunyi di salah satu rumah peristirahatannya di kota Bogor.”
“Baiklah. Kalian tahu apa yang kalian harus lakukan, Nancy. Sayangnya aku tidak bisa ikut serta.”
“Kenapa?”
__ADS_1
“Ada masalah mendadak di desaku. Nanti akan kuceritakan selengkapnya via email. Sekarang aku mau pastikan Frita dan keluarganya baik-baik saja,” kata Aditya.
“Oh, mereka pasti baik-baik saja, kok. Pak Pandu sudah memutuskan melaporkan ini ke polisi. Soal percobaan pembunuhan keluarganya semalam,” sahut Nancy.
Aditya pikir itulah memang yang terbaik. Ia tak ada waktu lagi. Ia merasakan firasat tak baik tentang desanya dan juga tentang Paman Salim. Maka, ia harus segera pergi ke sana.
Frita mendengar itu langsung dari bibir Aditya yang meneleponnya beberapa menit kemudian.
“Apa? Kenapa lagi? Bukankah bisa kita ajak Paman Salim ke sini lagi?” kata Frita.
“Tidak bisa. Orang-orang desaku banyak yang mati mendadak. Dengan cara yang sangat aneh. Deri sulit menjelaskan semuanya, kecuali aku datang langsung ke sana.”
Frita ingin ikut, tetapi dilarang oleh Aditya. Terlalu bahaya.
“Ada apa ini, Dit?” tanya Pandu tiba-tiba yang sepertinya merebut telepon dari Frita yang terdengar cemas.
“Ada masalah di desa, Pak. Paman Salim dan orang-orang ada dalam bahaya!” kata Aditya.
“Baiklah. Biar Yusi mengantarmu. Aku juga menyuruh seorang lagi untuk pergi ke sana bersama kalian,” sahut Pandu mantap.
Akhirnya, Yusi diutus oleh Pandu, untuk menemani Aditya, bersama seorang anak buah lainnya lagi yang bernama Zainul. Ya, lagi-lagi mereka menumpang helikopter ke desa itu.
Aditya segera memesan taksi online dan meluncur ke rumah Pandu. Di sana, Yusi dan Zainul sudah menunggu. Mereka segera menuju puncak gedung Glow and Shine. Co di mana kendaraan helikopter Pandu ‘terparkir’ jika tak terpakai.
“Ada yang ketinggal?” tanya Yusi ke Aditya. “Tadi Charlie dan Linda memasukkan barang dan keperluanmu di tas itu dengan buru-buru.”
“Sudah, tidak ada,” kata Aditya. Di tas itu sudah tersedia beberapa senjata dan alat lain yang mungkin dibutuhkan Aditya saat di desa nanti. Ya, tadi sebagian anggota dari Skuad Malam menyambutnya di rumah Pandu. Mereka bersiap pergi ke Bogor dengan para polisi untuk menjemput Christian Santoso.
Sepanjang perjalanan, Aditya tak henti berharap semoga Christian Santoso tak bikin ulah lagi dan semoga yang terjadi di desanya bukan sesuatu yang berarti. Tapi, sesuatu macam apa yang tak berarti, jika orang-orang desanya mendadak mati dengan cara yang tidak wajar?
Bersambung...
__ADS_1