Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 151


__ADS_3

“Kamu tidak apa-apa, Fri?” tanya Gina sambil memeluk erat putrinya.


“Aku baik-baik saja, Bu,” jawab Frita.


“Syukurlah, ibu benar-benar khawatir.”


“Ayah senang kamu baik-baik saja,” ucap Pandu sambil membelai rambut putrinya.


Jimmy dan beberapa polisi hanya kebingungan karena di sana banyak orang-orang tergeletak. Arya langsung berkeliling dan masuk ke dalam bangunan yang ada di sana. Jimmy menatap tajam Aditya.


“Sebenarnya apa yang terjadi di sini?” tanya Jimmy dengan tatapan tajam.


“Ketika datang ke sini semuanya sudah seperti ini. Yang aku tahu ada dua orang penjahat di sini tapi saat melihatku berpakaian seperti ini mereka kabur menggunakan mobil.”


“Kabur?”


“Ya, aku yakin mereka mengira aku tentara sungguhan. Karena itu mereka malah kabur terburu-buru dan meninggalkan Mbak Frita di sini.”


“Apa benar yang dikatakannya?” tanya Jimmy sambil menatap Frita.


“Ya, mereka berdua kabur ke arah sana dengan menggunakan mobil. Aku bahkan masih ingat wajah mereka beserta plat nomor mobil yang mereka gunakan,” jawab Frita sambil menatap Aditya. dia yakin Aditya punya alasan sendiri tidak menjelaskan situasi yang lebih jelasnya kepada polisi.


“Kalau begitu maaf sebelumnya, tapi kami butuh keterangan dari kalian berdua. Mari kita segera ke kantor polisi,” ajak Jimmy dengan ramah.


“Terimakasih Dit,” ucap Pandu sambil menepuk pundak Aditya.


Aditya kemudian tersenyum. Pandu memberikan jaket dan topi kepadanya agar tidak terlalu menarik perhatian banyak orang. Sementara itu Arya masih terus menyisir tempat kejadian. Tubuhnya bergetar ketika melihat beberapa orang yang tewas di sana.


“Mustahil,” gumam Arya.


“Kenapa mereka semua ada di sini?” batin Arya sambil melihat beberapa wajah orang-orang yang tergeletak.


“Segera kumpulkan semua mayat yang ada di sini! Kita akan memeriksa mereka di rumah sakit!” perintah Arya.


“Baik pak!”

__ADS_1


Semua anak buah Arya segera mengumpulkan para mayat. Setelah menghubungi ambulan, Arya duduk merenung di kursi sambil menyusun potongan puzzle kejadian yang sudah dia ketahui. Namun tetap saja ada beberapa hal yang ganjil. Beberapa potongan puzzle terakhir yang masih belum dia pahami.


“Aditya Laksmana, mungkin aku bisa mengetahui beberapa potongan puzzle terakhir jika menyelidikinya,” pikir Arya.


Aditya, Frita dan keluarganya pergi ke kantor polisi bersama Jimmy. Tampak di sana juga sudah ramai dengan para anak buah Diaz. Di dalam terlihat Diaz sedang duduk bersama keluarganya. Saat melihat Frita tiba-tiba saja Diaz berdiri.


“Fri, kamu baik-baik saja sayang?” sapa Diaz. Jimmy dan Aditya menatapnya tajam, Frita sendiri hanya terdiam tidak menjawab.


“Pasti semua ini ulah dia kan! Lu kalau berani jangan nyewa orang buat nyulik Frita dong!” bentak Diaz sambil menunjuk Aditya.


“Kamu ngomong apaan sih?” tanya Frita dengan wajah kesal.


“Sudah jelas dia ingin memisahkan kita Fri, dia pasti dendam karena aku merendahkannya di kapal,” kata Diaz tetap menuduh Aditya.


“Pa bantu aku dong, aku yakin sekali dia adalah orang yang menyewa para penculik itu,” rengek Diaz kepada ayahnya.


“Gara-gara dia pakaian lima belas ribu dolarku jadi kotor!”


“Sudah-sudah! Serahkan masalah ini kepada polisi!” bentak Jimmy kesal karena Diaz dekat-dekat dengan Frita.


“Pertama saya ingin mendengar penjelasan dari bu Gina. Sebenarnya kami juga sudah mendengar kejadian awalnya dari Diaz dan teman-temannya. Tapi saya lebih percaya dengan perkataan bu Gina,” ucap Jimmy.


“Baik,” ucap Gina. Kemudian dia menjelaskan semuanya dari awal mereka dihadang sampai mereka menghubungi polisi.


“Baik, sekarang saya ingin mendengar penjelasan dari kamu Fri, tapi jika kamu masih trauma sih tidak perlu dijelaskan juga,” kata Jimmy.


“Tidak apa-apa kok Jim, aku bisa mengatakan semuanya,” jawab Frita sambil memaparkan kejadian yang dia alami.


Frita menceritakan semuanya, hanya saja dia menegaskan kalau kematian para penjahat terjadi karena mereka berebut untuk menguasai uang tebusan sendirian. Dia juga mengatakan kalau Aditya datang ke sana setelah semuanya terjadi. Jimmy hanya mengangguk percaya.


“Baik aku percaya kok sama kamu. Selanjutnya Aditya, aku ingin tahu kejadian yang kamu alami sampai kami tiba di sana.”


“Baik pak, seperti yang bu Gina katakan tadi, saya sengaja mengejar Mbak Frita karena saya merasa bertanggung jawab sebagai orang yang dipekerjakan untuk mengawal Mbak Frita. Saya juga sengaja memakai pakaian seperti tadi untuk menakuti para penjahat dan ternyata hal itu memang berhasil,” tutur Aditya.


“Oh begitu ya, aku paham sekarang.”

__ADS_1


“Maaf,” ucap Arya tiba-tiba masuk ke dalam ruangan, tatapannya tertuju kepada Aditya.


“Boleh aku menambahkan beberapa pertanyaan Jim?”


“Boleh Ar silahkan.”


“Pertama untuk Frita, kenapa para penjahat itu tiba-tiba baku tembak dan saling membunuh? Padahal uang tebusannya juga belum tentu datang, itu sangat aneh sekali,” tanya Arya.


“Saya juga bingung pak, soalnya saya di kurung di sebuah ruangan. Yang saya dengar mereka tiba-tiba bercekcok dan mulai baku tembak, saya baru dikeluarkan dari ruangan setelah semuanya selesai. Ketika mereka hendak membawaku pergi, saat itulah Aditya tiba,” jawab Frita, di saat yang tenang seperti ini dia memang lebih cepat dalam berpikir.


“Oh begitu, masuk akal. Lalu Aditya darimana kamu mendapatkan baju tentara itu? Asal kamu tahu menggunakan atribut militer secara sembarangan bisa menjadi pelanggaran loh.”


“Kebetulan saya dulu pernah menjadi tentara,” ucap Aditya sambil menghela nafas dalam. Jimmy, Arya dan Frita terlihat terkejut hanya Pandu dan Gina saja yang tidak terkejut.


“Tapi cuma sebentar, saya sadar saya tidak cocok jadi tentara. Saya orangnya benar-benar penakut,” tambah Aditya tertawa kecil sambil garuk-garuk kepala.


“Oh, aku paham jadi karena itu juga pak Pandu mempekerjakannya sebagai pengawal ya?” sela Jimmy. Pandu tampak terkejut karena ternyata Jimmy tahu kalau Aditya adalah pengawal Frita.


“Duh maaf pak saya katakan itu kepada pak Jimmy,” kata Aditya sambil memberi kode kepada Pandu.


“Oh, iya memang benar itu adalah pertimbangan saya juga, walaupun pada akhirnya Aditya memang tidak bisa diandalkan,” jawab Pandu sambil tertawa kecil.


“Tapi jangan bilang orang lain lagi ya pak,” bisik Pandu.


Jimmy hanya mengangguk. Sedangkan Arya terus menatap tajam Aditya. Jimmy mengajak keluarga Frita untuk kembali keluar karena penjelasan mereka sudah cukup bagi polisi. Aditya adalah orang terakhir yang hendak keluar dari ruangan itu. Arya bangkit saat Aditya hendak pergi keluar.


“Tunggu,” kata Arya menahan Aditya.


“Ada apa ya pak?” tanya Aditya sambil tersenyum.


“Jujur saja dalam kejadian ini kami pasti akan membutuhkan bantuan dari kalian untuk mengejar dua penjahat yang melarikan diri. Karena itu kami sebagai polisi minta kerjasamanya jika tiba-tiba kami datang ke tempatmu,” jawab Arya.


“Oh kalau masalah itu mah boleh-boleh saja pak. Saya tidak masalah kok.” Jawab Aditya sambil melangkah pergi.


“Aku juga akan mengawasimu, Aditya,” gumam Arya sambil menatap tajam Aditya dari belakang.

__ADS_1


BERSAMBUNG…


__ADS_2