Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 294


__ADS_3

Bagaimana kabar Brenda?” tanya lelaki itu. Dia terlihat cukup tua dari keriput di wajahnya, juga putih rambutnya. Namun tubuhnya masih bugar dan terlihat kekar. Dia bahkan bisa membanting seorang lelaki dewasa kalau mau.


Namun, lelaki itu lebih senang duduk di belakang mejanya, atau bersenda gurau di bar pribadinya bersama para wanita nakal. Lagi pula ia bisa membayar siapa pun untuk apa pun yang ia mau.


Setiawan Budi menangkap ekspresi tak menyenangkan di wajah pengawal pribadinya, Hestu.


“Kau bisu, ya?” bentaknya.


Hestu akhirnya bicara. “Dia kabur, Tuan. Kabur entah ke mana.”


“Siapa? Aditya?!” balas Setiawan Budi dengan kesal. Ia mendorong salah satu gadis penghibur yang saat ini bertelanjang dada yang memeluknya di kolam renang. Gadis itu tak berani berteriak, meski lengannya agak sakit oleh dorongan tersebut.


“Bukan. Brenda yang kabur. Dan, Aditya masih hidup,” jawab Hestu.


“Apa?!”


Setiawan Budi dengan kesal keluar dari kolam renangnya, melempar gelas ke bar yang ada di dekat situ, dan mengenakan baju renangnya. Melangkah masuk ke bagian dalam rumahnya yang besar.


“Loe tahu maling di rumah ini saja belum tertangkap, dan sekarang loe bilang ada lagi yang berkhianat?!” kata Setiawan Budi pada Hestu yang membuntutinya dari kolam renang.


Hestu cuma mengangguk.


“Bayar ahli IT terbaik! Lacak maling sial itu! Dan cari tahu ke mana Brenda kabur! Sejak kapan kalian semua jadi goblok begini!” bentak Setiawan Budi.


Ia memang tidak habis pikir bagaimana bisa beberapa puluh ribu dollar terakhirnya dikuras habis juga oleh sang maling yang entah siapa. Kemungkinan besar itu orang dalamnya juga.


Setelah kekacauan oleh para keponakannya, juga oleh Rudi, saudaranya sendiri, dia merasa seperti ditusuk dari belakang. Setiawan Budi yang biasa berpembawaan tenang, kini jadi mudah marah. Hestu hanya mengangguk dan menuruti apa perkataaannya.


Tapi kali ini Hestu juga berkata, “Uang kita mungkin tak bakal cukup untuk bayar ahli IT lagi, Tuan.”


“Bangsat! Pakai uang para politikus itu! Tanpa gue, mereka gak bakal bisa sesukses sekarang!” bentaknya.


Hestu menunduk dan mohon undur diri.

__ADS_1


Setiawan Budi tak bisa membuang kekesalannya. Ia akhirnya memanggil para gadis penghiburnya tadi. Mereka digiring olehnya ke sebuah tempat tidur terbuka tak jauh dari kolam renang yang juga berada di udara terbuka.


Setiawan Budi berkata, “Buka baju kalian! Cepat!”


Ketiga gadis itu takut-takut melucuti baju dalam mereka sendiri dan kini ketiganya sama-sama telanjang bulat.


Setiawan Budi mencopot celananya, dan menyetubuhi ketiga wanita itu sampai tak tahu berapa lama. Mereka menjerit kesenangan tanpa peduli telinga para penjaga yang berada di luar tembok kolam renang.


“Ayo, cepat ke sini! Kamu ke sini, Bodoh!” bentak Setiawan Budi sesekali.


Setiawan Budi sudah berusia lanjut, tapi anehnya ia tetap perkasa. Ia tak puas. Lalu ia mengikat salah satu gadis itu dan membiarkannya memasukkan bagian tubuhnya ke dalam tubuh si gadis. Mereka bertiga sungguh tak berdaya melawan amarah sekaligus ***** dari mafia tua ini.


Seorang penjaga yang mendengar adegan itu dari luar, hanya bisa berkata dalam hati, “Dia sungguh lelaki tua yang bejat. Kalau saja aku punya uang banyak kelak, aku akan melakukan hal yang sama.”


***


Namun, si penjaga itu hanyalah anak buah kelas teri. Ia jelas tak tahu bagaimana kini kondisi keuangan Setiawan Budi.


Mereka tak berhasil melacak maling akun rekening pribadinya di luar negeri, dan kini akun terakhir juga berhasil dikuras saldonya, dan hanya tersisa beberapa ratus juta saja.


Otomatis, Setiawan Budi sering terlihat marah.


Ia sering melempar Hestu dengan asbak. Atau sesekali menampar pengawal pribadi itu. Hestu tak pernah marah. Hestu justru diam-diam merasa terhibur melihat sosok tua yang biasanya tenang itu, kini mungkin sudah di ambang kejayaannya.


“Sebentar lagi loe pasti bakalan mati, Budi,” batin Hestu sambil tetap terlihat patuh di depan sang majikan.


Ia sungguh seperti seekor anjing pudel, namun berjiwa serigala licik.


***


Setiawan Budi semakin kalap ketika pembunuh bayaran terakhir ia kirimkan gagal menghabisi Aditya.


Pembunuh itu memang terlalu amatir. Aditya membiarkan orang itu pergi setelah mengatakan, “Kau kaburlah ke luar pulau. Jangan balik ke Bandung sampai Setiawan Budi mati.”

__ADS_1


“Saya tidak ada uang, Bang,” jawab pembunuh amatiran itu.


“Ini, kuberi seadanya. Cepat pergi!” kata Aditya menyodorkan sejumlah uang.


Entah kenapa Aditya berkata begitu. Mungkin ia tak tega melihat tampang preman murahan yang disewa Setiawan Budi setelah Brenda Sukma batal membunuhnya. Kini rencana pernikahan palsu itu harus segera dijalankan. Yang terpenting, ia kini juga tahu Setiawan Budi memang di ambang kebangkrutan.


***


Ratna mengatur segala sesuatunya dengan efektif. Hanya dalam lima hari sejak ia menyepakati rencana itu, undangan pernikahan mereka sudah disebar.


Banyak yang mengira Aditya mungkin sudah bercerai dengan Frita. Tapi Ratna tak membiarkan siapa pun membicarakan pernikahan ini sebagai gossip tak bermutu.


Ratna bilang pada para anak buahnya, “Kalian sebarkan hal-hal baik saja tentang pernikahan ini! Jangan ada pembicaraan tentang Frita!”


“Baik, Mbak!” kata mereka kompak.


Dan, para anak buahnya memang cerdas. Mereka bukan hanya terdiri dari tukang pukul saja, melainkan juga teman-teman lama Ratna yang beberapa di antaranya juga pintar di berbagai bidang. Buktinya pesta pernikahan mewah itu tak terhalang oleh apa pun.


Untuk sesaat Aditya membatin, “Semoga semua ini cepat berlalu. Semoga Frita tak pernah melihat ini.”


Ketika fotografer memotret mereka berdua di kursi pelaminan, Aditya berbisik pada Ratna, “Setelah ini selesai, aku mau semua foto kita di sini dihapus atau dimusnahkan.”


“Kamu tenang saja, Dit. Aku juga enggak ingin menyimpan foto macam itu!” balas Ratna jengkel.


Tentunya Ratna cuma berbohong. Gadis itu akan selalu bersedia menyimpan foto pernikahan mereka. Mungkin akan ia simpan sampai mati, walau diam-diam.


Mereka tak banyak bicara sepanjang pesta pernikahan palsu itu berlangsung, tetapi banyak anggota keluarga Ratna yang tak menyadari mereka tertipu, dan kini merasa tak ada lagi yang membuat Ratna merasa kesepian berkat sosok Aditya.


Beberapa keluarga Ratna memang sudah Aditya kenal. Tapi yang hadir saat itu tak terlalu banyak yang ia tahu. Jadi ia berkenalan dengan cukup banyak orang baru. Wajah baru dan nama baru hanya numpang lewat saja di otaknya.


Aditya terus berkata dengan dirinya sendiri, “Ini tak terlihat seperti palsu. Aku tak yakin Frita akan memaaafkanku setelah tahu semua ini.”


Guru Tanpa Nama dan Amy yang hadir di situ hanya memandanginya tanpa berkata. Mereka sepakat untuk tak saling sapa. Sambil berharap tamu dari keluarga Setiawan Budi segera hadir.

__ADS_1


Ya, mereka sengaja mengundang keluarga penjahat itu.


Bersambung....


__ADS_2