Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 207


__ADS_3

Yusi dan Aditya tiba di bandara lebih cepat, karena ternyata mobil yang mereka tadi tumpangi adalah mobil sewaan. Sebuah helikopter menunggu di sebuah lapangan kantor desa sebelah.


“Aku belum tahu kalian tahu tempat ini dari siapa?” tanya Aditya ketika helikopter itu terbang menuju ke arah bandara.


Bunyi baling-baling helikopter cukup memekakkan telinga. Dia harus mengulangi lagi pertanyaannya agar Yusi bisa mendengar.


“Dari Komandan Malik. Pak Pandu putus asa setelah menunggu terlalu lama kabar dari kepolisian. Bu Gina terus mendesak, dan akhirnya mereka mendapatkan ide untuk meminta bantuan langsung pada Komandan Malik,” jawab Yusi panjang lebar.


Aditya hanya mengangguk pendek. Ia tidak menyalahkan mantan komandannya itu, tapi sejujurnya ia merasa agak aneh juga. Mereka sudah sama-sama sepakat agar dirinya tidak dipanggil dalam misi apa pun lagi. Tapi toh semua ini demi Frita.


“Kami tidak bawa masuk ke desamu helikopter ini, karena takut membuat warga di sana ribut. Terlebih pamanmu pasti akan panik. Itu pesan dari Komandan Malik,” lanjut Yusi.


Aditya tidak berkata lagi setiba mereka di bandara. Mereka berdua naik pesawat terakhir yang terbang malam itu. Mereka mendarat di Soekarno-Hatta dini hari itu dan di sana telah menanti Gina Lisnia, ibu dari Frita, juga Komandan Malik.


Gina Lisnia langsung menyambut Aditya tanpa basa-basi, “Kami sudah tahu siapa penculiknya.”


Aditya terkaget mendengar kalimat itu. “Siapa?”


“Serigala Hitam. Setidaknya itulah yang kami tahu, dari informasi akurat yang bisa didapat para detektif swasta yang mantan suamiku sewa,” ucap Gina dengan mantap.


“Belum sepenuhnya tahu siapa di balik Serigala Hitam,” sambung Komandan Malik.


Aditya tak bisa mengatakan apa pun, karena ia tak tahu organisasi itu. Mereka lalu berjalan ke tempat parkir dan Yusi memberikan sebuah koper untuk Aditya. Katanya, di dalam koper itu ada perlengkapan yang mungkin ia butuhkan. Dokumen-dokumen yang akan membawanya terbang ke Korea Selatan.


“Tunggu, jadi mereka membawa Frita ke Korea Selatan?” tanya Aditya tak percaya. Kini ia terlihat semakin gelisah.


“Ya, itulah yang berhasil kami lacak sejauh ini atas bantuan para detektif swasta itu,” jelas Komandan Malik.


“Kamu jangan takut informasi ini keliru. Para detektif itu reputasinya bagus. Kami mau Frita selamat. Kamu tahu betapa cemasnya kami, kan?!” kata Gina.


“Ya, saya paham,” kata Aditya, ia hanya tidak paham kenapa mereka membutuhkan dirinya?


Bukankah pasukan Malik bukan cuma dia seorang saja? Bukankah skuad khusus yang sangat terlatih itu selalu bertambah personelnya dari tahun ke tahun? Ya, itulah yang sempat didengarnya dari Nancy sebelum mereka berpisah tempo hari.


Mobil yang mereka tumpangi langsung meluncur ke markas rahasia tempat di mana para anak buah Malik menanti.

__ADS_1


Aditya tak sempat bertanya kenapa Gina harus ikut serta dan kenapa juga Pandu tidak terlihat? Tapi, pertanyaan itu terasa tidak penting. Ia hanya berpikir apakah kali ini bisa pulang dengan selamat?


Mereka berhenti di depan sebuah bangunan besar setelah melewati gerbang dengan para penjaga. Di dalam situ, Aditya diperkenalkan pada Skuad Malam, pasukan elite baru binaan Komandan Malik, yang beranggotakan lima orang berbakat. Mereka adalah Teo, Linda, Baskara, Charlie, dan Nancy.


“Nancy? Kamu juga ada di sini?” tanya Aditya tak menyangka.


“Ya, senang bertemu kembali,” kata gadis itu.


“Ini dia Aditya yang sering kuceritakan pada kalian,” kata Komandan Malik.


“Kami sudah dengar banyak cerita tentangmu, Bang,” kata Teo berbasa-basi.


“Nancy bilang kamu hebat di lapangan,” sambung Linda.


Aditya cuma mengangguk, terlihat tidak senang mendapat puji-pujian berlebih. Ia bisa melihat Nancy menahan malu atas cerita temannya barusan.


“Ya, kami salut pada apa yang baru saja kalian lakukan di Thailand,” tambah Charlie.


Hanya Baskara yang terlihat paling pendiam di antara mereka semua. Ia terlihat sibuk dengan tablet-nya. Katanya, ia sedang melacak sesuatu untuk memudahkan misi mereka.


“Kami juga tak ingin ribut dengan pihak berwenang di sana. Pernah tempo hari ada misi khusus ke negara itu, dan kami harus berurusan dengan sangat alot dengan pihak berwenang, terutama militer Korea Selatan,” kata Komandan Malik pada mereka.


“Jadi?” kata Teo yang tak sabar mendengar kalimat tambahan dari sang komandan.


“Jadi, kalian berangkat ke sana sebagai wisatawan. Kalian tak akan pergi membawa senjata lengkap. Kalian hanya perlu seragam taktis khusus yang disimpan dengan rapi di dalam koper bersama pakaian harian.”


“Wah, bakal seru kayaknya nih,” potong Charlie.


“Saya harap kalian tidak bercanda! Ini urusan serius. Nyawa Frita jadi taruhannya!” bentak Komandan.


Charlie seketika menunduk diam. Gina Lisnia terlihat lelah dan terduduk di kursi di pojok ruangan. Seminggu sudah Frita hilang. Mereka sudah kehabisan banyak waktu hanya untuk menemukan petunjuk dari pin besi itu.


“Komandan, kenapa pelakunya tidak mengirim pesan khusus pada kalian? Penculik harusnya menghubungi seseorang untuk mendapat tebusan, bukan?” tanya Aditya.


“Itulah yang bikin heran, Dit. Kami juga masih mengira-ngira apa maunya Serigala Hitam ini. Mereka bekerja tanpa jejak dan seakan lenyap membawa Frita entah ke mana. Baskara bekerja siang malam untuk bisa menghubungi mereka dan bertanya apa yang mereka mau,” jelas Malik.

__ADS_1


Tak ada lagi yang bisa dilakukan, kecuali menunggu Baskara yang katanya sudah hampir menemukan sesuatu. Entah apa yang tampil di layar gadget-nya itu. Mereka tak tahu dan kelihatannya Baskara mulai bersemangat.


“Hahaha! Akhirnya berhasil kutemukan!” kata Baskara.


“Oh, ya?!”


“Ya. Koordinat keberadaan mereka bahkan sudah ketemu!” jawab Baskara dengan girang.


Aditya terlihat lega mendengar itu, tapi masih penasaran pada nasib Frita. Maka dia bilang, “Ya, sudah kita berangkat?”


“Tunggu, tidakkah sebaiknya kita menghubungi mereka dulu?” tanya Baskara. “Ini aku bisa menemukan kontak seseorang yang terkait dengan Serigala Hitam. Entah siapa dia. Yang jelas sosok penting di Serigala Hitam. Kode nama UIar_91, dan ada fotonya kalau kalian penasaran.”


Mereka segera berkerumun di dekat Baskara untuk melihat tampang penculik itu. Di situ tampak wajah yang tak asing bagi Aditya maupun Nancy. Ya. Jelas saja, sosok berkode nama “Ular_91” itu tak lain adalah Garry Lee.


“Bangsat. Apa yang dia mau dari kita?” tanya Aditya geram.


“Kalian kenal orang ini?” tanya Teo.


Charlie dan Linda terlihat melongo.


“Ya, kami berurusan dengan pamannya di Thailand. Aditya malah menembak mati sang paman,” sahut Nancy dengan tenang.


“Ya, Tuhan, kenapa bisa begitu!” jerit Gina Lisnia begitu mendengar perkataan itu. Dia segera pingsan karena tidak yakin Frita bakal selamat.


Ini gawat. Pasti Gunawan Mahdi melakukan segala cara agar dendamnya terbalas. Entah kenapa yang disasar Frita.


“Jelas Garry Lee sama sekali tak tahu bahwa Uncle Gun-lah yang menginginkan Si Tua Leo untuk mati. Aku waktu itu hanya menjalankan perintahnya dengan menembak si Tua Leo,” kata Aditya terlihat kesal.


Mereka semua terdiam menatap Aditya.


“Baiklah, kau bisa menelepon Ular sialan itu?” tanya Aditya geram.


“Sekarang?”


“Ya, cepat! Aku ingin pastikan urusan kami benar-benar selesai.”

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2