
“Kalo ngantuk, jangan sambil berdiri. Ntar jatoh,” ucap Sean pelan di telinga Ellena.
Seketika itu juga mata Ellena segera terbuka. Dia seperti disiram air es saat mendengarkan apa yang dikatakan oleh Sean. Bagaimana mungkin dia bisa memejamkan matanya saat Sean mendekati wajahnya. Ellena sangat malu saat ini.
Sean tersenyum lebar memamerkan barisan giginya yang rapi saat melihat Ellena mulai merona menahan malu. Tangan Sean refleks mengacak lembut puncak kepala Ellena dengan sangat gemas.
“Anak pintar ... pikirkan itu. Tawaran itu berlaku untuk kamu,” ucap Sean sambil menunjuk ke arah Ellena.
“Haah ... tawaran?”
Sean berbalik dan mulai melangkah pelan, “Kamu layak ada di tempat terbaik,” ucap Sean santai.
“Tapi Pak, saya ...,” ucapan Ellena berhenti saat dia melihat tangan Sean ke atas memberi tanda kalau dia tidak ingin mendengar apa pun lagi.
Sean segera meninggalkan kantin dan Mathias pun mengikutinya dari belakang. Secara perlahan punggung indah yang sempat dipuji oleh Ellena tujuh tahun lalu itu menghilang dari pandangannya. Ellena mempoutkan bibirnya ke depan tanda dia sedikit kesal dengan apa yang dilakukan Sean tadi.
Ada banyak pasang mata yang melihat kejadian tadi, kini melihat ke arah Ellena dengan tatapan berbagai arti. Ada yang tidak suka, ada yang bangga bahkan ada juga yang bertanya ada apa sebenarnya antara Ellena dengan Sean.
Begitu juga dengan Devan yang sedari tadi berdiri di sebelah Ellena tapi seolah tidak dianggap ada. Sepertinya kehadirannya tidak dipedulikan oleh Ellena dan Sean. Dia seolah dianggap salah satu lemari pendingin di ruangan itu.
“Ell, kamu kenal ama Sean?” tanya Devan.
“Haah ... eh maaf, Pak. Kenapa tadi, Pak?” tanya Ellena balik yang tidak mendengar pertanyaan Devan.
“Kamu kenal ama Sean?”
“Sean? Eh Pak Sean ... itu kan Bos kita. Emang kenapa?”
“Ini bukan Sean. Sean ga sembarangan deket ama cewek, apa lagi di depan umum. Apa kamu sebelumnya pernah ketemu dia?” tanya Devan sedikit menguji kejujuran Ellena.
“Ketemu? Emmm ... enggak kok, Pak. Saya belum pernah bertemu dengan Pak Sean sebelumnya. Oh ya, gimana tadi lanjutannya soal klien?” tanya Ellena berusaha untuk mengalihkan perhatian Devan.
Ellena sengaja berbohong dan mengalihkan pembicaraannya dengan Devan. Dia tidak ingin masa lalunya bersama Sean diketahui oleh Devan. Ellena ingin mengubur masa lalunya yang kelam tapi sepertinya Sean masih tidak ingin melepaskannya.
__ADS_1
Devan kecewa pada sikap tidak jujur Ellena padanya. Ellena terlihat ingin menutupi sesuatu yang terjadi antara dirinya dan juga Sean. Devan memang sudah tahu kalau Sean dan Ellena pernah bertemu sebelumnya, tapi dia masih penasaran kenapa Sean masih mengganggu wanita di depannya ini.
“Pak ... kok diem? Apa udah ga ada lagi yang perlu di bicarakan?” tanya Ellena sambil melihat ke Devan yang terlihat melamun.
“Emm, ga usah ... nanti aja kita lanjutkan. Kamu makan aja dulu. Ini kartu makan saya, kamu pake aja biar cepet dapet makan,” ucap Devan sambil memberikan kartu akses makannya.
“Lho ... Bapak ga makan?”
“Ga usah. Saya masih ga laper. Nanti aja. Oh, suruh pelayan kirimkan ke ruangan saya aja. Makasih, Ell,” ucap Devan sambil meninggalkan Ellena sendirian.
“Baik, Pak,” ucap Ellena sedikit keras karena Devan mulai meninggalkannya.
Ellena melihat Arina sudah duduk di salah satu sudut ruangan dengan satu nampan makan siang di hadapannya. Ellena memberikan kode untuk menyisakan satu kursi di sebelah sahabatnya itu karena dia akan mengambil makan terlebih dahulu.
Dengan kartu akses khusus milik petinggi perusahaan, Ellena bisa mendapatkan fasilitas lebih saat mengambil makanan. Dia tersenyum canggung saat melihat banyak karyawan mengantri untuk mengambil makanan di tempat itu. Elena tahu, pasti ada banyak suaranya sumbang di sana tentang dia.
“Dia dulu rayu Pak Devan, sekarang Pak Sean. Padahal Pak Sean kan baru di sini ya.”
“Iya bener. Cepet banget gerakannya. Cari mangsa yang lebih tinggi lagi. Cantik sih tapi akhlaknya nol besar.”
“Waah ... kalo emang dia, itu namanya kebangetan. Kaya ga ada orang lain aja.”
Ellena menahan diri saat dia mendengarkan banyak suara sumbang yang datang menyerbunya dari arah belakang. Dia rasanya sudah tidak kuat lagi berdiri di tempat itu lebih lama. Ellena makin kesal kenapa dia harus bertemu dengan Sean lagi.
Ellena membawa nampan makannya menuju ke meja tempat Arina duduk. Dia segera menghempaskan tubuhnya di kursi dengan sedikit keras tanda dia sangat kesal hari ini. Arina hanya melihat saja apa yang dilakukan oleh temannya itu saat ini.
“Ell, kamu ada apa sama Pak Sean?” tanya Arina.
Ellena menoleh ke arah Arina, “Kamu nanya itu juga?” tanya Ellena tidak percaya.
“Ya emang kenapa? Aku kan juga punya mata. Semua orang liat apa yang tadi kalian lakukan di pojokan sana,” ucap Arina sambil menunjuk ke tempat Ellena tadi berdiri.
“Ih apaan sih. Aku juga ga tau kenapa orang itu kaya gitu. Ah udahlah, makin bete ntar aku,” ucap Ellena sambil memulai makan.
__ADS_1
“Tapi ... kamu beneran ga punya hubungan ama Pak Sean kan? Atau kamu mantan pacarnya dulu?”
“Uhuukk ... uhuk ....”
Pertanyaan menohok dari Arina sukses membuat Ellena terbatuk-batuk saat itu juga. Banyak makanan yang tersembur dari mulutnya karena dia sedang mengunyah makanannya saat ini. Arina membantu sahabatnya dengan menepuk punggung Ellena dan memberinya air minum agar dia tidak tersedak lagi.
“Kamu ga papa?” tanya Arina sedikit khawatir.
“Aku ga papa kok. Aku keselek aja. Makasih.”
Wajah Ellena memerah karena dia tersedak dan juga malu mendengar pertanyaan dari Arina. Bagaimana mungkin sahabatnya itu bisa menebak kalau dia adalah mantan pacar Sean. Padahal dulu dia hanya wanita yang dibeli oleh Sean untuk menemani malam panasnya.
Setelah selesai makan siang, Ellena dan juga Arina segera kembali ke ruang kerja mereka lagi. Ellena ingin segera menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat agar bisa pulang tepat waktu. Malam ini dia ingin mengajak putranya pergi ke minimarket besar yang ada di dekat rumahnya, sekedar membeli es krim dan coklat pasti akan menghibur Nathan malam ini.
“Ell ... balik yuk?” ajak Arina.
“Bentar, aku minta tanda tangan Bu Silvia bentar ya,” jawab Ellena segera pergi ke ruangan atasannya.
Seperti biasa, Ellena dan Arina akan pulang dengan menaiki mobil antar jemput dari kantor. Mereka sudah membayar bulanan dengan cara potong gaji yang tentu saja harganya lebih murah dibandingkan harus menggunakan taksi online setiap hari.
Sambil menunggu mobil jemputan parkir di depan lobi kantor, Ellena dan Arina mampir ke meja resepsionis untuk sekedar bercanda dengan teman mereka di sana. Sekilas Ellena melihat sosok Devan yang juga akan pulang. Dia teringat kartu akses Devan masih ada di tangannya saat ini.
“Pak Devan,” panggil Ellena.
Devan menoleh, “Ellena, ada apa?” tanya Devan saat wanita yang dia suka ada di depannya.
“Pak, ini kartu akses milik Bapak. Makasih ya.”
“Oh iya ... kamu mau pulang?”
“Iya Pak, lagi mau nunggu jemputan itu.”
“Mau bareng ama saya? Pasti ga mau ya?” ucap Devan yang sudah hafal dengan penolakan Ellena setiap dia mengajaknya pulang.
__ADS_1
“Dia ga akan mau pulang sama kamu, karena dia akan pulang sama aku,” ucap Sean tang tiba-tiba muncul.
Bersambung....