Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 173


__ADS_3

Jimmy saat ini bersama beberapa anak buahnya sedang sibuk di lokasi bekas perkelahian geng Merak dan geng Serigala. Dia terlihat bingung karena tidak ada petunjuk perihal penyebab terjadinya tawuran yang menimbulkan korban jiwa itu.


“Aku sudah bosan mengurusi permasalahan seperti ini!” gerutu Jimmy.


“Jika terus dibiarkan saja kemungkinan malah akan semakin meresahkan masyarakat,” timpal Arya yang datang menghampiri Jimmy.


“Aku tidak habis pikir dengan alasan mereka melakukan tawuran seperti ini. Benar-benar bodoh.”


“Tapi bagi mereka hal seperti ini merupakan kebanggaan.”


“Itulah yang harus kita benahi saat ini! Aku benar-benar heran dengan orang tua yang membiarkan anak-anaknya ikut-ikut dengan geng atau apapun itu.”


“Kemungkinan mereka juga ketakutan untuk menghentikan anaknya. Menurutku saat ini memang sudah sangat sulit untuk membenahi orang-orang.”


“Ya, tapi setidaknya kalau sejak kecil para orang tua membimbingnya dengan benar, membatasi pergaulannya dengan orang-orang yang busuk dan menyekolahkannya di lingkungan yang baik, menurutku permasalahan seperti ini harusnya bisa diminimalisir.”


“Kamu memang benar, sebagai calon seorang ayah aku juga akan mengingat kata-katamu barusan,” ujar Arya sambil tertawa.


“Hahaha, walau bagaimanapun aku yakin ini ada hubungannya dengan geng-geng besar Bandung. Kita harus segera mengingatkan mereka agar tidak membuat warga resah seperti ini.”


“Ya aku setuju, walaupun kita tidak punya bukti untuk membubarkan mereka atau menangkap mereka setidaknya kita bisa kalau hanya memperingatkan mereka. Mari kita mulai dengan geng Merak,” usul Arya.


“Aku setuju, tapi kenapa harus dimulai dari geng Merak?”


“Menurutku diantara yang lainnya Ketua geng Merak selalu lebih terbuka dan mudah bekerja sama dengan polisi. Terlebih aku dengar dari orang-orang kalau di lokasi ini sering terlihat anggota geng Merak yang mondar mandir.”


“Begitu ya, masuk akal juga memang,” ucap Jimmy setuju dengan pernyataan Arya.


“Kalau begitu ayo kita pergi.”


“Kamu saja Jim, aku akan tetap di sini melanjutkan penyelidikan,” tolak Arya sambil tersenyum.


“Kamu ini selalu saja seperti itu. Baiklah biar aku pergi sendirian,” kata Jimmy sambil melangkah pergi meninggalkan Arya yang masih merenung di lokasi bekas pertikaian itu.

__ADS_1


“Jika bukan karena tugasku, aku tidak akan pernah melakukan hal sekeji ini!” batin Arya sambil mengepalkan tangannya.


***


Aditya saat ini bersama rombongan Bima sudah sampai di rumahnya. Di gerbang terlihat dua orang pria bertubuh kekar berdiri menyambut. Mereka semua kemudian pergi menuju ke dalam rumah. Mereka kemudian membaringkan Bima di tempat tidurnya.


“Aku minta maaf kepada kalian karena disaat-saat genting seperti kemarin aku tidak bisa membantu kalian,” kata Bima.


“Ketua tidak boleh berbicara seperti itu. Bagaimanapun kamilah yang harusnya meminta maaf karena tidak bisa menjaga wilayah kita,” ucap Brian.


“Itu bukan apa-apa bagiku, wilayah tidaklah penting bagiku. Yang penting bagiku adalah kalian para anggota geng Merak yang sudah aku anggap sebagai keluarga sendiri. Aku benar-benar tidak berguna karena tidak bisa menyelamatkan kalian.”


“Sebaiknya kakek jangan memikirkan hal itu dulu. Saat ini kakek harus banyak beristirahat,” kata Ratna.


“Iya. Kalian bisa tinggalkan aku berdua dengan Aditya di sini?”


“Kenapa Ketua?” tanya Viktor sambil menatap tajam Aditya.


“Aku ingin berbincang beberapa hal dengannya. Jangan khawatir kami hanya akan mengobrolkan beberapa kisah lama saja,” jawab Bima sambil tersenyum. Viktor, Brian dan Ratna segera pergi dari kamar Bima.


“Sama-sama. Tapi saya juga minta maaf karena sudah menghajar Verdi hingga sekarang anda tidak bisa memberikan hukuman yang berat kepadanya,” ucap Aditya.


“Tidak apa-apa, kamu sudah mewakiliku untuk menghajarnya. Jujur saja setelah kejadian ini aku khawatir kalau di dalam geng Merak masih ada orang-orang yang sengaja disiapkan lawan untuk berkhianat.”


“Kemungkinan memang masih ada, tapi anda bisa memerintahkan Brian dan Viktor untuk mencari tahu hal itu. Tapi menurut saya jika penghianatnya hanyalah anggota biasa hal itu tidak akan membawa dampak besar. Karena bisa disiasati misalnya ketika ingin melakukan rencana penyerangan maka jangan langsung diberitahukan detailnya kepada mereka, cukup para petinggi saja yang tahu,” jelas Aditya.


“Kamu memang benar Dit. Lalu menurutmu apa yang akan dilakukan oleh Jaja setelah berhasil merebut dua wilayahku itu?”


“Menurutku saat ini dia akan lebih berhati-hati terlebih dia juga mungkin akan segera tahu kalau anda sudah pulih. Hal itu tentunya akan membuatnya berpikir dua kali untuk kembali melakukan penyerangan.”


“Tapi jujur saja cukup aneh bagiku. Aku dengar kemarin dari Ratna kalau ternyata geng Serigala jumlah anggotanya semakin banyak saja. Bagaimana bisa mereka merekrut orang sebanyak itu?”


“Menurut saya itu tidak terlalu rumit. Saya dengar akhir-akhir ini hubungan geng Serigala dan para elit pasar gelap semakin akrab. Jadi kemungkinan besar mereka juga mendapatkan pasokan dana dari mereka. Untuk anggotanya saja saya yakin mereka juga merekrutnya dari luar kota Bandung.”

__ADS_1


“Hmmm.. sejak dulu inilah yang aku khawatirkan. Ketika ada sebuah geng besar yang sangat ingin mendominasi maka peperangan tidak bisa dihindari lagi.”


“Anda jangan terlalu memikirkan masalah itu saat ini. Benar kata cucu anda kalau sekarang anda sebaiknya fokus untuk beristirahat dulu.”


Bima hanya mengangguk setuju sambil menghela nafas. Tangannya mengepal erat karena sudah tidak sabar ingin membalas dendam kepada geng Serigala yang telah menewaskan beberapa anak buahnya. Aditya kemudian keluar dari kamar untuk menemui Ratna dan yang lainnya.


“Maafkan aku Dit karena selama ini sudah mencurigaimu,” ucap Brian.


“Tidak apa-apa, sudah sewajarnya kalian memang waspada,” jawab Aditya sambil duduk.


“Tapi tetap saja kita kecolongan! Aku tidak menyangka kalau Verdi adalah penghianat, Jaja benar-benar licik!” gerutu Viktor sambil mengepalkan tangannya.


“Aku rasa dia tidak hanya menempatkan anak buahnya di geng Merak saja. Aku yakin di setiap geng yang ada di kota ini pasti disusupi oleh anak buah Jaja.”


“Cepat atau lambat mereka pasti akan menyerang lagi, kita harus bersiap untuk hal itu,” kata Brian.


“Kalian jangan takut, aku rasa dalam waktu dekat ini mereka tidak akan menyerang dulu. Terlebih jika terus-terusan menyerang maka polisi juga bisa mencium pergerakan mereka,” ujar Aditya.


“Masalahnya saat ini aku yakin banyak anggota geng kita yang masih trauma dengan kekalahan kemarin. Mental mereka akan sulit untuk disembuhkan setelah menerima kekalahan telak seperti itu,” timpal Ratna.


“Menurutku untuk masalah itu tidak perlu khawatirkan. Sebelum Ketua kalian pulih total kalian harus menunjukan kalau kalian bisa minimal merebut satu wilayah kalian kembali dari geng Serigala,” usul Aditya.


“Tapi kemungkinan besar anggota yang akan ikut hanya sedikit saja,” ujar Viktor.


“Itu poin pentingnya, kalian tunjukan bahwa kekalahan kemarin memang karena ada penghianat yang membocorkan rencana saja. Jika dengan anggota yang sedikit itu kalian berhasil merebut satu wilayah maka kepercayaan diri mereka dan kekaguman mereka kepada kalian akan meningkat drastis. Hal itu bisa mengatasi masalah mental mereka yang down,” jelas Aditya.


“Bagaimana caranya?” tanya Ratna dengan antusias.


“Aku sudah menyiapkan sebuah rencana untuk kalian semua,” jawab Aditya sambil tersenyum.


Sementara itu di luar kediaman Bima terlihat bayangan dua puluh orang lebih berkumpul di tempat yang gelap. Seorang pria terlihat menginstruksikan sesuatu kepada mereka.


Orang-orang itu mengangguk kemudian pergi berpencar di sekeliling kediaman itu. Belasan orang yang bergerak ke depan gerbang rumah Bima mulai mengeluarkan pistol mereka.

__ADS_1


BERSAMBUNG…


__ADS_2