Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 78


__ADS_3

Rani datang menghampiri Frita sambil memberikan semua berkas yang kemarin diberikan oleh Dika. Frita memberikan berkas itu kepada Dika.


“Apa yang dikatakan pengacaraku itu hingga pak Dika mau berubah pikiran?” tanya Frita.


“Intinya dia bilang jika kesalahpahaman ini harus segera diselesaikan. Dia membuatku sadar kalau semua yang aku lakukan kemarin hanya akan merugikan perusahaan kami sendiri. Sebenarnya keputusan yang kuambil kemarin itu juga belum mendapat persetujuan dari Presdir.”


“Lalu kenapa Pak Dika mau mengambil keputusan seperti itu?”


“Presdir sudah memberikan kepercayaan kepadaku untuk membuat keputusan seperti itu karena putra pak Presdir sendiri masih belum siap untuk memimpin perusahaan. Awalnya aku pikir itu keputusan yang bagus tapi setelah berbicara dengan pengacar bu Frita, saya baru sadar jika hal itu salah.”


Dika kemudian pamit. Frita terlihat senang karena pada akhirnya semua masalah yang menghantuinya sudah berhasil diselesaikan. Kini yang membuatnya bingung hanyalah orang yang mengaku sebagai pengacaranya. Nomot yang ditunjukkan oleh Dika tadi serasa pernah dia lihat sebelumnya.


Frita kemudian memeriksa ponsel miliknya, nomor tadi memang benar-benar ada di ponselnya. Frita tersenyum sendirian di ruangannya. Nomor itu adalah nomor penggemar rahasianya alias Aditya. Meskipun selama ini hatinya sering dibuat kesal dan emosi oleh Aditya tapi entah kenapa dia merasa jika Aditya memang orang yang baik.


“Ada apa Fri?” sapa Pandu di telepon.


“Masalah kerjasama dengan beberapa klien kita sudah beres Yah.”


“Kok bisa Fri? padahal ayah baru saja mau nelepon Presdir All Cosmetic.”


“Ya, aku juga heran pada awalnya. Tapi entah bagaimana caranya ternyata Aditya bisa mengatasi hal ini.”


“Oh, benar-benar diluar dugaan.”


“Iya, aku nanti akan menanyakan caranya langsung kepada Aditya,” ujar Frita. Kemudian dia mengakhiri panggilan telepon dengan Pandu.


Sore harinya Frita pulang bersama Aditya. Hari ini sikapnya kembali lembut kepada Aditya.


“Dit, terimakasih ya sudah bantu perusahaan untuk mengatasi masalah pembatalan kontrak. Berkat itu kini keuangan perusahaan kembali setabil,” ujar Frita.


“Apa yang kamu katakan? Aku tidak membantu apapun,” bantah Aditya.


“Aku tidak sebodoh itu Dit. Pak Dika tadi menunjukan nomor telepon orang yang mengaku sebagai pengacaraku,” jawab Frita. Aditya baru sadar jika nomor itu juga sudah diketahui oleh Frita saat identitasnya sebagai penggemar rahasia terbongkar.


“Sudah kubilang sebelumnya kan, ketika aku membantu siapapun pasti karena ada alasannya. Untuk alasan kali inipun sama. Saat aku bertemu dengan ayahmu nanti akan aku minta upahnya,” jelas Aditya sambil tertawa, sedangkan Frita hanya terdiam. Kekesalan kembali muncul di hatinya namun berusaha dia tekan.

__ADS_1


“Lagipula jika aku biarkan perusahaan bangkrut maka akupun tidak akan mendapatkan penghasilan lagi dari menjagamu. Asal kamu tahu, upah menjagamu itu sangat besar loh. Orang bodoh mana yang mau melepaskan uang sebanyak itu,” tambah Aditya. Frita terlihat sedang berusaha menekan emosinya.


“Aku hanya ingin berterimakasih kepadamu Dit. Bagaimana jika mala mini kita makan malam bersama di restoran?” ajak Frita.


Belum sempat Aditya menjawab, tiba-tiba ponselnya berdering. Sherly meneleponnya. Aditya tersenyum kemudian menerima panggilan itu sambil mengaktifkan loudspeaker agar bisa terdengar oleh Frita.


“Hai Dit. Bagaimana rencana kita nanti malam?” sapa Sherly dengan semangat.


“Oh, ya jadi dong. Emangnya lelaki mana yang bisa menolak ajakanmu untuk dinner, kalaupun ada paling cuma orang bodoh.”


“Kamu ini bisa saja, sekarang kamu di mana?”


“Aku sedang mengantar Mbak Frita pulang. Kamu di mana Sher?”


“Aku sedang di butik, nyari baju buat nanti malam.”


“Kamu ini, repot-repot nyari baju baru segala. Pake baju apapun kamu tetep cantik kok.”


“Ih, aku beli baju baru karena baju bagusku sedang di laundry, masa aku ke restoran pake kaos doang atau piyama.”


“Ih nggak sopan kali Dit. Udah dulu ya, sampai ketemu nanti malam.”


“Sampai ketemu.”


Aditya mengakhiri panggilannya. Frita terlihat sudah tidak bisa menyembunyikan lagi rasa kesalnya. Wajahnya terlihat muram, kelihatannya kelakuannya barusan sukses membuat Frita marah.


“Kamu denger kan Fri, jadi nanti malam aku tidak bis-“


“Bodo amat!” potong Frita ketika Aditya hendak menolak ajakannya untuk makan malam bersama.


“Loh kok marah begitu, nanti cantiknya ilang loh,” goda Aditya. Frita hanya diam tak menjawab.


“Sejak kapan kamu bisa akrab gitu sama Sherly?” tanya Frita, dia benar-benar heran kenapa Sherly bisa sampai tertarik dengan Aditya, padahal selama di perusahaan penampilan Aditya selalu lusuh, tidak rapi plus rambut acak-acakan.


“Kepo nih. Bisa dibilang masih belum lama tapi bisa dibilang lama juga sih.”

__ADS_1


“Nggak jelas banget jadi orang!”


Sepanjang jalan hingga sampai di rumah, Frita terus bersikap dingin kepada Aditya. Bahkan Pandu sendiri samapi heran soalnya tadi pagi ketika menghubunginya Frita terlihat begitu senang.


Malam harinya Frita sedang berbincang dengan Pandu di ruang tamu. Aditya menghampiri mereka dengan rambut dan pakaian yang rapi sambil membawa kantong plastik hitam. Hal itu sontak membuat Pandu terkejut karena tidak biasanya Aditya berpenampilan seperti itu ketika keluar dari rumah, bahkan di dalam rumahpun tidak pernah.


Frita hanya bisa menatapnya dengan hati berdebar, dia benar-benar terkejut serasa tersambar petir. Jujur saja dia kagum melihat penampilan Aditya yang seperti ini. Jantungnya berdetak cepat, matanya tidak bisa mengalihkan pandangan dari Aditya.


“Kamu mau kemana Dit rapi begitu?” tanya Pandu.


“Saya ada janji dengan Sherly, Pak,” jawab Aditya sambil tersenyum.


“Maksudmu Sherly Embunsari dari bagian keuangan?”


“Iya, saya ingin pergi dinner malam ini dengannya. Kalau boleh saya mau pinjem mobilnya.”


“Jangan pakek mobilku!” sela Frita dengan dingin. Dia benar-benar kesal ketika mendengar jawaban Aditya seperti itu. Tangannya mengepal kuat. Dia benar-benar merasa sudah dipermainkan oleh Aditya.


Padahal selama ini Aditya belum pernah berpenampilan itu ketika bepergian, bahkan waktu mereka bertemu di restoran Hotel Universal juga hanya sepersekian detik saja, lalu kini demi wanita lain dia berpakaian seperti ini. Kalau tidak malu Frita pasti akan protes kepada Aditya karena selama ini bahkan dia tidak pernah berpakaian seperti itu di depan Frita langsung selaku tunangannya.


Namun Frita sadar, jika dia protes seperti itu Aditya malah akan tertawa dan bilang hal-hal yang lebih menyakitkan lagi. Frita kemudian pergi menuju kamarnya tanpa berkata sedikitpun.


“Kalau begitu pakai mobilku saja Dit,” tawar Pandu sambil memberikan kunci mobilnya.


“Terimakasih banyak pak,” jawab Aditya sambil mengacak acak kembali rambutnya.


“Itu apaan Dit?” tanya Pandu sambil menunjuk kantong plastik yang dibawa Aditya.


“Ini pakaian ganti pak.”


Pandu akhirnya paham tujuan Aditya yang sebenarnya. Dia hanya bisa menghela nafas dalam saat ini sambil melihat Aditya pergi membawa mobilnya. Di perjalanan Aditya segera berhenti untuk berganti pakaian dengan pakaian formal biasa.


Di sebuah restoran ternama, Aditya memarkirkan mobil Pandu kemudian masuk ke dalam restoran. Dia kemudian mencari tempat Sherly berada. Ketika melihat Aditya datang Sherly segera berdiri sambil tersenyum manis. Aditya membalas senyumannya sambil berjalan mendekat.


“Embun yang menawan,” gumam Aditya pelan.

__ADS_1


BERSAMBUNG…


__ADS_2