Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 95


__ADS_3

Pria yang baru saja keluar dari rumah berjalan mendekati Aditya sambil bertolak pinggang. Rani kemudian menyeka airmatanya. Aditya sendiri bangkit, dengan waspada dia menatap balik pria itu.


“Siapa orang ini Ran?”


“Dia temanku di kantor kak.”


“Oh, belagu juga tampangnya. Apa jabatannya?”


“Saya Aditya, sopir di perusahaan Glow & Shine,” ucap Aditya sambil menyodorkan tangan namun di tepis pria itu.


“Heh sopir rupanya. Cepat siap-siap Ran! Kita harus segera berangkat ke tempat bos Hendrik.”


“Iya kak.”


Pria itu pergi meninggalkan mereka berdua. Rani kemudian menyeka airmatanya sambil hendak pergi namun Aditya memegang tangannya dan menyuruhnya untuk kembali duduk. Ida tahu jika Rani masih menyembunyikan sesuatu.


“Sebaiknya kamu jelaskan semuanya sekarang kepadaku. Siapa tahu aku bisa membantumu Ran, kamu mau pindah kemana? Siapa itu Hendrik?”


“Sebenarnya aku akan pindah ke rumah bajingan itu! Ayah dan kakak tidak bisa melunasi semua hutangnya. Bajingan itu mengancamku, dia bilang kalau aku.. aku harus jadi tebusan agar mereka berdua selamat. Jika aku tidak mau atau melibatkan polisi, mereka pasti akan menghabisi mereka berdua Dit,” jelas Rani sambil kembali berderai airmata.


Aditya kemudian memeluk Rani yang terus menangis. Darahnya terasa mendidih ketika mendengar penjelasan Rani. Keluarga macam apa mereka ini sampai tega melakukan hal seperti itu hanya demi narkoba dan judi.


“Aku mengerti sekarang. Lalu Hendrik itu adalah bajingan yang kamu maksud?”


“Iya Dit, dia yang terus mempengaruhi ayah dan kakak agar terus berjudi dan memakai narkoba.”


“Dia benar-benar bajingan. Kalau begitu sebaiknya kamu menolak saja dan melaporkan hal ini kepada polisi.”


“Mereka bilang tidak takut dengan polisi, aku juga tidak mau jika ayah dan kakaku dihabisi oleh mereka.”

__ADS_1


“Tapi mereka berbuat sekejam itu kepadamu Ran.”


“Bagaimanapun mereka tetap keluargaku. Aku juga tidak akan bisa hidup tenang jika mereka dihabisi karena aku tidak mau menebus hutang mereka,” jawab Rani sambil bangkit menyeka airmatanya.


“Aku akan berusaha membantumu sebisa mungkin.”


“Jangan Dit, mereka itu orang-orang jahat. Aku tidak mau kamu malah terlibat masalah gara-gara aku.”


“Tapi kan sekarang aku sudah belajar beladiri di bagian keamanan,” ucap Aditya sambil tersenyum. Rani malah tertawa kecil.


“Kamu ini, mereka itu sudah terbiasa membunuh dan menyiksa orang dengan kejam, mungkin mereka malah punya pistol.”


“Apa yang harus kutakutkan jika untuk menyelamatkanmu?”


“Pokoknya kamu tidak perlu ikut campur Dit! Aku akan baik-baik saja kok,” tegas Rani sambil berusaha tersenyum.


Sebuah mobil hitam tiba di halaman rumah Rani. Seorang pria sangar menatap mereka berdua dari dalam mobil. Ayah dan kakak Rani bersama sopir mobil pengangkut barang keluar dari dalam rumah. Mobil pengangkut barang pergi sedangkan ayah Rani menarik putrinya masuk ke dalam mobil. Kakaknya sendiri dengan sinis menatap tajam Aditya.


Mobil itu berhenti di sebuah bar mewah. Rani keluar diikuti oleh ayah dan kakaknya. Aditya segera memarkirkan mobil di halaman café di seberang bar. Aditya keluar lalu berjalan santai hendak masuk ke dalam bar.


“Selamat datang. Anda mau pesan berapa meja?” tanya resepsionis.


“Satu meja saja, ada yang kosong? terisi juga tidak masalah.”


“Ada, kami juga menawarkan beberapa makanan ringan di sini,” resepsionis itu memperlihatkan buku menu. Memang tidak ada yang aneh jika dilihat sepintas. Tapi Aditya tahu jika semua nama makanan di sana juga bisa diartikan menu narkoba jika tahu.


“Aku sangat ingin memakan yang ini, tapi takut meleleh ke bajuku, memang tidak pakai parfum tapi sayang jika kotor. Lagipula tidak ada anjing di rumahku jika ingin dibawa pulang juga,” jawab Aditya sambil tersenyum.


“Oh begitu, sayang sekali. Tapi kami juga tidak ingin baju tamu kami kotor,” jawab resepsionis itu sambil melirik ke arah tembok lalu tersenyum kepada Aditya.

__ADS_1


Aditya kemudian pergi menyusuri bar itu. Semua percakapannya tadi mengandung berbagai maksud yang hanya dipahami oleh orang-orang di dunia kelam. Dia tadi sebenarnya bilang jika dia ke sana hanya untuk main main saja, dia juga bilang datang ke sana bukan untuk membeli narkoba karena dia masih punya, di rumahnya pun tidak ada orang yang membantu menghabiskannya,


Dia juga bilang agar jangan khawatir karena dia juga bersih datang ke sana alias tidak di ikuti polisi atau intel bayaran, dia sengaja mengatakan itu agar tidak menarik perhatian pengawas CCTV. Karena jika ada orang asing ke bar milik geng besar biasanya gerak gerik mereka di awasi dan diikuti oleh pengawas di bar itu, hal itu mereka lakukan untuk menghindari polisi ataupun intel.


***


Rani berjalan menuju sebuah ruangan besar bersama Ayah dan kakaknya. Seorang pria yang sudah berumur terlihat duduk di sebuah kursi dikerumuni beberapa gadis penghibur berpakaian mini. Di mejanya tterdapat berbagai jenis makanan dan minuman keras. Beberapa pria sangar tampak berdiri mengawasi ruangan itu.


“Bos, ini putri saya Rani yang saya janjikan,” ucap Ayah Rani sambil membungkuk bersama kakaknya.


“Wah wah, cantiknya mantep bener. Kalian tinggalkan aku dulu di sini temani mereka berdua bersama yang lainnya di ruangan sebelah,” perintah Hendrik kepada gadis-gadisnya.


“Terimakasih banyak bos,” ujar kakak Rani.


“Ya, nanti kalian akan kuberi hadiah juga. Sekarang bersenang senanglah Hahaha.”


Gadis-gadis itu mulai bersikap centil kepada ayah dan kakak Rani. Mereka berdua langsung menggandeng wanita menuju ruangan sebelah, tanpa malu sambil tertawa, tangan mereka berdua juga mulai bergerilya nakal. Rani benar-benar jijik dan emosi melihatnya.


“Duduk di sini!” perintah Hendrik, awalnya Rani hanya terdiam. Namun akhirnya menurut ketika dipelototi oleh Hendrik. Rani duduk di kursi yang sama namun agak jauh.


“Kamu manis juga ternyata. Tidak sia-sia aku memberi hutang kepada ayah dan kakakmu,” ucap Hendrik sambil mengelus pipi dan paha Rani, sontak Rani mencoba menjauhkan tangan Hendrik.


“Hahaha, sudahlah cantik, kamu nanti juga akan segera merasakan kenikmatan tiada tara. Jadi jangan ditolak.”


“Uh malah berontak nih si cantik. Jangan begitu dong, nanti ayah dan kakakmu bukannya menjerit kenikmatan tapi malah kesakitan di ruangan itu loh,” bujuk Hendrik dengan mata bagaikan hyena yang menemukan mangsanya.


Kedua mata Rani mulai berkaca-kaca karena sedih meratapi nasibnya yang sangat malang itu. Tapi mau bagaimana lagi, saat ini dia hanya bisa pasrah melihat mimpi buruk di hadapannya. Dia hanya mengingat orang-orang terdekatnya, temannya, sahabatnya, lalu Aditya.


Mata Hendrik mulai berbinar senang melihat Rani tertunduk pasrah. Tangannya mulai terangkat mendekati leher Rani, perlahan memegang kancing bajunya. Lalu membukanya perlahan. Kelihatannya dia memang sudah tidak sabar ingin segera menikmati kecantikan serta keindahan tubuh Rani yang menggoda.

__ADS_1


“Ekhem…”


BERSAMBUNG…


__ADS_2