Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 277


__ADS_3

Dua hari setelah Aditya dirawat di rumah sakit.


Diana pada akhirnya terpaksa harus membawa Aditya pergi dari rumah sakit.


Aditya bilang, “Aku tak bisa terus di sini. Mereka akan mencariku. Kamu juga akan berada dalam bahaya!”


Aditya pikir Rama dan kawan-kawan ingin dia mati. Jika saja tahu Diana datang menolongnya, mereka bisa melukai gadis tak berdosa ini.


“Memangnya apa yang terjadi sih?” tanya Diana usai Aditya saat itu sudah seratus persen sadar.


“Ceritanya panjang,” kata Aditya sambil mencoba melepaskan infus dari tangannya. Diana mencoba mencegahnya, bilang ia belum pulih kondisinya.


Memang Aditya belum seratus persen pulih, meski ia kini sudah tidak mengantuk seperti terakhir kali melihat wajah Diana.


“Setidaknya kamu dirawat dulu sampai benaran pulih,” kata gadis tersebut.


Aditya tetap tak mau. Akhirnya Diana mencari cara agar bisa menuruti apa yang pemuda itu inginkan. Ia pun bicara pada beberapa suster, dan mereka menuruti juga apa yang Aditya minta. Mereka menyiapkan ambunlans guna mengantarnya ke rumah Diana di Jakarta.


Tak ada pilihan lain. Untuk saat ini, Aditya tak tahu harus berbuat apa. Ia bisa saja pergi mencari Frita, tapi di luar sana mungkin sudah menunggu jebakan lain untuknya. Ia benar-benar tak siap karena lukanya belum sembuh betul.


“Sudah jelas Reza dan Rama berada di balik semua ini. Ovie mungkin juga ikutan, tapi semua ini pasti karena para bajingan bersaudara itu!” batin Aditya menahan geram.


Aditya pun patuh pada Diana untuk dirawat sementara di Jakarta, di rumah sang novelis best seller itu. Di sana akan ada juga sepupu Diana, seorang pemuda lugu yang kuliah di salah satu universitas ternama di Jakarta, bernama Doni. Doni dengan senang hati memberikan kamarnya untuk Aditya.


“Abang tidur di sini saja,” kata Doni setelah menyambut mereka pulang.


Tentu Doni sudah mendengar semua dari Diana yang meneleponnya. Ia menyambut Aditya dengan sangat baik, memperlakukannya seolah mereka sudah kenal lama saja, padahal baru beberapa menit berkenalan.


“Terima kasih, ya. Aku tak tahu harus membalasnya dengan apa,” kata Aditya pada Diana saat Doni pamit pergi untuk membeli makanan.

__ADS_1


“Tidak usah, Bang Adit. Kamu juga sudah menolongku saat di desa,” tukas Diana.


Mereka mengobrol soal lain di luar permasalahan Aditya. Terutama mereka bicara tentang Paman Salim yang kini sedang hidup menikmati masa tuanya tanpa harus kerja jualan ubi lagi.


Namun Aditya teringat persoalannya dengan Frita. Deri dan Yusi dipekerjakan oleh Pandu Saputra untuk menjaga Paman Salim. Setelah rumah tangganya dengan Frita hancur, apa mereka masih tetap berada di sana?


Aditya bingung harus menghubungi siapa.


Tapi tak lama setelah itu ia mendapat telepon dari seseorang.


“Kamu tetap di situ saja, Dit. Aku akan menjemputmu ke sana,” kata seseorang itu. Dia wanita. Entah sudah berapa lama tidak bertemu. Aditya mendadak merasa tak enak badan. Terpikir banyak hal. Dia segera muntah mengotori selimut di sofa yang dia kini duduki.


“Aduh, jadi kotor begini!” umpatnya kesal.


Diana dengan sabar mengambil selimut itu untuk meletakkannya di keranjang baju kotor di belakang.


“Tubuhmu masih belum sehat, Bang. Istirahat saja dulu,” kata Diana.


Aditya kini memeriksa nomor-nomor yang tersimpan. Ia tak tahu harus menelepon siapa. Jadi ia putuskan menunggu saja seseorang yang barusan meneleponnya datang.


Dan, orang yang dimaksud tiba malam itu juga.


Ratna terlihat cemas menemukan Aditya terbaring tidak berdaya di atas ranjang di kamar Doni. Diana memberi mereka waktu berdua saja. Ia menyingkir ke kamarnya tak jauh dari situ.


“Bagaimana kamu bisa menemukanku?” tanya Aditya.


“Jangan tanyakan lagi bagaimana aku bisa tahu banyak hal! Aku punya uang dan sumber daya, Dit! Sudah, kamu jangan masuk terlalu jauh ke urusan keluarga Setiawan Budi itu!” kata Ratna dengan tegas.


“Mereka punya urusan denganku. Mereka merusak pernikahanku dan membuatku malu!” kata Aditya datar.

__ADS_1


“Aku tahu kamu yang telanjang di tempat umum itu. Videonya viral di mana-mana. Tapi soal pernikahanmu?” tanya Ratna terkejut.


Aditya sulit bicara. Ia jelas malu mengatakan ia mungkin sudah menghamili Sherly Embunsari, sosok yang dulu pernah bekerja pada Frita dan keluarganya. Karena itulah rumah tangga mereka kini goyah.


Ratna tampak menunggu jawaban Aditya, tapi jawaban itu tak juga muncul. Gadis itu bisa melihat ada kesedihan di mata Aditya. Namun, karena ini juga, Ratna merasa ia masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan hati Aditya.


Ratna sudah telanjur jatuh terlalu dalam ke jurang kekaguman pada sosok Aditya. Bukan hanya ketertarikan fisik belaka. Ia bahkan bersedia melakukan apa pun demi bisa hidup bersama Aditya seribu tahun lamanya, dan hanya ada mereka berdua saja di bumi ini.


Itulah kenapa Ratna terus mendesak.


Akhirnya Aditya bilang, “Aku mengacaukan pernikahanku dan Frita. Sherly kini mengandung anakku.”


Ratna terkejut mendengar itu, tapi tampak segera bisa mengendalikan diri. Dia tak ingin membahas itu lebih lanjut. Dia justru mengatakan akan membantu Aditya hidup dan membuka lembaran baru. Asalkan ia mau meninggalkan urusan dengan Setiawan Budi.


“Mereka bukan orang baik-baik, Dit,” kata Ratna.


“Aku tahu. Justru itulah aku tetap harus memberi mereka pelajaran. Mungkin saja pernikahanku sudah hancur dan aku layak mendapatkannya. Namun aku tak mau Frita juga menelan akibatnya,” jelas Aditya.


“Maksudmu?”


“Yah, keluarga Setiawan Budi mungkin juga bakal menghancurkan keluarga Pandu. Aku bicara bukan cuma soal Frita, tapi banyak orang.”


Perkataan Aditya membuat Ratna terdiam seribu bahasa. Meski begitu, ia tetap tak henti berharap sekali lagi. Berharap agar Aditya bisa menjadi miliknya.


Namun, di sisi lain, Diana yang sejak tadi menguping dari kamar sebelah, juga tak ingin Aditya kembali ke pelukan Frita. Sejujurnya sejak kejadian di desa waktu itu, dia berharap bisa bertemu Aditya sekali lagi dalam keadaan yang jauh lebih baik. Tentunya dia diam-diam menyukai Aditya.


“Sepertinya ada begitu banyak wanita yang menginginkanmu, Bang,” batin Diana sedih seolah dia sedang bicara langsung pada Aditya. “Entah kelak kepada siapa hatimu berlabuh.”


Tak ada yang bisa Diana lakukan selain menyambut Ratna dengan baik. Ia tak tahu bagaimana Ratna bisa tahu tempat ini, dan ia merasa tak perlu mencari tahu. Segala soal Aditya kebanyakan memang masih menjadi misteri bagi Diana.

__ADS_1


Sebuah misteri yang ia takutkan tak akan pernah ia ketahui.


Bersambung....


__ADS_2