
Dua insan saling mencinta itu kemudian memilih duduk di sebuah sofa malas yang sangat empuk. Sean memutar musik instrumentalia untuk membuat suasana pacaran mereka kali ini lebih romantis lagi. Bahkan Sean juga menyuguhkan minuman bersoda yang ada di lemari es di sana untuk Ellena.
Ellena menyapu semua sudut ruangan. Dia tidak pernah menyangka kalau ruangan buat para petinggi ini mengendurkan otot mereka ini sangat mewah dengan fasilitas lengkap. Tapi sepertinya tempat ini jarang terpakai, karena selalu tampak rapi.
“Banyak yang sering pake tempat ini?” tanya Ellena yang masih melihat ke sekelilingnya.
“Kayanya ga juga. Aku juga baru dua kali ke sini kok. Itu juga kalo aku udah sangat jenuh,” jawab Sean sambil memberikan minuman di tangannya untuk Ellena.
“Tapi itu kacanya kayanya ga bisa di lihat dari luar ya?”
“Emang ga bisa.”
“Waaah ... kamu memfasilitasi karyawan kamu buat selingkuh donk,” ucap Ellena sambil sedikit mencebikkan bibirnya.
“Kok gitu? Kan ga sembarangan orang bisa masuk sini.”
“Ya tapi kan bisa aja kaya gini. Aku bisa masuk ke sini karena kamu yang ajak. Bisa jadi kan orang lain juga lakukan hal yang sama.”
“Oh kalo itu udah di waspadai dong, cantik. Liat tuh ... di situ juga. Apa kamu kira mereka masih bisa macem-macem?” jawab Sean sambil menunjuk ke arah CCTV tersembunyi di ruangan ini.
“Eeh ... ada CCTV ya. Ga boleh deket-deket dong kita,” ucap Ellena yang segera memundurkan posisi duduknya.
“Siapa bilang kamu harus mundur,” ucap Sean sambil menarik kembali tubuh Ellena agar duduk lagi di sampingnya, “Kamu ga boleh jauh-jauh duduknya sama aku. Kita pacaran, kok malah jauh-jauhan.”
“Ih ... ada itu lho. Nanti kamu diliatin tim IT. Malu ih,” ucap Ellena sambil menunjuk ke CCTV.
“Udah aku matiin. Di sini aman pokoknya. Cuma aku yang bisa matiin CCTV-nya.”
“Eh ... kok bisa sih? Kamu ga boongin aku kan?” tanya Ellena dengan tatapan penuh curiga.
“Ga lah. Ngapain juga aku boong. Emang udah aku matiin kok. Ada tombol rahasia pokoknya.”
“Hmmm ... jadi curiga. Jangan-jangan kamu sering bawa pegawai cewek ke sini ya? Hayoo ...,” ucap Ellena menaruh curiga.
__ADS_1
“Kamu kalo cemburu gitu makin cantik tau ga. Lagian ya, kapan aku sempet bawa pegawai lain ke sini. Baru beberapa hari kerja di sini aja, aku udah ketemu kamu. Ketemu penipu yang aku cari selama 7 tahun. Eh ... malah sekarang bukan cuma jadi penipu, tapi udah jadi pencuri juga. Pencuri hati aku,” ucap Sean sambil memukul lembut puncak hidung Ellena dengan ujung jarinya.
Ellena tersenyum saat dia mendapatkan perlakuan manis dari Sean. Dia tidak menyangka Sean akan memiliki sifat yang sangat hangat dan semanis ini. Sean seperti orang lain yang ditemui Ellena dalam satu wujud.
Tatapan mata Sean tidak lepas dari wajah cantik di depannya itu. Tangannya membelai lembut wajah Ellena yang merona menambah kecantikannya yang sangat alami itu. Tatapan mata nakal Sean kini berhenti di bibir mungil nan menggoda yang beberapa hari lalu sempat dia nikmati sebentar.
Hasrat ingin mencecap lagi manisnya bibir Ellena tiba-tiba muncul lagi dalam dirinya. Secara perlahan namun pasti wajah Sean kian mendekat pada kekasihnya itu. Dia kini sudah sangat yakin Ellena tahu apa yang sedang dia incar.
Ellena yang tahu apa maksud Sean pun segera menutup matanya untuk menerima sentuhan lembut di bibirnya seperti saat di lift kemarin. Kini dia tidak akan salah dan malu lagi, pasti Sean akan melakukan itu lagi padanya.
Wajah mereka kian semakin dekat. Nafas mereka sudah mulai terasa di wajah pasangannya. Tangan Sean juga sudah berpindah ke dagu Ellena agar wanitanya itu tidak lagi bisa menghindarinya. Kedua bibir itu kini sudah menempel tipis.
Triing
“Berisik!!” ucap Sean sambil melempar ponsel yang ada di atas pangkuan Ellena ke sembarang tempat.
Sean segera membuka bibirnya dan mengeksekusi lembut bibir Ellena sebelum hasrat mereka menurun karena gangguan tadi. Untung saja Ellena juga segera menerimanya dengan lembut. Kini dua bibir itu sudah saling ******* lembut menyalurkan rasa cinta yang membuncah di dada mereka.
Sean menarik pinggang Ellena agar tubuh wanita itu kian membusung. Saat tubuh Ellena makin menempel pada tubuh Sean, maka tautan bibir mereka juga kian dalam. Sean mulai menuntut lebih saat madu manis yang dia nikmati 7 tahun lalu itu kembali terasa di bibirnya.
Tapi saat Ellena ingin menjawab apa yang diucapkan Sean, bibir Sean kembali ******* dan mencecap bibir Ellena. Bahkan kini, lidah nakal Sean sudah mulai mengabsen apa yang ada di dalam mulut Ellena.
Ellena menyerah. Dia sudah merasa terbang saat ini. Dia ingin menikmati semua perlakuan manis Sean padanya. Dia ingin menikmati tanpa memikirkan apa pun. Ellena hanya mampu mengimbangi permainan bibir Sean yang lembut itu.
“Mau lanjut ga?” tanya Sean sambil mengusap bibir basah Ellena.
“Kita di kantor Sean. Kalo ilang terlalu lama ga enak juga,” ucap Ellena yang masih mengatur nafas dan juga degup jantungnya.
“Ya udah. Tapi jangan kangen ya,” ucap Sean sambil memberikan kecupan penutup di bibir yang sedikit bengkak itu.
Ellena tersenyum saat dia dan Sean sudah kembali ke posisi normal. Mereka sedang mencoba untuk menurunkan hasrat mereka masing-masing. Mereka harus segera kembali ke ruangan kerja mereka masing-masing kalau tidak ingin diketahui orang tentang hubungan pribadi mereka ini. Terutama Ellena yang tidak mungkin menghilang dalam waktu lama dengan alasan tidak jelas.
“Eh, ponsel ku tadi mana ya?” tanya Ellena yang teringat akan ponselnya yang di buang oleh Sean tadi.
__ADS_1
“Eh iya ... bentar aku cari dulu,” ucap Sean sambil mencari ponsel Ellena.
Ternyata ponsel Ellena terpelanting saat dilempar Sean ke arah lemari penyimpan audio ruangan. Ponsel itu hampir saja terinjak sepatu mahalnya saat akan melangkah karena hampir tenggelam di atas karpet bulu tebal di ruangan itu.
“Ponselnya retak, sayang,” ucap Sean.
“Ya ... kok retak sih. Aduuh beli lagi donk aku?” ucap Ellena sedikit menyesal.
“Eh ga kok, ini cuma lapisan pelindungnya aja yang retak. Masih utuh kok. Tuh kan masih bagus,” jawab Sean sambil menunjukkan ponsel itu kembali ke Ellena setelah melepas lapisan peindungnya.
“Waah untung pake pelindung ya.”
“Ganti kenapa ponselnya. Itu udah jaman jadul banget, Ell. Kamu kudu berhadapan sama klien besar sekarang, masa ponsel kamu tetep gitu. Ga gengsi dan nunjukin kelas dong kamu ntar.”
“Mana ada uang aku. Nanti aja lah kalo udah naik jabatan baru beli yang baru lagi.”
Sean mengambil dompetnya dari dalam saku celananya. Dia kemudian mengambil salah satu kartu yang berjajar dia dalam sana. Dia lalu memberikan pada Ellena.
“Buat apa ini?” tanya Ellena sambil melihat kartu ATM yang masih ada di tangan Sean.
“Buat kamu. Aku yang akan biayai kebutuhan kamu dan Nathan mulai saat ini. Uang hasil kerja kamu, simpen aja sendiri. Yang penting semua yang kamu butuhkan, bayar pake kartu ini,” ucap Sean menjelaskan.
“Ga mau. Aku pacaran sama kamu bukan bearti aku mau manfaatin uang kamu,” jawab Ellena sambil meletakkan kedua tangannya ke belakang.
“Issh!! Bandel ya anak ini. Kalo udah di bilang ambil ya ambil. Ga usah banyak bantah kenapa sih,” ucap Sean kesal dengan bantahan Ellena.
“Tapi Sean ....”
“Ga ada tapi! Apa kamu mau pilih sendiri mau kartu yang mana, silakan,” ucap Sean sambil menarik tangan Ellena dan meletakkan dompetnya di tangan wanitanya itu.
Ellena melihat ke arah Sean, dia merasa tidak enak dengan apa yang dilakukan Sean saat ini. Dia jadi teringat bagaimana dia dulu menerima uang Sean. Tapi Ellena segera menyingkirkan pikiran itu, karena Sean yang sekarang berbeda dengan yang dulu.
Tiiit
__ADS_1
Terdengar ada suara ID card pegawai yang di tempelkan di pintu depan. Kedua pasang mata yang ada di dalam ruangan itu segera menoleh ke arah pintu.
Bersambung...