Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 172


__ADS_3

Aditya dan Egi sudah sampai di restoran tempat Goni menunggu. Di luar restoran itu terlihat sudah ada beberapa mobil mewah terparkir. Mereka berdua kemudian masuk ke dalam.


“Dari mana saja lu Egi?!” teriak Goni dengan tatapan kesal.


“Dia baru saja aku ajak jalan-jalan sebentar di luar sana,” jawab Aditya.


“Yang gue tanya itu Egi bukan lu!” bentak Goni.


“Gue yang maksa dia. Karena gue kesal setelah tahu kalau lu melarang mereka bertemu gue lagi,” jawab Aditya. Goni hanya terdiam sedangkan Arf, Adrian dan Egi hanya menunduk.


“Kalian jangan coba membodohi kami. Gue tahu kalian pergi ke wilayah geng Merak untuk membantu mereka,” kata Vendi.


“Benar, karena itu lu bersama anak buah lu harus dihukum!” teriak Goni.


“Sudah gue bilang kan kalau mereka gue paksa buat pergi menolong geng Merak,” jawab Aditya.


“Untuk apa mereka mau mengikuti perintah orang yang sudah tidak ada hubungannya dengan geng Gagak?”


“Lu petinggi baru di sini mana tahu persahabatan kami. Kami selama ini selalu saling mendukung satu sama lain.”


“Cih, memangnya apa alasan mereka mau mendukung lu?”


“Gue jatuh cinta sama cucu Ketua geng Merak. Ratna,” jawab Aditya dengan tegas. Goni, Vendi dan ketiga rekannya sangat terkejut mendengar pernyataan Aditya.


“Bukankah itu alasan yang jelas kenapa mereka mau membantuku?” tanya Aditya.


“Tetap saja mereka berani melanggar laranganku! Mereka pasti bakal gue hokum!” tegas Goni.


“Dasar tidak tahu malu. Lu harusnya ingat kalau tiga wilayah geng Gagak tidak diambil oleh geng Merak waktu itu. Kalau lu sekarang mau menghukum mereka maka gue nggak akan segan-segan merebut tiga wilayah itu dan memberikannya kepada geng Merak!” tantang Aditya.


Goni hanya bisa terdiam. Mereka mungkin bisa saja melawan Aditya tapi tiga petinggi lainnya pasti tidak akan mau menuruti perintahnya. Hal itu hanya akan menimbulkan perpecahan saja di dalam geng Gagak. Dia tidak menyangka jika Aditya malah berbalik mengancam dirinya.


“Bagaimana? Tapi jika kalian berjanji tidak akan menghukum anggota yang ikut membantu geng Gagak maka gue juga nggak akan bertindak,” kata Aditya sambil tersenyum.


“Cih, kalau begitu aku tidak akan menghukum mereka. Tapi jika mereka berani menentang perintahku lagi maka gue nggak akan segan menghabisi mereka,” jawab Goni sambil menahan amarahnya.

__ADS_1


“Baguslah kalau begitu, gue harap lu menepati janji lu. Kalau gue denger lu menghukum mereka maka bersiap-siap saja buat kehancuran lu,” gertak Aditya. dia kemudian berpamitan kepada tiga rekannya. Dia ingin segera pergi menuju rumah sakit untuk menengok Ratna.


Goni hanya terdiam kesal, semua mata petinggi tengah menatapnya. Karena kesal dia segera pergi meninggalkan tempat makan-makan. Vendi hanya tersenyum sambil mengikutinya dari belakang. Sedangkan Egi, Adrian dan Arfa berkumpul untuk membahas kejadian yang sebenarnya.


“Entah kenapa sejak Vendi diangkat menjadi salah satu petinggi di geng kita Ketua terlihat begitu sensitif dengan berbagai hal yang berhubungan dengan bos,” ucap Egi.


“Ya, padahal dia sejak dulu selalu mengharapkan bos kembali lagi bergabung dengan kita, tapi sekarang kelihatannya dia benar-benar sudah terpengaruh oleh pola pikir Vendi,” timpal Adrian.


“Penjilat seperti dia memang dengan mudah bisa menghasut Ketua. Cih! Itulah kenapa sejak awal ketika dia mau diangkat jadi petinggi oleh Ketua aku tidak setuju,” gerutu Arfa.


“Ya, tapi mau bagaimana lagi kita sudah berhutang budi kepada Ketua selama ini. Aku yakin bos juga mempertimbangkan hal itu, jika tidak mungkin dia sudah menghajar Ketua habis-habisan.”


“Ya, kemungkinan besar memang seperti itu yang bos pikirkan.”


Goni termenung melihat pemandangan kota dari restoran. Tangannya mengepal kuat, dia tidak menyangka jika kini Aditya sudah berani untuk bersikap seperti itu kepadanya. Tapi semarah apapun tetap saja dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk melawan Aditya. tiba-tiba Vendi menghampirinya.


“Aku tidak menyangka jika di depan Ketua saja dia sudah berani bersikap seperti itu,” pancing Vendi.


“Kamu benar, tidak seharusnya dia bersikap itu di depan banyak orang!”


“Kalau dibiarkan saja bisa-bisa harga diri Ketua akan jatuh sampai semua anggota geng Gagak tidak ada yang mempercayai Ketua lagi. Bagaimanapun anda adalah mantan Ketua dari Aditya. anda harus menunjukkan kalau anda sangat kuat kepadanya.”


“Saya lebih menghormati Ketua daripada dia. Kalau begitu bolehkah saya menghabisinya?”


“Jangan! Kemampuannya tidak selemah itu. Dia benar-benar seperti iblis jika sudah marah. Aku punya rencana lain untuk melemahkannya terlebih dahulu.”


“Apa itu Ketua?”


“Kemarin aku sudah menyuruh seseorang untuk menghabisi Bima tapi ternyata gagal. Kali ini aku ingin kamu yang melakukannya bersama anak buahmu.”


“Apa hal itu bisa melemahkan Aditya?”


“Tentu saja. Kamu dengar sendiri kalau dia jatuh cinta kepada cucu si tua bangka itu. Jika kakek dari gadis yang dicintainya tewas pasti akan membuatnya sedikit melemah. Setelah itu kita bisa menghabisi wanita yang dicintainya agar dia semakin menderita. Setelah jiwanya hancur barulah kita bisa menghabisinya langsung,” jelas Goni sambil tertawa licik.


“Baiklah Ketua,” jawab Vendi dengan senang.

__ADS_1


***


Aditya pergi menggunakan taksi online menuju rumah sakit tempat Bima dan Ratna di rawat. Sepanjang perjalanan dia terus merasa gelisah, dia khawatir kalau terjadi sesuatu kepada Ratna. Jika saja dia tahu identitas si penghianat lebih cepat mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi.


Tak berapa lama kemudian dia sampai ke rumah sakit. Beberapa anggota geng Merak tampak berkeliaran di sekitar halaman rumah sakit. Dia kemudian langsung ke dalam untuk mencari keberadaan Ratna. Namun tak kunjung ditemukan. Dia kemudian menuju ruangan Bima. Di sana Viktor dan Brian sedang berbicara dengan wajah yang bahagia.


“Maaf, Ratna bagaimana keadaan Ratna?” tanya Aditya.


“Ratna baik-baik saja. Dia hanya mengalami luka ringan saja,” jawab Brian.


“Kalian berdua terlihat bahagia sekali.”


“Ketua kami baru saja sadarkan diri,” jawab Viktor. Aditya hanya tersenyum saja karena sejak lama Bima memang sudah sadar, dia kemudian masuk ke dalam ruangan.


“Aditya, kakek sudah sadar Dit,” ucap Ratna sambil tersenyum.


“Iya aku juga senang kok,” jawab Aditya sambil tersenyum menatap Bima.


“Aku sudah mendengar semuanya dari Ratna. Kamu memang hebat bisa sampai mengetahui siapa pelaku yang meracuniku Dit,” puji Bima.


“Saya hanya melakukan apa yang saya bisa. Saya juga minta maaf karena kalau saja saya bisa mengetahui identitas si penghianat sejak lama pasti kejadian seperti ini tidak akan terjadi.”


“Tidak masalah. Yang sudah terjadi biarkan saja, lagipula ini bukan kesalahanmu. Aku bahkan berterimakasih karena kamu mau membantu kami,” kata Bima. Aditya hanya tersenyum menanggapinya. Malam itu Aditya menginap di rumah sakit bersama Ratna. Dia juga tidak lupa mengabarkan keadaannya kepada Frita agar tidak cemas.


Besok paginya Bima bersiap untuk pulang. Di luar rumah sakit dia mengucapkan terimakasih kepada semua anggota gengnya yang sudah mau menemaninya di rumah sakit itu. Dia juga meminta maaf karena tidak bisa memberikan solusi ketika perebutan wilayah kemarin.


“Untuk kalian yang sudah menemani Ketua di sini aku ucapkan terimakasih. Sekarang kalian bisa pergi ke tempat masing-masing untuk beristirahat, lain waktu setelah semuanya siap kita pasti akan merebut kembali wilayah kita yang hilang!” ucap Brian disertai sorakan anggota geng Merak.


“Kita pasti akan membalaskan kematian rekan-rekan kita!” tambah Viktor.


“Ya!!! Kita akan buat geng Serigala menyesal!” timpal yang lainnya.


“Kamu akan ikut ke rumah kan Dit?” tanya Ratna.


“Tentu saja, ada yang masih ingin aku diskusikan dengan kakekmu,” jawab Aditya.

__ADS_1


Bima dan para petinggi lainnya bersama Aditya pergi menuju markas besar mereka. Sementara itu di kejauhan beberapa pasang mata tengah memperhatikan gerak gerik geng Merak. Ketika rombongan Bima pergi meninggalkan rumah sakit mereka juga bergegas mengikutinya dari belakang.


BERSAMBUNG…


__ADS_2