Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 188


__ADS_3

“Kami menyelamatkan nyawamu, jadi kamu berutang budi pada kami,” ucap Malik, sang komandan wilayah militer baru pada Aditya ketika mereka duduk santai di rumah peristirahatan milik Aditya di Jogja.


“Ada misi baru untukmu,” sambung Malik.


Aditya tidak tampak terkejut, seolah percakapan yang terjadi di sore hari yang sejuk ini sudah diprediksinya sejak ia dibebaskan Zaki dan Malik dari hukuman mati tempo hari.


“Misi baru, ya?”


“Ya, misi baru. Hanya saja kali ini misi yang akan kamu jalankan agak sulit.”


Aditya tak memotong perkataan lelaki paruh baya di depannya itu dan menunggu dengan penasaran.


“Misi tingkat S,” kata Komandan Malik akhirnya.


Misi tingkat S adalah misi rahasia yang hampir-hampir menyerupai misi bagi agen mata-mata tingkat dunia. Ini membuat Aditya terkejut. Ia merasa sama sekali tak pantas dan tak punya kemampuan untuk itu. Di sisi lain, ia ingin pensiun, dan menjalin hubungan serius dengan kekasihnya.


Aditya menghela napas panjang dan meletakkan gelas birnya di meja. Lalu bangkit dan berjalan ke tepi kolam renang. Dari situ terlihat pemandangan asri berupa bukit dan gumpalan awan. Terasa nyaman dipandang, tetapi perkataan Malik merusak keindahan itu.


Malik mengikuti dan terlihat penasaran kira-kira apa jawaban yang Aditya ucapkan.


Dengan rasa malu yang coba ditahan, Aditya malah menjawab, “Maaf, Komandan, aku tak bisa. Aku sudah lelah dengan semua tugas berat itu.”


Sebenarnya Aditya bisa saja mengatakan ‘ya’, dan ia juga tak selemah itu sebab di masa lalu berkali-kali ia menjalani misi yang mempertaruhkan nyawa. Namun, kali ini ia merasa terlalu berat saja.


“Tidak ada kata tidak saat perintah keluar dari mulutku, Dit,” kata sang komandan.


“Kalian masih tidak mempertimbangkan permohonanku untuk pensiun?”


“Tentu saja tidak! Talenta sepertimu sangat berharga untuk dilepas terlalu dini. Kau juga masih muda untuk mundur dari dunia militer. Apa yang membuatmu ingin pensiun di usia muda?”


“Entahlah. Aku hanya lelah.”


“Kamu bukan lelah. Berapa bulan setelah kejadian dengan para geng di Bandung itu? Kamu tidak terbiasa hidup tenang begini. Kamu terlalu banyak bersantai akhir-akhir ini, jadi tubuhmu mulai tidak sehat!” kata Komandan Malik dengan ketus.


“Tidak juga. Aku rutin berolahraga,” ujar Aditya tanpa berani menatap wajah sang komandan. Ia malah menjauh, melangkah mengitari sisi kolam, tapi Malik justru terus membuntutinya.


Malik menatap Aditya dengan kesal. Ia mengerti betapa pemuda itu sudah berbuat banyak bagi tentara dan negara. Hanya saja ia tidak bisa menyerahkan misi kali ini ke orang selain Aditya.


Akhirnya Malik bilang, “Zaki ingin kamu terlibat di sini. Ia mungkin sudah pensiun, tapi masukan dan pengalamannya masih berguna untuk kami.”


Aditya tak lupa perjalanannya bersama Zaki sejak awal dan bagaimana ia akhirnya bertemu Frita ketika itu. Zaki adalah komandan yang sangat dihormatinya dan ia akan melakukan setiap perintahnya tanpa ragu.


Kini Aditya tak mengerti apa yang harus dilakukannya, tapi memang benar yang tadi dibilang Malik tentang keadaan tubuhnya. Mungkin ia bukannya tidak sehat akhir- akhir ini, melainkan merasa kesepian saja. Ia bahkan tak lagi bertemu Frita sejak hakim membebaskannya dari hukuman mati.


Aditya membatin, “Mungkin memang ini panggilan hidupku.”

__ADS_1


Maka, ia akhirnya berkata, “Baiklah. Aku akan pergi. Misi tingkat S, apa pun itu. Aku akan pergi atas perintah Anda, Komandan.”


Malik terlihat senang mendengar itu. Ia memeluk pundak Aditya dan mengguncang si pemuda itu hingga membuat senyum Aditya yang sempat pudar akhir-akhir ini bisa kembali lagi.


Kompleks 1A di fasilitas penjara rahasia itu dijaga ketat. Kompleks 1A ditempati gembong mafia dan para pembunuh paling keji.


Di situlah Aditya ditempatkan, berpura-pura jadi sesosok pembunuh bayaran yang sedang sial karena gagal menghabisi salah satu anak pejabat. Para penjaga menggiring Aditya ke lorong panjang, lalu memasuki salah satu sel di kompleks bertuliskan angka 1.


“Di mana teman-temanku?” tanya Aditya keheranan melihat sel-sel kosong, tampak tak berpenghuni.


“Ini jadwal olahraga pagi. Kau harus ke sana juga sekarang. Jangan terlalu banyak mendekam di kamar. Orang baru sepertimu harus memulai pertemanan,” kata seorang penjaga.


Aditya mengangguk mendengar perkataan penjaga yang mengantarnya.


Setelah mengecek kondisi selnya yang sempit, Aditya pergi ke ruang olahraga yang ada di jantung fasilitas itu. Diiringi tatapan sinis dari penghuni penjara lainnya, Aditya tampak cuek.


“Hei lihat, orang baru. Sehari paling juga mampus,” bisik seseorang.


“Banci begitu sejam bakal mati!”


“Berani taruhan?”


Suara-suara itu terdengar menjengkelkan, tapi Aditya menahan diri.


Di bagian utara terlihat belasan bule kekar bertato beruang dan macan kumbang. Di sisi tenggara ada beberapa pria kurus jangkung berkepala plontos.


“Para napi di sini membuat kelompok masing-masing,” batin Aditya mengira-ngira di manakah targetnya itu berada?


Sebelum kemari, Malik memberinya arahan. Komandan itu membuka tablet dan menunjukkan sejumlah foto dan dokumen kepada Aditya.


Target mereka lelaki berperut buncit berumur 65 tahun, bernama Leo Kurniawan. Ia biasa dipanggil Si Tua Leo. Hanya saja, anak buah dan pasukan pembunuh bayarannya sangat profesional dan ditakuti di Asia Pasifik, bahkan hingga Amerika.


Aditya belum tahu tentang orang itu, tapi katanya dia memegang kendali sejumlah organisasi gelap internasional.


Malik bilang, “Si Tua Leo bukan orang sembarangan.”


“Bagaimana dia ditangkap?” tanya Aditya penasaran.


“Kau tidak percaya. Sesuatu terjadi hari itu. Dia mabuk berat setelah menenggak banyak arak lokal dari kliennya di Thailand. Ia kami ringkus setelah dengan sombong menyuruh para pengawalnya bersenang-senang tanpa menjaganya yang lagi teler!”


Aditya bilang itu mungkin sebuah jebakan. Malik tertawa keras mendengar dugaan itu. Menurut Malik, yang dibilang Aditya memang bisa saja terjadi.


“Tapi malam itu kacau. Banyak anggota kami, termasuk para interpol, yang harus gugur dan beberapa jadi cacat seumur hidup karena adu tembak dan tinju melawan para pengawal si tua itu begitu mereka tahu bos mereka ketangkap!”


“Jadi penasaran seberapa memuakkan wajah si tua itu.”

__ADS_1


“Kamu bakalan tahu.”


Namun, Aditya tidak juga tahu. Di manakah Si Tua Leo berada?


Karena merasa tidak jadi bagian dari siapa pun, Aditya menyendiri di bagian yang kosong. Seorang lelaki kekar bergigi kuning menghampiri dan meludah di depannya.


Aditya menatap tajam wajah lelaki yang bau napasnya tak sedap itu. Beberapa saat kemudian ia berujar, “Gosok gigi dulu gih. Bisa pingsan para bajingan di sini.”


“Bangsat!” teriak lelaki bergigi kuning.


Keributan pun dimulai.


Lelaki bergigi kuning menerjang Aditya, tapi pingsan begitu terpukul oleh tinjuan Aditya. Ilmu tarung Aditya tiada tandingan. Mereka yang sekilas melihat pasti meremehkan. Kini semua napi memasang kuda-kuda.


“Boleh juga orang baru ini!” kata salah satu dari mereka.


“Kita hajar rame-rame!”


“Ayo!”


Dalam waktu singkat, tujuh orang napi mengeroyok Aditya, tapi mereka tumbang satu per satu. Dengan mudah dia menghajar mereka hingga babak belur dan bahkan ada pula yang tangannya patah.


“Keparat kau! Siapa namamu, ha?!” bentak seorang napi saat Aditya baru saja mematahkan salah satu lengannya.


Aditya tak menjawab dan lanjut menghajar setiap napi yang menyerang dirinya.


Ruang olahraga itu begitu luas. Biasanya terlihat mereka yang paling kuat saja yang mendominasi tempat tersebut. Memang kadang terjadi perkelahian, tapi tak separah kali ini.


Ruang olahraga kini menjadi arena tarung milik Aditya. Setiap napi di sana bagai butiran debu yang mudah disapu.


Di ruang monitor.


Seorang petugas berkata, “Apa sebaiknya kita tertibkan?”


“Tunggu,” kata seorang perempuan.


Perempuan itu berkulit cerah, berparas cantik, dengan tubuh bak super model, tapi memiliki tatapan mata bagai macan. Ia terlihat ragu menyaksikan aksi Aditya di layar monitor yang tertangkap CCTV.


“Lain kali belajar menilai selain dari penampilan, Nancy,” begitulah kata komandan Malik kemarin, saat ia meremehkan Aditya yang baru ditemuinya.


Ya, Nancy juga orang terbaik Malik saat ini. Ia juga dilibatkan dalam misi tingkat S kali ini.


Nancy tersenyum kecil, menyadari kekeliruannya. Dia kira Aditya lelaki yang biasa saja. Kisah yang dituturkan Malik tentangnya seperti terdengar berlebihan.


Kini, Nancy melihat dengan mata kepalanya betapa kehebatan Aditya bukan omong kosong. Ia tak menyangka akan mendapatkan rekan macam Aditya. Tampan dan terlihat flamboyan, tapi sekaligus mematikan.

__ADS_1


Ketika itulah, Nancy melihat sebentuk bayangan di sudut salah satu layar monitor. Sebuah bayangan bergerak tampil, seketika membuat pertarungan di ruang olahraga terhenti.


Bersambung...


__ADS_2