Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 12


__ADS_3

“Ada apa, Pak?” tanya Ellena sedikit gugup.


“Kok ada apa? Kan saya sudah bilang kalo malam ini kamu diundang Pak Sean untuk datang ke pestanya. Beliau menyuruh saya jemput kamu,” ucap Mathias yang masih melihat Ellena belum siap.


“Tapi saya ga berniat datang. Saya mau mengembalikan baju itu dan meminta maaf pada Pak Sean,” ucap Ellena sambil menatap Mathias.


“Mau mengembalikan baju dan menolak undangan beliau? Kamu yakin?”


“Yakin. Saya merasa tidak pantas menerima undangan ini, Pak.”


“Baiklah. Kembalikan baju dan undangannya dan besok jangan lagi datang ke kantor.”


“Lho ... ga bisa seenaknya gitu donk. Kan saya ga salah apa-apa. Lagi pula menolak datang ke pesta Pak Sean itu juga bukan suatu hal penting yang membuat saya dipecat begitu saja,” jawab Ellena berusaha untuk membela diri.


“Iya ... memang bukan hal yang penting tapi apa susahnya mencari alasan untuk memecat kamu dan membuat kamu tidak bisa bekerja di mana pun,” ucap Mathias sambil menatap tajam ke Ellena.


Ellena terdiam, dia tidak bisa menjawab lagi apa yang dikatakan oleh Mathias. Dia baru tersadar kalau orang seperti Sean mampu melakukan apa pun yang dia mau, bahkan menghilangkan dirinya dari muka bumi.


“Kenapa diam? Mau berangkat atau mau kembalikan bajunya?” tanya Mathias lagi.


“Berangkat,” ucap Ellena sambil tertunduk lemah.


Mathias tersenyum melihat kekalahan Ellena yang berusaha untuk menentang dia dan bosnya. Ternyata apa yang dipesan oleh Sean sebelum Mathias berangkat menjemput Ellena berguna juga. Sean menyuruh Matias untuk mengancam Ellena kalau wanita itu tidak mau datang ke pesta Sean.


Ellena berbalik dan masuk ke dalam rumahnya lagi. Dia berjalan dengan kaki yang lemas karena dia tidak mampu lagi untuk melawan Sean. Sekuat apa pun dia melawan, pasti Sean akan tetap menang, uang dan kekuasaan memang tidak akan pernah bisa dikalahkan oleh orang kecil seperti dirinya.


Siska yang dari tadi duduk di dalam sambil melipat pakaian yang akan disetrika, melihat Ellena melangkah dengan gontai masuk menuju ke kamarnya. Karena penasaran, dia segera mengikuti langkah putrinya untuk bertanya apa yang terjadi di depan tadi.


“Lho ... kok bajunya diambil lagi. Katanya mau dibalikin?” tanya Siska saat melihat Ellena mengambil baju dari dalam kotak tadi.


“Ga jadi dibalikin, Bu. Ellena mau pergi sekarang. Mau mandi dulu.”


“Pergi sekarang? Ell, siapa yang dateng?” tanya Siska penasaran.

__ADS_1


Ellena tidak menjawab. Dia sudah masuk ke dalam kamar mandi untuk segera membersihkan diri dan bersiap pergi ke pesta Sean. Dia tidak ingin terlambat dan membuat pria arogan itu berbuat seenaknya lagi. Ini sama seperti sedang mempertaruhkan nyawanya saja.


Siska yang penasaran dengan sosok tamu yang bisa mengubah keputusan Ellena pun akhirnya mengintip dibalik horden yang memisahkan ruang tamu dan ruang tengah. Dia ingin melihat bagaimana sebenarnya wajah papa Nathan itu.


“Apa itu ya orangnya ya? Ganteng sih, tapi kok kaya ga mirip sama Nathan,” gumam Siska yang mengintip dibalik horden.


“Siapa yang mirip Nathan, Anma?” celetuk Nathan yang keluar dari kamar.


“Eh bukan siapa-siapa. Ayo masuk, itu Mama mau pergi lagi.”


“Mama mau ke mana?”


“Mau ke acara kantor. Nanti Nathan bobo sama Anma dulu ya.”


“Iya, tapi mau sama Mama dulu,” ucap lucu Nathan sambil berlari ke kamar mamanya.


***


Ellena dan Mathias sudah meluncur ke tempat pesta berlangsung. Ellena duduk di bangku belakang mobil dan Mathias duduk di samping sopir. Dia saat ini benar-benar seperti seorang Cinderella yang akan datang ke pesta pangeran.


Mobil berhenti di depan sebuah hotel yang dijadikan Sean tempat untuk menyelenggarakan pestanya. Dia segera turun dari mobil dan berjalan mengikuti langkah Mathias di depannya.


Sebuah dress berwarna biru telur asin tanpa lengan dengan sedikit hiasan di lengan kiri di padu dengan pouch bag berwarna hitam yang senada dengan high heels model bertali yang dipakai Ellena membuat wanita itu terlihat sangat anggun. Rambutnya yang dibiarkan tergerai dan sedikit dicurly di bagian bawah serta sapuan tipis make up siap membius Sean malam ini.


Sean yang sedang berbincang bersama para tamunya, segera mengalihkan pandangannya saat dia melihat Ellena datang. Sean tersenyum saat melihat Ellena datang dengan memakai baju yang dia pilihkan. Tanpa berpamitan pada para tamu, Sean segera mendatangi Ellena yang tampak sangat cantik. Ellena seperti membawa magnet besar yang menarik Sean ke arahnya.


“Akhirnya kamu datang juga, ini pilihan tepat,” ucap Sean menyambut Ellena.


“Dari pada dipecat,” ucap Ellena sambil memutar bola matanya.


Sean tersenyum penuh kemenangan, “Kamu ga akan menyesal dateng ke sini. Ikut aku!”


Belum sempat menjawab, Sean segera meraih tangan Ellena dan membawanya pergi ke tengah ruangan. Ellena yang kaget, kini hanya bisa mengikuti ke mana langkah kaki Sean tertuju. Banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka berdua saat ini.

__ADS_1


Ternyata Sean mengajak Ellena ke tempat dia tadi berbincang dengan koleganya. Dia menyapa para koleganya kembali dan meminta maaf karena meninggalkan mereka tiba-tiba.


“Perkenalkan ini Ellena Hartono. Staf pemasaran kami yang sedang naik daun. Saya sangat merekomendasikan kalau nanti ingin tahu tentang produk kami yang lain, bisa langsung hubungi Ibu Ellena saja,” ucap Sean memperkenalkan Ellena.


“Waah udah cantik, pinter juga ya. Aset besar ini, Pak Sean.”


“Pasti, Pak. Oleh sebab itu dia dipromosikan oleh perusahaan sekarang ini. Kalau prestasinya sangat bagus, bisa saja kan dia langsung naik jadi manajer nanti,” ucap Sean sambil melirik ke Ellena.


“Pak Sean ini terlalu membanggakan saya. Saya tidak sehebat itu, hanya sedang banyak keberuntungan saja,” ucap Ellena sambil membagikan kartu namanya.


Sean tersenyum sendiri saat melihat aksi Ellena yang tidak menyiakan kesempatan untuk berkenalan dengan para klien kelas kakap. Sean memang sengaja mengundang Ellena ke tempat ini agar dia bisa memiliki koneksi klien yang lebih baik dan besar.


Sean tidak ingin, Ellena hanya bergantung pada klien kelas menengah yang selama ini diberikan Devan pada Ellena. Sean ingin menunjukkan kemampuan Ellena yang masih belum tergali itu.


Ellena menikmati pesta. Dia mulai terbiasa berbincang dengan para klien besar yang dikenalkan oleh Sean. Para klien juga tampak senang saat mereka berbincang dengan keramahan Ellena sebagai tenaga pemasaran yang diunggulkan Sean.


“Makasih, Pak. Makasih udah kenalkan saya pada orang-orang penting kaya mereka,” ucap Ellena saat dia dan Sean pergi mengambil minum bersama.


“Hmm ... kamu tinggal follow up saja nanti. Mereka pasti akan menghubungi kamu nanti. Ingat, peras uang mereka banyak-banyak ya,” ucap Sean sambil menarik satu sisi sudut bibirnya.


“Haah! Peras uangnya?”


“Iya ... suruh mereka membeli barang kita sebanyak mungkin. Itu akan mendatangkan banyak keuntungan untuk perusahaan kan?”


“Oh itu ... kalo itu pasti, Pak,” ucap Ellena sambil mengangguk.


Ellena sedikit melirik Sean yang berdiri di sampingnya. Pemuda yang selama ini tampak selalu menjengkelkan itu ternyata kalau bekerja sangat profesional. Pantas saja dia menjadi seorang presiden direktur diusia yang masih muda. Ada rasa kagum di hati Ellena dan berharap kelak Nathan akan memiliki sikap ini juga.


“Sean!” panggil seseorang dari arah pintu masuk.


Sean dan Ellena melihat ke arah pintu. Di sana ada seorang wanita dengan memakai gaun berwarna marun dengan belahan kaki yang sangat tinggi, memamerkan kaki jenjang yang akan membuat banyak orang terpesona.


Ellena kemudian menoleh ke arah Sean, dia melihat pemuda itu mengubah mimik wajahnya menjadi sedikit ketat. Rahangnya tampak lebih menonjol dibandingkan saat mereka berdua berbincang tadi.

__ADS_1


“Cari tempat duduk dan makan yang banyak. Jangan pergi sebelum aku suruh pergi!” perintah Sean tegas sambil terus memandang tajam ke arah wanita yang baru datang itu. Sikap ramah itu seketika berubah dingin saat wanita itu datang.


Bersambung....


__ADS_2