Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 193


__ADS_3

Amy Aurora bukan wanita sembarangan. Ia tidak seperti cerita yang orang dengar tentangnya. Mungkin hanya Aditya dan segelintir orang tertentu saja yang tahu siapa jati diri gadis itu sebenarnya.


Amy Aurora bukan bekerja untuk dirinya sendiri sebagai orang yang berpengaruh di bisnis penyelundupan barang-barang ilegal di Thailand. Ia sebenarnya juga salah satu mata-mata terbaik yang berpihak pada keadilan.


Ketika mendapatkan telepon dari Aditya, Amy mengira ia bisa melepas rindu sebab kabar yang ia dengar adalah Aditya telah selesai berurusan dengan geng berbahaya di Bandung. Tapi, ia kaget tak kepalang ketika tahu apa yang diminta oleh pemuda itu.


“Aku mau kamu membantuku menyelesaikan misiku kali ini,” kata Aditya dalam telepon padanya setengah jam yang lalu.


“Misi? Jadi kamu sedang menjalankan misi?” tanya Amy tidak percaya di seberang telepon. “Pantesan aja kamu ada di Thailand. Mendadak lagi! Seorang Aditya yang kaku gak mungkin berkeliaran begitu saja di luar negeri tanpa alasan macam ini!”


Nada bicara wanita itu terasa begitu menusuk di kuping Aditya, tapi toh ia mampu meluluhkan hati seorang Aurora. Aditya berkata, “Setidaknya di tempat ini kita bisa lagi ketemu seperti dulu, bukan?”


“Ya. Tapi apa yang kamu butuhkan dariku?”


Aditya menjelaskan tentang kegagalan rencana komandannnya. Ia juga menyebut bagaimana mereka harusnya menjebak Si Tua Leo untuk menyelamatkan salah satu profesor.


Amy Aurora tidak percaya ia harus terlibat di sini. Aliansi Ular Kobra bertanggung jawab dalam pembunuhan lusinan orang penting dan bisnis narkoba internasional. Kali ini Aditya harus bekerja sendiri karena kegagalan komandannya. Hanya Amy yang bisa membantu.


“Kamu tahu aku sudah berhenti memainkan ‘peran’ itu, bukan?” tanya Amy Aurora dengan kesal saat mereka berjalan menjauh dari kerumunan pesta.


“Hei. Kita nggak pernah ketemu lagi sejak hari itu, lho.”


Amy Aurora pernah ‘berperan’ sebagai sosok dari balik berbagai kasus penyelundupan besar di Thailand untuk keperluan misinya sendiri. Aditya tahu soal itu dalam malam-malam mereka yang panas dan penuh hasrat bertahun lalu. Kini Aditya meminta Aurora memerankan sekali lagi sosok penyelundup itu, agar mempermudah tugasnya.


“Kita harus sering berinteraksi. Itulah kenapa kubutuhkan kamu. Lagi pula, hanya kamu yang kukenal di Thailand yang bisa mengakses informasi untukku,” kata Aditya.


“Ya. Siapa dulu dong!” kata Amy, tapi kali ini ia terlihat tersenyum nakal.


Amy mungkin saja kesal dengan permintaan Aditya yang terlalu banyak, dan rumit ini, tetapi ia tak memungkiri betapa pesona Aditya jauh di atas segalanya. Dan ia sudi melakukan apa pun untuk menyenangkan lelaki ini.


“Baiklah, kita mungkin memerlukan sebuah kamar,” kata Aditya dengan mengecup bibir Amy.


Aditya tak ingin anak buah Si Tua Leo dan yang lain mendengar obrolan mereka. Maka ia ajak Amy ke tempat yang lebih sepi, menemukan kamar agar bisa lebih leluasa bicara tentang ini. Mereka tahu berpasang-pasang mata mengamati dari jauh.


Si Tua Leo, Garry Lee, Tony Ho, dan John Casino hanya bisa berdecak kagum dan tertawa melihat Aditya begitu bernafsu pada gadis manis itu. Mereka kira dia memang penyelundup misterius yang membantu mengembangkan bisnis mereka ke depannya seperti yang Aditya janjikan.


Setelah menemukan kamar, Aditya dan Amy Aurora bukannya bercumbu dalam nafsu, melainkan membicarakan soal misi.


Aditya butuh informasi terbaru apa pun soal Profesor Joe Mulyono.


“Siapa dia?” tanya Amy.


“Ahli biologi dan kimia.”


“Kalian yakin profesor itu diculik Leo dan kawan-kawan?”


“Bagaimanapun, ia hilang sejak beberapa bulan lalu, tepat ketika sebuah keracunan massal terjadi di Surabaya.”


“Oh, kasus itu ya.”

__ADS_1


“Ya, soal adanya obat baru dari luar negeri dalam makanan kemasan. Setelah orang kami selidiki, itu mengarah ke Aliansi Ular Kobra. Professor Joe kebetulan berada tidak jauh dari lokasi pasar itu sebelum dinyatakan hilang.”


“Baiklah. Ada lagi?” tanya Amy Aurora.


“Untuk sementara itu dulu,” kata Aditya.


“Baiklah.” Gadis itu lalu melangkah maju, mendekat dan mendekat ke Aditya.


Kini Aditya bersandar pada jendela.


“Kurasa ini bukan waktu yang tepat,” kata Aditya.


Keduanya berciuman lama, melepas rindu. Apa yang terjadi harusnya memuaskan seperti yang mungkin terbayang di kepala Si Tua Leo dan kawan-kawan, tapi Aditya tidak melakukannya.


Amy Aurora berkata, “Aku bosan dengan hidupku yang begini. Ingin pergi sejauh mungkin dari sini. Hidup sebagai orang yang benar-benar baru di dunia yang juga baru. Bukan dunia macam ini.”


“Aku pun juga,” tukas Aditya.


“Kudengar kamu dekat dengan gadis itu. Siapa namanya? Frita?”


Aditya tersedak mendengar nama Frita disebut oleh wanita yang sama sekali tak ia duga bakal mengungkit misinya sebelumnya.


“Aku tahu Frita. Tentang misimu. Kamu tahu siapa aku!” kata Amy Aurora dengan lugas.


“Tak ada apa pun yang terjadi di antara kami,” jawab Aditya pendek.


“Kamu bisa bilang dia hanya bagian dari misimu, tetapi aku tahu kalian memiliki satu hal yang belum kita berdua miliki.”


“Cinta,” jawab Amy Aurora, kemudian menjauh dari Aditya dan meraih ponselnya yang tadi diletakkan di meja.


“Maaf, Dit. Ada telepon. Mungkin besok atau lusa aku akan menemuimu lagi. Di sini, ya?”


“Untuk saat ini aku tinggal di tempat Garry Lee ini.”


“Oke.”


“Terima kasih, Amy.”


“Apa yang bisa kulakukan untuk teman lama?”


“Teman yang hampir terlihat seperti kekasih?”


Amy Aurora mengecup pipi Aditya, lalu berujar, “Aku tidak keberatan kalau itu yang terjadi, walau mustahil.” Gadis itu meninggalkan kamar.


Aditya keluar beberapa menit setelahnya, dan kembali ke kerumunan pesta. Di situ telah menunggu Si Tua Leo. Lelaki tua itu mencari-cari di mana keberadaan Aurora si penyelundup misterius itu.


“Dia menemui kalian besok atau entah berapa hari lagi setelah urusannya yang lain selesai, Tuan,” kata Aditya.


“Loe yakin Aurora mau kerja sama?” tanya John Casino pada Si Tua Leo, padahal Aditya masih ada di depan mereka.

__ADS_1


“Gue sih yakin. Kalaupun enggak, biar anak baru ini yang tanggung akibatnya.”


“Anda bisa pegang perkataan saya, Tuan-tuan,” jawab Aditya mantap.


Mereka kembali bersenang-senang, kecuali Aditya. Dia memikirkan misi mereka. Seperti hanya dia saja yang menjalankan misi tingkat-S kali ini. Beruntung ia mengenal Amy. Kalau tidak?


“Kegagalan pasukan bayangan Komandan Malik sungguh sulit kupercaya,” batin Aditya. “Kenapa mereka gagal membajak mobil lapis baja para napi itu? Kenapa justru anak buah Si Tua Leo? Itulah yang membuatku heran! Aku harap bisa menemui Nancy atau Rudi di tempat terkutuk ini secepat mungkin.”


Aditya secara tidak sengaja melihat sesosok yang tak terlalu asing jauh di sisi timur ruangan. Dia yakin yang dilihatnya adalah Nancy. Wanita itu membawa sebuah nampan.


Nancy menyamar sebagai pelayan.


Aditya mohon diri dari para pemimpin Ular Kobra dan mendekat pada Nancy.


“Ada kebocoran informasi,” bisik Nancy sambil menyodorkan segelas minuman ke tangan Aditya.


“Siapa pelakunya?” tanya Aditya sambil menoleh ke arah lain seolah mereka tidak sedang mengobrol.


“Orang dalam militer. Komandan Malik marah besar. Kami belum tahu siapa itu.”


“Setidaknya kau di sini, Nancy. Dan kita harus bekerja di luar skema yang sudah Komandan rancang. Di mana Rudi?”


Nancy memberi isyarat dengan matanya, menunjuk ke arah tenggara. Di sana ada pelayan berkulit gelap yang diomeli anak buah Garry karena menjatuhkan gelas. Peran Rudi sebagai pelayan pemula sungguh meyakinkan.


“Bawa ponsel ini,” bisik Nancy. Ia merogoh saku celananya dan menaruh ponsel itu pada saku celana Aditya.


“Jangan sampai ketahuan.”


“Oke!”


Di saat bersamaan, Si Tua Leo mengamati mereka dari jauh, dan tahu saat Nancy meletakkan sesuatu ke saku celana Aditya. Atau, pelayan itu ‘memegang’ sesuatu dalam saku celana pembunuh barunya itu? Si Tua Leo tidak terlalu yakin.


Untungnya Aditya langsung menyadari itu. Ia segera menarik tangan Nancy, lantas mengajaknya ke gang sempit di sisi utara kolam renang, tempat yang cukup sepi sebab saat itu gerimis mulai turun dan para tamu masuk ke dalam mansion.


“Siap, Bos. Akan saya periksa,” kata seorang anak buah Leo yang berbadan kekar dengan alat komunikasi yang menempel di telinga.


Si Tua Leo mengangguk pelan menatap mata anak buah itu dari kejauhan.


Si kekar mengikuti bayangan Aditya dan Nancy yang melangkah menuju ke gang sempit itu.


Di sana ia melihat mereka berdua saling berpelukan. Aditya memeluk Nancy dari belakang, merobek kemeja pelayannya, dan meremas dadanya dengan liar. Nancy tak melawan dan mengerang sambil menjambak rambut Aditya.


Si kekar itu rupanya belum puas mengintip adegan tersebut. Maka, meski Aditya tak menginginkan ini, dia melanjutkan dengan melepas sabuk dan membuka celananya hingga mereka terlihat seperti bercinta.


Nancy merasakan jantungnya berdebar hebat ketika kelamin Aditya yang mengeras menempel ke belakang tubuhnya. Ia tak melawan karena menyadari di balik semak itu, seorang anak buah Leo sedang mengintip.


Mereka tak boleh membuat siapa pun curiga!


“Bos, anak baru itu cuma butuh wanita,” bisik si kekar, lalu memutuskan pergi ke tempatnya berjaga karena tidak menyenangkan melihat orang lain bercinta sementara ia sendiri harus bekerja.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2