Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 68


__ADS_3

Frita sedang termenung memikirkan siapa gerangan yang barusan berlari di samping mobil Jimmy. Tiba-tiba saja mobil hitam berhenti di samping mobilnya, dua orang pria keluar sambil membawa tali dan lakban. Frita mengunci pintu mobilnya dari dalam. Namun mereka malah memecahkan kaca mobil Jimmy.


Ketika tangannya mencari sesuatu untuk digunakan melawan pencuri secara tak sengaja tangannya memegang pistol milik Jimmy yang ada di mobil. Dia spontan menodongkannya ke arah dua pria itu. namun seketika pria itu memukul tangannya dan sontak menarik pelatuknya hingga tembakan melesat keluar mengenai pelipis seorang pria.


“Toloong...” teriak Frita ketika dia dipaksa keluar dari mobil.


“Fritaa...” teriak Jimmy yang masih berhadapan dengan para preman.


“Diam!” bentak seorang pria sambil melakban mulut Frita.


“Hmmh…” Frita mencoba berontak, namun tangan dan tubuhnya segera di ikat oleh pria itu, mereka membawa Frita ke dalam mobil.


Aditya bangkit setelah terkena beberapa pukulan para penjahat itu. si pria bertatto dan seorang temannya masuk ke dalam mobil. Mobil pria bertatto dan mobil hitam yang membawa Frita melaju cepat di jalanan. Melihat hal itu Aditya berniat pergi kembali ke mobilnya untuk menyelamatkan Frita. Namun beberapa orang penjahat mencoba menghalanginya.


“Minggir lu!” bentak Aditya sambil menghajar lawannya dengan gerakan beladiri judo.


“Mati lu!” teriak seorang penjahat sembari mengayunkan pisau menuju leher Aditya. Namun sekejap orang itu tersungkur dengan pisau menancap di dadanya.”


“Fritaa...” teriak Jimmy sambil berusaha mengejar mobil hitam yang membawa Frita, namun dia malah tersungkur karena seorang penjahat menghantam tubuhnya dari belakang.


“Bos!” teriak anak buah Jimmy sambil berusaha menghalau beberapa penjahat yang mencoba menghajar Jimmy kembali.


Aditya kemudian menghabisi dua orang lagi menggunakan pistol sebelum akhirnya dia sampai di mobilnya. Dengan kecepatan tinggi dia mengemudikan mobilnya mengejar mobil hitam yang membawa Frita. Tak lama kemudian dia sudah mulai bisa melihat samar-samar dua mobil milik penjahat.


Dengan cepat Aditya menembak ban belakang kedua mobil itu hingga oleng ke tepi hutan. Setelah kedua mobil itu berhenti dengan cepat Aditya menembak semua lampu mobil dan penerangan jalan agar memudahkannya untuk bersembunyi dari serangan balik.


“Cih. Kelihatannya ada polisi yang berhasil lolos,” gerutu sopir penjahat yang membawa Frita.


“Kita jangan mengulangi kesalahan mereka! Ketua sudah susah payah membuatkan rencana terbaik untuk kita.”


“Aku akan menghadapi mereka bersama yang lainnya. Lu bawa target kita ke tengah hutan sambil menunggu bantuan datang,” perintah si sopir ke seorang pria.


“Oke Bos!”


Empat orang pria keluar dari dalam mobil. Sementara satu orang lagi menyeret Frita untuk keluar dari mobil. Aditya keluar dari mobil dengan santai. Pria bertatto menodongkan pistolnya ke arah Aditya.

__ADS_1


“Gue kira polisi yang bisa ngejar kemari. Ternyata lu ya,” ujar si pria bertatto.


“Jangan bilang kalau lu itu intel bayaran yang di tugaskan untuk mengawasi gerak gerik kami,” kata Bos penjahat.


“Terserah lu mau manggil gue apa, yang jelas cepat bebaskan wanita yang ada di mobil itu!”


“Begitu ya, kelihatannya dia bukanlah intel bayaran yang ditugaskan untuk mengawasi kita. Lu ditugasin buat melindungi wanita itu kan!”


Aditya tidak menjawab, dia khawatir kalau Frita mendengarnya padahal sejak tadi dia sudah dibawa pergi oleh seorang penjahat. si pria bertatto menarik pelatuk di pistolnya hingga peluru melesat keluar, namun Aditya hanya terdiam saja. ternyata peluru itu hanya melesat di samping pelipisnya meleset 0,6mm saja.


“Sial!” gumam si pria yang menembak.


“Sayang sekali, kelihatannya kalaupun kalian suka bermain malam hari tapi penglihatan kalian benar-benar buruk,” ledek Aditya.


“Cih!” ujar si Bos penjahat lalu menembak Aditya dengan pistolnya namun Aditya balas menembaknya dua kali.


“Hahaha kelihatannya penglihatan kita sama-sama buruk,” ledek Bos penjahat sambil tertawa puas diikuti si pria di sampingnya.


Namun tiba-tiba saja dua orang pria di belakang Bos penjahat ambruk ke jalanan dengan bersimbah darah dari dadanya. Aditya hanya tersenyum sambil meniup moncong pistolnya bak koboi. Si bos penjahat semakin geram melihatnya. Dia mencoba kembali menembak Aditya namun dengan cepat Aditya melompat ke tepi hutan yang gelap.


“Tidak heran jika misi mereka dulu malah gagal, aku yakin orang ini yang memang menggagalkannya,” jawab si pria di sampingnya.


“Apa kita harus memberitahu ketua sekarang juga?” tanya si pria.


“Jangan! Jika salah sedikit saja maka kita malah akan meninggalkan bukti yang merujuk kepada ketua.”


Mereka terus waspada memperhatikan suasana di sekitarnya. Tiba-tiba saja Aditya sudah di belakang si pria sambil menarik pelatuk pistolnya hingga peluru melesat menembus jantung lawannya. Si Bos penjahat kaget lalu berbalik.


Tangan kanannya yang memegang pistol ditendang oleh Aditya hingga pistolnya terlempar. Pistol Aditya sekejap saja sudah berada di dahi Bos penjahat. keringat dingin terlihat mengucur di dahi Bos penjahat, mungkin rasa takutnya akan kematian sangatlah luarbiasa.


“Hei hei, kelihatannya lu ketakutan banget ya,” ledek Aditya.


“Baiklah karena lu ketakutan, kita akan bermain sejenak,” ujar Aditya sambil tersenyum.


“Truth or Die, terserah lu mau pilih yang mana. Siapa Ketua yang nyuruh lu nyulik Frita?! Gue itung sampai tiga,” ancam Aditya sambil jari telunjuknya mulai bergerak.

__ADS_1


“Die!” jawab Bos penjahat.


“Eh gila lu ya, lu ngerti bahasa inggris nggak sih? truth itu kebenaran sedankan die itu mati!”


“Die!” ulang Bos penjahat.


Aditya menarik pelatuk pistolnya namun ternyata pelurunya sudah habis. Dengan santai dia membuang pistolnya setelah membersihkan sidik jari tangannya. Kali ini tangan kanannya dengan cepat menghantam leher Bos penjahat hingga dia kesulitan bernafas.


“Jawab! Siapa ketua yang nyuruh lu!” bentak Aditya.


“Ukhu haha ukhu, lu salah nyisain orang. Kalo dia yang tadi lu sisain pasti bakalan bicara. Tapi gue, hidup dan mati gue cuma buat Ketua doang!” tegas bos penjahat sambil tertawa disertai batuk.


“Hemh. Kelihatannya lu emang nggak bisa diajak bercanda ya,” ujar Aditya sembari menghajar bos penjahat dengan sepenuh tenaga hingga terkulai lemas di jalanan.


Setelah semua lawannya tumbang, dia segera berlari menuju mobil hitam. Namun dia sangat terkejut ketika melihat Frita sudah tidak ada di sana. Tangannya mengepal kuat-kuat lalu dia mencari petunjuk di sekitar mobil, terlihat jejak kaki manusia menuju ke dalam hutan. Aditya bergegas mengikuti jejak itu. Dengan mudahnya dia menemukan sandal milik Frita, dia tersenyum.


“Kadangkala kecerdasanmu memang patut dipuji, Frita,” gumam Aditya sambil berlari mengikuti jejak di tanah dan dedaunan.


Frita berjalan di bawah todongan pistol penjahat, sebisa mungkin dia memperlambat jalannya dengan harapan ada seseorang yang menyusulnya. Airmatanya meleleh keluar karena kesedihannya harus mengalami peristiwa mengerikan seperti ini kembali.


“Cepat jalan!” bentak penjahat.


“Kenapa kalian melakukan hal seperti ini?” tanya Frita lembut, dia berharap penjahat itu bersimpati kepadanya.


“Lu nanti juga bakalan tahu sendiri!”


“Apa kamu nggak merasa kasihan sedikitpun? Coba bayangin gimana rasanya jika adik peremmpuanmu atau saudaramu diperlakukan seperti ini.”


“Jangan buang waktu! Sekarang nyawa gue juga dipertaruhkan!” bentak si penjahat sambil menampar Frita.


Sebuah ranting kayu melesat hingga melukai tangan kanan si penjahat hingga pistolnya terlempar. Penjahat berbalik kaget, dia tidak menyangka di tengah gelapnya hutan seperti ini seseorang bisa melempar ranting kayu itu dengan akurat.


Samar-samar Frita melihat sosok yang membuat hatinya berdebar. Senyum manis terlukis di bibirnya, ketenangan mengalir di seluruh tubuhnya. Walaupun di tengah gelapnya malam, dia tahu sosok yang ada di hadapannya itu adalah pria yang pernah menyelamatkannya saat diculik dari Hotel Universal.


“Lu jangan bergerak atau nyawa wanita ini akan melayang!” ancam penjahat itu sambil menghunuskan pisaunya di leher Frita.

__ADS_1


BERSAMBUNG…


__ADS_2