Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 142


__ADS_3

Ratna hanya terdiam, entah apa yang harus dia ekspresikan saat ini. Apakah kesedihannya atau rasa senangnya. Aditya berjalan menghampiri Frita dengan senang sambil membawa kalung berharga satu-satunya yang dia miliki. Semua orang terlihat seolah ikut berdebar melihat situasi itu.


“Izikan aku untuk mengalungkannya di lehermu Fri,” ucap Aditya. Frita hanya mengangguk.


Diaz terlihat hendak mencegahnya tapi dengan cepat Gina memberikan isyarat agar dia tenang dulu. Aditya perlahan mengalungkan kalung itu di leher wanita yang menjadi pujaan hatinya. Setelah selesai Aditya kemudian mengulurkan tangannya sebagai ajakan untuk berdansa. Tangan Frita mulai bergerak hendak memegang tangan Aditya.


“Ekhem,” tiba-tiba saja terdengar Gina berdehem di belakangnya. Tubuh Frita terlihat bergetar, tangannya kembali diam.


“Sungguh ironis,” ucap Gina sambil menghampiri mereka berdua. Aditya hanya menatapnya tajam.


“Apa yang kamu bilang tadi ketika Diaz menawarkan untuk bertukar pasangan dansa? Bukankah kamu marah karena merasa Diaz menganggap calon istrinya sebagai barang. Lihatlah apa yang kamu lakukan sekarang. Bukankah perlakuanmu juga sama kepada Frita?” jelas Gina.


“Apa kamu mau diperlakukan seperti itu oleh pria rendahan seperti dia?” tanya Gina kepada Frita. Sedangkan Aditya hanya terdiam saja.


“Sebagai wanita, kamu seharusnya menjaga harga dirimu itu agar tidak direndahkan oleh siapapun,” bisik Gina.


“Kamu sekarang sudah melihat seperti apa sosok asli si bajingan itu Fri, aku harap kamu lebih memperhatikan lagi keselamatanmu, karena pria seperti itu hanya akan bisa menyakitimu saja, kalau sudah puas bisa saja dia meracuni makananmu. Tapi tenang saja jika kamu menikah denganku. Keselamatanmu akan terjamin,” tambah Diaz berbisik, sambil memegang pundak Frita.


Bagi Frita, ucapan Diaz barusan seolah ancaman baginya. Dia paham kalau Diaz dengan kekayaannya bisa saja melakukan apapun yang dia mau termasuk untuk mencelakai Aditya. Frita tertunduk sambil mendekati Aditya yang menatapnya tajam. Tangan Frita bergerak, sebuah tamparan keras akhirnya mengenai pipi Aditya.


“Kenapa?” tanya Aditya terkejut sambil memegang pipinya.


“Apa kamu sudah melupakan kata-kataku?! Sudah aku bilang jangan menggangguku lagi! Sudah aku bilang kamu jangan mengacaukan acaraku dengan Diaz! Tapi kenapa kamu masih datang ke sini?!” bentak Frita dengan bercucuran air mata.


“Ak-“


“Apa maksudmu datang ke sini bersama wanita itu? Apa kamu pikir aku akan cemburu kepadamu?! Tidak! Yang jelas aku muak melihatmu, selama ini kamu selalu menghindariku, tapi kenapa sekarang kamu bertindak seolah peduli kepadaku? Kenapa?!”


“Fri-“


“Seumur hidupku, aku benar-benar sudah menyesal bertemu denganmu! Jika bisa aku mengulang semuanya, aku lebih memilih untuk tidak bertemu denganmu!” bentak Frita sambil menangis. Dia tidak memberikan kesempatan kepada Aditya untuk berkata.

__ADS_1


Aditya hanya bisa diam mematung. Dengan nanar dia menatap Frita seolah ingin memastikan kesungguhan setiap kata yang diucapkan olehnya. Frita kemudian hendak membuka kalung pemberian Aditya namun dilarang oleh Gina. Suara kapal terdengar sudah sampai di dermaga. Diaz dan Gina segera menarik tangan Frita.


“Sebaiknya kita segera pergi dari sini,” ajak Gina sambil membawa Frita yang masih menangis menjauh dari sana.


“Pecundang,” ucap Diaz ketika pergi melewati Aditya.


“Kenapa berakhir seperti ini?” gumam Aditya.


“Kenapa kamu sampai segitunya membenciku, Frita,” batin Aditya. hatinya terasa begitu sesak, airmatanya semakin terkumpul di pelupuk matanya. Setelah sekian lama dia tidak ingin menangis, hari ini entah kenapa air matanya tidak bisa dia tahan seperti biasanya, sebuah bukti bahwa dia masih tetaplah manusia biasa.


Frita sambil terisak di bawa oleh Gina dan Diaz menuju mobilnya di dermaga. Fred dan keluarganya hanya mengantarnya sampai pintu keluar dari kapal. Sementara itu di ruangan tempat dansa suasana semakin gaduh dengan perbincangan orang-orang di sana yang tidak menyangka jika pesta dansa romantis berakhir setelah melihat peristiwa yang tragis.


Perlahan Aditya berjalan hendak keluar dari ruangan itu dengan iringan tatapan mata para tamu. Ratna dengan cepat menghampirinya lalu menggenggam tangannya. Aditya terdiam sambil menyeka air mata yang mulai keluar.


“Kamu baik-baik saja Dit?” tanya Ratna, walau dia sendiri sadar jika itu hanyalah sebuah pertanyaan bodoh tapi dia tidak tahu harus berbicara apa kepada Aditya.


“Maaf, aku tahu kamu sedih Dit. Tapi jika kamu tetap di sini siapa tahu perasaanmu kembali membaik.”


Aditya kemudian melepaskan genggaman tangan Ratna. Tanpa menoleh sedikitpun dia akhirnya pergi dari kapal pesiar itu, Ratna tidak bisa apa-apa. Dia hanya menatap Aditya dari kejauhan. Aditya pergi ke dermaga dengan perasaan yang kacau. Selama ini dia belum pernah merasa sesakit ini ketika ditampar oleh Frita.


Aditya sadar jika usahanya untuk memperjuangkan perasaannya sia-sia saja. Sejak awal dia memang tidak seharusnya berharap lebih setelah Pandu setuju untuk mempertunangkan dirinya dengan Frita. Tapi tanpa sadar seiring waktu mereka bersama benih-benih cinta mulai tumbuh juga dalam dirinya. Dia kemudian menghela nafas dalam sembari melangkah pergi.


“Keputusanmu sudah benar Fri,” ucap Gina sambil membelai rambut Frita.


“Pria rendahan seperti dia memang sudah seharusnya mendapat perlakuan seperti itu. Bisa-bisanya dia berkhayal untuk mendapatkanmu,” tambah Diaz sambil menyetir. Di belakang mobil mereka terdapat tiga mobil bodyguard yang disewa oleh Diaz.


“Tapi seharusnya aku mengembalikan kalung ini,” gumam Frita sambil mencoba membuka kalung di lehernya.


“Tidak perlu, lagipula dia sudah memberikannya kepadamu. Sayang juga kalau dibuang, ya itung-itung sebagai timbal balik saja karena selama ini kamu sudah mau menjadi tunangannya,” jawab Gina sambil mencegah Frita membuka kalungnya.


“Benar! Lagipula kalung Unbreakable Heart itu cuma ada satu di dunia ini Fri, sayang banget kalau harus dikembalikan,” timpal Diaz.

__ADS_1


Frita hanya terdiam, dia sadar kalau ibunya dan Diaz hanya memandang materi saja. Saat ini dia hanya bisa berpura-pura tegar walaupun perasaannya begitu hancur. Di tengah perjalanan menuju rumah Gina tiba-tiba sebuah mobil melesat dari belakang mereka,


***


Di sebuah ruangan di kapal pesiar. Dr Robert sedang berbincang dengan seorang rekannya sambil menikmati makanan ringan yang ada di meja. Mereka terdengar sedang membicarakan kalung mahal Unbreakable Heart yang ternyata dimiliki oleh Aditya.


“Jujur saja aku tidak menyangka jika dia adalah seorang tentara yang telah menyelamatkan nyawa pengusaha inggris itu, rasanya hatiku sangat tenang hari ini setelah melihat dan memegang perhiasan mewah itu,” ucap Dr Robert.


“Saya juga terkejut, padahal dulu saya kira orang yang dimaksud keluarga pengusaha itu sudah tiada karena tidak ada satupun media yang menyebarkan berita tentang identitas si tentara,” ujar Rekan Dr. Robert.


“Memang benar, aku awalnya bahkan beranggapan jika keluarga itu hanya membuat kebohongan saja.”


“Oh iya Rob, aku dengar kamu mendapat tawaran bisnis yang menggiurkan.”


“Ah itu cuma bisnis tidak berguna, aku menolaknya. Aku tidak tertarik menjalankan bisnis dengan cara kotor seperti itu.”


“Kamu tidak pernah berubah Rob, sejak dulu kamu selalu berusaha untuk jujur.”


“Itu adalah modal penting dalam menjalani kehidupan ini,”jawab Dr Robert sambil meminum kopi di cangkirnya.


Namun tiba-tiba saja tatapannya menjadi samar, kepalanya terasa berputar-putar. Dadanya begitu sesak dan perih. Ingin sekali dia meminta tolong rekannya namun mulutnya tidak kuasa untuk berbicara. Dr. Robert kemudian jatuh ke lantai sambil memegangi dadanya.


“Sikap jujurmu juga yang membawa maut datang lebih cepat,” ucap ayah Fred yang tiba-tiba keluar dari balik pintu.


“Selamat, kamu yang akan menerima proyek besar Dr Robert selanjutnya,” ucap ayah Fred sambil menepuk pundak rekan Dr. Robert.


“Tapi jika ada orang yang mencurigaiku bagaimana?” tanya rekan Dr Robert dengan wajah cemas.


“Tenang saja selagi kamu mengikuti rencanaku maka semuanya akan aman. Si tua munafik ini juga akan diberitakan mati karena serangan jantung,” ucap ayah Fred sambil tersenyum licik.


BERSAMBUNG…

__ADS_1


__ADS_2