
“Siapa kalian?! Berani-beraninya menggangguku!” bentak Fred sambil berdiri.
“Apa keuntungan kami jika memberitahu siapa nama kami?” jawab seorang pria kekar.
“Keparat! Lu tidak tahu apa kalau gue itu pemilik kapal pesiar ini?”
“Mau lu pemilik kapal pesiar kek kapal nelayan kek gue nggak peduli!”
“Sombong juga ya kalian. Panggil tim keamanan segera!” perintah Fred kepada teman-temannya.
Tak lama kemudian berbondong bondong orang datang kesana dengan pakaian khas keamanan. Mereka kemudian mengepung Aditya dan empat pria itu. Ratna juga ikut heran karena tidak mengenal empat pria itu. Dia hanya mengira kalau mereka adalah orang baik yang tidak suka melihat orang ditindas.
“Sekali lagi kuperingatkan! Jika kalian melawan maka mereka akan segera menghajar kalian bersama pengemis itu!” gertak Fred.
“Mengerikan, terus kalau mau damai gimana?” tanya seorang pria sambil tertawa kecil.
“Kalian harus berlutut meminta maaf kepadaku! Baru kalian akan aku bebaskan.”
“Hahaha, memangnya kalian pikir kami bakalan takut?”
“Keparat! Hajar orang-orang itu!” perintah Fred. Semua orang mulai menyerang mereka berlima.
Aditya yang tidak mau mencari keributan hanya menghindari semua serangan lawan. Sedangkan empat orang pria itu dengan berani beradu pukul dengan pihak keamanan yang dibawa oleh Fred. Ketangkasan mereka berempat benar-benar luar biasa. Seperti apapun serangan lawannya pasti bisa mereka tahan dengan mudah.
Seorang pria bahkan dengan cepat berhasil melumpuhkan belasan orang yang menyerangnya. Melihat hal itu Fred meminta agar semua bagian keamanan berkumpul di sana dan menghajar Aditya beserta empat pria yang melindunginya.
“Cepat tangkap mereka dan segera buang kelaut!” perintah Fred.
“Gunakan rantai dan semacamnya!”
“Seru nih!” teriak beberapa orang yang menyaksikan perkelahian di sana.
“Buat mereka menyesal karena sudah berani menggangguku!” tegas Fred sambil bertolak pinggang.
Tambahan orang yang datang tidak membuat mereka berempat gentar. Bahkan mereka semakin menggila dengan menghajar para keamanan yang datang. Aditya terus menghindari serangan lawan sambil melihat gerak gerik keempat pria yang melindunginya. Dia merasa tidak kenal sama sekali dengan mereka.
__ADS_1
Tapi dari gerakan mereka Aditya tahu jika mereka adalah orang-orang yang terlatih, tubuh kekar mereka bukan hanya sekedar pajangan tapi memang memiliki stamina dan tenaga yang kuat. Para bagian keamanan yang merasa kewalahan mulai menggunakan senjata semacam tongkat untuk menghadapi mereka.
“Keamanan macam apa kalian ini, benar-benar lemah,” ledek seorang pria.
“Mungkin mereka hanya preman yang dipungut di pasar,” timpal yang lainnya.
“Maju!” tantang pria itu lagi.
Mendengar mereka malah meremehkan orang-orang suruhannya membuat Fred geram. Dia kemudian menyuruh seorang bagian keamanan untuk menggunakan pistol yang disediakan. Orang itu mengangguk lalu pergi ke dalam ruangan.
Empat pria itu dengan mudah menghadapi berbagai serangan dari para orang suruhan Fred yang bertugas sebagai keamanan di pesta itu. Tapi tiba-tiba beberapa orang bagian keamanan muncul dengan membawa pistol. Namun tepat sebelum mereka menodongkan pistol itu sekilas terdengar suara tembakan. Semua orang yang kaget langsung tertunduk.
“Jika kalian ingin bermain main dengan pistol maka akan kami layani!” tegas seorang pria sambil mengacungkan pistol khusus yang digunakan oleh tentara.
“Buang senjata kalian! Kami berhak memerintah kalian seperti itu!” perintah temannya.
“Tindakan kalian akan dianggap sebagai usaha penyerangan terhadap aparat keamanan Negara!” tambah pria yang lain.
“Tapi jika kalian ingin mencobanya silahkan saja,” tantang pria yang satunya lagi.
Fred mulai terlihat pucat. Dia sekarang tahu bahwa orang yang coba dia lempar ke laut adalah para tentara rekan-rekan ayah Diaz yang juga diundang ke pesta mewah itu. Semua bagian keamanan meletakan pistol mereka dan berlutut meminta maaf. Beberapa orang mulai bersyukur keributan berhenti. Suasana di kapal itu juga kembali tenang seperti sebelum terjadi keributan.
“Bagaimana, apakah masih mau melempar kami kelaut?” tanya seorang pria sambil mendekati Fred.
“Tidak pak maafkan saya,” jawab Fred ketakutan sambil berlutut.
“Dasar bocah!”
“Mungkin itu perbawa dia anak orang kaya jadi belagu.”
“Maafkan saya pak, maafkan saya,” rengek Fred sambil berlutut.
Empat pria itu tidak menanggapi tindakan Fred. Mereka malah berbalik ke Aditya, senyum ramah dan sopan tersungging di wajah mereka. Mereka menghampiri Aditya sambil mengajak bersalaman. Bahkan mereka menundukan kepala saat bersalaman dengannya. Melihat hal itu membuat semua orang yang ada di sana terkejut. Tak terkecuali dengan Ratna.
***
__ADS_1
Beberapa orang di suatu tempat terlihat sedang berpesta minuman keras. Tiba-tiba seorang pria menghampiri mereka. Semuanya terlihat terkejut melihat siapa yang datang. Pria itu kemudian berdiri di hadapan mereka.
“Aku ingin kalian melakukan sesuatu untuk diriku,” ucap pria itu.
“Heh, memangnya apa alasan kami harus menurutimu?!”
“Kami tidak ada hubungannya denganmu!”
“Jangan seenaknya memerintah kami!” bentak orang-orang yang ada di sana.
“Cih, padahal aku kira kalian akan menurutiku dengan mudah, apa boleh buat,” ucap pria itu sambil bersiap menyerang.
Melihat lawannya seolah bersiap untuk bertarung membuat orang-orang yang ada di sana semakin geram. Mereka dengan cepat menyerang terlebih dahulu namun pria itu dengan mudah menghalau semua serangan mereka. Enam orang bergerak mengepungnya, namun pria itu tidak gentar sedikitpun.
Enam orang menyerangnya secara serentak namun pria itu meliuk liuk dengan lincah menghindari setiap serangan mereka. Bahkan beberapa kali dia berhasil menumbangkan orang-orang itu. Namun mereka malah semakin beringas dan menghunuskan pisau ke arah pria itu.
Namun hanya dalam hitungan menit saja semua orang yang ada di sana sudah terkapar tak berdaya di tanah. Pria itu kemudian bertolak pinggang sambil menginjak tubuh orang yang mereka anggap bos.
“Apa kalian masih berani menolak periintahku?!”
“Maaf bang, ampun..”
“Kalau begitu kalian harus mendengarkan perintahku!”
“Baik bang.”
“Kalian segera kumpulkan anak buah kalian sebanyak-banyaknya lalu pergi ke alamat ini. Di sana sudah ada orang yang akan menunggu kalian!” jelas pria itu sambil menyerahkan secarik kertas kepada mereka.
Semua orang yang ada di sana mengangguk lalu pergi dengan ketakutan meninggalkan tempat itu. Seorang pria lainnya muncul dari balik bangunan menghampiri pria yang sedang bertolak pinggang di sana. Sambil tersenyum dia menghampiri dan menepuk pundak pria itu.
“Bagus, kelihatannya kamu memang bisa diandalkan.”
“Terimakasih, aku hanya melakukan apa yang aku bisa. Tapi sebenarnya apa maksud anda menyuruh saya mengumpulkan mereka?”
“Kamu tidak perlu tahu, yang penting saat ini kamu sudah melakukannya dengan baik,” ucap pria itu sambil tersenyum licik.
__ADS_1
BERSAMBUNG…