Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 303


__ADS_3

Aditya menyambut Pandu sekeluarga yang tiba di Bandung besok sorenya. Paman Salim juga turut serta di sana. Pandu sengaja mengajak beliau pulang ke Bandung sebab akan mengadakan acara syukuran karena semua ini sudah berakhir.


Clarissa yang tampak paling bahagia. Ia bilang, “Semoga setelah ini tak ada lagi apa pun yang menimpa kita! Aku capek begini terus!”


“Aku pun juga capek,” kata Frita sambil melirik penuh makna ke arah Aditya. Yang dia maksud jelas capek karena rasa cemburu. Aditya salah tingkah sendiri atas ucapan sang istri.


Tentu saja Aditya tak menjelaskan tentang sosok Setiawan Budi dari masa lalu sang paman. Ia hanya bilang begini pada Paman Salim: “Tidak ada orang yang akan melukai kita, Paman.”


Aditya merasa tak perlu mengungkit urusan masa lalu sang paman. Ia juga merasa baik-baik saja meski kini tahu fakta lain tentang masa kecilnya yang tak dikisahkan oleh Paman Salim.


Pamannya dibiarkan tetap tidak tahu kenapa mereka mesti ke Belanda dan mereka semua merahasiakannya. Namun acara syukuran itu juga menghadirkan Kakek Darma. Itu terjadi besok malamnya di rumah Pandu.


Kakek Darma datang diantar seorang kerabat dengan mobilnya. Lelaki tua itu tak sabaran ingin segera turun dan menemui Paman Salim.


“Aku harus menyapa Salman dengan cara yang lebih akrab ketimbang saat cucuku menikah dulu!” ujarnya sambil melangkah penuh semangat dengan tongkat besinya.


Paman Salim menyapa Kakek Darma seperti biasa, belum menyadari kalau si lelaki tua itu dulu orang dari masa lalunya.


Namun Kakek Darma tak membuang tempo. Lagi pula saat itu semua orang sedang sibuk, tak ada yang memperhatikan obrolan mereka berdua.


“Salman? Aku tahu kau Salman, kan? Salim nama aslimu. Salman nama yang dulu kau pakai semasa masih muda!” tegur Kakek Darma sambil tertawa riang, memamerkan gigi-girinya yang ompong.


Paman Salim tampak terpana, sulit berkata-kata.


Lalu Kakek Darma mendekatinya, memeluk pundaknya, “Tenang saja. Semua telah berlalu. Aku sadar siapa kamu setelah kita bertemu di pesta pernikahan Frita. Aku ingat semuanya.”


Paman Salim menggumam pelan, “Aku tak mengerti kenapa bisa kebetulan begini.”


“Apanya yang kebetulan sih?” balas Kakek Darma.


“Kita jadi besanan, Bos. Kita berdua pernah hidup di masa yang kelam itu, lantas kini kita besanan.” Meski ucapan itu ada nada bahagianya, Paman Salim mulai terlihat sedikit menyesal.


Kakek Darma lalu terdiam, menatap hangat pada sahabat lamanya itu, dan berkata, “Jangan panggil aku ‘bos’ lagi. Kita sudah tak sama. Kita sudah berbeda. Bukankah kau sudah bertobat?”


“Aku, aku ... cuma tak mengerti,” tukas Paman Salim yang masih shock.


“Sudahlah, aku juga agak heran kenapa kita bisa bertemu lagi dengan cara yang seperti ini. Tapi semua sudah membaik. Lihatlah, mereka berdua bahagia,” kata Kakek Darma sambil menunjuk ke seberang ruang tengah, di mana Aditya dan Frita terlihat serasi berdua.

__ADS_1


“Ya, memang.”


Kakek Darma dan Paman Salim pun mengobrol panjang lebar, entah apa saja. Yang jelas mereka banyak membicarakan masa lalu, yang disebut Paman Salim sebagai masa yang kelam. Memang dulu mereka tergolong penipu-penipu andal.


***


Aditya sedang pergi ke dapur mengambil es batu dari kulkas ketika terdengar suara tempat sampah di belakang mendadak terguling. Ia pikir mungkin saja itu kucing liar. Ia pun memeriksa halaman belakang, dan kaget mendapati sosok Brenda Sukma dengan tampang acak-acakan.


“Maaf, aku mengganggu acara kalian, Nak. Tapi aku tak tahu harus meminta tolong ke siapa lagi,” katanya.


“Kenapa?” tanya Aditya.


Brenda Sukma tak langsung menjawab. Ia malah menggerutu, seolah memarahi si pemuda di depannya ini bahwa kenapa dia mendadak pindah dari rumah persembunyian itu? Rumah yang berdiri di ujung gang seberang sebuah kuburan tua.


“Lho, saya sudah tak butuh sembunyi di situ kok,” sahut Aditya. “Memangnya ada apa, Tante?”


“Desi dalam bahaya! Shelly D dalam bahaya! Kamu harus datang menolong kami, Nak! Marwan suamiku yang goblok itu enggak bisa berbuat apa-apa!” kata Brenda Sukma yang kini tampak panik.


Wanita itu mengobrol dengan Aditya dengan suara setengah berbisik, sambil tiada henti mengintip ke arah dapur, takut kalau-kalau ada yang menangkap basah dia sedang meminta bantuan Aditya.


“Tapi, kenapa? Bahaya karena apa? Jelaskan pelan-pelan,” kata Aditya yang lantas mencoba menggiring tubuh Brenda Sukma yang bergetar untuk masuk ke dapur dan duduk di sana.


Aditya bilang ia akan pamit sebentar pada Frita, tapi Brenda Sukma sama sekali tak mengizinkan. Wanita itu berkata, “Cuma sebentar saja kok! Kamu bisa tolong anakku, lalu balik lagi kemari! Keluargamu enggak bakal menyadarinya!”


Aditya merasa aneh saja atas permintaan itu, tapi ia menyanggupi. Lagi pula Brenda terlihat putus asa. Ia cuma bertanya apakah Brenda tahu di mana si penculik itu menyekap anaknya.


“Tahu! Itulah kenapa aku segera minta kamu buru-buru membantu!” jawabnya.


Mereka melesat meninggalkan tempat itu dengan mobil sedan bobrok milik Brenda Sukma. Ternyata tempatnya tak terlalu jauh dari rumah Pandu. Sekitar lima belas menit berkendara saja. Mereka berhenti di halaman depan sebuah gudang tua yang ada persis di sebelah jalan raya.


“Yakin di sini tempatnya?” tanya Aditya merasa aneh.


“Ya, di sini. Ayo, cepat masuk!” kata Brenda sambil menarik tangan Aditya begitu mereka berdua turun dari mobil.


Aditya menurut saja. Mereka menyelinap masuk ke gudang itu lewat pagar samping, yang berlubang entah karena apa. Pagar itu terbuat dari seng, dan Aditya harus hati-hati agar tak tergores seng itu. Bisa-bisa dia terkena tetanus karenanya.


Setelah masuk area gudang itu, Aditya mendengar suara jeritan tertahan Shelly D. Sebuah jeritan yang tak bisa keluar karena mulutnya dibungkam oleh kain atau lakban.

__ADS_1


“Nah, kamu dengar, kan?” bisik Brenda Sukma.


“Ya,” jawab Aditya pendek. “Berapa orang penculiknya?”


“Dua,” kata wanita itu.


Lalu ia berjalan ke kegelapan, dan Aditya mengikutinya.


Di ujung gang gelap itu, mereka kini dapat melihat Shelly D diikat dengan kondisi tubuh setengah bugil. Hanya mengenakan pakaian dalam. Sementara di depannya dua orang sosok pria tinggi besar sedang mencoba melepaskan celana mereka.


“Sialan! Untung kita datang lebih cepat,” bisik Brenda.


Aditya tanpa disuruh segera melompat keluar dan menghajar dua penculik itu. Dia tentu mudah saja mengalahkan mereka. Ternyata kelas mereka tak lebih dari preman pasar.


Shelly D menangis dan mengucapkan terima kasih pada Aditya berkali-kali. Brenda bilang, “Tuh, kan apa kubilang? Kamu memang hebat, Dit.”


Aditya tak ingin berkata-kata dan membiarkan Brenda membantu anaknya untuk memakai pakaian lagi. Setelah itu mereka bertiga cabut dari sana.


Aditya bertanya dalam mobil, “Kenapa Shelly bisa sampai diculik? Kalian tahu apa sebabnya?”


Brenda bilang itu ulah Setiawan Budi.


“Dia sudah mati. Upacara pemakamannya kabarnya dua hari lagi,” jawab Aditya tak mengira seorang mantan pembunuh bayaran terkenal bisa luput menangkap berita terhangat.


Brenda justru menatap tajam mata Aditya, “Kamu tidak sadar, ya? Setiawan Budi memang sudah mati. Yang kumaksud itu bekas orangnya Setiawan Budi.”


“Siapa?” tanya Aditya.


“Hestu! Dialah yang menculik anakku. Aku tahu itu.”


“Kok bisa Tante begitu yakin? Bukankah Hestu cuma ‘anjing’ penjaga Setiawan Budi?” tanya Aditya lagi. Merasa heran saja.


“Aku bisa pastikan karena dia kirim surat ancaman. Hestu sekarang mengambil alih kekuasaan Setiawan Budi, asal kamu tahu!” jawab Brenda dingin. “Dan, perlu sekarang kuperingatkan. Kita semua berada dalam bahaya!”


“Hestu cuma secuil duri yang mesti saya sentil,” kata Aditya meremehkan.


“Kamu belum tahu saja siapa dia sebenarnya, Nak,” tukas Brenda sambil tak henti fokus menatap ke jalanan.

__ADS_1


Aditya cuma diam. Ia pikir apakah mungkin keluarganya kembali jatuh ke dalam bahaya?


Bersambung....


__ADS_2