Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 25


__ADS_3

Pagi hari sekitar pukul 04:18 WIB Aditya terbangun di kamarnya karena di luar terdengar ada orang yang sedang berbicara. Karena penasaran Aditya segera bangun dan memeriksanya. Tampak Gina dan Pandu sedang berbicara di dekat pintu keluar rumah, kelihatannya mereka sedang berselisih paham. Aditya menghampiri mereka.


“Oh Dit,” sapa Pandu saat melihat Aditya menghampiri.


“Ada apa Pak?” tanya Aditya.


“Ini Gina katanya mau pulang jam segini, dia bilang ada urusan penting. Aku mau mengantarnya tapi dia menolak katanya mau dijemput sopirnya” jawab Pandu sambil menatap Gina.


“Kalau begitu biar saya yang mengantar Bu Gina pulang.”


“Kamu tidak masalah Dit? Aku khawatir, karena kamu kurang tidur jadi tidak akan fokus menyetir.”


“Tidak masalah Pak.”


“Kalau begitu aku mengandalkanmu.”


Setelah mendapat persetujuan dari Pandu, Aditya segera bersiap dan mengeluarkan mobil dari garasi. Gina tidak berbicara sedikitpun, sebelum dia masuk ke dalam mobil dia berkata kepada Pandu agar menyampaikan permintaan maafnya kepada kedua putrinya karena harus pulang pagi-pagi. Aditya mengemudikan mobil menuju rumah Gina.


“Ada perlu apa bu Gina sampai ingin diantar oleh saya?” tanya Aditya sambil menyetir.


“Kamu cukup jeli juga ternyata,” jawab Gina sambil tersenyum.


“Karena bagi saya cukup aneh ketika Anda tidak mau diantar oleh pak Pandu karena akan dijemput sopir. Tapi malah tidak menolak tawaran saya, itu membuktikan bu Gina memang sengaja ingin diantar oleh saya hingga memancing keributan di pagi hari agar saya bangun.”


“Otakmu nampaknya berjalan dengan baik. aku tidak ingin melakukan hal seperti tadi, tapi setelah pandu bilang kalau kamu juga mulai menginap di rumahnya aku kepikiran ide itu.”


“Lantas perlu apa bu Gina dengan saya?”


“Aku hanya ingin mengingatkan kepadamu. Aku tahu kesepakatan apa yang kamu buat dengan mas Pandu, jujur saja dari dulu aku tidak menyetujuinya. Tapi saat ini sudah terlanjur. Aku hanya ingin bilang kalau aku tidak rela jika Frita terluka apalagi lebih dari itu.”


“Jika bu Gina sendiri sudah tahu. Saya hanya bisa bilang kalau sebisa mungkin saya akan berusaha, tapi saya tidak menjamin sampai seratus persen.”


“Jika terjadi sesuatu kepada Frita, aku tidak akan pernah memaafkanmu!”


Suasana hening. Aditya memahami bagaimana kekhawatiran Gina kepada putrinya. Tampaknya keperluan Gina hanya sebatas itu saja. Aditya menancap gas agar segera sampai di rumah Gina secepatnya.


Aditya segera pulang setelah Gina masuk ke dalam rumahnya. Karena sendirian Aditya dengan leluasa menginjak pedal gas hingga mobilnya melaju dengan sangat kencang. Dengan lincahnya dia meliuk liukan mobil di jalanan. Dia hanya memerlukan separuh waktu berangkat saja untuk kembali sampai di rumah Pandu. Pukul 05:33 Sudah sampai di rumah Pandu.


“Kamu selalu cepat seperti biasa Dit,” puji Pandu ketika Aditya sudah sampai lagi di rumahnya.


“Saya hanya tidak suka menyia nyiakan waktu di jalanan,” jawab Aditya sambil menuju kamarnya untuk bersiap-siap.


Pandu hanya tersenyum sambil duduk di kursi menghadap laptopnya. Sehabis mandi dan berpakaian seperti biasa, Aditya segera ke dapur hendak mengambil sarapan. Walaupun Pandu menyuruhnya agar tidak sungkan di rumahnya namun tetap saja Aditya merasa tidak enak kalau harus makan di meja makan milik Bosnya.

__ADS_1


“Aditya? kenapa kamu ada di sini?” tanya Frita heran ketika masuk ke dapur melihat Aditya sedang mengambil makanan untuk sarapan.


“Kebetulan saya lapar Mbak,” jawab Aditya seenaknya.


“Lah kok. Ayaah.. Yaah..” teriak Frita memanggil ayahnya.


“Kenapa Fri teriak-teriak begitu?” tanya Pandu datang menghampiri.


“Itu yah ko Aditya ada di sini?”


“Oh. Mulai tadi malam ayah menyuruhnya untuk menginap di rumah kita.”


“Loh kok begitu?”


“Kebetulan kan kita tidak punya satpam Fri. jadi kalau ada Aditya di sini ayah sedikit tenang.”


“Ih ayah ini aneh. Masa orang kayak Aditya dijadiin satpam juga sih. kalau mau aman nanti biar aku cari satpam professional deh.”


“Bukan ayah tidak mau Fri. tapi kan kalau nyari orang lagi buat jadi satpam harus keluar uang lagi, kalau Aditya kan nggak.”


“Ayah aneh deh,” gerutu Frita sambil minum air.


Aditya kemudian pergi ke kamarnya hendak makan. Sedangkan Frita pergi hendak mandi. Pandu bilang ke Aditya kalau sudah selesai makan dia ingin berbicara sebentar dengannya sebelum berangkat kerja. Clarissa juga heran ketika melihat Aditya berada di rumahnya, namun Clarissa paham setelah ayahnya menjelaskan perihal Aditya seperti yang dia ceritakan kepada Frita.


“Loh ini masih pagi Ris,” ucap Pandu heran.


“Aku ada keperluan dulu Yah sama temen.”


“Bentar ayah siap-siap dulu.”


“Hari ini nggak usah dianterin Yah. Aku mau bareng temenku saja katanya dia mau lewat sini sama ayahnya.”


“Lah. Yaudah deh hati-hati ya.”


“Oke Ayah.”


Pandu mengantar Clarissa sampai depan rumah. Tak lama mobil temannya datang, Clarissa masuk ke dalam mobil sambil melambaikan tangannya kearah Pandu. Setelah Clarissa pergi Pandu kembali ke dalam rumah. Aditya kemudian menghampirinya.


“Ada perlu apa pak?” tanya Aditya ssetelah duduk di kursi.


“Aku punya tawaran untukmu Dit,” ucap Pandu dengan serius.


“Tawaran seperti apa Pak?”

__ADS_1


“Aku ingin kamu menikahi Frita secepatnya,” kata Pandu.


Mendengar kalimat Pandu itu laiknya mendengar petir menggelegar tiba-tiba. Aditya tidak menyangka saking khawatirnya Pandu sampai menginginkan hal seperti itu. Aditya menghela napas dalam. Bagaimanapun saat ini dia masih berpikir dengan baik, dia telah memikirkan beberapa kemungkinan yang akan terjadi ke depannya.


“Maaf Pak, saya mengerti anda khawatir kepada Frita tapi menurut saya, memilih cara seperti itu tidak akan membuat Frita selamat seketika,” jawab Aditya pelan.


“Jujur aku tidak punya cara lain lagi Dit. Aku ingin Frita aman, saat ini aku hanya mempercayaimu.”


“Saya akan berusaha semampu saya untuk melindungi Frita, tapi tidak akan menerima tawaran ini.”


“Jika kamu menikah dengan Frita secepatnya, akan aku berikan saham Glow & Shine Co. senilai sepuluh triliun rupiah.”


“Sekali lagi saya minta maaf Pak. saya tidak bisa menerima tawaran itu, lagipula kita sudah membuat kesepakatan sebelumnya. Jadi saya akan menjalankan kesepakatan itu dahulu.”


“Tapi Dit. Jika kamu sudah menikah dengan Frita aku akan semakin tenang. Karena dimanapun dan kapanpun kamu akan tetap bisa di sampingnya, jika kamu masih menjadi seorang sopir maka ruang untukmu terbatas.”


“Maaf Pak. sebaiknya bapak berpikir ulang untuk menjadikan saya sebagai menantu. Saya juga ingin anda mempertimbangkan perasaan Frita sendiri.”


“Apa susahnya Dit? Kamu sudah saya tunangkan dengan Frita, memangnya kurang apalagi? masalah perasaannya sendiri aku yakin itu bukan masalah besar,” ujar Pandu dengan nada tinggi karena agak kesal dengan penolakan Aditya.


“Apa maksud Ayah meminta Aditya menikahiku?” tanya Frita yang tiba-tiba muncul dari belakang Pandu.


Aditya menghela napas dalam. Pandu kaget melihat Frita sudah ada di ruang tamu. Dia sama sekali tidak pernah menyangka jika Frita akan mendengarkan pembicaraan mereka.


“Frita, kamu tumben mandinya sebentar?” tanya Pandu.


“Ayah jangan mengalihkan pembicaraan! Tolong katakan apa maksud pembicaraan ayah tadi dengan si Aditya!” ujar Frita tampak sedih sambil menunjuk Aditya. Matanya mulai berkaca-kaca menahan tangis.


“Ayah bisa jelaskan. Kamu mungkin salah dengar, kami tidak sedang membahas hal itu,” kata Pandu sambil menenangkan Frita.


“Salah denger kata Ayah? Aku denger sendiri dengan jelas kok!” kata Frita, tampak airmatanya sudah tidak bisa dia bendung lagi mulai mengalir dari matanya.


“Yang kamu denger itu memang benar Fri,” ucap Aditya sambil tersenyum. Dia bangkit mendekati Frita.


“Apa maksudmu?!”


“Ya. Tadi aku mencoba memaksa ayahmu untuk menikahkan kita,” kata Aditya sambil tertawa kecil. Frita menatap tajam Aditya.


“Pertunangan kita, aku bisa jadi sopir pribadimu, lalu aku tinggal di sini. Semua itu karena aku memaksa ayahmu untuk melakukannya.” jelas Aditya lagi sambil memegang tangan Frita.


“Kamu.. kurang ajar!” bentak Frita sambil menampar Aditya.


BERSAMBUNG…

__ADS_1


__ADS_2