Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 222


__ADS_3

“Jadi kerjamu apa, Dit?”


“Di kemiliteran, Paman. Tapi sudah mengundurkan diri. Saya terpilih jadi anggota pasukan khusus selama beberapa tahun terakhir.”


Paman Salim tak mengerti berbagai penjelasan Aditya berikutnya, tapi yang jelas ia kini merasa sudah plong. Berasa tak ada yang mengganjal lagi tentang keponakannya. Sudah tak ada misteri lagi tentang Aditya yang perlu ia pertanyakan.


Aditya tidak tahu berapa uang yang tersisa yang disimpannya melalui Mister Yori. Nah, uang sisa itulah nanti yang akan ia gunakan untuk mengurus Paman Salim di sisa umurnya, juga memperbaiki fasilitas desa yang sudah tak layak.


Rencana itu rupanya membuat Ratna terpikir sesuatu.


“Aku ada ide, Dit,” katanya.


“Apa itu?”


“Bagaimana kalau kita bekerja sama, membangun sebuah resor di sini. Desa ini tak terlalu dikenal orang. Padahal tempatnya begitu indah. Bukan hanya membantu desamu, tapi resor itu nanti juga akan membantu perekonomian warga sekitar.”


Ide itu tentu sangatlah baik. Aditya menyambutnya. Dan, Frita sudah pasti semakin cemburu.


Frita pun berkata, “Tak perlu repot-repot. Terima kasih atas idemu. Tapi biar nanti aku saja yang patungan sama Aditya soal resor itu.”


“Oh, tidak. Akulah yang punya ide. Jadi aku berhak, Frita. Kita bertiga patungan juga boleh, kok. Aku sama sekali nggak masalah,” balas Ratna.


Frita terdiam.


Keduanya saling tatap seperti ingin saling mangsa saja. Aditya cuma bisa menepuk jidat. Yusi dan Deri juga cuma menunduk, ingin tertawa tapi sungkan. Hanya Paman Salim yang melongo dan terheran-heran, sebenarnya apa masalah yang menimpa dua teman wanita Aditya itu?


***


Ketika akan makan malam, Frita dan Ratna akhirnya mulai bisa berdamai. Kini apa yang mereka hadapi adalah persoalan bisnis sekaligus rencana untuk masa depan bagi desa Aditya. Keduanya terlihat sibuk berdiskusi, menentukan desain dan tema dan entah apa lagi untuk resor mereka itu.


Hanya Aditya yang melihat rencana ini bukan sesuatu yang bagus. Pasti akan ada kejadian tak menyenangkan, terutama Ratna masih terlihat belum menyerah padanya. Saat itu Aditya tampak bosan mengamati Frita dan Ratna dari arah meja makan.


Paman Salim yang dibantu Deri di dapur, melangkah masuk dan menatap wajah si keponakan. Beliau berbisik, “Aku tidak kenal siapa mereka, Dit. Tapi Paman tidak suka saja.”

__ADS_1


“Kenapa begitu, Paman?” tanya Aditya tersadar dari lamunannya.


“Bertengkar di rumah orang begitu. Benar-benar tidak sopan. Orang-orang kota itu kupikir tidak semuanya sebaik Diana. Sayang sekali dia harus pulang besok pagi. Aku sudah mengundangnya makan malam ke sini.”


Aditya makin murung begitu tahu rencana tersebut.


Tak begitu lama. Diana dan ayahnya datang. Mereka bersembilan, termasuk Garin, makan bersama di meja yang tidak terlalu lebar. Dan rupanya bisa menikmati masakan buatan Deri yang tak tahu bagaimana tertarik mempelajari kuliner akhir-akhir ini.


“Lain kali kamu harus sering-sering bantu papaku kalau ada acara di rumah, Deri,” kata Ratna.


“Saya siap, Mbak,” balas Deri dengan senang.


Tak banyak yang dibicarakan kali itu. Karena Diana akan pulang besok pagi, Aditya tahu bahan pembicaraan yang tepat dan mulai menanyakan tentang naskah yang baru saja Diana selesaikan.


“Oh, jadi kamu penulis?” tanya Frita antusias, yang kini tak mungkin bisa merasa cemburu pada Diana, sebab Aditya terlihat tak begitu tertarik padanya, dan Diana juga tak bertingkah aneh-aneh.


“Iya,” jawab Diana.


Setelah menjelaskan beberapa judul bukunya yang sudah terbit, Frita langsung saja melonjak girang, sebab ternyata dia sudah membaca karya Diana dan menyukainya. Itu sungguh kebetulan yang lagi-lagi terasa aneh di mata Aditya. Frita terlihat tidak lagi semasam tadi, sementara Ratna masih tak banyak bicara dan menatap Aditya dengan kesan yang sulit dijelaskan.


“Lagian kamu nggak kira-kira, Bro,” kata Deri sambil tertawa.


Garin juga cuma bisa tertawa ngakak sampai matanya berair, tapi dari dalam bilik toilet.


Beruntunglah ada Pak Bambang yang bersedia ruang tamunya ditumpangi oleh Yusi, Deri, serta Garin untuk tidur semalam. Sementara Ratna dan Frita tidur di kamar Aditya, dan Aditya sendiri tidur di ruang tamu sang paman malam itu.


Tak terdengar suara antara dua gadis tersebut, tapi Paman Salim mendadak keluar dan mengajak Aditya bicara.


“Paman lebih senang kalau semua urusanmu beres, Dit.”


“Maksudnya?” sahut Aditya heran.


“Ya, kamu belum juga menikah. Kelihatannya kamu kesepian.”

__ADS_1


“Masa aku terlihat kesepian sih, Paman? Dari apanya?” balas Aditya tertawa pelan.


“Ini,” kata Paman Salim sambil menunjuk kantung mata Aditya.


Ah, ya, dia memang terlalu lelah dengan semua itu. Dia jenuh dan sejujurnya dia ingin segera memulai lembaran baru dengan seorang istri.


“Ini sih bukan tanda kesepian, tapi kurang istirahat, Paman!” tukas Aditya mencoba terdengar ceria.


Paman Salim tak menanggapi candaan Aditya. Beliau bilang Aditya ingin menikah dengan gadis seperti Diana. Hanya saja, tak ada Diana lain di dunia mereka selain sosok penulis baik hati itu.


“Tapi, Diana sudah seperti adik saya sendiri, Paman,” kata Aditya.


“Dan kamu lebih memilih salah satu perempuan yang tidur di kamarmu itu?” ujar Paman Salim.


Aditya tak berani menjawab.


“Setidaknya Diana sudah membuktikan dia adalah sosok yang layak untukmu. Tak urakan seperti orang kota umumnya,” kata Paman Salim.


Aditya cuma bisa membatin. Bahwa Paman belum tahu saja kalau orang kota juga tak banyak yang urakan. Tergantung orangnya saja. Tapi ia tidak mau berdebat dengan pamannya sendiri seperti di masa lalu.


Aditya cuma bilang, “Paman, kita belum tahu Diana sudah punya pasangan atau belum, kan? Paman juga belum tahu perasaan Diana pada saya.”


“Ya, memang belum. Tapi, kupikir kamu sudah ada perasaan padanya,” kata Paman Salim yakin.


“Kok bisa?” Aditya kini kembali tertawa.


“Ya, karena kamu menolongnya dari gangguan Dirga. Padahal kamu sudah dengar dia anak Pak Lurah yang suka semena-mena dan menghalalkan segala cara.”


“Yah, apa lagi yang bisa saya perbuat, Paman? Seorang gadis diganggu, ya saya pun harus membantu. Itu bukan karena saya menyukainya. Lagi pula, dia sudah banyak membantu Paman, bukan?”


Mereka tak lagi melanjutkan obrolan karena Paman Salim mulai mengantuk. Beliau hanya berpesan, “Itu tadi nasihat dariku, Dit. Boleh kamu bawa, juga boleh tidak diikuti kalau perasaanmu berkata lain.”


Aditya hanya mengangguk dan memandangi punggung sang paman menghilang di balik pintu kamar.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2