
“Ada apa ya di luar kedengarannya ribut banget,” ujar Yana di ruang bagian pemasaran. Yana adalah karyawan Glow & Shine Co. yang menjadi pengagum Rani.
“Katanya Bu Frita dilamar Erik dari Unesia Corp.,” jawab Angga.
“Lu dapet berita dari mana Ang?”
“Itu Pak, dari anak-anak Customer Service, katanya mereka lagi nonton acaranya.”
“Lah bukannya kerja malah nonton acara lamaran,” gerutu Yana.
“Kalah Pak Yana, kapan dong mau ngelamar Rani? Ntar keburu direbut orang lain.”
“Mustahil ada laki-laki yang bisa dapetin Rani. Kalo ada juga cuman gua doang Ang,” kata Yana menyombongkan diri.
“Lah. Dulu bukannya pernah ditolak sama dia,” ledek Angga.
“Itu mah dulu. Sekarang mah lain lagi ceritanya.”
Yana kembali bekerja. Angga memberitahukan kalau acara lamaran Frita terganggu oleh Aditya yang mau mengantar Frita ke Hotel Universal. Yana dan Angga tak henti hentinya tertawa saat membahasnya. Mereka menganggap kalo Erik benar-benar sial. Setelah kegaduhan selesai kegiatan di kantor Glow & Shine Co. kembali berjalan seperti biasanya.
Sepulang dari kantor, Yana dan Angga memutuskan untuk menuju tempat billiard sekalian jalan-jalan mengelilingi kota Bandung. Dia ingin menenangkan pikiran mereka karena banyak para pelanggan yang mau membatalkan produk kosmetik dari Glow & Shine Co. akibat rumor yang beredar. Yana juga ikut diminta penjelasan terkait hal itu oleh Pandu saat meeting tadi siang.
Ketika mereka berada di tempat billiard tampak di TV menayangkan kasus penembakan yang terjadi di Hotel Universal. Hal itu sontak saja membuat Yana dan Angga keget serta khawatir karena Frita dan Rani sedang berada di sana malam ini.
“Yan, itu bukannya hotel tujuan Frita sama Rani?” tanya Angga sambil mencolek Yana.
“Iya bener Ang. Haduh putri senja gua aman nggak ya?” gumam Yana dengan cemas.
“Nggak tahu lah. Tapi kalo gua jadi penjahatnya ya pasti gua bawa tuh Frita sama Rani, mereka kan cantik banget.”
“Jangan nakut-nakutin lah Ang. Gua jadi makin cemas nih.”
“Itu cuma andaikan saja Yan.”
“Duh mana gua telepon nggak diangkat angkat.”
“Sudah-sudah nanti juga ada beritanya lagi,” hibur Angga.
__ADS_1
Yana kembali bermain billiard. Setelah sekian lama tidak ada berita sedikitpun yang menyebutkan bahwa ada korban penembakan yang bernama Rani. Dia akhirnya bisa lega juga karena tampaknya Rani memang tidak menjadi korban penembakan di hotel itu.
Setelah puas bermain billiard, mereka berdua memutuskan untuk pulang karena sudah larut malam. Diperjalanan pulang Yana sedikit memperlambat laju mobilnya karena ada sebuah mobil di pinggir jalan yang cukup familiar bagi dirinya.
Wajah Rani tampak pucat ketika mengingat kejadian mengerikan yang dialaminya. Aditya mengerti apa yang tengah dirasakan oleh Rani.
“Mbak,” tegur Aditya.
“Mbak Rani,” panggil Aditya lagi karena Rani tidak segera menyahut.
Tampak Rani terkejut ketika tangan Aditya memegang tangannya. Tangan Rani terasa begitu dingin ketika Aditya pegang. Mungkin seharusnya dia memang menginap saja di rumah sakit dulu untuk mendapatkan perawatan.
“Wajah Mbak kelihatan pucat kayak gitu,” kata Aditya sambil memegang kening Rani.
“Emang iya?” tanya Rani sambil melihat byangannya di kaca mobil.
“Iya nih, kayaknya mbak demam deh. Kita kembali ke rumah sakit yuk biar diperiksa lagi,” kata Aditya sambil menghentikan mobil.
“Nggak usah Pak, kita langsung pulang saja. aku cuma inget kejadian di hotel tadi saja.”
“Mbak sebaiknya jangan inget inget kejadian itu deh nanti sakit.”
Aditya kemudian menyuruh Rani untuk mengatur nafasnya agar lebih teratur. Dia juga berkata agar Rani duduk dengan rileks. Aditya lalu meminta Rani untuk membelakanginya. Aditya memijat beberapa titik di tubuh Rani agar tidak terlalu tegang. Tampak Rani sudah terlihat lebih santai.
“Pak Aditya pernah jadi tukang pijat juga ya?” tanya Rani penasaran karena dia merasa pijatan Aditya laiknya tukang pijat professional.
“Nggak kok mbak, saya cuma dituntut agar bisa mengurus diri sendiri saja. Ya kalo mbak mau saya bisa kok jadi tukang pijat pribadi Mbak Rani.”
“Ih pak Aditya ini pake tukang pijat pribadi segala,” kata Rani sambil tertawa.
“Beneran loh mbak. Gratis juga nggak apa-apa asalkan saya bisa setiap hari ketemu sama mbak Rani,” ujar Aditya.
“Ih mulai gombal deh.”
Rani tampak tersipu malu mendengarnya. Entah kenapa jantungnya mendadak berdebar-debar sejak Aditya mengatakan kalimat terakhir tadi. Padahal selama ini dia tidak pernah sedikitpun terbuai dengan gombalan seorang pria. Malam ini, hatinya yang sudah lama mati akan rasa cinta seakan mulai hidup kembali.
“Gimana mbak, apa sudah baikan?” tanya Aditya sambil menyudahi pijatannya.
__ADS_1
“Lumayan sekarang mah sudah agak mendingan,” jawab Rani.
“Ih berarti masih belum membaik sepenuhnya dong. Sini saya pijat lagi,” kata Aditya sambil memegang pinggang Rani.
“Ih geli pak Aditya,” ucap Rani sambil menjauh.
Mereka berdua tertawa senang. Entah kenapa hatinya terasa tenang ketika bercanda dengan Aditya. mungkin jika pria lain yang melakukan hal itu kepadanya dia pasti sudah marah-marah.
Rani merasa jika Aditya itu orang yang baik dan perhatian, dia bingung kenapa Frita malah membenci orang sepertinya. Apa karena pakaiannya yang lusuh dan tidak rapi atau kenapa? Dia masih belum tahu alasan pastinya. Yang jelas baginya hal itu tidak akan menjadi halangan untuk berteman dengan seseorang.
“Mbak Rani ternyata lebih baik dari yang saya pikir,” ujar Aditya sambil kembali mengemudikan mobilnya.
“Maksudnya?” tanya Rani heran.
“Saya kira mbak Rani ini sama seperti atasan-atasan yang lainnya yang pemilih kalo cari teman, nggak suka bercanda sama bawahan dan selalu menyalahkan bawahannya. Tapi dalam beberapa jam saja saya mengerti kalo mbak ini memang orang yang baik,” puji Aditya sambil tersenyum kepada Rani.
“Kamu ini bisa saja. Gimana ya, aku pikir nggak ada salahnya juga buat berteman dengan siapa pun. Dulu aku juga merasakan bagaimana susahnya jadi bawahan, jadi mana mungkin saya melakukan hal yang sama.”
“Tapi setelah beberapa jam bersama Mbak. saya juga mengerti, ternyata selama ini saya belum pernah merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.”
“Kenapa?”
“Ya karena ketika bersama mbak Rani lah saya baru merasakannya.”
“Ih dari tadi kamu ini gombal terus ya,” kata Rani sambil tertawa.
Mereka berdua kemudian tertawa. Dalam beberapa jam saja tampaknya mereka berdua sudah bisa akrab.
Aditya menghentikan mobilnya di depan Apotek 24 jam. Dia hendak membeli obat penenang untuk Rani.
“Ini obatnya Ran,” kata Aditya sambil memberikan plastik berisi obat.
“Terima kasih Dit. Duh padahal sudah aku bilang nggak usah, ini berapa ya harganya?” tanya Rani.
“Aku nggak mau jawab kalo kamu mau ganti uangnya. Aku juga nggak mau jawab kalau kamu cuma ingin tahu doang.”
“Lah aku harus bagaimana dong?”
__ADS_1
BERSAMBUNG…