
Pertengkaran Dua Bersaudara
Tak ada yang tahu pertengkaran yang terjadi antara Frita dan Clarissa beberapa hari sebelum pesta pernikahan.
Itu terjadi di luar keinginan Clarissa. Selama ini gadis manis itu diam-diam naksir pada calon kakak iparnya sendiri. Karena sadar tak akan bisa memiliki Aditya, Clarissa sekadar menyimpan foto lelaki itu di dompetnya sendiri.
“Fotomu kupandangi tiap malam. Agar aku bermimpi bertemu denganmu, Kak Adit. Dan kita bercinta setiap malam. Tak masalah walau dalam mimpi,” pikir Clarissa saat itu sambil membayangkan ada sosok Aditya di depannya.
Entah berapa lama ia menyimpan foto itu. Bahkan tak hanya malam hari, sesekali ia juga mengintip isi dompetnya di waktu senggang, memandangi foto itu berlama-lama saat tak sedang ke kampus atau saat ia merasa gabut.
Pola pikir Clarissa perlahan menganggap itu sekadar kebiasaan.
Sampai suatu ketika tak sengaja ia mengintip itu di dapur, sebab tak tahan lagi dia membayangkan tubuh telanjangAditya yang kekar itu menindih tubuh kurusnya. Ketika itulah Frita memergokinya.
“Apa yang kamu lakukan, Clarissa?!” tanya Frita penuh amarah saat itu.
Menyimpan foto seorang lelaki dalam dompetmu adalah pertanda lelaki itu punya sesuatu yang istimewa tentangmu.
Clarissa menangis-nangis, memohon ampun pada sang kakak, dan bersumpah jika Aditya tak pernah tahu semua ini.
“Apa saja yang telah kalian perbuat di belakangku?” tanya Frita dengan sarat emosi saat itu.
“Enggak ada, Kak. Berani sumpah! Biar aku mati! Aku enggak berbuat apa pun sama Kak Adit dan dia sendiri enggak tahu semua ini!” jerit Clarissa.
Untunglah saat itu tak ada seorang pun di rumah. Frita marah besar dan tidak mau bicara dengan adiknya selama berhari-hari. Ia bahkan sampai menyewa seorang detektif swasta untuk menyelidiki jika Aditya selingkuh dengan adiknya sendiri.
“Tugasmu mudah. Cari tahu apa yang mereka berdua lakukan,” pesan Frita kepada sang detektif.
Dua minggu mengintai diam-diam tanpa Aditya dan Clarissa sadari, detektif itu tak menemukan hal lain selain yang memang sewajarnya terjadi.
“Mereka tidak selingkuh, Mbak. Saya berani pastikan. Malahan saya sudah coba menyadap ponsel mereka. Tak ada obrolan apa pun. Saya juga sudah letakkan kamera- kamera di semua kamar yang ada di rumah-rumah kalian, bukan?”
“Jadi, mereka tidak selingkuh?” tanya Frita.
“Tidak sama sekali.”
Frita pun merasa lega. Tapi hubungan dia dan Clarissa tak lagi sama. Adikknya tak mau bicara bukan karena marah, melainkan malu dan merasa bersalah. Clarissa tak tahu bagaimana harus menghukum dirinya sendiri.
__ADS_1
Alhasil, sebulan sebelum pesta pernikahan digelar, Clarissa memutuskan pindah ke rumah kontrakan. Dengan alasan agar ia tak kecapekan karena di kampus tugas-tugas mulai menumpuk.
Sejauh itu keluarga besar mereka tak tahu soal pertengkaran ini.
***
Aditya sedang asyik ngobrol di area meja-meja khusus untuk makan bagi anggota keluarga mempelai di gedung pernikahan saat itu.
Kakek Darma sangat menyukai lelaki ini. Paman Salim segera akrab dengan beliau seperti mereka bersahabat sejak lama saja.
“Biarkan saya anggap dia seperti cucu saya sendiri,” kata Kakek Darma pada sang paman. “Saya belum punya cucu lelaki sehebat dia,” lanjutnya sambil sedikit berbisik dan menoleh ke sana kemari, takut cucu-cucu kandungnya ngambek mendengar pujian beliau pada Aditya.
“Ya, tentu saja,” jawab Paman Salim sambil tertawa renyah.
Saat itu Aditya duduk bertiga, semeja dengan dua lelaki berusia lanjut itu. Ketika itulah Shelly D mendadak menghampirinya.
“Dit, ada kejadian gawat,” katanya berbisik.
Aditya undur diri pada sang paman dan Kakek Darma.
“Kenapa?” tanyanya. Perasaan Aditya mulai tak enak. Ia tentu juga kepikiran soal Clarissa yang dua bulan terakhir tampak berbeda, dan sedikit menjauh darinya.
Sang penyanyi segera menjelaskan situasinya. Tadi sore Clarissa kabur dari gedung acara, pergi ke rumah seorang teman. Pergi ke sana dalam keadaan setengah mabuk.
“Mabuk? Kok bisa? Belum pernah kutahu dia mabuk!” ujar Aditya dengan heran.
“Itu dia! Aku yang baru kenal dia aja enggak percaya. Tapi dia telepon sambil terus nangis barusan. Memang dia mabuk saat ke rumah temannya itu!” kata Shelly D yang tak henti berjalan ke luar gedung, didampingi Aditya yang masih mengenakan jas sang mempelai pria.
“Apa yang terjadi?” tanya Aditya lagi.
“Nah, ternyata si teman malah membuat Clarissa semakin mabuk. Mereka berdua entah punya masalah apa. Keduanya mabuk dan pergi ke arena balap liar di tepi kota,” terang Clarissa.
Di arena balap itu, Clarissa membuat masalah dengan si tuan rumah, sesosok gadis angkuh yang tak lain teman sekampusnya sendiri yang resek: Vanessa.
Aditya pikir sesuatu yang buruk menimpa Clarissa. Siapa itu Vanessa, ia tak tahu. Tapi sepertinya Shelly D tahu dan penyanyi ini terlihat gelisah.
Pandu yang melihat mereka, mencegat Aditya, “Lho, Dit? Mau ke mana?”
__ADS_1
“Pa, saya mau menjemput Clarissa. Ada sesuatu yang terjadi.” jawab Aditya.
Pandu terlihat khawatir.
“Oh, tidak. Ini cuma urusan anak-anak muda. Ada masalah dengan teman dia,” kata Aditya lagi agar mertuanya tidak cemas.
Karena gedung sudah mulai sepi oleh tamu, dan para kru panggung serta petugas catering sudah bekerja membereskan barang-barang, Aditya diperbolehkan pergi. Frita sedang asyik ngobrol di ruang rias bersama beberapa sepupu dan tantenya. Ia tak tahu Aditya pergi.
Dalam waktu singkat, Aditya sudah berada dalam mobil Shelly D. Sang sopir yang tadi sempat tak terlihat karena sibuk di toilet, kini tampak berlari tergesa-gesa mengikuti mereka. Mobil pun meluncur ke lokasi yang dikirimkan Clarissa via WhatsApp.
Menit demi menit berlalu, Aditya tak tahu apa saja yang sudah terjadi. Clarissa juga tak menelepon lagi. Ditelepon juga tak diangkat.
“Duh, kenapa sih kamu!” gerutu Shelly D dengan cemas. “Ayo, diangkat dong!”
“Masih jauh, Pak?” tanya Aditya pada si sopir.
“Sudah dekat, Mas,” jawab orang itu.
Lima menit kemudian, mereka menghadapi kemacetan tak terduga di kawasan yang biasa tak pernah kena macet.
“Haduh, ini kok bisa-bisanya sih ada mobil gede bannya bocor segala!” gerutu si sopir kesal.
Terlihat di depan sana barisan mobil yang terkena macet berkat truk gandeng yang berhenti di tengah jalan dengan posisi miring.
Aditya melongok ke luar jendela, menoleh ke belakang, ke samping kanan dan kiri mobil, kemudian mengecek map di layar hape yang terpasang di dekat dashboard. Ia meminta sang sopir untuk memberikan tempatnya padanya.
“Biar saya yang nyetir, Pak,” kata Aditya mantap.
“Ha?”
“Sudah, Pak! Kita enggak ada waktu buat kebingungan!” sela Shelly D.
“Baik, baik, Non!”
Mereka segera bertukar posisi. Begitu Aditya sudah memegang kemudi, dia bilang pada Shelly D, “Kamu telepon polisi juga.”
Shelly D mengangguk tanpa banyak bertanya.
__ADS_1
Mobil segera mengebut, setelah memasuki gang kecil di samping kiri. Sebuah jalan lebar terlihat, tapi mereka harus memutar agak jauh agar sampai ke lokasi balap liar itu. Aditya menunjukkan kemampuan balapnya di sini, membuat Shelly D dan sang sopir terpana takjub.
Bersambung...