Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 174


__ADS_3

Ketika Aditya dan tiga petinggi geng Merak sedang berbincang tiba-tiba terdengar suara tembakan dari arah gerbang kediaman Bima. Sontak hal itu membuat mereka semua terkejut. Bahkan Viktor langsung bangkit sambil melihat ke arah luar.


“Cih, apa mungkin geng Serigala menyerang kita?” gumam Brian.


“Entahlah, tapi jika memang benar itu berarti mereka benar-benar ingin perang terbuka dengan kita,” kata Viktor.


“Ratna, panggil beberapa anak buah kita agar berjaga di luar dengan senjata yang lengkap,” perintah Brian. Ratna langsung pergi dari ruangan itu. Brian dan Viktor segera mencari senjata untuk melayani serangan di luar.


“Rentang waktunya terlalu cepat jika memang ini ulah geng Serigala. Tapi jika ini ulah pembunuh bayaran mereka mungkin saja,” pikir Aditya.


Brian dan Viktor berlari ke luar sambil membawa pistol di tangannya. Baku tembak tidak bisa dihindari lagi, suara tembakan yang saling membalas terdengar jelas sampai ke dalam rumah. Aditya malah merenung di tempat duduknya. Kejadian ini cukup aneh baginya.


“Kamu kenapa Dit?” tanya Ratna sambil mengisi amunisi pistolnya.


“Aku hanya tidak habis pikir jika ada yang berani menyerang kediamanmu dari gerbang,” jawab Aditya.


“Maksudnya?”


“Seharusnya mereka tahu kalau rumah ini ibarat markas besar geng Merak. Serbuan mereka akan sia-sia saja jika datang dari depan karena pastinya geng Merak sendiri akan berkumpul untuk menahan mereka. Jika ingin melakukan serangan yang efektif seharusnya mereka menyusup langsung ke dalam rumah,” jelas Aditya.


“Benar juga, dengan begitu mereka akan jadi lebih mudah karena kami juga tidak siap untuk serangan dadakan seperti itu,” timpal Ratna sambil ikut berpikir.


“Tunggu, hal ini memang tidak efektif jika ingin menyerang dadakan saat kondisi biasa. Tapi jika mereka mencoba untuk mengumpulkan seisi rumah dengan tujuan lain maka mereka sudah berhasil,” ujar Aditya.


“Maksudmu mereka sengaja mengumpulkan kita di depan agar rekannya bisa menyusup ke dalam rumah?”


“Ya, sebaiknya kita berpencar Rat. Jika kamu kewalahan segera berteriak,” kata Aditya sambil bangkit.


“Oke,” jawab Ratna sambil memegang pistolnya.


Mereka berdua kemudian berpencar di dalam rumah karena khawatir dugaan mereka benar. Di luar sendiri Brian, Viktor dibantu beberapa anggota geng Merak lainnya sedang baku tembak dengan musuhnya. Di kedua belah pihak sudah ada beberapa orang yang terluka karena tembakan pistol lawannya.

__ADS_1


Posisi musuh mereka berada di luar gerbang. Mereka sengaja memanfaatkan pagar rumah Bima untuk berlindung dari tembakan Brian dan rekannya. Sementara Brian dan anggota geng Merak lainnya berlindung di balik pintu dan tiang rumah.


“Cih, kelihatannya mereka memang sudah merencanakan penyerangan ini dengan matang. Bahkan amunisi mereka tidak kunjung habis,” ujar Brian.


“Jika kita terus bertahan di sini semuanya tidak akan selesai dengan cepat. Bisa saja ada orang yang melihat baku tembak ini dan memanggil polisi,” kata Viktor.


“Ya, jika hal itu terjadi maka polisi punya bukti untuk membubarkan geng Merak dan Ketua akan mendapatkan hukuman yang berat. Kalau begitu kamu bawa beberapa anak buahmu untuk menyergap mereka dari belakang,” perintah Brian.


“Oke, aku akan menyergap mereka,” ujar Viktor sambil pergi ke dalam rumah bersama beberapa anak buahnya.


Tiba-tiba musuh mereka mengeluarkan senapan mesin lewat celah di pintu gerbang. Brian sangat terkejut, dengan cepat dia memerintahkan anggota geng Merak yang ada di luar untuk masuk ke dalam. Musuh mereka menembakan senapan mesin itu dengan cepat hingga seorang anggota geng Merak terluka parah karena tembakan.


“Cih, bahkan mereka juga membawa senapan mesin seperti itu,” gumam Brian.


Melihat lawannya sudah kewalahan orang-orang itu mulai menembak rumah Bima dengan membabi buta hingga beberapa kaca rumah pecah, pintu kayunya juga mulai rusak karena diberondong senapan mesin. Bahkan Brian dan anggota geng Merak lainnya tidak punya kesempatan untuk membalas tembakan. Hal itu dimanfaatkan oleh musuh untuk menyelinap masuk ke halaman rumah.


“Mereka berhasil masuk ke halaman rumah bos,” kata anak buah Brian.


“Viktor lama amat,” gerutu Brian sambil berlindung di balik tembok.


“bawa sofa kemari dan letakan di pintu agar peluru tidak bisa tembus langsung ke dalam,” perintah Brian. Anak buahnya mengangguk lalu memindahkan sofa.


Aditya perlahan berjalan menyisir setiap ruangan di rumah Bima. Dia berkonsentrasi penuh untuk mendengar pergerakan musuh yang dia khawatirkan menyelinap ke dalam. Suara baku tembak yang ada di luar benar-benar mengganggu konsentrasinya. Di sebuah ruangan terdengar suara kokangan pistol olehnya.


Dia kemudian mengendap-endap mendekati ruangan itu. Perlahan pintu ruangan itu mulai terbuka tanpa suara. Sebuah lengan terlihat menarik pintu itu dari dalam. Aditya mulai bersiap untuk mengejutkan orang itu. Ketika pintu sudah terbuka lebar Aditya segera masuk sambil mencengkram lengan itu. Karena kaget tampak orang itu menarik pelatuk pistolnya.


Aditya berhasil membelokan lengan orang itu hingga peluru malah mengenai lampu ruangan. Dia kemudian menarik kedua lengan orang itu ke belakang dan menjatuhkannya ke lantai. Pistol yang menggunakan peredam suara itu dia tending ke bawah lemari.


“Siapa kalian?” tanya Aditya.


“Jawab atau tangan lu patah!” ancam Aditya sambil memutarkan tangan lawannya, namun orang itu hanya meringis kesakitan dan tidak mau menjawab.

__ADS_1


“Keras kepala juga,” ucap Aditya sambil menguatkan cengkramannya hingga orang itu menjerit. Namun masih tidak mau menjawab.


“Cih, buang-buang waktu,” ujar Aditya sambil menghantam leher orang itu hingga tidak sadarkan diri.


Aditya kemudian memperhatikan lawannya yang tergeletak. Pria itu mengenakan topeng seperti pencuri dan memakai pakaian serba hitam. Walaupun Aditya membuka topeng penyusup itu tapi dia masih tidak mengenali identitasnya. Dia kemudian pergi menuju ruangan lainnya. Tak jauh dari tempat tadi Aditya melihat bayangan seseorang yang sedang mengendap endap.


Dia kemudian mengikuti bayangan itu, ternyata ada dua orang yang berpakaian hitam serta mengenakan topeng. Tangan mereka juga memegang sebuah pistol dengan peredam suara. Salah satu dari mereka kemudian menembak lampu di ruangan itu hingga gelap gulita karena memang ruangannya tertutup tanpa kaca. Aditya hanya tersenyum karena keadaan seperti itu juga akan menguntungkan dirinya.


Kedua orang itu ternyata Vendi dan seorang anak buahnya yang sedang mencari kamar Bima. Mereka menyelinap naik ke pagar lalu masuk ke dalam rumah lewat jendela. Dia dan enam anak buahnya sejak tadi berpencar di dalam rumah untuk menghabisi Bima. Tanpa sadar Aditya sedang mengintai mereka dari belakang.


“Cih, sejak tadi kita berkeliling di sini tapi belum bisa menemukan kamar si tua bangka itu,” gerutu Vendi.


“Rumahnya memang sangat besar bos,” kata anak buah Vendi.


“Iya, kalau dia masih di rumah sakit pasti lebih mudah kita menghabisinya. Tapi tak kusangka kalau harus merubah rencana awal,” gumam Vendi.


“Harusnya kita membawa lebih banyak orang tadi bos.”


“Lu jangan ngajarin gue ya,” ujar Vendi kesal. Tibat-tiba dia berbalik lalu menembak ke belakang dengan tatapan waspada.


“Kenapa bos?” tanya anak buahnya keheranan.


“Kelihatannya ada yang sedang mengikuti kita,” jawab Vendi sambil berjalan ke arah dia menembak tadi diikuti anak buahnya.


“Saya tidak mendengar apa-apa bos.”


“Kelihatannya dia sudah cukup ahli dalam hal menyusup hingga langkahnya saja tidak kedengaran.”


“Lalu bagaimana bos menyadarinya?”


“Penciuman gue cukup tajam, gue tiba-tiba mencium bau parfum pakaian dari belakang,” jawab Vendi.

__ADS_1


“Dia lumayan juga ternyata,” ujar Aditya sambil tersenyum.


BERSAMBUNG…


__ADS_2