Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 221


__ADS_3

Pandu mendapatkan telepon sesaat setelah Pak Lurah dan para polisi yang terlibat kasus korupsinya ditahan.


“Wah, sepertinya aku harus langsung balik, Dit,” katanya pada Aditya. “Ada urusan mendadak di Bandung. Ayo, Frita, kita pulang.”


Frita menatap sebentar pada papanya, lalu memberi isyarat mata seakan-akan inilah yang seharusnya ia butuhkan, mengenal lebih dekat paman dari Aditya.


Saat itu awak media mulai berdatangan. Entah siapalah yang menelepon mereka. Mungkin Yusi atau Deri. Atau Diana? Itu sudah tidak penting lagi. Masalah mereka dengan Dirga si tukang bikin onar kini sudah beres.


Pandu segera mengerti, “Baiklah kalau begitu.”


Lalu dia berbisik pada putrinya, “Apa sebaiknya kita bicarakan saja sekarang juga dengan pamannya? Soal rencana pernikahan kalian?”


“Jangan dulu, Pa!” balas Frita segera.


Tidak ada yang mendengar obrolan mereka sebab saat itu Pandu melipir, menjauh dari kerumunan wartawan yang mulai memadati halaman parkir kantor polisi.


“Ya sudah. Kalau begitu Papa balik dulu, ya. Kamu akan dijemput mungkin besok lusa. Gimana?”


“Sudah, itu gampang,” kata Frita, lalu memeluk papanya dan melepasnya pergi.


Pandu meminta tolong pada salah satu teman Ratna—yang tadi mengantarnya ke sini—untuk memberinya tumpangan ke lapangan di mana helikopternya tadi ‘diparkir’.


“Terima kasih, Ratna. Saya harus balik,” kata Pandu pada Ratna yang mengangguk pendek.


Frita segera mendekat pada Aditya yang akan masuk ke mobil Ratna.


“Papamu pergi?” tanya Ratna dengan tanpa melihat wajah Frita.


“Ya.”


“Oke, ayo naik mobilku sekalian,” sahut Ratna.


Frita sebenarnya tadi ingin mengajak Aditya berjalan kaki, sambil bicara banyak hal, bertanya tentang siapa sosok Diana yang sejak tadi terlihat begitu peduli pada pamannya. Tentang apa pun yang ada di desa ini.

__ADS_1


Tampaknya Aditya bisa membaca isi hati Frita. Maka, ia bilang pada Ratna, “Kami jalan kaki saja. Lagi pula cuma 5-7 menit saja sampai ke rumah pamanku.”


“Hmm, ide yang bagus,” sahut Ratna. “Boleh aku ikut?”


Aditya agak bingung juga menjawabnya, tapi tak mungkin melarang Ratna. Toh dia juga jalan dengan kakinya sendiri.


Akhirnya hanya Paman Salim dan Diana yang menumpang salah satu mobil milik Ratna. Mobil-mobil Ratna lainnya hanya berisi teman-temannya alias mantan anak buah mendiang sang kakek, yang sebagian besar tidak Aditya kenal. Ratna segera menyuruh dua di antara mobil itu kembali ke Bandung.


“Kamu tetap di sini, Rin,” kata Ratna pada Garin, seorang teman yang mengantar kemari.


“Ya, iyalah. Memangnya kamu kutinggal begitu saja di sini?”


Maka, perjalanan mereka bertiga tak banyak diselingi percakapan. Ratna merasa nyaman-nyaman saja, menikmati suasana perdesaan, dan kini mulai mengerti kenapa dia, Aditya, mendadak terlihat berbeda. Jelas dia merindukan tempat sebaik ini.


“Kehidupan desa memang menyenangkan, Lihat itu,” kata Ratna sambil menunjuk ke kejauhan.


Di tengah sawah, terlihat kerbau sedang membajak, dan para petani berjalan pelan melintasi pematang. Siluet mereka terlihat bagai lukisan eksotik yang tak ternilai harganya.


Alhasil, Aditya merasa sangat canggung berada di antara mereka. Dan menyesal ia sudah memutuskan jalan kaki.


“Tahu begini lebih baik tadi naik mobil saja,” batinnya saat itu.


Sementara itu, Diana dan Paman Salim tidak henti bertanya-tanya pada teman Ratna yang bernama Garin tadi. Garin mengantar mereka ke rumah Paman Salim dan tak henti mendapat pertanyaan dari keduanya. Terutama tentang siapa saja mereka dan apa yang dilakukan Aditya di Bandung?


“Wah, sungguh, saya sama sekali tidak tahu,” kata Garin terlihat kikuk. Sejujurnya, ia sedikit banyak tahu soal Aditya, walau belum mengenalnya secara personal. Tapi soal seperti ini Garin tahu ia tak berhak membicarakannya.


Garin pun hanya bisa menjelaskan bahwa dahulu Aditya pernah berteman dekat dengan Ratna. Dan pernah juga bekerja dengan Pandu serta Frita.


“Itu saja yang saya tahu, Pak. Lainnya saya kurang mengerti. Belum mengenal Mas Aditya juga,” kata Garin.


Diana mendapat telepon begitu mereka turun di depan rumah Paman Salim. Ya, itu telepon yang juga semalam didapatnya ketika ia baru saja merobek surat perjanjian dari tangan Dirga.


Telepon itu dari sang ayah.

__ADS_1


Ayah Diana cemas mendengar kabar ia tak bisa pulang ke Surabaya sesuai janjinya jika naskah novelnya kelar ditulis. Ketika ditanya ada apa, Diana mencoba mengelak. Jika saja tak ada kejadian dengan Dirga, Diana mudah saja pulang. Bahkan ia juga bisa pulang meninggalkan Paman Salim tanpa harus peduli pada apa yang bakal si Dirga itu perbuat.


Hanya saja, Diana peduli pada Paman Salim. Tapi sulit menjelaskan pada ayahnya di telepon.


Karena khawatir, sang ayah menjemputnya kemari.


Diana mendengar ayahnya bilang, “Sekarang Ayah sudah ada di desa tempatmu itu.”


Tentu saja Diana kaget. Sang ayah baru bisa menemukan rumah Paman Salim usai Aditya dan yang lain sampai. Mereka berkenalan dengan cara yang sangat aneh. Dalam sehari, entah berapa wajah baru yang mampir ke ingatan Paman Salim. Tapi yang paling merasa aneh adalah Aditya. Ialah yang secara tak sengaja ‘mengumpulkan’ orang-orang ini di sini.


Diana dan sang ayah pamit untuk berkemas di rumah kontrakannya. Saat itu Diana bilang, “Semoga ke depan tidak ada lagi masalah. Mungkin lain waktu aku akan datang lagi kemari.”


Diana berpamitan dengan Paman Salim tanpa banyak kata. Paman Aditya itu jelas sangat berterima kasih pada Diana dan menjelaskan pada ayahnya bahwa dia sangatlah beruntung mendapatkan putri berbudi luhur.


“Di saat banyak orang tak peduli pada saya, Diana datang menolong saya. Tak tahu harus berbuat apa untuk membalasnya,” kata Paman Salim.


Ayah Diana hanya bisa tersenyum, bangga pada putrinya yang selama ini dia pikir tidak sepeduli itu pada orang lain. Setelah keduanya pergi, obrolan tentang dana yang dikorupsi Pak Lurah dimulai. Mister Yori masih ada di kantor polisi untuk menunggu seorang pegawai yang akan menyerahkan bukti-bukti agar lebih memberatkan posisi Pak Lurah. Jadi, Paman Salim hanya bisa bertanya pada Aditya.


Tentu Frita dan Ratna sudah tahu ini. Yusi dan Deri juga sama. Maka mereka diam menunggu Aditya bicara.


“Yah, akhirnya harus terbongkar semua. Mau bagaimana lagi?” ujar Aditya mulai pasrah. “Lagi pula aku enggan terus menutupi ini dari Paman.”


“Menutupi apa?” tanya Paman Salim.


Maka, di situlah Aditya menjelaskan bahwa dana yang disumbangkan oleh sosok penyumbang misterius itu adalah uang tabungannya sendiri. Ia sengaja melakukan itu untuk membalas kebaikan ‘desa’ ini pada dirinya.


“Tapi, karena sebagian uang itu sudah dikorupsi, kita tidak tahu berapa yang tersisa. Mister Yori nanti akan menghubungi saya,” katanya.


Paman Salim berkata, “Sudah kuduga kamu tak mungkin bekerja sebagai seorang satpam! Masalahnya orang-orang kota ini. Juga helikopter itu! Mana mungkin?!”


Ekspresi Paman Salim waktu mengatakan itu lumayan lucu juga, membuat Frita dan Ratna berusaha menahan tawa.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2