Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 116


__ADS_3

Aditya sedang duduk di sebuah warung kopi. Tak lama kemudian dua mobil sport berhenti di depan warkop. Putra dan seorang anak buahnya segera keluar menghampiri Aditya. Penjaga warkop terlihat kaget karena tidak menyangka jika pemilik mobil sport itu akan berhenti di kedainya.


“Mau pesen apa Mas?” tanya penjaga warkop dengan gugup.


“Kopi saja dua bang,” jawab Putra sambil duduk di samping Aditya.


“Apa kamu sudah melakukan semuanya?” tanya Aditya.


“Sudah bos, aku sudah menempelkan sepuluh alat pelacak ke orang yang berbeda, mainan yang bos pinta juga ada di bawah jok,” jawab Putra pelan.


“Baguslah, kalau begitu aku akan berangkat sekarang.”


“Sendirian? Biarkan aku juga ikut menemani.”


“Jangan, aku tidak mau melibatkanmu dalam bahaya seperti itu, terlebih kita masih belum tahu rencana mereka sebenarnya. Dari sini biar aku dan Dark yang mengurusnya.”


“Baiklah, tapi jika ada apa-apa sebaiknya segera hubungi aku.”


Aditya hanya tersenyum. Setelah menerima kunci dan membayar makanannya Aditya segera berangkat menggunakan sebuah mobil sport yang dibawa oleh Putra. Diperjalanan, Aditya segera menelepon Dark Hunter.


“Bagaimana dengan pergerakan mereka Dark?”


“Aku sedang mengawasinya saat ini, tapi kelihatannya tiga alat pelacak jatuh atau mungkin tidak terbawa oleh mereka.”


“Biarkan saja yang penting kamu sudah menonaktifkannya. Sekarang kirim aku koordinat mereka semuanya.”


“Oke, aku kirim.”


Aditya kemudian memacu mobilnya dalam kecepatan tinggi menuju lokasi tempat berkumpulnya para anggota geng serigala yang dipekerjakan oleh William. Dari koordinatnya sudah jelas jika mereka menuju ke sebuah pantai di luar kota.


Malam harinya Aditya baru berhasil sampai di tempat berkumpulnya anak buah William. Aditya memarkirkan mobilnya di dekat sebuah penginapan di pantai. Sementara dia berjalan menuju lokasi yang dikirimkan Dark.


“Sial, mereka terpecah menjadi dua kelompok,” ujar Dark di telepon.


“Menjadi dua kelompok? Kemana saja tujuan mereka?”


“Kelompok pertama sedang menuju ke pelabuhan sedangkan kelompok kedua sedang menuju ke dermaga kecil.”


“Baiklah, aku paham. Kelihatannya kelompok yang menuju ke dermaga kecil lebih mencurigakan.


“Tapi dari alat pelacaknya ada satu orang yang masih stay di jalan. Tidak sekarang jadi ada dua orang yang berhenti di jalan dan tidak mengikuti kedua rombongan itu,” jelas Dark sibuk sendiri.

__ADS_1


“Ho, kelihatannya aku memang tidak bisa lebih dekat lagi dengan mereka saat ini.”


“Maksudnya?”


“Maksudku, mereka sengaja menyebarkan beberapa anggotanya untuk berjaga di jalan dan mengawasi keadaan. Sekarang aku akan lebih merepotkanmu Dark. Tolong kamu hack beberapa CCTV yang ada di jalan itu dan kirimkan tampilannya kepadaku.”


“Oke.”


“Apa di sekitar dermaga kecil itu juga ada CCTV?”


“Sebentar, kelihatannya tidak ada.”


“Baiklah, aku ingin kamu menghitung kendaraan milik perusahaan Glow & Shine yang lewat di jalanan dari CCTV, kabari aku jika jumlahnya sudah tepat.”


“Oke, duh kelihatannya aku akan begadang malam ini Hahaha,” jawab Dark.


“Bukannya kamu memang sudah jadi vampire ya?” sindir Aditya sambil tertawa kecil.


“Hahaha mungkin saja, tapi aku sampai saat ini masih belum pernah menghisap darah orang lain.”


“Dasar Vampire lembek,” ledek Aditya.


Aditya menunggu kabar dari Dark sambil menikmati nasi goreng yang kebetulan lewat di depannya. Sekarang dia semakin curiga dengan gelagat William. Padahal biasanya dulu kalau mengambil bahan baku selalu siang hari, tapi sekarang dia malah memerintahkan anak buahnya malam-malam begini.


“Sebentar,” ucap Aditya sambil membayar nasi gorengnya.


“Sial, aku lagi sibuk mengawasi kamu malah makan,” gerutu Dark.


“Sorry lah, lagian aku belum makan. Jadi ada berapa jumlah mobil box yang sedang di kawal geng Serigala?”


“Totalnya ada enam mobil. Sekarang mereka sudah mulai bergerak ke arahmu.”


“Apa kamu tahu mana mobil yang dataang dari dermaga?”


“Tidak, CCTV di daerah itu sangat sedikit. Aku bahkan sampai menyusup ke CCTV beberapa took di pinggir jalan.”


“Begitu ya, kalau begitu tolong ukur tekanan ban setiap mobil, dengan begitu kita bisa mengetahui berat barang yang ada di dalam mobil box itu.”


Aditya kemudian berpura-pura sedang memainkan ponsel sambil membelakangi jalan. Terdengar beberapa mobil melintas diiringi beberapa motor. Aditya terus memperhatikan semua orang yang mengiringi mobil box. Terlihat sosok seseorang yang cukup familiar baginya.


“Arya? Bagaimna mungkin dia bisa bergabung dengan rombongan itu,” batin Aditya. Dia benar-benar terkejut ketika Arya ada dalam rombongan itu mengenakan jaket geng Serigala.

__ADS_1


“Aku sudah selesai memperhitungkan semuanya,” ucap Dark.


“Lalu bagaimana hasilnya?”


“Jika sesuai urutannya, empat kendaraan hampir memiliki bobot yang sama, satu mobil memiliki bobot kurang sepuluh kilogram dari empat mobil itu, sedangkan satu mobil lagi memiliki bobot separuh dari empat mobil itu,” jelas Dark.


“Oke terimakasih. Aku akan mulai mengikuti mereka secara perlahan. Berapa rentang jarak amanku kira-kira?”


“Menurutku kamu harus menjaga jarak sekitar satu kilometer dari mereka. Sial mereka bahkan kembali mengambil dua rute yang berbeda.”


“Maksudnya?”


“Mereka kembali terbagi menjadi dua rombongan, masing-masing tiga mobil.”


“Lalu mobil yang bobotnya kurang sepuluh kilogram ikut ke rombongan yang mana?”


“Oh, jadi menurutmu mobil yang berasal dari dermaga itu adalah mobil itu?”


“Ya, dilihat dari luarnya saja aku bisa menebaknya.”


“Kalau begitu kenapa aku harus repot-repot menghitung bobotnya segala? Dasar merepotkan saja.”


“Hahaha itu cuma untuk jaga-jaga saja jika aku tidak bisa menebaknya.”


“Sial, akan aku kirimkan tampilan pelacakannya di ponselmu. Aku mau masak mie dulu lapar,” jawab Dark ketus.


Aditya hanya tertawa mendengarnya. Dia kemudian mendapatkan tampilan peta pelacakan di ponselnya. Dengan cepat dia memacu mobilnya mengikuti rombongan kedua. Dalam perjalanan dia terus memikirkan alasan Arya berada dalam rombongan itu, namun saat ini dia hanya bisa menarik satu kesimpulan saja.


Dari mapnya terlihat rombongan yang diikuti Aditya mulai melambat. Aditya terus berhati-hati menjaga jarak dari rombongan itu sambil memikirkan rencana penyergapan yang tepat.


“Dark, coba kamu cek dari CCTV yang mereka lewati, kira-kira ada berapa orang yang mengawal rombongan yang sedang aku ikuti ini.”


“Sebentar,” jawab Dark sambil terdengar mengunyah makanan.


“Sebenarnya sulit juga memprediksi jumlah semuanya karena bisa saja ada beberapa orang yang mengikuti secara sembunyi-sembunyi. Yang aku lihat sih ada sekitar delapan belas orang walaupun jaraknya berjauhan.”


“Oke, aku akan mencoba menyergap mereka nanti di kebun jati, bagus juga mereka memilih rute lewat jalan ini,” ucap Aditya sambil melihat map di ponselnya.


“Berhati-hatilah.”


Aditya memacu mobilnya lebih cepat. Sepanjang jalan dia terus memperhatikan setiap mobil dan motor yang terlewati sambil mencoba menghitung ulang jumlah orang yang sedang mengawal rombongan itu. Beberapa orang ada yang mengendarai motor, ada juga yang mengendarai mobil.

__ADS_1


“Kelihatannya hitunganmu cukup akurat Dark,” gumam Aditya. Tangan kanannya mengambil pistol yang ada di bawah jok mobil, lalu perlahan membuka kaca jendela saat dia sudah bisa melihat tiga mobil box berjalan beriringan di depannya.


BERSAMBUNG…


__ADS_2