Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 13


__ADS_3

Ellena masih terdiam di tempatnya. Dia masih tidak mengerti dengan apa yang dimaksudkan Sean. Pemuda yang sedari tadi sangat baik dan juga ramah kepadanya kini kembali berubah dingin dan menyebalkan.


Ellena melihat arah tatapan Sean yang lurus menuju ke pintu masuk tempat acara. Dia tampaknya masih melihat ke arah wanita bergaun maroon yang ada di sana. Wanita yang sama sekali belum pernah dia lihat sebelumnya. Sean pun melangkah mendekati wanita yang ada di depan pintu itu.


‘Siapa sih wanita itu? Apa dia pacar Sean ya?’ tanya Ellena dalam hati.


‘Kok Sean liatnya sampai gitu banget ya? Apa dia Cinderella yang di bilang semua orang? Tapi siapa ya, kayanya aku ga pernah lihat dia di kantor ini,’ selidik Ellena penuh rasa ingin tahu soal wanita itu.


‘Ya ampun, Ellena. Sejak kapan kamu jadi kepo sama urusan orang lain. Udah ah, bodoh amat sama Sean!” ucap Ellena sambil menggelengkan wajahnya berkali-kali.


Ellena menyadari kesalahannya karena telah kepo pada sosok wanita itu. Dia bahkan sempat sedikit memukul kepalanya karena kebodohannya itu. Ellena kini memilih menghampiri meja saji makanan saja untuk mengisi perutnya.


Sedangkan Sean terus melangkahkan kakinya dengan mantap menuju ke pintu masuk. Dia mengukir senyum menawan andalannya untuk menyambut wanita yang ada di depannya itu.


“Hai, Lun. Kok kamu dateng ga bilang dulu sih?” sapa Sean sambil mengecup punggung tangan Luna.


“Emang kalo aku mau dateng, harus bilang kamu dulu ya?”


“Ga gitu juga sih. Maksud aku kalo kamu bilang dulu kan aku bisa suruh sopir buat jemput kamu atau aku jemput sekalian,” jawab Sean.


“Aku tadi ga sengaja tau kalo kamu adakan pesta di sini. Makanya aku mau dateng. Takut kamu nakal di sini,” ucap Luna sambil berbisik di akhir kalimatnya.


“Kamu bisa aja, kita masuk yuk,” kata Sean pada Luna.


Sean berjalan bersama Luna masuk ke dalam ruangan pesta. Tangan wanita itu sudah melingkar erat di lengan Sean. Mereka benar-benar tampak seperti pasangan pengantin yang sedang di sambut oleh banyak kolega Sean.


Entah mengapa ada rasa tidak suka di hati Ellena saat dia melihat Sean tampak akrab dengan Luna. Sepertinya dia ingin diperlakukan lagi seperti tadi oleh Sean. Tapi Ellena segera tersadar siapa dirinya dibandingkan Sean.


“Ayo lah, Ell. Dia bos kamu. Dia undang kamu ke sini itu cuma buat kenalin kamu ke klien. Jangan minta berlebihanlah. Lagian orang kaya dia itu ga bakalan pernah serius. Eh ada yang buat dia serius, waktu dia bilang kalau aku penipu. Aduuh ... penipu apa, bikin susah aja dia yang ada,” gumam Ellena sendirian sambil menyendok makanan dan di masukkan ke dalam mulutnya.


“Sendirian aja?”


Terdengar suara seorang pria dari arah belakang Ellena duduk. Ellena sampai tersedak karena kaget saat dia mendengar suara di belakangnya. Tangan Ellena segera meraih gelas di depan piringnya dan segera menenggak isinya sampai hampir tandas.

__ADS_1


“Uhuuk ... uhuk ... uhuuk,” Ellena masih terbatuk-batuk setelah dia minum.


“Eeh Ell, kamu kaget banget ya? Aduh maaf ya,” jawab Devan yang muncul di depan Ellena sambil mengulurlan tisu pada Ellena.


“Ga papa kok, Pak. Saya ga papa,” ucap Ellena sambil menutup mulutnya.


“Saya boleh duduk di sini?” tanya Devan sambil menunjuk ke kursi kosong di depan Ellena.


Ellena tidak menjawab. Dia hanya menganggukkan kepalanya berkali-kali sambil membersihkan bibirnya yang mungkin kotor. Ellena mengambil gelas miliknya dan minum lagi, dia ingin membersihkan tenggorokannya yang sedikit panas.


“Kamu lagi ngelamun ya?” tanya Devan sambil melihat ke arah Ellena.


“Enggak kok, Pak. Saya tadi baru banget masukin makanan ke mulut. Eh malah di kagetin. Maaf ya, saya jadi keliatan jorok banget sekarang,” jawab Ellena sedikit malu.


“Eeh ga kok. Siapa bilang kamu jadi jorok, justru saya yang ga enak udah bikin kamu tersedak. Eh ya ... tadi ngapain aja sama Sean? Kayanya akrab banget kamu tadi sama dia,” tanya Devan ingin tahu.


“Ga ngapa-ngapain kok. Cuma dikenalkan ke beberapa klien dia aja. Katanya buat nunjang karir aku aja.”


“Harus kamu manfaatin itu. Klien dia itu kelas kakap semua. Dia itu mirip kaya kamu, karirnya terbang tinggi karena kecakapan dia bujuk klien.”


“Pantesan kenapa?”


“Hmm ... eh itu ... pantesan dia bisa sukses di usia muda,” jawab Ellena sambil tersenyum ke arah Devan.


Ellena dan Devan melanjutkan obrolan mereka sambil menikmati makanan. Mereka membahas tentang peluang Ellena untuk naik ke posisi lebih tinggi lagi di masa promosinya ini. Tapi Devan beberapa kali melihat Ellena melihat ke arah Sean dan Luna yang duduk tidak jauh dari tempat mereka saat ini.


“Namanya Luna. Kabarnya dia tunangan Sean,” ucap Devan tiba-tiba.


Ellena reflek menoleh ke arah Devan, “Tunangan? Itu tunangan Pak Sean?”


“Iya ... kabar yang aku dengar begitu. Emang kenapa, kamu ga sakit hati kan?”


“Hmm ... sakit hati? Emangnya saya ini apanya Pak Sean. Bisa aja Bapak ini,” ucap Ellena sambil kembali memasukkan makanan dalam mulutnya.

__ADS_1


‘Oh tunangannya. Ok! Sekarang kamu punya alasan untuk tolak dia kalau dia ganggu kamu lagi, Ell!’ tekad Ellena dalam hati.


Namun hal berbeda terjadi pada Ellena saat ini. Ada sedikit rasa nyeri dalam hatinya saat dia mengetahui fakta kalau wanita di samping Sean adalah tunangan Sean. Tapi Ellena berusaha menyingkirkan rasa itu dari dalam dirinya. Dia ingin kembali tersadar kalau tadi dia memang sedikit kagum pada bos-nya itu.


“Udah malam, sepertinya saya mau pulang saja. Takut susah dapat taksi nanti,” ucap Ellena.


“Ya udah, kita pulang bareng aja. Ga baik juga perempuan puang sendiri malam-malam.”


“Waah ... makasih banget, Pak. Maaf kalau merepotkan, Bapak.”


“Ga merasa di repotkan sama sekali. Kita pamit Sean dulu yuk,” ajak Devan.


‘Pamit Sean? Harus banget ya?’ gerutu Ellena dalam hati.


Saat Ellena dan Devan berpamitan pada Sean, Ellena menangkap sorot mata kesal dan marah yang ada di mata Sean saat melihat dirinya. Sorot mata yang biasa dia lihat pada Sean saat dia sedang bersama dengan Devan. Padahal saat ini di samping Sean sedang ada wanita cantik yang terus saja menempel kepadanya.


Ellena tidak peduli pada tatapan Sean itu. Sudah terlalu biasa perasaannya dipermainkan oleh Sean, jadi saat ini bukanlah hal aneh lagi padanya. Bahkan Sean pun tidak menawarkan sebuah mobil untuk mengantarnya pulang seperti tadi saat ada yang menjemputnya.


Mobil yang dikendarai oleh Devan mulai memecah jalanan malam yang sudah mulai sepi. Ellena memilih untuk membuang pandangannya pada luar jendela mobil sambil menikmati sajian lampu kota.


Melihat Ellena yang masih sibuk dengan aktivitas melamunnya, Devan ingin memanfaatkan dengan sengaja memilih jalan memutar untuk menuju ke rumah Ellena. Dia berharap wanita itu akan berdiam di dalam mobilnya lebih lama.


“Kok ga nyampe-nyampe ya?” celetuk Ellena saat dia tersadar.


“Kata siapa? Tuh ... gang rumah kamu sudah ada di depan,” jawab Devan sambil menunjuk ke arah depan.


“Oh iya ... maaf,” ucap Ellena sedikit malu.


Akhirnya Ellena turun dari mobil Devan dan segera berpamitan. Dia segera berjalan ke arah gang yang akan mengantarnya ke rumah minimalis miliknya itu.


Saat Ellena sampai di depan rumahnya, dia melihat ada sesosok orang berdiri membelakangi dirinya. Orang itu berdiri tepat menghadap ke rumahnya yang sudah tertutup rapat. Dalam pencahayaan yang sedikit minim Ellena berusaha mengenali orang itu.


Ellena kaget, saat dia mendapati sosok orang yang sama sekali tidak dia harapkan datang ke rumahnya, tiba-tiba ada di hadapannya.

__ADS_1


“Ka ... kamu ...?!”


Bersambung....


__ADS_2