Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 29


__ADS_3

Aditya mengernyitkan dahinya ketika kedua pria itu menghampiri mobilnya. Erik hanya tersenyum saja melihatnya. Dia berbalik hendak memperingatkan Erik agar jangan keluar dari mobil. Namun dia kaget saat melihat Erik tersenyum. Dia pikir kelihatannya ini memang sudah direncanakan Erik.


“Hei keluar lu!” bentak Gilang kepada Aditya sambil mengetuk kaca mobil.


“Ada perlu apa ya kalian menghadang kami?” tanya Aditya sambil keluar dari mobil.


“Itu temanmu?” tanya Gilang sambil menunnjuk Erik.


“Tentu saja lah. Memangnya kenapa?” tanya Aditya.


“Bot kamu urus temannya, biar aku urus orang ini,” perintah Gilang kepada si Botak.


“Siap lah.”


Aditya kemudian ditarik oleh Gilang, dengan sekuat tenaga Aditya mencoba untuk mempertahankan posisinya berdiri. Namun dengan cepat kakinya disapu oleh Gilang, ketika tubuhnya roboh Gilang langsung mencengkram baju Aditya, mengangkatnya lalu membantingnya ke tanah.


Tampak Aditya meringis kesakitan. Terlebih tangan kiri dan punggungnya masih belum pulih sepenuhnya. Dia rasa Gilang tidak bisa dianggap remeh. Setidaknya kemampuan Gilang lebih hebat dari para penjahat yang pernah dia hadapi dijalanan. Aditya segera berdiri kembali tampak dia akan langsung serius menghadapi Gilang.


“Keluar lu!” bentak si Botak kepada Erik.


“Gua?” tanya Erik heran sambil menunjuk dirinya sendiri.


“Iyalah! Keluar cepetan kalau masih ingin hidup!”


“Ada apa ini. Kamu tidak tahu siapa gua?” tanya Erik, dia bingung kenapa orang yang disewanya malah membentaknya.


“Gua tidak peduli siapa lu! Yang jelas gua diperintahkan buat ngehajar orang yang lewat jalan ini!” bentak si Botak sambil melayangkan tinjunya, namun gerakannya terhenti saat Erik berbicara.


“Gua, ini gua yang menyewa kalian berdua,” jelas Erik dengan wajah ketakutan.


“Jangan pikir lu bisa menipu gua ya!” teriak si Botak.

__ADS_1


Erik terkapar di tanah tidak sadarkan diri setelah wajahnya dihantam pukulan si Botak. Melihat kejadian itu anak buah Erik segera berlari sambil menghentikan si Botak. Mereka juga menjelaskan kalau itu adalah Bos mereka yang menyewanya. Si Botak tampak bingung sedangkan Aditya hanya tertawa kecil.


Tampaknya rencana Aditya mengaku bahwa Erik itu temannya berjalan dengan lancer. Gilang yang merasa ditipu segera menyerang Aditya terus menerus, namun Aditya bisa mengimbanginya. Si Botak yang marah juga ikut menyerang, Aditya mulai kewalahan menghadapi mereka berdua.


Dua orang anak buah Erik segera membawa Bosnya ke rumah sakit karena dari hidung dan mulutnya mengeluarkan darah. Sedangkan tiga orang lainnya bergabung untuk menghajaar Aditya. Karena kalah jumlah Aditya tampak begitu kesusahan, dia beberapa kali mundur untuk menjaga jarak dari para penjahat itu.


“Kalian tidak bisa apa duel secara jantan!” teriak Aditya.


“Kami ini penjahat bukannya atlet kompetisi,” jawab Gilang.


“Heh, aku pikir penjahat itu pria sejati, ternyata kalian cuma banci!” ledek Aditya.


“Keparat!” Gilang maju sendirian sambil melayangkan tinju kanannya.


“Gitu dong dari tadi kalo emang laki!” ujar Aditya sambil menahan tinju Gilang.


Gilang memukul, Aditya menghindar sambil melayangkan pukulannya namun berhasil ditahan oleh Gilang. Dengan cepat Aditya memutar tubuhnya dan melompat hendak menendang leher Gilang namun dia bisa menghindar. Serangan demi serangan terus dialkukan oleh keduanya namun tampaknya keadaan cukup seimbang.


Beberapa kali si Botak bahkan harus tersungkur karena terkena serangan Aditya. Melihat dua orang itu kesusahan maka tiga orang anak buah Erik kembali ikut menyerang Aditya. Lagi-lagi Aditya terpojok karena lawannya terlalu banyak, terlebih kondisinya masih belum pulih seperti biasanya. Aditya perlahan mundur mendekati pepohonan di tepi jalan.


“Memang susah kalo mau bersikap gentle dengan banci! Sekali banci tetep saja banci!” ledek Aditya.


“Gua nggak peduli! Yang jelas hari ini gua bakalan habisin lu! Inget nggak sama dua orang anak buah gua yang lu hajar pas lamaran bos Erik?” tanya anak buah Erik.


“Oh, dua orang banci lainnya itu ya,” jawab Aditya sambil terus mengulang kata banci. Dia jelas-jelas tidak mungkin saat ini mampu menghadapi mereka berlima.


“Kurang ajar! Lu pasti nyesel di akhirat nanti!” bentak anak buah Erik.


“Loh loh malah bawa-bawa akhirat, emangnya lu sudah pengen banget mati ya?” tanya Aditya sambil tersenyum menghina.


“Lu yang bakalan mati!” bentak anak buah Erik sambil menghunuskan pisau lalu menyerang Aditya.

__ADS_1


Dengan mudah Aditya menahan tangan si penjahat dan menusukan pisau di tangannya ke perut anak buah Erik sendiri. Tampak anak buah Erik menjerit dengan darah berceceran keluar dari perutnya.


Melihat hal itu membuat anak buah Erik lainnya gemetar ketakutan melihat kekejian Aditya. Tampak Aditya tertawa menyeramkan. Dia menunjukan aura membunuh yang luar biasa laiknya pembunuh berdarah dingin. Adit kemudian menghajar anak buah Erik lainnya hingga terkapar..


“Siapa lagi selanjutnya?” tanya Aditya dengan senyum mengerikan.


“Kelihatannya lu bukan cuma sopir biasa,” ujar Gilang sambil menghunuskan pisau.


“Itu tergantung orang yang gua hadapi. Kalau mereka berniat membunuh ya mau gimana lagi, gua juga masih pengen hidup. Gua cuma berusaha untuk membela diri.”


“Lu pikir gua kayak mereka bertiga? Gua tahu persis seperti apa rupa seorang penjahat yang sebenarnya.”


“Sayang sekali lu nggak berada di pihak kami,” timpal si Botak sambil memainkan pisau di tangannya.


“Kelihatannya ini akan menjadi ajang perebutan nyawa, menarik juga,” ucap Aditya sambil tersenyum.


Gilang maju kembali namun tubuhnya roboh setelah kakinya ditendang oleh Aditya. Dengan cepat Aditya melayangkan pisaunya ke arah leher Gilang namun hanya menggoresnya saja sedikit karena Gilang menghindar. Tampak darah keluar dari luka goresan yang ada di lehernya. Aditya tersenyum sambil memainkan pisaunya.


“Wah wah sudah lama rasanya aku tidak terluka seperti ini,” ujar Gilang tertawa sambil memegangi lehernya.


“Kelihatannya dia bisa kita anggap setara dengan wakil ketua, Gerald,” ujar si Botak.


“Mungkin saja, tapi aku tidak akan gentar!” teriak Gilang sambil maju kembali.


“Gerald? Rasanya aku pernah mendengar nama itu,” gumam Aditya pelan sambil menghindari serangan Gilang.


“Mati lu!” teriak si Botak sambil menhunuskan pisau melesat dari belakang Aditya.


“Kalau mau menyerang dari belakang jangan teriak! Dasar bodoh!” bentak Aditya sambil menendang wajah si Botak hingga terpental ke pohon.


BERSAMBUNG…

__ADS_1


__ADS_2