Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 154


__ADS_3

Pagi harinya Aditya keluar dari kamarnya sambil membawa koper. Frita yang sedang membaca buku di ruang tamu sampai terkejut melihat Aditya membawa koper seperti itu. Tanpa berkata sedikitpun Aditya keluar dari rumah. Frita buru-buru menggenggam tangan Aditya dengan penuh rasa cemas.


“Kamu mau ke mana Dit?” tanya Frita dengan raut wajah cemas.


“Aku mau keluar, seperti yang kamu tahu sejak kejadian di kapal pesiar aku sudah memutuskan bahwa kemarin adalah tugas terakhirku untuk melindungimu. Aku harap kamu menemukan pengawal yang lebih baik dariku,” ucap Aditya sambil melepaskan genggaman tangan Frita lalu melangkah pergi.


“Jangan tinggalin aku Dit..” ucap Frita sambil memeluknya erat, air matanya terlihat mulai mengalir


“Aku tahu kalau kamu sangat marah dan kecewa kepadaku waktu itu, aku benar-benar minta maaf. Aku juga minta maaf karena ibuku sudah memperlakukanmu dengan buruk. Kamu bisa bersikap dingin kepadaku, kamu bisa memarahiku setiap waktu. Tapi aku mohon, jangan pergi dari rumah ini,” kata Frita dengan tersedu-sedu.


“Maaf Frita. Aku tidak bisa apa-apa lagi sekarang. Jika aku tidak pergi dari rumah ini mungkin besok aku tidak bisa berangkat kerja,” jawab Aditya sambil menyeka air mata Frita yang terus mengalir.


“Kenapa kamu harus pergi? Apa tidak ada cara lain lagi?”


“Maaf Frita, jika aku tidak pergi hari ini. Cucianku akan semakin menumpuk, karena itu aku terpaksa meninggalkanmu,” jawab Aditya sambil tertawa kecil sementara Frita tampak kaget dan menatap Aditya tajam.


“Maksudmu?”


“Aku pagi ini akan pergi ke laundry untuk mencuci baju. Maafkan aku,” jawab Aditya sambil tertawa lebar.


“Ih! Kamu ini!” teriak Frita kesal bercampur malu karena sudah salah sangka.


“Hahaha kamu ini ada-ada saja Fri, memangnya kamu kira aku mau pergi ke mana?”


“Ih kamu ini jahil banget ya! Kenapa coba kamu bertingkah seolah olah mau pergi dari rumah ini, nyebelin!”


“Lagian sih kamu tiba-tiba bersikap sedih seperti itu aku jadi kepikiran deh buat jahilin kamu,” ujar Aditya sambil tertawa puas.


“Bohong! Pasti kamu sengaja mincing aku, masa ke laundry pake koper segala.”


“Mau gimana lagi, soalnya hari ini aku nyari kantong plastik bekas nggak ketemu, nyari ember juga sudah penuh semua, terpaksa deh pakai koper, masa aku bawa pakaian kotor pakai toples,” jawab Aditya sambil tertawa, Frita juga akhirnya ikut tertawa kecil setelah mendengar penjelasan Aditya.


Aditya pergi menuju laundry yang tidak jauh dari kediaman Pandu. Setelah menitipkan bajunya dia kembali pulang ke rumah Pandu. Di perjalanan dia sengaja menepi di tempat yang agak sepi untuk menghubungi Putra.


“Ada apa Bos?” sapa Putra.


“Bagaimana kabarmu?”


“Baik-baik saja bos, btw tumben nih nelepon cuma mau nanyain kabar doang,” kata Putra sambil tertawa.

__ADS_1


“Nggak kok, aku mau nanyain hasil penyelidikan kalian. Apa ada kabar penting yang bisa kalian dapat lagi dari pasar gelap?”


“Sejauh ini masih belum ada bos. Hanya saja beberapa hari yang lalu aku dengar kalau geng Serigala mengangkat seorang petinggi baru.”


“Petinggi baru?”


“Ya, aku dengar kemampuannya sangat hebat. Kalau tidak salah namanya adalah Tri.”


“Oh, menarik juga. Aku juga ingin mengabarkan sesuatu kepadamu.”


“Nah nah kayaknya serius nih dari nada bicaranya.”


“Kemarin beberapa penjahat kembali menargetkan atasanku. Tapi aku berhasil menghabisi mereka, hanya saja dari kejadian itu aku jadi tahu kalau mereka adalah orang suruhan Black Mafia.”


“Eh? kelihatannya cocok kalau jadi judul sinetron ya, takdir yang tidak tertukar. Hahaha kelihatannya bos memang ditakdirkan untuk terus berurusan dengan mereka.”


“Ya kata-katamu memang benar, karena itulah aku yakin mereka akan menyusun rencana yang lebih gila lagi. Kali ini kemungkinan target utama mereka adalah diriku.”


“Jadi bos ingin kami terus mencari informasi tentang mereka agar bisa mengantisipasi rencana gilanya?”


“Tepat, siapkan diri kalian. Kelihatannya mulai saat ini kita benar-benar akan langsung berhadapan dengan mereka.”


“Berhati-hatilah,” ucap Aditya sambil mengakhiri panggilan. Dia kembali melangkah pulang ke rumah Pandu. Dia ingat kalau pagi ini dia dan Frita juga harus menemui Jimmy di kantor polisi untuk membuat sketsa wajah dua penjahat yang berhasil kabur.


***


Di kantor polisi Jimmy sedang sibuk mengurus berkas-berkas terkait kasus di hutan pinus. Tiba-tiba seorang anak buahnya masuk dengan tergesa-gesa. Jimmy mengernyitkan dahinya karena heran.


“Kamu kenapa kayak dikejar setan gitu?” tanya jimmy.


“Anu pak, di luar ada tamu yang maksa ingin bertemu dengan bapak. Padahal kami sudah bilang kalau bapak saat ini sedang sibuk lalu mengarahkannya ke bagian pelayanan tapi dia malah maksa ingin ketemu sampai bahas dolar-dolar gitu pak,” jawab polisi itu.


“Siapa sih orangnya?” tanya Jimmy sambil tertawa kecil mendengar anak buahnya membahas dolar segala.


“Namanya Diaz pak, kami perlu ringkus dia atau gimana nih?”


“Diaz? Hemh, biarkan dia masuk ke ruangan saya.”


“Eh bapak kenal orang aneh kayak begitu?”

__ADS_1


“Nggak cuma dia juga masih terlibat sebagai korban di kasus penculikan hutan pinus.”


“Oh, baik pak akan saya suruh masuk orangnya.”


Anak buah Jimmy keluar dari ruangan sedangkan Jimmy sendiri hanya menghela nafas menebak nebak keperluan apa yang ingin Diaz bawa kehadapannya. Jujur saja sebenarnya dia kesal karena tahu kalau Diaz juga sedang mengincar Frita saat ini. Tak lama kemudian Diaz dengan pakaian rapi serta mengenakan kacamata hitam masuk ke ruangan Jimmy.


“Silahkan duduk,” ucap Jimmy.


“Terimakasih pak Jimmy,” kata Diaz sambil duduk.


“Ada perlu apa kamu datang menemui saya?”


“Langsung to the point saja pak Jim. Anda butuh berapa dolar?” tanya Diaz tiba-tiba hingga Jimmy mengerutkan dahinya karena bingung.


“Maksud kamu apa ya bahas dolar segala?”


“Saya ingin menyeret si brengsek bajingan Aditya itu sebagai tersangka di kasus penculikan Frita kemarin. Bapak butuh berapa dolar untuk melakukan hal itu?”


“Kamu mau nyuap saya?”


“Nggak, saya cuma mau ngasih bapak hadiah kalau memang bisa. Jadi berapa dolar pak? Limaratus? Seribu? Seratus ribu? Seratus ribu lima ratus tujuh puluh lima dolar? Sebutkan saja jangan malu.” kata Diaz sambil bergaya.


“Sayangnya saya tidak tertarik dengan sepeserpun dolar anda. Saya hanya bisa menyeret Aditya menjadi tersangka kalau memang kamu punya buktinya.”


“Lah bukti mah masalah gampang pak bisa dibuat, yang penting bapak mau nggak membantu saya?”


“Saya tidak tertarik,” jawab Jimmy sambil tertawa kecil lalu menatap Diaz tajam.


“Sayang sekali padahal satu juta dolar pun akan saya berikan kalau bapak mau. Bagaimana jika tiba-tiba saya melaporkan Aditya melakukan kejahatan ke sini apa masih mau di proses?”


“Kalau memang buktinya jelas pasti akan kami proses.”


“Terimakasih kalau begitu. Bapak silahkan nanti tunggu laporan kejahatan Aditya dari saya,” tegas Diaz sambil pergi.


“Tunggu saja lu Aditya! tak lama lagi lu pasti tidur di sel penjara!” gerutu Diaz ketika keluar dari ruangan. Arya kebetulan berpapasan dengan Diaz ketika dia hendak masuk ke ruangan Jimmy. Di dalam terlihat Jimmy hanya tertawa sendirian saja.


“Kamu stress Jim?” tanya Arya.


“Yang stress itu orang yang barusan keluar Ar. Mimpi apa aku semalam sampai-sampai hari ini aku bertemu orang aneh seperti dia,” ujar Jimmy sambil tertawa.

__ADS_1


BERSAMBUNG…


__ADS_2